
⚠️ mengandung adegan kekerasan
sangat tidak nyaman berada ditempat yang banyak orang, –ini dirumahku sih. Sedang ada kumpul-kumpul keluarga dari ibuku. Sialnya adalah tempatnya dirumahku.
Aku sedikit cemas, tidak tenang dan tidak nyaman dengan banyak orang seperti ini. Akusih tidak ikut nimbrung mengobrol. Aku diam dikamar dan mendengarkan musik menggunakan headset.
Ibuku beberapa kali memanggil menyuruh untuk keluar karena aku diam dikamar terus. Ya, memang terkesan tidak sopan ada tamu dari keluar tapi tidak disambut —tapi, tidak harus juga kan? Jadi ya sudah.
Aku berhenti mendengarkan musik laku mengambil laptop didalam lemari. Rencananya ingin menonton drama korea atau ngefangirl. Baik, nah setelah menyala, aku pergi ke website lalu mencari youtube untuk menonton konten nct, group kpop kesukaanku.
Kebetulan beberapa hari lalu aku membeli cemilan sepulang keperluan dari sekolah yang kebetulan ada minimarket yang dekat dari sekolah.
Aku sedikit lamar ditengah-tengah menonton konten nct, aku memutuskan untuk keluar kamar, untukpergi kedapur.
"Na, baru keluar? Dari tadi dikamar terus" Ujar sepupuku yang lebih tua dariku.
"Ck!" Aku mendecak kesal. Aku sedang malas berbasa-basi. "Sibuk ngefangirl" Kataku dingin.
Aku sedang memasak tteokpokki, –instan. Jadi tidak akan lama cukup menunggu beberapa menit saja. Sabar na..
Sepupuku itu menghampiriku yang sedang sibuk bermain handphone dengan headset yang menyumpal ditelinga.
"Kpop terus. Ngapain sih suka kpop? Gak bermanfaat juga. Mending banyakin belajar biar kayak sea tuh pinter" Ini sebuah sindiran— oke, fine. Tidak juga sih, –aku tidak terima dibanding-bandingkan.
Ting
Tokkpokkinya sudah matang dari microwave, sebelum aku membalas perkataan sepupuku tadi, aku mengeluarkan tokkpokkinya dulu.
"Do you know me?" Idk why, ekspresi sepupuku aneh saat aku memalingkan mukaku lalu menatapnya, setelah mengatakan itu.
"Gak usah so' inggris" Ketusnya dengan muka yang penyebalkan.
"Oh come on girl. Kenapa dimatamu aku itu salah terus? Heran" Sambil menghela nafas, "apa aku harus bunuh sea, biar gak ada yang dibandingin lagi sama dia? Dan itu semua karena kamu". Aku membuka kulkas lalu membawa beberapa minuman soda kaleng.
"**** off! Aku gak seharian ngefangirl. Aku juga belajar karena itu wajib buat aku, dan kamu apa kabar yang bicara? Suka kpop sekedar buat hiburan, apa salah?" Jelasku panjang lalu membuka salah satu botol minuman lalu meminumnya.
"Gak jelas banget. Pake so²an mau ngebunuh segala" Ujarnya sambil membuang muka.
"Potensi aku jadi psikopat 84%. And— Hello i'm na" Sambil berjalan meninggalkan sepupuku itu.
Memuakkan bukan? Tapi sudahlah cukup ditandai saja. Malas sekali mengurusi orang seperti itu. Aku melewati keluargaku yang berkumpul sampai menghalangi jalan.
"Ck! Bisa jangan duduk dijalan? Disofa kosong, jangan merendah" Kesalku pada sepupuku yang lain.
Aku membuang muka tidak berharap balasan dari perkataanku tadi. Aku langsung berjalan menuju kamarku setelah sepupuku itu beranjak dari tempatnya yang menghalangi jalan.
.
Ahk— akhirnya aku dikamar lagi. Tidak ada yang berani masuk kekamarku tanpa seizinku. Kalaupun ada, aku pastikan besoknya orang 'itu' akan tertidur selamanya.
