
Gadis itu sekarang sedang terbaring di sofa ruang tengah. Sepertinya ia mengalami stres karena banyak belajar dan itu membuat kepalanya sakit.
Ia memutuskan untuk mengabari jay dan menyuruhnya untuk datang ke rumah. Sekitar sepuluh menit, jay akhirnya datang.
Gadis itu tidak sadar akan kedatangan jay, ia tertidur dengan selimut yang hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Saat jay masuk dan langsung menghampiri nazea yang ternyata ada di sofa, ia berjalan pelan kemudian duduk di samping nazea yang sedang tertidur.
Dengan pelan, jay mencoba membangunkan nazea "sayang, bangun–" Sambil mengelus kepalanya, yang katanya tadi sakit.
"Aku udah dateng. Aku bawa makanan juga, takutnya kamu belum makan" Jay berbicara di saat nazea mulai terbangun.
Nazea tetap dalam posisinya, ia merasa kepalanya sakit dan penglihatannya sedikit buram dan juga merasa pusing.
"Jay—" Lirihnya sambil memegang kepalanya "kepala aku sakit, pusing. Pandangan aku juga agak buram" Jelasnya.
Jay yang mendengar itu, langsung merasa khawatir "mau pergi ke dokter aja? Biar tau sakitnya kenapa, biar dikasih obat juga" Tawar jay.
Nazea menggeleng pelan.
"Nggak mau. Aku mau istirahat aja jay, tapi kamu disini, temenin aku" Dengan suaranya yang pelan dan lemas.
Jay mengusap pipinya, yang juga terasa agak hangat. Sepertinya nazea juga agak demam.
"Kamu udah makan?" Tanya jay dengan jawaban gelengan pelan dari gadisnya itu.
"Ya udah makan dulu—" Sambil berdiri dari posisinya duduknya. "Aku siapin dulu makanannya. Kamu udah tiduran aja kayak gini" Kemudian jay pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
.
Tak lama, jay kembali dengan membawa nampan dengan beberapa makanan diatasnya. Jay hanya membuat soup jagung dan juga susu hangat.
Jay meletakan nampannya di meja, kemudian membantu nazea untuk memposisikan diri menjadi duduk. Sungguh, gadisnya ini benar-benar sakit, tubuhnya hangat dan lemas.
Jay menyuapi nazea, karena dia untuk makan saja, agak kesulitan sepertinya.
"Enak banget. Aku suka" Ucap gadisnya itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Jay membalas tersenyum "iya dong, kan aku yang masak. Pasti enak" Ucap jay bangga. Kemudia tertawa pelan.
Jay menyuapi nazea sampai makanannya habis dan beberapa kali mengajaknya berbicara, setidaknya cukup untuk menghibur. Karna jika terlalu banyak diam, akan membuat perasaan menjadi hampa.
.
Pagi hari.
Diluar terdengar suara hujan, dan itu membuat nazea terbangun. Sekarang ia ada di kamarnya, sepertinya jay yang memindahkannya.
Gadis itu merasa, tubuhnya lemas dan tidak berenergi. Mau berbicara saja, sulit. Nazea mencoba bangun dari posisi tidurnya dan mulai duduk lalu turun dari ranjang kasurnya. Saat berdiri, kepalanya terasa pusing, ia bepegangan pada tembok lalu mulai berjalan keluar kamar.
Nazea pergi menuju kamar sebelah, untuk bertemu jay, sekedar ingin tau apa jay ada atau tidak. Tapi—
Brukk
Tak lama kemudia, jay datang.
"Nazea!" Tepat saat jay masuk ke kamar, ia terkejut melihat gadisnya itu yang sudah terbaring dilantai. Ia segera menghampirinya lalu segera memangkunya dan memindahkannya ke kasur.
"Nazea bangun.." Purau jay. Ia melihat arlojinya yang sudah lewat lima menit sejak menelpon dokter untuk datang ke rumah. Kurang lebih dokter akan datang ke rumah sekitar sepuluh menit.
...
Drrtt drrtt
Suara handphone, menunjukkan panggilan dari dokter. Jay segera mengangkat telponnya.
"Saya sudah ada didepan pintu"
"Baiklah, saya kesana"
Nazea belum juga sadar, padahal sudah lewat sepuluh menit.
Oke, sekarang dokter sudah datang. Kemudian, dokter itu mulai memeriksa nazea.
..
__ADS_1
"Dia kelelahan, bisa juga karna stres. Ini saya berikan resep obat, nanti dibeli saja di apotik. Sekarang dia tertidur bukan pingsan, jangan khawatir."
Jay mengambil kertas yang diberikan oleh dokter yang tertuliskan beberapa nama obat.
"Baiklah, terima kasih dokter" Jay mengangguk lalu tersenyum pedih sambil melirik gadisnya itu sesaat.
"Kalau begitu, saya pergi" Dengan menunduk sedikit, dokter mulai meninggalkan kamar dengan disusul jay, untuk mengantar sampai depan.
.
Sekitar jam sepuluh
Jay terus menunggu di kamar untuk menjaga nazea sambil mengerjakan tugasnya dan juga melihati tugas-tugas nazea yang ternyata cukup banyak. Ia mengoreksi, tugas-tugas nazea yang kurang tepat.
Jay fokus pada soal-soal yang ada dibuku, dan mengerjakannya satu persatu tanpa acak, sesekali melihat ke arah nazea. Untungnya hari ini hari minggu, jadi ia bisa menjaga na.
..
"Jay.." Purau gadis itu dengan pandangan ke arah jay.
Tidak pernah menyangka jika ia akan jadi sakit seperti ini. Lusa ada ujian, ia belum belajar untuk beberapa mapel lagi.
Jay yang mendengar itu, langsung meninggalkan tugasnya dan menghampiri nazea yang sudah tersadar.
"Akhirnya kamu bangun. Aku khawatir banget tau na. Maaf gak bisa perhatiin kamu belakangan ini" Dengan memegangi tangan nazea yang terasa agak hangat.
"I feel better jay, kamu gak perlu minta maaf. Aku ngerti akhir-akhir ini, bukan cuma kamu tapi juga aku, kita lagi sibuk belajar buat ujian dan butuh waktu sendiri." Jelas nazea dan jay langsung memeluknya.
Nazea tertawa pelan, kemudian membalas pelukan jay. "Maaf aku sakit" Puraunya.
"Aku sedih kamu sakit, aku khawatir—" Ucap jay tidak selesai, ia mengeratkan pelukan padahal nazea masih agak demam, bagaimana jika dia tertular?
"Jay, aku masih agak demam loh, peluknya nanti lagi aja, aku takut nanti nular ke kamu" Dan jay melepaskan pelukannya. Padahal, dia masih ingin memeluk gadisnya itu, bahkan jika bisa seharian ini. Tapi, benar kata na, nanti bisa tertular dan jika jay sakit nanti repot.
Mereka berdua saling bertatapan, selama beberapa saat dan nazea melihat kekhawatiran di mata jay dan jay melihat tatapan nazea yang terlihat kelelahan.
"Maaf—" Ucapan nazea terpotong, "gak perlu minta maaf lagi. Udah cukup" Sergah jay lalu memeluk nazea sekali lagi, memeluknya dengan erat.
__ADS_1