
Author Prov
Agatha berjalan menuju ruang ICU setelah bertanya dibagian Informasi.
Ceklek
Terlihat dua orang berbeda usia dan jenis kelamin tengah duduk bersebelahan. Terlihat pula ayahnya dibalik kaca besar dengan badan penuh dengan alat bantu.
"Bunda, Kak Aga" ujar agatha langsung berlari memeluk mereka, meninggalkan kopernya di depan pintu.
"Agatha." Ucap merka bersamaan dan membalas pelukan agatha
"Bunda kakak, maafin thatha. Ayah kayak gini pasti gara-gara thatha kan. Thatha dosa bun, thatha udah durhaka sama kalian. Thatha bener bener nyesel. Hiks hiks." Isak agatha.
"Ini buakn salah lo tha, ini salah gue. Andai gue nggak nyuruh lo balik ke Jepang." Ujar agastian.
"Stt udah kalian nggak boleh sedih, kalo ayah liat pasti nggak suka. Ini bukan salah kalian kok, ini cobaan yang diberika Allah ke kita. Jadi stop nyalahin diri kalian. Thatha nggak mau ketemu ayah?" Ujar bunda.
"Mau bun thatha mau bicara sama ayah bunda anterin thatha kedalem ya." Ujar agatha dan diangguki bundanya sembari tersenyum.
Agatha Prov
"Ayah apa kabar? Ayah nggak pengen bangun? Thatha di sini lo yah. Thatha bakal nurut semua kemauan ayah kok, thatha nggak akan jadi pembangkang lagi. Ayah bangun ya, thatha janji sama ayah." Ujar gue dengan nahan air mata dan bunda mengusap punggung gue.
"Ayo yah bangun, ayah pengen liat thatha nikah kan? Thatha bakal kabulin permintaan ayah kok, kalo ayah tidur terus siapa yang jadi wali thatha nanti." Gue liat bunda disamping gue berusaha menahan isakkannya.
"Ayah nggak liat bunda sedih, kak aga sedih dan thatha juga sedih kalo ayah kaya gini." Ujarku dengan suara bergetar
"Bun" panggilku menghadap bunda.
"Iya sayang." Ujar bunda menatapku dan terlihat pipinya yang basah karena air mata.
"Bunda jangan nangis lagi ya, kita harus kuat. Ayahkan nggak suka liat kita sedih." Ujarku menghapus jejak airmata di pipi bunda. Gue berusaha sekuat tenaga nggak nangis, gue takut bunda tambah sedih.
"Iya, bunda nggak akan nangis lagi." Ujar bunda kemudian gue meluk bunda dan berbisik pada bunda.
"Bun thatha mau nikah sama anak sahabat ayah dan bunda secepatnya." Detik itu juga gue ngerasa badan bunda menegang. Kemudian menangis lagi, tangisan bunda kali ini bukan tangis kesedihan tapi kebahagiaan.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kamu mau nurutin permintaan ayah." Ujar bunda memelukku erat.
Bunda keluar dari ruang ICU, gue liat dari kaca yang misahin ruang tunggu dan ruang rawat bunda ngambil hpnya dan menghubungi seseorang. Gue yakin bunda pasti telpon sahabatnya. Beberapa menit kemudian gue keluar dari ruangan ayah duduk di sebelah kak aga.
"Tenang aja tha, dia anak yang baik. Lo nggak bakal nyesel." Celtuknya tiba-tiba.
"Maksudnya kak?." Tanya gue.
"Bunda tadi bilang lo nerima perjodohan ini." Jawabnya
"Tapi darimana kakak tau? Gimana kalo dia bukan orang baik?" Tanyaku
"Mana ada orang tua jerumusin anaknya tha, gue bisa ngomong gitu karena gue kenal sama dia. Dia seumuran sama lo, kelas 11 sekarang" Ujar kak aga.