Sepertinya sudah cukup lama aku diluar karena berbasa-basi dulu dengan sepupuku tadi. Waktuku jadi terbuang sia-sia selama beberapa menit yang seharusnya aku sudah menyelesaikan satu konten nct.
Ini sudah siang ternyata pantas aku merasa lapar. Karena sudah waktunya makan siang. Tokkpokki yang kubuat tadi jadi agak dingin huft– aku menambahkan keju pada tokkpokkinya lalu aku mulai memakannya.
Diluar sangat berisik, sungguh. Apalagi anak-anak kecil belum bapa-bapa yang memainkan hanphone dengan suara keras. Makanya aku memakai headset.
Tok tok.
Apalagisihh?!
"Na— mm, kata bibi ayo makan siang" Suaranya sangat sopan, siapa kira-kira? Aku malas membuka pintu.
"Nanti menyusul!" Teriakku, karena takutnya tidak terdengar.
Aku segera menghabiskan tokkpokkinya. Setelah habis aku pergi kedapur untuk membuang sampah dan menyimpan wadah bekas makan.
"Jangan sampai ada yang duduk dikursiku" Ucapku dingin. Aku mengatakan itu pada ibuku yang kebetulan sedang ada didapur.
"Lupa— sebentar ibu kedepan dulu" Aku menghela nafas. Kesabaranku setipis kertas sepertinya sekarang. Tapi aku bisa mengendalikan emosi jadi fine.
.
Sekarang semua keluargaku berkumpul dimeja makan untuk makan siang. Agak aneh, biasanya hanya bertiga saat makan dan ini bahkan satu meja kursinya penuh.
Aku melihat kursiku kosong, sesuai permintaan. Aku berjalan kekursiku lalu duduk. Ada sebuah peraturan yang aku buat tentang makan.
"Perhatian untuk semua, saat makan tidak boleh berbicara kecuali perlu. Itu peraturan jika dilanggar maka tidak akan pernah pulang dari rumah ini" Pemberiatahuan sekaligus ancaman.
Tidak ada yang protes, semua dalam kendali dan tenang, nice. Hanya suara sendok, garpu yang beradu dengan piring. Semuanya makan dengan tenang tapi, tetap ada yang berisik. Jelas, itu anak-anak.
"Ekhem,, diruang 06 ada ruang bermain, ajak anak-anak kesana dan untuk makan menyusul saja" Sopanku pada bibiku. Semua melirikku yang berbicara.
"Katanya gak boleh berbicara, tapi sendirinya ngomong" Ada yang berbicara tapi sangat pelan.
Aku menghiraukannya karena tidak mau membuat kerusuhan dan merusak suasana. Beberapa orang sudah selesai makannya dan mulai meninggalkan tempat duduknya.
.
Dorr dorr
Satu kali meleset dan yang kedua tepat sasaran.
Bermain menembak, salah satu permainan yang aku suka untuk menghilangkan stres. Ini ruang pribadi yang hanya aku yang boleh memasukinya. Ini dibasemen, ruang bawah tanah. Ada ruang bawah tanah dirumahku jalannya hanya dari kamarku. Karena itu ruangan rahasia.
Baiklah akan kuberitahu, diruangbawah tanah ini, ada beberapa senjata yang aku simpan, pistol dengan pelurunya, pisau, dan belati yang paling aku suka. Ada juga panah.
Ini tempat rahasia, ibu dan ayahku tau. Dan mereka mengerti.
Keluargaku sudah pulang dari tadi. Aku lega dan senang. Hell— tidak akan pernah menyangka jika dari keluargaku sendiri menjadi korban.
.
Sea.. Dia pintar, cantik, sukses diusianya yang muda. Dan aku– salah satu sisi gelap dari sesuatu yang tidak akan pernah aku katakan. Tebak apa?..
.
"Thank you, baby. And see you ya!" Uajarnya dariseberang sana.
