Anan-Dinda, first love should be end

Anan-Dinda, first love should be end
Melihat Dinda Dengan Cara Berbeda


__ADS_3

Sudah tiga bulan kegiatan MOS berakhir dan aku tetap ditempeli sebutan aneh, terutama oleh kakak kelas anggota OSIS. Egg smasher! My god, memangnya aku sengaja waktu itu? Nggak mungkin lah! Gila aja! Pekikku dalam hati.


Anan juga sudah tidak membahas lagi hal itu, meskipun kalau ada kakak kelas yang mengataiku egg smasher dia bakal tertawa girang, dasar porno! Padahal dia juga terlibat dalam insiden itu, "egg" yang dijadikan julukanku kan miliknya!


Ugh! Aku malu sendiri kalau ingat hal itu, aku pasti merona. Jadilah aku seperti kucing-kucingan kalau bertemu dengan anak OSIS. Dampaknya aku urung mendaftarkan diri untuk ikut jadi anggota OSIS. Aku lebih memilih kegiatan lain saja sebagai ekskul, aku masuk PMR. Palang Merah Remaja. Aura ikut ekskul seni, Alex ikut basket bersama Anan.


😅😅😅


"Kenapa temen lu pagi-pagi murung?" Tanya Anan ke Aura ketika masuk ke kelas malah mendapati aku tidur bertumpu pada tanganku yang terlipat.


"Lagi sedih, diselingkuhi cowoknya"


"Emang selama ini dia punya cowok? Kok gua nggak tau?"


"Ada tapi beda sekolah.."


"Ooooo.. siapa?"


"Namanya Bobby, emang kurang ajar tuh si Bobby, tau dia mau nyakitin Dinda, nggak gua bantuin dulu dia jadian sama Dinda!"


Anan mendengarkan. "Lu tau nggak Nan, dulu si Bobby itu ngejar-ngejar Dinda, dari kelas dua SMP, cuma Dinda nggak pernah nanggepin. Terus si Bobby itu mohon-mohon sama gua, minta dibantuin, jadilah waktu itu, pas mau berangkat les buat persiapan UN, gua sama temen-temennya ngunciin Dinda sama dia didalem kelas. Dindanya nangis-nangis minta dibukain, tapi nggak gua bukain kalo nggak jadian sama Bobby, akhirnya dia mau!"


"Wah gila lu, parahhh..."


"Emang! Temen apaan coba si Aura ini!" Kata Dinda yang tiba-tiba mengangkat kepalanya.


"Iya, iya, gua salah. Mulai sekarang gua nggak mau ngebantuin siapapun lagi buat jadian sama lu, kapok gua" kata Aura penuh penyesalan.


"Tapi kan lu dipaksa jadian,kok lu sedih sekarang? Bukannya lu nggak sayang?" Tanya Anan.

__ADS_1


"Walaupun nggak sayang, tapi namanya diselingkuhi itu nyesek, tolol!" Bentak Dinda ke Anan. Yang dibentak malah tertawa.


"Daripada lu nangis mending lu teriak-teriak aja kayak gini, lega kan?"


"Lu mau gua teriakin biar gua puas? Ah!" Dengus Dinda sambil melipat tangannya lalu meletakkan kepalanya lagi diatasnya.


🤯 🤯 🤯


Hari ini adalah hari kami mengacak posisi duduk kami sebulan sekali. Setiap anak akan mengambil gulungan kertas berisi nomor yang merujuk pada letak duduk mereka di kelas selama sebulan kedepan. Memang ini adalah salah satu peraturan yang diterapkan Bu Marlin, supaya tak bosan katanya. Juga supaya setiap siswa di kelas akrab satu sama lain, nggak gank-gank-an! Begitu kata Bu Marlin tegas.


Aku tak ada gairah ketika Hendry, ketua kelas kami, berkeliling membawa topinya yang sudah diisi gulungan nomor. Kuambil sembarangan saja, aku dapat nomor 23, berarti aku duduk di sekitar bangku tengah. Terserah lah, dimana saja dan dengan siapa saja, aku tak peduli.