"Nggak tau lah, thatha capek mau tidur." Ujar gue sambil merebahkan badan di atas sofa dan kakinya gue jadiin bantalan.
Gue samar-samar denger suara kak aga "Selamat tidur adik kecilku, lo nggak akan nyesel atas keputusan lo." Ujarnya setelah itu gue nggak denger ucapannya dan jatuh di alam bawah sadar gue.
Arsenio Prov
Gue masih kepikiran sama cewek tadi siang, gue kagum sama dia. Masih ada orang yang ngebahayain nyawnnya sendiri buat nolong orang yang nggak dia kenal. Gue tersadar dari lamunan karena suara ketukan pintu
"Masuk aja nggak dikunci." Ujar gue
Ceklek
"Lagi apa bang?" Tanya mama dengan raut wajah bahagianya
"Lagi rebahan aja ma, ada apa? Btw kok mama keliatan bahagia banget si." Tanya gue.
"Emm anu, kamu bisa ikut mama ke ruang kerja papa nggak?" Ujar mama dan gue cuma ngangguk kemudian ngekorin mama dibelakangnya.
Sesampainya diruang kerja
"Ada apa?" Tanya gue datar, perasaan gue udah nggak enak.
"Kamu masih inget pembicaraan kita pagi tadi kan?" Tanya papa.
__ADS_1
"Kan bener masalah perjodohan lagi." Batin gue.
"Arsen ditanya papa tu jawab bukannya ngelamun diem aja kesambet nanti kamu." Dengus mama.
"Ee-eh apa pa, iya arsen inget." Jawab gue
"Tadi tante ayumi telpon mama, dan anaknya udah mau nerima perjodohan ini. Jadi papa mau besok kalian menikah." Ujar papa, gue langsung membuka mulut tak percaya.
"APA PA BESOK?! Pa yang bener aja aku belum kenal dia. Apa itu nggak kecepeten? Paling enggak 1-2 bulan lagi pa biar kita saling mengenal dulu." Pekik gue nggak percaya.
"Kamu masih inget kondisi om kaka kan? Kamu tega nunda 1 bulan bahkan2 bulan lagi?" Tanya papa
"Tapi pa, gimana kalo dia--" mama motong ucapan gue.
"Kalo dia apa? Kamu ragu sama pilihan papa dan mama? Mana ada orang tua yang milih menantu orang nggak bener sen, mama yakin dia wanita yang baik. Dari keluarganya aja bisa dilihat kalau mereka keluarga baik-baik." Ujar mama
Gue jadi inget ucapan dito tadi pagi "lo harus mencoba menerima semuannya dengan lapang dada, gue yakin pilihan orang tua lo pasti yang terbaik. Nggak ada orang tua yang bakal menjerumuskan anaknya."
"Hmm arsen mau, toh arsen nolakpun nggak akan ngerubah keputusan papa sama mama." Ujar gue
"Good boy." Ujar mama tersenyum lebar dan mengacungkan 2 jempolnya. Sedangkan papa hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Besok kamu nggak usah masuk sekolah. Mama udah izinin kamu." Timpal mama
"Loh kok gitu, emang jam berapa si? Bukanya pulang sekolah?" Tanya gue.
"Besok akadnya jam 7 pagi, kamu harus pakai baju yang rapi." Ujar papa.
"Hmm." Jawab gue singkat.
"Ada lagi nggak? Kalo nggak arsen mau balik ke kamar mau tidur." Timpal gue.
"Ya udah sana tidur tinggal tidur. Duh pa, mama nggak sabar punya menantu." Ujar mama, gue langsung pergi ke kamar. Sesampainya di kamr gue rebahin badan gue di atas ranjang king size gue.
"Gue akan terima siapapun diri lo, karena ini janji sehidup semati. Semoga lo juga gitu." Gumamku liat langit-langit kamar. Dan gue mutusin buat tidur.
TBC
__ADS_1
26.12.2019