Ana Uhibbuka Fillah, Gus!

Ana Uhibbuka Fillah, Gus!
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Rania, abi mau bicara. Turun ke bawah"


"Iya umi sebentar"


Rania baru saja selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah, ia tau betul kalau kalau sholat adalah tiang agama. Sholatlah meskipun kamu bukan orang baik, meskipun kamu belum siap berhijab dan meskipun kamu belum mampu menjaga kelakuanmu, begitu katanya.


Dituruninya anak tangga satu persatu dengan hati hati,iatak mau kejadian dulu terulang lagi. Kejadian yang membuat lututnya berdarah dan ponsel puluhan jutanya itu rusak akibat terjatuh dari tangga. Sungguh mengenaskan bukan?


"Abi"


"Kamu mau lanjut ke universitas islam?"


" jangan gitu dong bi, rania pengen ke universitas yang biasa biasa aja. Abi kan tau sendiri rania gimana"


"Abi tau kamu banget,makanya abi ngasih pilihan biar kamu jadi lebih baik."


"Ngga gini caranya bi"


"Atau kamu mau abi jodohkan saja?"

__ADS_1


" terserah abi saja. Rania sebel sama abi."


"Oke kalo terserah abi, abi akan urus kuliah kamu di universitas islam."


Rania bangkit dari duduknya, moodnya sekarang benar benar hancur. Keputusan abinya itu bersifat mutlak, harus dilakukan dan tak bisa diganti apalagi dihapuskan kaya penjajahan. Disatu sisi rania ingin sekali mendapat kebebasan menentukan hidupnya,disisi lain rania juga ingin tetap menuruti semua perintah abinya. Karena mau bagaimanapun abinya adalah abi terbaik baginya,abi yang selalu menyayanginya.


Sekarang pikirannya kacau, kenapa harus jadi seperti ini? Rania merebahkan tubuhnya,memandang langit langit kamar yang berwarna putih. Pikirannya kembali berkelana ke masa dimana ia bisa mengutarakan segala isi hati dan pikirannya pada Andra,kekasih yang sudah menghianatinya.


"Kenapa si kenapa kayaknya idup gue susah banget?" Rania bermonolog.


"Biasa aja padahal."


"Gak sengaja. Tadi gue kesini mau ngajak lo jalan terus kata umi gue disuruh langsung ke kamar lo aja,yaudah deh gue kesini eh malah lo nya lagi ngoming sendiri."


"Ngomong bukan ngoming kali"


"Bodo. Yuk ah lo mau ikut gue ke mall ngga?"


"Ikut deh,bentar gue ganti baju dulu. Eh tapi gapapa kan gue ga pake jilbab? "

__ADS_1


"Emang biasanya lo pake jilbab kalo keluar?"


"ih maksud gue kan lo pake jilbab."


"Maap banget, tapi perasaan gue tiap hari pake jilbab deh. Lo lagi amnesia?"


"Iya juga ya"  Ifa yang mendengar  itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, rania selalu saja begitu,selalu saja ada tingkah yang membuatnya berdecak heran.


Rania dan ifa tiba di pusat perbelanjaan, saat menaiki eskalator pandangan rania tertuju pada laki laki yang mengenakan kemeja hitam lengan panjang. Matanya memicing, sepertinya ia mengenali laki laki itu,apalagi jam tangan yang dikenakan membuat Rania semakin yakin kalau laki laki itu adalah laki laki yang tak sengaja ia tabrak beberapa waktu lalu.


"Lo kenapa lagi si?  Liatin orang sampe segitunya"


"Sstt.  Diem ifa,  gue lagi jadi detektif. " sekali lagi ifa dibuat heran oleh rania. Benar benar manusia aneh.


"Hai om, anaknya mana? " ifa terperanjat,  ia benar benar tak menyangka kalau rania akan seberani ini menyapa orang asing yang sama sekali tak ia kenali. Laki laki yang disapa rania tak kalah bingungnya, dahinya mengkerut,alisnya menyatu. Menikah saja belum, bagaimana punya anak?


"Siapa?"


"Saya yang numpahin eskrim om itu"

__ADS_1


"Oh"


__ADS_2