"Ayo bergerak, angkat pantat kalian ke tempat duduk kalian bulan ini!" Kata Henry setengah berteriak dari depan kelas.


"Lu 23 Din? Gua 24! Wah, bisa gini!" Suara Anan riang disebelahku, aku sebangku dengannya sebulan kedepan.


Anan POV


Dari parkiran motor tadi kulihat dia murung, kenapa ya? Tumben! Bahkan ketika aku sengaja menyenggol bahunya, dia diam saja. Aneh! Ingin kukejar dia ke kelas, tapi apa daya, panggilan alam lebih kuat! Sial! Cepat-cepat aku berlari ke kamar mandi.


"Kenapa temen lu pagi-pagi murung?" Tanyaku ke Aura.


"Lagi sedih, diselingkuhi cowoknya"


"Emang selama ini dia punya cowok? Kok gua nggak tau?" Aku agak kaget.


"Ada tapi beda sekolah.."


"Ooooo.. siapa?" Tanyaku penasaran!

__ADS_1


"Namanya Bobby, emang kurang ajar tuh si Bobby, tau dia mau nyakitin Dinda, nggak gua bantuin dulu dia jadian sama Dinda!"


Aku mendengarkan. "Lu tau nggak Nan, dulu si Bobby itu ngejar-ngejar Dinda, dari kelas dua SMP, cuma Dinda nggak pernah nanggepin. Terus si Bobby itu mohon-mohon sama gua, minta dibantuin, jadilah waktu itu, pas mau berangkat les buat persiapan UN, gua sama temen-temennya ngunciin Dinda sama dia didalem kelas. Dindanya nangis-nangis minta dibukain, tapi nggak gua bukain kalo nggak jadian sama Bobby, akhirnya dia mau!"


"Wah gila lu, parahhh..." Aku agak marah juga mendengar penjelasan Aura, mana boleh seperti itu sama teman sendiri.


"Emang! Temen apaan coba si Aura ini!" Kata Dinda yang tiba-tiba mengangkat kepalanya. Dia tak menangis, tapi mukanya kusut.


"Iya, iya, gua salah. Mulai sekarang gua nggak mau ngebantuin siapapun lagi buat jadian sama lu, kapok gua" kata Aura penuh penyesalan.


"Tapi kan lu dipaksa jadian,kok lu sedih sekarang? Bukannya lu nggak sayang?" Tanyaku menyelidik.


"Walaupun nggak sayang, tapi namanya diselingkuhi itu nyesek, tolol!" Bentak Dinda padaku. Aku tertawa saja. Lebih baik dia sangar gitu daripada sedih tak bertenaga.


"Daripada lu nangis mending lu teriak-teriak aja kayak gini, lega kan?" Kataku lagi.


"Lu mau gua teriakin biar gua puas? Ah!" Dengus Dinda sambil melipat tangannya lalu meletakkan kepalanya lagi diatasnya, kasihan sekali. Rasanya aku ingin mengelus rambutnya. Wait! What???


Saat pembagian nomor undian untuk duduk sebulan kedepan rasanya aku ingin berada disebelah Dinda, tak bisa tidak! Diam-diam aku mencuri pandang, dia dapat nomor 23! Aku nomor 4, sial! Aku sibuk mencari siapa yang dapat nomor 24, ternyata Budi yang dapat. Langsung kurebut, kuajak tukar dengan imbalan nanti kubelikan apapun saat istirahat dan dia bersedia.


"Ayo bergerak, angkat pantat kalian ke tempat duduk kalian bulan ini!" Kata Henry setengah berteriak dari depan kelas.


"Lu 23 Din? Gua 24! Wah, bisa gini!" Aku penuh semangat menegur Dinda disebelahku, akhirnya aku resmi sebangku dengannya sebulan kedepan. Kenapa aku sesenang ini ya?!


🥰 🥰 🥰


Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit ya..


Temukan dan dukung author di IG : @bulanranum04 terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2