Ashleenaddison

Ashleenaddison
-NaJay- (serangan panik)


__ADS_3

.


"Aku lemah dan bodoh banget"


"I wanna self harm"


"I need jay"


.


Aku berusaha menenangkan diri karena sedikit panik dan ingin menangis. Tapi sulit untuk menenangkan diri disituasi sekarang.


Aku mulai memikirkan hal-hal negatif, terutama berpikir untuk melukai dirisendiri lagi.


"Punya silet?" Tanpa memikirkan apapun lagi aku bertanya pada teman disampingku.


"Heh! Mau ngapain? Jangan." Tegasnya. Temanku jelas tau apa yang akan aku lakukan.


Aku terfokus pada pikiran itu lalu memikirkan cara lain untuk melukai dirisendiri.


Aku melihati tanganku lalu menggaruknya, terus menerus sampai memerah dan kulitnya terkelupas sedikit. Tidak terlalu parah, disitu aku berpikir jika aku dibiarkan dan orang-orang tidak menyadarinya. Aku akan semakin parah lagi.


Aku memasang headset ditelingaku dengan suara full karena ruangan sangat berisik. Suara speaker dan nyanyian. Diruangan ini sedang lomba karaoke.


Aku terus berkata kasar pada salah satu osis panitia lomba ini. Emosiku meluap-luap. Aku jadi tidak tenang karena itu.


Aku tidak bisa tenang dengan banyak seperti ini. Aku menengok kanan kiri sesekali tersenyum biasa seperti tidak ada apa-apa. Tapi, rasanya aku tidak kuat. Aku lari dari ruangan ini menuju ke kelas. Untungnya kelas sepi.


Sampai dikelas aku terdiam dan dadaku rasanya sesak. Aku ingin menangis tapi tertahan. Perlahan aku mulai tenang dan pikiran melukai dirisendiri juga perlahan hilang.


Aku akan mencoba untuk menelpon jay saja. Aku ingin pulang. Semoga dia tidak sedang sibuk.

__ADS_1


Jay..


"Jay bisa jemput aku disekolah? Aku kena serangan panik tadi"


"Sekarang kamu baik-baik aja?"


"No. Aku lukain tangan lagi karena bingung luapin emosi gimana lagi"


"Ya udah tunggu ya, aku kesana sekarang"


"See you"


....


Untungnya jay mengangkat telponnya.


Sambil menunggu aku terus memdengarkan musik setidaknya agar aku tidak merasa kesepian.


.


Aku lihat jay sedang melihat-lihat kearah kelasku. Saat aku melihatnya rasanya aku ingin langsung memeluknya tapi ini disekolah. Jadi tidak mungkin aku memeluknya disituasi banyak orang disekitar.


"Are you okay? Aku—" Jay melihat-lihat kearah kanan kiri, lalu membawaku menjauh dari lingkungan sekolah yang banyak orang.


Sekarang sudah ditempat pemberhentian angkot. Jay juga memarkirkan motornya disini.


"Aku khawatir waktu kamu bilang kena serangan panik" Jay menatapku dengan tatapan khawatir lalu dia memegang tanganku lalu membuka sedikit baju lenganku. Ada sedikit luka ditanganku.


"Aku gak pa-pa sekarang, karena ada kamu. Aku merasa aman. Makasih" Ucapku sedikit purau lalu menutup baju lenganku.


"Jay ayo pulang. Disini sekarang menakutkan. Ada pembunuh" Aku mengajak jay dengan muka datar saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Na! Jangan lukain dirisendiri lagi.Telpon aku kapanpun kalo kamu butuh. Jangan begini." Omel jay padaku. Aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala dan melihati sepatu.


"Maaf. Aku terlalu emosi. Aku salah.." Gumamku sambil menahan tangis


Jay tidak menjawab dan berbicara apapun lagi. Dia menaiki motor dan akupun. Saat dimotor aku memeluk jay, selalu begini.


.


Aku pergi kekamar untuk mengganti baju dan jay dia tidak langsung pergi, padahal dia juga sedang sekolah. Seharusnya aku tidak mengganggunya, tapi aku harus apa lagi?


Sekarang aku dan jay sedang duduk diruang tengah sambil menyalakan tv menonton konten nct kesukaanku.


"Jay, maaf. Aku salah, aku bodoh dan aku aneh" Ucapku sambil memegang tangan jay.


"Kamu gak bodoh, kamu bukan orang aneh. Jangan bilang kayak gitu lagi. Itu bikin aku sedih" Ucap jay sambil mengelus tanganku.


"Aku pikir aku itu orang aneh, aku sakit mentalkan jay, kadang aku merasa takut, gimana kalo orang-orang menjauhi aku karena aku itu sakit mental?" Ucapku panjang sambil menyender dibahunya jay.


"Aku sayang kamu, kamu berharga buat aku. Ingat itu. Jangan kayak gini lagi aku mohon" Jay memelukku sambil mengatakan itu.


Tanpa aku sangka, aku menangis "rasanya seolah-olah telinga aku itu tertutup. Semua perkataan kamu gak ada yang masuk. Boleh gak kalau nyerah aja, jay?" Pasrahku.


Jay memelukku dan mencoba menenangkanku. Aku beruntung memiliki jay. Dia selalu ada dan mengerti keadaanku.


"Kamu boleh nangis tapi jangan menyerah ya? Kamu punya aku didunia ini. Aku bakal selalu ada buat kamu kapanpun," Ucap jay sambil terus mengusap kepalaku.


Aku semakin menangis, dadaku sakit..


Sampai akhirnya, aku mulai tenang dan merasa lelah karena menangis, aku tertidur dipelukan jay. Cukup lama jay memelukku.


Saat jay sadar aku tertidur, dia melepaskan pelukan lalu dia mengusap pipiku yang basah. Lalu jay membawaku kekamar dan menidurkanku.

__ADS_1


....


__ADS_2