Anan-Dinda, first love should be end

Anan-Dinda, first love should be end
Pantai


__ADS_3

Dinda POV


Kami pulang dari rumah Bu Marlin jam 16.30, tak cukup lama kami disana mengingat kami harus pulang lagi ke kota yang jaraknya cukup jauh.


"Ayo Nan, nanti kita kesorean!" kataku padanya.


"Sabar, gua panggilan alam dulu!" katanya sambil nyengir.


"Dih! Nggak tau sitkon banget sih!"


Gara-gara Anan lama di belakang, kami jadi tertinggal rombongan, yang tersisa tinggal aku, Aura, Alex dan tentu saja Anan!


"Ayo, sekarang kita cusss..." katanya sumringah


Aku naik ke motor Anan, Aura dengan Alex. Anan memimpin didepan. Keluar dari perkampungan tempat Bu Marlin, Anan malah mengarahkan stang motornya masuk ke sebuah pantai, Pantai Drini.


"Loh kok kita kesini?" kataku protes


"Mampir sebentar, mumpung udah sampe deket pantai" kata Anan memberi penjelasan


"Nanti kita kemaleman.."


"Nggak, sebentar ajaa, lagian disini pantainya bagus, bisa liat sunset.."


"Malem dong pulangnya?"


"Enggak Adinda Salsabila, nggak salah!" Anan tertawa. Aku pukul punggungnya keras, biar tahu rasa! Tapi akhirnya aku menurut saja, kapan lagi aku bakal lihat sunset dipantai kan?


Anan dan Alex masih memarkir motor mereka, sedang aku dan Aura menuju ke penjual jagung bakar yang ada di pondokan dekat pantai. Kami memesan jagung bakar, lalu berjalan menuju ke bibir pantai. Saat itu suasana pantai tak terlalu ramai, mungkin karena ini bukan hari libur dan bukan musim liburan.


"Ra, buka sepatu yuk! Gua pengen main air!" ajakku pada Aura. Dia setuju.


kami membuka sepatu dan kaus kaki kami, meletakkannya di pasir bersama tas sekolah lalu berlari menuju air laut.


Aura memanggil Anan dan Dinda untuk bergabung dengan kami, mereka setengah berlari, rasanya menyenangkan. Tapi hanya bermain dipinggir pantai saja, karena kami tak membawa baju ganti dan kami tak mau pulang dalam kondisi kedinginan.


"Mbak, ini jagung bakarnya udahhhh!!!" teriak ibu penjual jagung bakar. Anan yang pergi mengambil jagung pesanan kami. Baru datang Anan membawa jagung, Aura dan Alex sekarang yang pergi, katanya mau beli minum. Tinggallah aku dan Anan berdua, duduk dipinggir pantai.


"Din, lu dicariin ibu nggak nanti kalo pulang malem?" tanya Anan padaku sambil tetap menatap laut


"Pasti dicariin lah dan udah pasti nanti gua bakal kena marah, cuma namanya gua nebeng, gua ngikut yang nyetir aja."


"Enak ya, ibumu perhatian" ada gurat kesedihan di nada bicara Anan


"Emang ibu lu nggak nyariin kalo lu pulang malem?"


Anan diam saja. "Din, kalo gua kapan-kapan main kerumah lu boleh?"


"Lu mau ngapain?"


"Ya ngapain aja tah, namanya main, boleh nggak?"

__ADS_1


"Boleh sih nggak masalah"


"Kalo gua suka sama lu, boleh juga?"


"Hah???" tanyaku bingung. Anan malah tertawa kegirangan. Mungkin dia cuma menjahiliku saja.


😒😒😒


Anan POV


Rencanaku sukses, ketika Dinda mengajakku pulang aku kabur berpura-pura ingin buang air, padahal aku hanya berdiam diri didalam kamar mandi Bu Marlin, tapi hasilnya kami jadi tertinggal rombongan dan bisa mampir ke pantai sesuai rencana.


Sampai di pantai, aku sengaja menahan Alex lebih lama di tempat parkiran motor.


"Lex, lu bantu gua ya, gua suka sama Dinda" pintaku pada Alex


"Akhirnya lu sadar?"


"Hah???"


"Lu nggak sadar selama ini lu selalu merhatiin Dinda? Bingung pas dia sedih, seneng pas dia seneng, lu nggak nyadar?"


"Emang gua gitu?"


Alex malah tertawa. "Lu mau dibantuin ngapain?"


"Bantuin gua deketin Dinda lah.."


"Oke, apa upahnya?"


Belum Alex menjawab, Dinda sudah memanggil-manggil dari arah pantai, kami langsung berlari menuju Aura dan Dinda yang sekarang sedang bermain air laut. Rasanya menyenangkan sekali melihat Dinda tertawa lepas, bersenda gurau dengan Aura, aku ingin dia terus begitu.


