Anan-Dinda, first love should be end

Anan-Dinda, first love should be end
Melihat Dinda Dengan Cara Berbeda 2


__ADS_3

Anan POV


Seharian Dinda kusut, aku kasihan melihatnya. Kurang ajar benar cowok yang namanya Bobby itu, rasanya ingin kudatangi ke sekolahnya sekarang juga, kuajak gelut!


Ck! Aku serba salah, bagaimana cara menghiburnya, mengembalikan senyumannya. Pengalamanku nol untuk urusan perempuan, tak pernah pacaran. Yang kutahu cuma bagaimana menyenangkan mama atau mbak-mbakku, tapi kan ini Dinda. Duh! Buntu! Tapi, sebenarnya kenapa juga aku peduli? Tapi.. tapi.. tapi.. Kalau Dinda diam aja seperti sekarang, aku tak nyaman. Argh!!!


🤯 🤯 🤯


"Din, udah dong, masa lu ngelipet tangan terus seharian, nanti idung lu pesek!" Kataku mencoba menghiburnya.


"Apa sih Anan, nggak lucu!"


"Ya lu tuh, udah berjam-jam ngelipet tangan gitu terus, frustasi gua ngeliatnya!"


"Ya nggak usah diliat!"


"Ya keliatan, lu kan duduk sebelah gua!"


"Ish! Lu tuh ya, orang lagi sedih malah diajak ribut bukannya dihibur!"


"Kan lu nggak sayang, ngapain sedih-sedih?!"

__ADS_1


"Namanya diselingkuhin tetep aja sedih, oon! Nyesek!"


"Kok jadi ngomongin gua oon!"


"Ya lu tuh nggak ngerti perasaan cewek!"


"Kok jadi salah gua? Gua kan nggak...!"


"Woy! Lu berdua bisa diem nggak, sebelahan aja ngomong teriak-teriak, budeg tah lu pada!" Kata Rizky, teman sekelas yang duduk didepan kami.


Akhirnya kami diam. Aku tak meneruskan kata-kataku. Takut kena semprot oleh Rizky atau anak-anak lain, Dinda melipat kedua tangannya dan tidur diatasnya, lagi! Ck!


🤣 🤣 🤣


Ini bocah kenapa sih! Bukannya menghibur, atau seenggaknya memberiku sedikit ruang untuk bersedih, wait, bersedih??? Bukan sedih, tapi nyesek! Kesal setengah mati! Kurang ajar betul si Bobby itu! Dulu mengejarku seperti tak ada perempuan lain kecuali aku, sekarang malah menyelingkuhiku! Brengsek!


"Din, ayo pindah kelas, sekarang kita kelas tari!" Kata Anan sambil menepuk punggungku.


"Hmmm..." Aku berdehem saja, malas bicara. Yah, setidaknya sekarang masuk pelajaran kesukaanku.


Murid kelas satu akan memperoleh kelas kesenian yang isinya seni tari dan teater, kelas dua seni rupa, kelas tiga seni musik atau lukis.

__ADS_1


Untuk praktek seni tari, kami akan pindah ke aula sekolah, alasannya karena ruangan aula lebih luas untuk latihan, ada panggung dan sound sistem yang oke juga, sehingga memang paling cocok jika kelas tari dilakukan disini.


Untuk kelas seni tari, setiap siswa akan membentuk kelompok secara acak melalui pengambilan undian diawal semester. Entah, mengapa guru-guru disekolahku suka sekali mengundi berbagai hal. Posisi duduk di kelas diundi, membentuk kelompok diundi, menentukan tugas kelompok diundi dan masih banyak lagi.


Anggota kelompokku untuk mata pelajaran seni tari adalah aku, Puspa, Dodi, Indah dan Ricky. Kami memperoleh tugas membuat tari kreasi dan menampilkannya nanti, diakhir semester untuk mengganti ujian tertulis yang tak dilakukan khusus untuk mata pelajaran ini.


Setiap minggu Bu Mumpuni akan menilai progres setiap kelompok, sudah sampai sejauh mana perkembangan koreografi tersebut dan juga kekompakan anggota kelompoknya. Maka setiap hari minggu kami akan berkumpul di rumah salah satu anggota kelompok kami secara bergantian untuk latihan. Minggu lalu dilakukan dirumah Indah, minggu ini jatahnya dirumah Ricky di daerah Prawirotaman.


Dari tadi aku merasa ada mata yang memperhatikanku seperti mengawasi. Tapi saat aku cari siapa orangnya, tak ada yang sedang menatapku, ada sih satu, tadi Anan ketahuan olehku. Ekor mata kami saling bertemu. Tapi kenapa pula dia memperhatikanku, mungkin hanya sedang melihat saja dan secara tak sengaja tatapan kami bertemu. Tak masuk hitungan.


Anan POV.


Senang sekali rasanya melihat Dinda menjadi dirinya kembali di kelas seni tari. Aku tak bisa memalingkan mataku darinya, ketika dia melenggak-lenggok, mengibaskan rambut panjangnya yang tak terikat, sunggu menyenangkan untuk dilihat. Sial! Aku ini kenapa!


"Ra, kok gua seneng ya liat Dinda udah ceria lagi?" Tanyaku pada Aura, kebetulan kami sekelompok.


"Ya nggak apa-apa lah Nan, namanya kita kan temenan, wajar dong kita ikutin sedih kalo temen kita sedih, kita juga ikut seneng kalo temen kita seneng. Nggak ada yang aneh."


Make sense! Karena aku selalu melihat Dinda ceria, maka saat dia sedih aku tak nyaman dan ketika Dinda kembali menjadi dirinya,aku kembali senang, tak ada yang aneh pada diriku! Betul kata Aura.


Tapi mataku kok tetap tak mau berpaling dari Dinda ya, rasanya dia cantik sekali hari ini. Sial!

__ADS_1


Suka? Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit yaaa..


Sapa author di IG ya : @bulanranum04 makasih..


__ADS_2