__ADS_1
Bip
Telpon dimatikan secara sepihak, dariku. Aku ada rencana pertemuan dengan wasley. Btw, nama lengkapnya wasley addison–pacarku, dia tau hampir segala hal tentangku sekaligus tangan kananku dalam suatu hal. Kami akan bertemu untuk membicarakan sea. Wanita yang begitu pintar dan cantik kata sepupuku waktu itu.
.
Saat aku datang, wasley, dia sudah menunggu disalah satu meja dekat jendela. Aku berjalan kearahnya, dengan tersenyum.
Aku memegang pundaknya, "hello baby, i miss you" Sambil mencium pipinya sekilas. Lalu aku duduk dikursi dihadapannya. Sudah lama kami tidak bertemu sejak terakhir beberapa bulan yang lalu. Wasley sibuk diluar negeri karena bisnis keluarganya.
"To the point, bantu aku membunuh sea, dia sepupuku" Ucapku dengan muka datar dan nada dingin. Varo mengangguk sambil menyeruput tehnya yang dari tadi ia pegang.
"Motif kamu membunuh dia apa?" Menyimpan tehnya dimeja lalu memandangku dengan sorot matanya yang tajam.
"Aku tidak ingin jika ada lebih banyak orang yang dibanding-bandingkan dengannya" Jawabku malas.
"Okay. Kapan?" Tanyanya singkat. Partner in crime, haha aku sangat mencintainya.
"Lusa, karena aku harus menyiapkan strategi" Sambil menghela nafas lalu berdiri dari duduk. " See you, and i love you" Setelah mengucapkan itu aku langsung pergi. Mungkin seperti tidak sopan main pergi saja iya kan?
Jika tidak tahu apa-apa diam saja. Jika tidak bisa diam, aku akan membuatmu beristirahat. Selamanya.
.
Sebenarnya aku memanggil orang tuaku tidak dengan 'ibu' dan 'ayah', hanya saat dengan keluarga dan orang-orang saja. Aku memanggil mereka dengan 'mommy' and 'daddy' yep.
Aku berjalan menuruni tangga ke bawah tanah, untuk pergi ke gym. Milik pribadi. Aku harus berolahraga untuk bersiap besok. Sebuah pesta kecil yang membutuhkan banyak tenaga.
"Nazera!" Mommy memanggil padahal aku sedang sangat semangat berolahraga. Begini-begini aku tau etika dan adab. Aku berhenti dari kegiatan olahraga dan menyusut keringat-keringat.
Omong-omong namaku nazera tapi itu untuk panggilan khusus orang tuaku dan saat ditempat umum orang tuaku memanggilku 'Na'.
"Nazera besok kita diundang ke ulang tahunnya sea, mau ikut?" Itu daddy yang berbicara saat aku akan pergi untuk menemui mommy yang entah dimana.
"Bentar— sea yang kemarin kesini? Yang mommy suruh panggil aku waktu mau makan siang?" Tanyaku panjang. Ah–aku baru ingat soal yang aku bilang suaranya sopan sekali, itu sea ternyata. Memang anak baik tapi kasihan harus menjadi korban karena sepupunya sendiri.
"Tunggu aku, aku memiliki sebuah kejutan untukmu, sea" Gumamku dengan tersenyum smirik.
Daddy yang sedang membaca koran teralihkan oleh pertanyaanku, "iya. Besok jam tujuh malam kita mau kesana" Katanya.
Setelah itu aku segera berlari kekamar untuk mengambil handphone karena ingin menelpon wasley. Bodo amat dengan panggilan mommy tadi, sorry mommy.
Wasley...
"Aku punya rencana. Nanti malam jam sembilan datang kerumahku langsung keruang pribadiku"
"Okey see you. Pasti ngebahas sea.."
"Benar. Kata daddy besok dia ulang tahun. Mungkin kamu juga punya rencana.."
"Aku akan memikirkannya juga. Ini kesempatan bagus, tunggu aku disana"
Bip
.....
Sambil menunggu aku membersihkan beberapa senjata yang saat aku menyentuhnya ternyata sedikit berdebu. Tentu dengan lap, bukan harga dirimu.