Seperti yang dijanjikan, Alex membantuku, dia mengajak Aura untuk membeli minum meninggalkan aku dan Dinda berduaan. Dih, sekarang aku bingung, aku harus ngomong apa???? Pikir Anan, pikirrrr... Ah, apa saja lah!


"Din, lu dicariin ibu nggak nanti kalo pulang malem?" tanyaku sambil tetap menatap laut, grogi, aku tak berani melihat matanya


"Pasti dicariin lah dan udah pasti nanti gua bakal kena marah, cuma namanya gua nebeng, gua ngikut yang nyetir aja." jawabnya agak ketus, aku jadi merasa sedikit bersalah dan sedih. Kenapa mamaku tak begitu?


"Enak ya, ibumu perhatian"


"Emang ibu lu nggak nyariin kalo lu pulang malem?"


Aku diam saja. Mama selalu sibuk di hotel. Sebagai penerus usaha hotel kakekku, mama sangat memfokuskan dirinya mengurus hotel. Mama selalu pulang malam. Aku dan Lia, adikku, selalu dirumah hanya bersama pembantu. Ck! Kenapa jadi sedih gini sih! aku kan mau pendekatan, fokus Anan, fokus!!


"Din, kalo gua kapan-kapan main kerumah lu boleh?"


"Lu mau ngapain?"


"Ya ngapain aja tah, namanya main, boleh nggak?"


"Boleh sih nggak masalah"

__ADS_1


"Kalo gua suka sama lu, boleh juga?" Ups! keceplosan!


"Hah???" Dinda bingung. Aku tertawa saja. Duh, gimana ya? Untung Alex dan Aura kembali, pas sekali, jika tidak aku mau jwab apa coba!


Kami berempat duduk menikmati sunset sambil ngobrol dan bercanda, tertawa dengan banyolan Alex yang garing, aku tak ingin waktu ini cepat berlalu.


😊😊😊


"Din, pake jaket gua" kataku saat menyerahkan jaketku pada Dinda.


"Nggak usah, lu kan yang didepan, dingin udah sore, lu aja yang pake"


"Gua kan laki, biasaa" kataku sok keren. "Udah pake cepet, nanti kita kemaleman"


Dinda menurut, jaketku yang dipakai,kok aku yang merona? Rasanya seperti memeluk Dinda secara tak langsung, sial!


Kami sampai dirumah dinda jam delapan malam, aku langsung pamit pada ibunya Dinda tapi tak diizinkan. Aku disuruh makan malam dulu bersama Dinda dan ibunya. Masakan ibunya enak, meskipun cuma menu sederhana, tumis kacang panjang+tempe dengan lauk telor dadar. Rasanya nikmat sekali, aku sampai tambah. Dinda tertawa melihat kelakuanku, malu juga sih, tapi biarlah aku masih kurang makan sepiring.


"Bapak mana Bu?" tanya Dinda ke ibunya


"Udah berangkat jaga malam."


"Bapak kerja dimana Bu?" tanyaku penasaran


"Bapak kalau malam gini jaga di Hotel Gumilang, kalo siang buka bengkel di pinggir jalan dekat pasar" tutur ibunya Dinda


Jadi bapak jaga malam di hotel mama, siapa ya namanya? Tapi aku tak berani bertanya lebih lanjut, takut ketahuan kalau aku anak pemilik hotel tempat bapaknya Dinda bekerja.


Selesai makan aku pamit, sudah hampir jam sembilan malam, bukan karena aku takut dicari mama, tapi karena Dinda sudah terlihat mengantuk. Tadi aku memergokinya menguap, manis sekali. Beginilah susahnya kalau sudah jatuh hati, menguap saja manis! Sial!


"Bu, saya permisi ya, terima kasih sudah diajak makan malam disini" kataku sopan.


"Iya, main lagi kesini ya kapan-kapan, nanti bune masakin!"


"Iya Bu, makasih"


"Din, gua balik ya?"


Dinda mengangguk, "makasih ya Anan"


Aku berjalan ke halaman rumah Dinda, mengambil helm yang ada dimotorku dan memakainya. Aku memutar balik motorku lalu menyalakannya tapi urung beranjak. Aku membalikkan badan.


"Din, besok pagi gua jemput ya?


"Nggak usah, gua bisa dianter ibu aja"


"Nggak apa-apa, sekalian gua abis nganter adek gua kok, oke, tunggu gua dateng ya besok pagi. Yaudah gua balik, bye..."


Aku langsung tancap gas, takut Dinda menolak lagi. Dijalan aku senyum-senyum sendiri, rasanya ingin pagi cepat datang biar bisa cepat bertemu dengan tuan putriku. Hahaha..


😚😚😚

__ADS_1


Janga lupa like,komen dan jadikan favorit buat author tambah semangat yaa..


Sapa author di IG : @bulanranum04


__ADS_2