
Anan POV
"Hari ini gua harus super wangi biar Dinda seneng dibonceng gua! Rapi dan wangi, wah, cewek mana lah yang bakal nolak kalo gua udah ganteng maksimal gini!" Kataku dengan PD didepan kaca.
"Mas Anan, kok ngomong sendiri sih? Gila ya?" Kata adikku, Rani.
"Sst! Kamu anak kecil nggak tau apa-apa,sana!"
"Mama, mas Anan mulai gilaaa.." Rani berlari keluar dari kamarku sambil berteriak. Dasar bocah!
"Anan, tumben jam segini udah rapi?" Mama muncul dari balik pintu kamarku.
"Iya,mau mampir tempat temen dulu ma."
"Temen apa temen?"
"Temennn.." Belom jadian soalnya! kataku hanya dalam hati
"Yaudah abis ini sarapan dulu, mbok udah nyiapin sarapan tuh, mama pergi duluan ya ke hotel."
Aku diam saja, bukan hal baru. Mama memang cuma pulang kerumah untuk tidur. Pagi-pagi dia sudah akan pergi ke hotel lagi, mengurus berbagai hal katanya,lalu pulang larut malam, paling cepat jam 9 malam. Hanya aku, si mbok dan Adel, adikku yang masih SMP kelas dua. Kalau Rani, karena dia masih TK maka dia pun sering tak ada dirumah. Setelah pulang sekolah dia sering dijemput oleh mama atau Sugeng, supir mama dan dibawa ke hotel, dia baru pulang ke rumah malam hari bersama mama.
"Mbok, Adel mana?" Tanyaku ketika aku tak menemukan Adel di meja makan.
"Non Adel sakit, panas, pilek, jadi nggak masuk sekolah, udah dikasih izin sama mama"
"Yaudah kalo gitu Anan berangkat ya mbok!"
"Nggak sarapan dulu Mas Anan?"
"Nanti aja disekolah."
Aku keluar dari rumah menuju garasi, manyalakan motor Supra X 125 pemberian papa, sebelum papa pergi. Aku bisa saja menggunakan kendaraan yang lain, motor lain atau bahkan mobil, tapi aku lebih suka motor ini, supaya rasanya aku selalu diantar papa ke sekolah. Melankolis sekali, ck!!
🙁 🙁 🙁
Rumah Dinda sepi, tapi pintunya terbuka, apa di dalam ya? Ah, aku masuk saja.
"Assalamu'alaikum.."
"Waalaikum salam.." ibunya Dinda yang keluar, "Masuk sini Anan, Dinda masih sarapan, rene, melok sarapan (sini, ikut sarapan)!"
Aku menurut, setelah membuka sepatu aku membuntuti ibu menuju dapur. Dinda sedang duduk cantik memakan sarapannya, nasi goreng.
"Pagi Dindaaa.." kataku sambil cengengesan, yang tak kusangka akan jadi kebiasaan kedepannya, dimulai hari ini.
"Lu beneran jemput gua.."
"Iya,kan udah janjiiii.."
Dinda acuh tak acuh, hanya menaikkan sebelah alisnya tak menanggapi, duh, kapan dapetnya kalo dia dingin aja gini!
"Lu sarapan dulu nggak Nan?"
"Boleh deh kalo diambilin!" Aku mencoba manja, cari perhatian, hah!
"Itu udah didepan idung lu, ngapain diambilin segala? Kalo gua yang ngambilin, seberapa banyaknya kudu abis ya lu?!"
"Nggak sendiri aja deh!"
"Ojo judes-judes toh ndok dadi wong wedok! (Jangan judes-judes toh nak jadi perempuan) Ini Anan, tehnya biar anget!" Kata ibu yang muncul dari arah kitchen set, membawakanku segelas teh hangat.
"Matur nuwun sanget, ibu.." (terima kasih banyak, ibu)
Rasanya senang. Hangat. Hatiku hangat, perutku juga hangat. Mama tak pernah menemani anak-anaknya sarapan, apalagi membuatkan kami makanan atau teh begini. Semua dilakukan si mbok. Aku makan lahap sekali, rasanya masakan ibu super enak.
Jam menunjukkan pukul 7.00, sekolah kami masuk 30 menit lagi, sehingga kami bergegas berangkat dari rumah Dinda. Baru keluar dari gang rumah Dinda, tiba-tiba stang motor jadi sulih dikendalikan, berat! Ban depan motorku kempes ternyata, duh, apalagi sih!
"Din, bannya kempes"
"Jadi gimana?"
__ADS_1
"Ya turun dulu kita cari tukang tambal ban buat ngecek, apa kurang angin apa bocor"
"Yaudah, di pojokan jalan ujung sana Nan, ada."
Dinda turun, melepas helmnya dan mengiringiku jalan dari belakang. Ujung jalan yang dimaksud Dinda ternyata cukup jauh, hampir 10 menit kami berjalan.
"Mas, minta tolong dicek ban motor saya kempes" kataku pada tukang tambal ban ketika kami sampai ditempatnya.
Tukang tambal ban itu mulai mengecek, "Wah ini paku, nih!" Dia menunjukkan paku yang menancap disana.
"Jadi tambal ya?"
"Iya, gimana?"
"Yaudah mas kerjain!" Dijawab dengan anggukan dari si tukang tambal ban.
"Din, kayaknya agak lama,telat gimana?"
"Yaudah, mau gimana?"
"Sorry ya, baru pertama gua jemput malah gini"
"Bukan salah lu, salah tuh paku ngapain nancep disana!" Katanya sambil memonyongkan bibir menunjuk ban motorku, aku tertawa saja.