Tak lama wasley datang. Aku menyambutnya dengan merangkul pinggangnya lalu wasley memcium pipiku sekilas. Kami duduk berdua disebuah meja yang berukuran sedang dan sebuah papan yang tertancap banyak tulisan dan beberapa poto.
Aku memancapkan poto sea dipapan itu dengan bertuliskan (08) dengan spidol merah.
"Bagaimana rencanamu?" Tanyanya to the point.
"Besok dia ulang tahun. Kamu harus ikut bersamaku kepesta ulang tahunnya. Aku akan memberi dia makanan atau minuman yang dicampur obat tidur. Tidak saat dikeramaian tapi saat dia sedang dikamarnya, selesai pesta. Setelah tertidur, kita bawa ke villa di daerah xx, setelah itu kita habisi dan jasadnya diberikan pada elangku" Jelasku panjang dengan ekspresi yang serius dan tatapan dingin.
Wasley mengangguk-angguk lalu tersenyum. "Nice. By the way, nesok dia ulang tahun keberapa?" Tanyanya mengalihkan pandangan kearah poto sea.
"Kalo tidak salah, dia dan aku beda dua tahun. Dia lebih muda dariku" Aku membuka laci yang ada dimeja, lalu memberikan sebuah pistol pada wasley.
"Baiklah. Aku akan datang besok malam kesini untuk menjemputmu" Dia berdiri dari duduknya dan aku juga. lalu dia menghampiriku dan memelukku.
"I love you" Ucapnya sambil berbisik didekat telingaku.
.
Today is sea birthday
Kami sibuk menyiapkan diri untuk ke acara ulang tahun sea. Sejujurnya sea itu beruntung karena aku datang keacara ulang tahunnya dibanding sodara-sodara yang lain. Biasanya aku tidak mau pergi ke acara-acara seperti ini.
Wasley mengirim pesan padaku katanya dia on the way kerumah.
"Daddy, aku akan pergi dengan wasley untuk ke acara ulang tahunnya. Fine kan kalo aku ajak wasley?" Tanyaku sambil memasang anting.
"Tentu. Bagus kamu ajak varo jadi kamu ada temen dan gak sendirian. Daddy gak yakin kamu bisa berbaur disana" Aku membuang muka lalu mendecih. Tapi itu kenyataan sih.
Aku tidak menjawab perkataan daddy. Aku pergi kekamar untuk mengambil tas lalu berjalan menuju luar. Sepertinya wasley sudah datang.
Benar saja, aku berjalan menghampirinya. Tidak banyak bicara kami hanya saling melempar senyuman lalu masuk ke mobil. Didalam mobil saat aku melihat kebelakang ada sebuah tas berukuran sedang. Aku tebak sih, sepertinya isinya senjata. Tapi sudahlah tidak usah dibahas.
Diperjalanan tidak ada percakapan apapun. Sudah biasa. Saat mulai dekat dengan rumah sea, rumahnya ternyata luas dan banyak orang.
Setelah selesai memarkirkan mobil kami berjalan menuju pintu masuk utama yang cukup mewah dan ada red carpet.
Orang-orang melihati kami, mungkin karena kami jarang terekspos jadi seperti orang asing. Aku berjalan masuk sambil menggandeng tangan varo.
Didalam aku langsung mencari sosok sea. Setelah ketemu, aku lihat dia sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang sambil tertawa anggun. Dia menggunakan dres berwarna gold dengan mahkota kecil dikepalanya. Cantik.
Aku menunjuk sea dan wasley mengikuti pandangannya dengan yang kutunjuk.
"Itu sea, cantikkan? Aku akan menghampiri dia dan kamu siapkan semuanya" Kataku sambil emandangi sea yang begitu anggun.
"Lebih cantik kamu. Aku melihati kondisi dulu" Setelah itu wasley melepaskan gandengan dan pergi.
Aku tidak tersipu dengan perkataan varo soal aku cantik. Aku memang cantik. Jelas.
Aku berjalan kearah sea yang masih mengobrol dengan beberapa orang tadi. Sea cukup terkejut dengan kehadiranku.
