ASMARA CEO MUDA DENGAN GADIS PERANGKAT DESA.

ASMARA CEO MUDA DENGAN GADIS PERANGKAT DESA.
BAB 6


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa Dewi sudah 3 bulan kerja menjadi staf desa.


"Wi besok, untuk pembagian BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) akan cair, kamu tolong cek ya siapa aja yang dapet bantuan per RT nya dan pastikan penerima nya tepat sasaran. " Ucap Bu Euis Sekdes Bojongloa Kidul


"Baik Bu, saya kerjakan sekarang biar besok gak riweh" jawab Dewi.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Disisi Lain..


"Rul, Kamu sudah siapakah beberapa berkas dan keperluan kita untuk beberapa hari di Desa Bojongloa?" Ucap Adhitya pada Arul sang asisten.


"Sudah bos, semuanya sudah siap, tapi kita di sana tidak menginap di hotel melainkan kita menginap di villa Deket desa Bojongloa. "Jawab Arul.


"Baik lah, kita berangkat sekarang" ucap Aditya.


Adhitya dan Arul pergi menggunakan Mobil Pajero warna Putih, ia sengaja memakai mobil tersebut karena kalo pake mobil sport kesayangan takut nanti kenapa-kenapa saat di desa.


Perjalanan menuju Desa Bojongloa Kidul memakan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan. Karena Desa Bojongloa Kidul termasuk pelosok. Meski demikian Desa tersebut sebentar lagi akan ramai dikunjungi wisatawan karena di daerah tersebut sedang berlangsung pembuatan pelabuhan terbesar ke dua se Asia. Maka dari itu lahan milik PT Prayoga Group akan membangun wisata di desa itu sekaligus pabrik kain. Yang nantinya akan mudah di akses apabila akan melakukan export ke beberapa negara.

__ADS_1


Hari mulai gelap, perjalanan menuju Desa Bojongloa pun telah selesai Adhitya dan Arul sampai di villa milik keluarga Prayoga.


"Akhirnya nyampe juga, melelahkan sekali ternyata" Ucap Adhitya sambil merebahkan badan nya di kasur.


Arul juga langsung ke kamar nya untuk beristirahat.


Selang beberapa menit Adhitya haus ia ingin meminum kopi. Ia pun memanggil Arul.


"Rul, disini ada cafe gak?" tanya Adhitya.


"Setau saya gak ada, tapi tadi saya liat di jalan pas kesini ada warung kopi ala-ala cafe gitu, tempatnya juga modern klasik. Dan lumayan ramai" jawab Arul


Mereka berdua pun pergi ke tempat dimana mereka tuju.


WARUNG KOPI BUNGSU TUNGGAL


Warung kopi yang di desain modern klasik ini adalah milik Dewi, tempatnya berada di tengah sawah, jalan menuju warung kopi tersebut di hiasi lampu kelap kelip menunjukkan suasana yang romantis, warung nya dibuat panggung, lantainya beralaskan bambu yang dianyam, dan tiang nya juga memakai bambu sehingga terlihat klasik tapi modern dan yang gak kalah bagus adalah suasananya romantis. Yang mana warung kopi yang dikelilingi pesawahan dan terdapat jembatan bambu yang bagus untuk berfoto-foto.


Sawah tersebut sengaja di buat seperti itu, untuk dijadikan lahan usaha Dewi agar ia tak memikirkan Hudri tunangannya itu dan bisa move on. Ya, sawah yang begitu luas nya adalah milik pak Kurtubi, ia sengaja memberikan nya untuk Dewi anak gadis yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Rame juga ternyata tempat ini" Ucap Adhitya


"Ia bos, ayo kita masuk " jawab Arul.


Arul dan Adhitya masuk ke dalam warung kopi tersebut dengan jalan kaki, karena mobil nya diparkir ditempat perkiraan. Walaupun berjalan dengan rasa takut terjatuh karena melewati jembatan bambu Adhitya akhirnya menemukan tempat duduk juga. Ia pun segera memesan kopi dan makanan.


"Silahkan diminum pak kopinya, ada tambahan lain??" tanya pelayanan dengan ramah.


"Nggak ada mba, nanti kalo ada saya panggil lagi". Jawab Arul.


Mereka pun memakan makanan dan minum kopi kesukaannya masing-masing.


"Enak juga ternyata kopi dan makanan nya, gak nyangka banget ditempat seperti ini ada makanan seenak ini seperti di restoran ternama". Ucap Adhitya


"Iya bos gak nyangka" Jawab Arul.


"Besok kita mulai dari mendatangi Kades untuk membujuk warga agar warga yang Deket dengan tanah kita mau dijual." Ucap Adhitya.


"Siap bos beres" Jawab Arul lagi.

__ADS_1


Sesudah makan dan minum kopi akhirnya mereka pun kembali ke Villa.


__ADS_2