"Apa lu mau duluan?"
"Hah? Nggak ah, bareng aja!"
"Bener? Nggak apa-apa telat?"
"Iya, jam pertama juga jam kosong, kan Bu Marlin pasti belom masuk, dah ah santai!"
Benar kata Dinda, hari ini jam pertama pelajaran kosong, harusnyaa.. Karena Bu Marlin pasti masih di kampungnya mengingat orang tuanya baru meninggal kemarin. Ah, aku jadi punya waktu berduaan dengan Dinda, menunggu ban motor yang sedang ditambal ternyata bisa semenyenangkan ini!
"Din, lu suka makan apa?"
Dinda mengerutkan keningnya, "Random amat lu?"
"Yee.. kan ngisi waktu sambil nunggu ban beres, ya ngobrol aja ngapa sih?"
"Wah, gua tau tempat mi ayam yang enak, nanti pulang sekolah kita kesana ya? Mau?"
"Lu mau nganterin gua balik lagi nanti pulang sekolah?"
"Iya lah,kan gua bertanggung jawab, udah jemput, kudu nganterin pulang juga"
"....." Dinda diam saja. Aku nyengir. Gimana sih caranya PDKT sama cewek yang baik dan benar???? Pengalamanku nol soal beginian.
"Din, lu suka warna apa?"
Dinda mengerutkan dahinya lagi, "udah jawab aja!" Kataku gemas dan setengah malu.
"Warna-warna pastel"
"Kalo zodiak?"
"Cancel"
"Lu emang lahirnya kapan?"
"Bulan juli"
"Oh, masih lama ya, sekarang baru januari, tanggal?"
"Tanggal 4"
"Wah, bareng sama hari kemerdekaan Amerika?"
"Ya kali?!" Dinda tak yakin.
"Kalo ibu namanya sapa sih?"
__ADS_1
"Lu ngapain nanya nama ibu?"
"Ya kan biar enak manggilnya, masa ibunya Dinda, ibunya Dinda, gitu?"
"Bu Sri!"
"Kalo bapak?"
"Lu kan belom pernah ketemu bapak, ngapin nanya?"
"Ya kan nanti pas ketemu biar udah tau namanyaaa.."
"Pak Soleh"
"Jadi Dinda anak Soleh dong! Hahaha.." aku tertawa.
"Garing! Kriuk!" Dinda manyun, aku makin tertawa, pun Abang tukang tambal ban.
"Abang ngapain ikut ketawa! Nggak ada yang ngajakin juga!" Dinda singut, aku makin cekikikan sampai sakit perut.
🤣 🤣 🤣
"Nan,telat banget ini mah, Abang tukang tambal bannya lama banget sih tadi!" Kata Dinda was-was
"Kan kita jam kosong, santai.."
"Iya bener, tapi cak Sobri gimana? Pasti nungguin depan gerbang diaa.."
Cak Sobri adalah satpam yang super galak di sekolah kami. Dipanggil cak karena asal beliau dari Madura, merantau ke Jogja mengadu nasib bersama anak dan istrinya.
Kalau diajak ngobrol sih cak Sobri ini enak, tapi kalau perkata telat atau bolos dan ketahuan, duh, ribet! Bisa dijemur sambil hormat bendera dulu kami baru boleh masuk kelas, atau bahkan hukuman pendisiplinan yang lebih berat.
"Mau cabut aja?" Kataku pada Dinda.
"Dih, bisa digorok ibu gua kalo ketahuan!"
"Ya jangan ketahuan lahhh.."
"Nggak, mending dihukum telat daripada cabut, lu aja sana sendiri!"
"Kalo sendiri mah ngapain gua,males! Kalo sama lu kita bisa maen.."
"Ogah gua, ayo masuk lah Nan!"
"Yaudah, lu dibelakang gua!"
Aku mengendap-endap, melihat situasi sementara Dinda mengekor di belakangku, seperti aman, tak ada tanda-tanda cak Sobri atau satpam yang lain.
"Aman!" Kataku pada Dinda.
Kami pelan-pelan masuk ke deretan gedung kelas, tiba-tiba..
"Ee.. ee.. Telat kalian rupanya ya, hei, mau kabur kemana ha?!" Cak Sobri tiba-tiba nongol dari lorong kelas yang lain, mengagetkan kami, mungkin dia habis memantau ditempat lain.
Aku kabur, berlari, Dinda ketinggalan, ck! Payah nih anak baik-baik nggak pernah kabur! Pikirku dalam hati. Akhirnya aku balik lagi, tak tega meninggalkannya sendirian.
"Lu sih Anan, pake kabur tadi, jadi dijemur gini kita!"
"Sorry.." kulihat wajah Dinda memerah karena di jemur dibawah matahari, kasihan sekali.
"Ini, tutupan jaket gua!" Kukerudungkan jaketku kepalanya, supaya dia tak kepanasan.
"Sini berdua!" Dinda bergeser, membagi jaket itu untuk digunakan berdua, seperti adegan-adegan di film. Ah, tak kusangka ternyata dijemur di lapangan bisa seromantis ini.
Tapi tak lama cak Sobri mencak-mencak. "Yang bener kalian berdirinya, orang lagi dihukum, jangan pacaran aja kalian! Berdiri yang tegak!"
Cak Sobri ini merusak suasana saja, ah!
🥰 🥰 🥰
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit yaa..
Temukan author di IG: @bulanranum04 makasih..