__ADS_1
"Eh,, kak na— kamu dateng ke acara ulang tahun aku? Gak nyangka loh" Aku tersenyum sopan.
"Biasa saja. Aku di ajak ibu sama ayah kesini jadi ikut aja" Begini, biasanya orang tuaku jika ada acara-acara diluar, tidak mengajakku. Bukan mereka tidak peduli padaku tapi mereka mengerti. Sesekali mereka suka mengajakku tapi aku menolak dan sekarang dengan senang hati aku datang dengan wasley.
"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu tapi dikasihnya nanti setelah acara selesai. By the way, boleh di kamar kamu aja gak nanti waktu aku kasih kejutannya? Soalnya ini spesial" Tanyaku panjang.
Sepertinya sea merasa senang dengan perkataanku. "Wahh serius? Makasih. Nanti samperin aku aja buat kekamar akunya, oke?" Nahh dia mau. Baiklah aku tinggal menikmati acara yang memuakkan ini dan menunggu semuanya selesai.
.
Pesta berjalan kurang lebih tiga jam. Sangat lama dan membuatku bosan. Wasley juga sepertinya sibuk jadi tidak mendapingiku. Orang tuaku –mereka menghampiriku beberapa kali dan saat terakhir acara mau selesai mereka mengajak pulang tapi aku menolak karena ada keperluan dengan sea.
Aku menghampiri sea yang sedang duduk dikursunya sambil berfoto.
"Sea ayo, mau liat kejutannya gak?" Ajakku dan sea tersenyum senang. Seperti anak kecil.
Kami berjalan menuju kamarnya sea. Sepanjang jalan dia terus mengoceh membicarakan tentang pestanya. Aku hanya tersenyum dan membalas ocehannya beberapa kali.
"Belum sempet aku ngucapin, happy birthday sea. Sorry telat hehe" Ucapku dengan tertawa pura-pura canggung.
"Eh— makasihh. Dan makasih juga udah dateng ke pestaku, aku bener-bener gak nyangka" Ujarnya sambil membuka pintu kamarnya, kebetulan saat mengatakan itu kami sampai didepan kamar sea.
Saat sudah masuk alangkah terkejutnya sea, dia melihat ada seseorang dikamarnya dan juga melihat ada sebuah meja dengan hiasan indah.
"Kamu siapa? Kenapa ada dikamar aku?" Tanyanya dengan ragu.
Seseorang itu wasley "hai happy birthday. Sorry ya, gak sopan masuk ke kamar kamu. Aku cuma mau nyiapin ini semua" Sambil memberikan satu ikat bunga mawar merah yang begitu harum sampai tercium olehku.
"Sea, dia orang suruhanku. Maaf gak sopan. Nah— ini dia kejutannya gak spesial banget sih" Ucapku. Aku menarik sea kearah meja yang disiapkan wasley.
"Makasih lohh. Ini bagus banget kejutannya" Ucapnya tersenyum senang sambil melihati kejutannya.
"Kamu pasti capek, minum dulu. Ini jus buah. Biar seger" Aku menyodorkan minuman jus padanya.
Sea mengambilnya lalu meminumnya dengan cepat. Dia ini sepertinya benar-benar kehausan.
Dengan ekspresi datar dan dingin aku sedikit tersenyum melihati seorang perempuan cantik yang akan mati sebentar lagi.
Tidak lama aku melihat ekspresi sea terlihat aneh, "makasih ya na. Sekali lagi. Ak—" Sea memegangi kepalanya.
"Kok aku jadi ngantuk ya?" Kemudian, sea berjalan kearah kasurnya dan sebelum sampai, dia terjatuh kelantai seperti pingsan. Memang pingsan sebenarnya, tapi nanti dia jadinya tidur.
Aku menatapnya lalu mengalihkan tatapanku pada wasley dan tersenyum senang.
.
Kami berada di daerah xx, tepatnya di salah satu villa milikku. Jarang ditempati karena ini termasuk tempat rahasia yang tidak bisa diakses sembarangan, bahkan sekedar masuk jalanan menuju daerah ini. Hanya aku dan wasley yang bisa masuk ke rumah ini.
