Anan-Dinda, first love should be end

Anan-Dinda, first love should be end
Melihat Dinda Dengan Cara Berbeda (3)


__ADS_3

Anan POV


Sudah seminggu aku duduk sebangku dengan Dinda, semakin hari aku makin senang. Dinda tak bersedih lagi, sudah kembali menjadi dirinya yang ceria.


"Good morning.." kata Dinda menyapaku sambil senyum-senyum.


"Ceria amat lu? Ngapa?"


"Mood gua lagi baik hari ini, kayaknya bakal ada hal bagus!"


Tak lama Dinda duduk, ketua kelas kami, Henry, masuk tergopoh-gopoh.


"Bu Marlin baru nelpon gua guys, ibunya beliau ninggal, dia nggak masuk, pulang ke Gunung kidul"


"Innalillahi wa innailaihi rojiun.." kata kami sekelas bersamaan.


"Terus gimana? kita layat dong?" kata Alex.


"Iya, makanya yuk sapa temenin gua bilang ke kantor guru, kita minta dispen sekelas buat pergi ngelayat"


"Ayo gua temenin!" kata Ricky, kemudian mereka berdua pergi meninggalkan kelas.


"Din, mood lu bagus tandanya ada orang mau ninggal?!" kataku pada Dinda jahil. Dia langsung membalas dengan memukul punggungku keras, sakit sekali.


Kami memperoleh izin dari pihak sekolah, kami akan berangkat bersama perwakilan dewan guru ke rumah Bu Marlin, konvoi.


"Jadi berapa orang yang bawa motor? Angkat tangan!" Hendy memberi komando. Separuh kelas lebih mengangkat tangannya.


"Oke, yang nggak bawa motor bisa berangkat bareng mobil guru, terutama yang cewek ya atau boleh juga minta bonceng sama yang bawa motor, tapi cari pinjaman helm dulu. Nanti kita berangkat setelah istirahat kedua. Ayo bergerak sekarang!" Hendy memberi komando, kebiasaannya sebagai anggota paskibra begitu tuh!


"Din, lu nggak bawa motor?" tanyaku pada Dinda.

__ADS_1


"Nggak, motor gua dipake ibu ke pasar tadi."


"Yaudah nanti gua bonceng!"


"Emang lu ada helm?"


"Ada, kalo pagi kan gua nganter adek gua dulu, jadi gua bawa helm dua."


"Gua gimana?" Aura tiba-tiba urun suara.


"Lu tanya Alex sana, dia bawa helm dua nggak?" kataku pada Aura.


Dia pergi ke meja Alex, setelah itu dia balik lagi, "Nggak ada katanyaaa"


"Yaudah nanti sambil berangkat mampir ke rumah gua bentar ngambil helm" kata Dinda


"Bener ya Din, males gua kalo mau bareng sama mobil guru, nggak bisa haha hihi"


"Lu kira kita piknik haha hihi, dasar!"


Jam 13.00 kami berangkat, rombongan guru dan anak-anak kelas kami didepan, kami menyusul karena harus mampir ke rumah Dinda terlebih dahulu mengambil helm.


Sisi negatifnya adalah kami jadi tertinggal, tapi sisi positifnya aku jadi tahu rumah Dinda. Rumahnya terletak didalam gang, ada warung kecil didepan rumahnya tempat ibunya berdagang kelontongan. Ibunya menyambut kedatangan kami setengah kaget, dikira ada apa-apa sehingga Dinda pulang lebih awal. Rumah yang sederhana tapi hangat, ada ibu yang menyambut, tak seperti rumahku, selalu sepi.


Kami tak lama di rumah Dinda karena harus mengejar rombongan, yang jauh didepan.


"Lex, kayaknya kita ketinggalan jauh, ayo ngebut dikit!" kataku setengah berteriak memberi tahu Alex dari atas motor yang sedang melaju.


"Nan, jangan ngebut-ngebut lah, gua takut!" kata Dinda


"Kalo takut pegangan yang kenceng!"

__ADS_1


Aku cuek saja, daripada tertinggal rombongan lebih jauh, lebih baik ngebut sedikit. Terlebih lagi kami tak tahu alamat Bu Marlin. Dinda, yang sepertinya takut berpegangan erat dipinggangku, tubuhnya yang tadinya jauh, mendekat ke punggungku, aku jadi deg-degan, tapi kok aku senang ya? Aku ini kenapa sih!


Perjalanan ke rumah Bu Marlin memakan waktu hampir 2 jam, melewati daerah pinggiran pantai. Sampai disana aku tak bisa fokus, mataku selalu mencari sosok yang sama, Dinda. Rasanya otakku dan dan jantungku benar-benar eror hari ini. Bukannya berduka kok aku malah senang, moodku bagus sekali, maafkan aku Bu Marlin!


"Ra, kayaknya gua beneran suka sama Dinda." kataku pada Aura berbisik, dia duduk di sebelahku, sedangkan Dinda duduk diseberangku.


"Serius lu Nan?"


"Iya, dari tadi gua deg-degan mulu waktu ngeliat dia, pas dimotor juga."


"Lu nyadar suka sama Dinda pas layat gini? Aneh lu! Nggak manis amat momennya!"


"Ra, cinta kan gak tau waktu dan kondisi..."


"Dih, geli gua!"


"Ra, jadi gimana? Lu bantu gua lah Ra!"


"Ogah! Kan gua udah janji gak bakal mak comblangin Dinda sama cowok lagi, udah kapok sekali sama si Bobby."


"Tapi kan ini gua Raaaa... Beda sama si Bobby itu..." aku mencoba meyakinkan.


"Tetep ogah! Nggak ada jaminannya lu gak kaya si Bobby. Udah lu kejar sendiri kah, kalo emang beneran sayang pasti jadian"


Aku manyun. Sebenarnya aku mengerti kenapa Aura seperti ini, dia tak mau menyakiti sahabatnya lagi. Ah, aku ada ide! Aku beranjak, mendekati Alex.


"Lex, nanti balik layat jangan langsung pulang ya, kita mampir ke pantai bentar, tanggung udah sampe sini." aku berbisik ke telinganya.


Alex mengangguk dan mengacungkan jempol tanda setuju. Sip!


👍👍👍

__ADS_1


Jangan lupa komen, like dan jadikan favorit..


Temukan author di IG : @bulanranum04 makasih..


__ADS_2