Sea masih tertidur, efek obatnya enam jam setelah itu dia akan terbangun. Selama tidur aku akan membuat sebuah seni ditangannya yang putih dan halus. Sekarang sea berada dikasur dengan badannya yang diikat.
Aku mengukir huruf N ditangan kirinya. Sangat indah. Sea tidak akan merasakan sakit saat aku menyayat tangannya dan dia tidak akan sadar.
Tidak hanya huruf N tapi aku juga menyayat tangannya secara terus-menerus sampai darahnya menetes dan menembus spray kasur.
Kami berbagi tugas. Wasley menyayat tangan sea disebelah kanan dan aku kiri. Karena tidak puas dan ditangan sudah penuh aku beralih lehernya. Aku melakukannya dengan hati-hati karena tidak ingin sea mati begitu saja. Tidak seru.
Beberapa jam berlalu dan sea mulai tersadar. Dia terbangun dan menatap linglung karena tidak mengenal tempatnya saat ini.
"Hai sea. Sudah bangun?" Tanyaku dengan ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. Sebentar lagi matahari muncul, sekarang pukul empat lewat empatpuluhlima menit. Hampir pagi hari.
Saat sea akan menoleh padaku dia mengerang seperti kesakitan. Sea terkejut saat melihat tangannya penuh dengan darah yang sudah mengering dan juga, lehernya yang terasa perih dan sakit. Tentu sangat terkejut.
Aku berjalan menghampirinya yang masih tidak berbicara apapun karena mungkin mencoba untuk sadar sepenuhnya dan menetralisir apa yang terjadi. Tapi percuma, ingatannya akan menghilang karena obat itu.
"Na, kenapa aku ada di sini? Ini dimana? Dan— k-kenapa tangan aku berdarah?" Aku tidak menjawab hanya melihatinya dengan penuh amarah yang terpendam.
Aku hanya tersenyum lalu mengusap wajahnya "aku disuruh angel buat membunuh kamu" Lalu senyuman manisku berubah menjadi senyum smirk.
Aku menggoreskan kuku palsuku yang ada potongan silet kewajahnya. Dia mengerang kesakitan.
"Angel? T-tapi kenapa?" Dia mulai menangis. Aku berdiri lalu berjalan kearah meja rias lalu membawakan sebuah surat yang sebenarnya aku yang membuatnya.
Aku menyerahkan surat itu pada sea lalu sea membuka dan membacanya.
To sea,
Kamu cantik dan pinter banget sampe aku iri, aku kesel. aku mutusin buat nyuruh na, buat bunuh kamu. Aku juga kesel karena suka dibandingin terus sama kamu.
Happy birthday and happy fun
^^^-angel^^^
....
Sea terkejut membaca suratnya lalu menangis lagi.
Dorr dorr
Wasley datang dengan langsung menembak sea. Darahnya mengenaiku. Sea tidak mati hanya kesakitan saja dan darah keluar mengalir dari peluru yang menembus kulitnya.
"Good morning, girl" Ujarnya dari arah pintu masuk berjalan menghampiri kami.
.
Aku menusuk perut sea berkali-kali lalu memukul wajahnya dengan palu sampai hancur. Lalu menyayat tangannya lagi dengan belati kesayanganku. Setelah itu giliran wasley yang untuk menghabisi sea.
Wasley menembak sea beberapa kali lalu setelah itu dia membawa sea— jasad sea yang setengah hancur ke kandang elang milikku yang berada di ruang bawah tanah, saat membuka kandangnya, burung elang kesayanganku itu terlihat senang dengan kedatanganku dan wasley.
"Hey, aegle apa kabar? Aku merindukanmu" Aku mengelusnya dengan penuh cinta tentunya.
..
Melelahkan.. Aku dan varo bersantai disofa sambil menikmati film sream kesukaan kami berdua.
Sesekali membicarakan yang telah kami lakukan tadi, itu menyenangkan.
Hari yang melelahkan. Tanpa sadar kami berdua tertidur disofa dan tv, itu akan mati sendiri.
__ADS_1
END-