
Cahaya mentari pagi yang menyinar membuat seorang gadis mengernyit dan menundukkan kepalanya mengurangi pancaran sinar matahari.
Langkah ringan gadis itu terlihat dengan tangan yang membawa satu botol besar berukuran satu liter berwarna biru.
Dijam kerja begini kendaraan memang sangat ramai, dan untungnya saja pabrik tempatnya bekerja tidak jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Agatha Reyka Pratiwi, gadis dengan rambut sebahu yang memiliki tinggi 163 sentimeter itu bekerja sebagai operator di salah satu pabrik tas dekat rumahnya.
Gadis yang kerap dipanggil Aga itu selalu menguncir rambutnya kebelakang, meskipun pendek.
Seragam ungu yang dia pakai memang sedikit kebesaran namun membuatnya nyaman dan bergerak bebas. Karna pekerjaannya yang membutuhkan angkat-angkat karton.
Sebelum masuk, para karyawan dan karyawati diwajibkan untuk timecard terlebih dulu. Untuk memudahkan hrd dalam menghitung jam masuk dan jam keluar.
Aga yang baru saja timecard segera berjalan menuju bagiannya, yaitu packing.
Aga sendiri sebenarnya ada perasaan nyaman dan tidak nyaman dalam bekerja. Karna bagaimanapun lingkungan kerja mempengaruhi.
Mungkin Aga merasa lebih beruntung karna dirinya tidak lama ini baru saja dipindahkan ke Line sebelah, yang membuatnya tidak begitu memikirkan perasaan orang terdekat. Karna di Line barunya, orang-orangnya tidak begitu baperan.
"Pagi."
Seperti biasa, orang-orang akan memberikan selamat pagi kepadanya, atau dialah yang akan memberikan selamat pagi kepada orang-orang.
Aga tersenyum dan menjawab, "Pagi."
Gadis berkuncir itu berjalan menuju boks kecil untuk mengganti sepatunya. Aga memang biasa bekerja menggunakan sandal.
Dia menghela napasnya dan duduk terlebih dulu, karna selama jam kerja bagiannya tidak diperbolehkan duduk dan harus tetap berdiri.
Baru saja Aga duduk bersantai sambil menunggu bel masuk. Seseorang duduk di sampingnya dan tertawa tidak jelas.
Laki-laki jangkung dengan tinggi 180 sentimeter dengan tato dibergambar kepakan sayap terbang, entah apa artinya Aga tidak pernah bertanya.
Meskipun tidak terlalu terlihat, namun mata teliti Aga selalu bisa menangkap keberadaan tato dilengan kiri laki-laki gondrong di sampingnya yang masih cengengesan gak jelas.
"Kenapa lo? Pagi-pagi udah kayak orang gak waras?" tanya Aga tanpa melirik laki-laki di sampingnya dan malah sibuk memijat kakinya sendiri.
"Lo tau gak?"
Laki-laki bernama Petir itu langsung menghadap kepada Aga sepenuhnya, menandakan jika dirinya akan memulai cerita panjang yang disertai dengan tawa ngakak laki-laki itu.
"Gak tau, lo belum bilang," jawab Aga cuek membuat Petir mendengus sebal.
"Tadi hahahaha."
Kan, apa yang Aga bilang. Petir itu selalu memulai cerita namun akan banyak tawa ngakaknya di dalamnya.
Kadang juga Aga sampai bingung apa yang Petir ceritakan karna laki-laki gondrong itu selalu tertawa dulu sebelum bercerita yang jelas.
"Gue ... anying! Ngakak gue ngingetnya hahaha."
Bahkan Petir sampai memukul pahanya berkali-kali karna tidak bisa menghentikan tawanya sendiri.
Sedangkan Aga yang sudah tau kebiasaan laki-laki gondrong itu memutar bola matanya malas dan menggeleng pelan.
__ADS_1
"Lo kenapa?"
Aga menoleh, menatap Petir yang sekarang memegangi perutnya sambil geleng-geleng kepala tak jelas.
"Tadi gue ...."
Petir mengangkat sebelah tangannya meminta Aga menunggunya sebentar untuk melanjutkan ceritanya.
Aga menghela napasnya sabar.
"Gue tadi ngempesin ban-nya Pak Taher!"
Respon yang Aga berikan hanya mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" tanya gadis itu bingung.
"Lagian gue gak boleh parkir di parkiran, katanya harus punya stiker parkir dulu kalau mau masuk parkiran. Kan aneh! Ya udah abis parkir di luar gue langsung ke parkiran sama Beno terus kempesin ban motornya Pak Taher," jelas Petir dengan rasa lega yang hanya bisa dia rasakan sendiri.
Aga yang mendengarnya hanya manggut-manggut saja, yang penting Petir bahagia dan tidak merajuk ataupun mengaduh padanya seharian ini.
"Ya udah, lo sekarang semangat kerja, sana! Bel udah bunyi."
Aga segera berdiri dan segera membersihkan meja kerja satu Linenya, sedangkan Petir berjalan menuju gudang packing untuk memulai pekerjaannya.
Petir dan Aga memang berada dalam satu Line. Petir sebagai packing transfer dan Aga sebagai packing Line.
...ðŸ’ðŸ’ðŸ’...
"Saya bingung dengan apa yang dikerjakan karyawan."
Sedangkan gadis yang sengaja mengikat rapih rambutnya dengan tangan yang memegang sebuah berkas itu hanya bisa diam dan menunduk, menjaga pandangan dari atasannya.
Laki-laki berjas itu menatap sekretarisnya. "Jam setengah sepuluhan nanti saya akan berkunjung ke pabrik, kamu jangan infokan biar saya saja, saya ingin tau apa yang mereka lakukan di lapangan."
Recha Anggita Putri, atau yang kerap dipanggil Chaca itu mengangguk paham.
"Baik Pak. Saya akan siapkan berkas yang Bapak perlukan nantinya."
Atasan Chaca itu mengangguk dan memberikan isyarat dengan tangannya agar gadis itu keluar dari ruangannya.
Chaca mengangguk dan menunduk sekali kemudian berjalan keluar dari ruangan panas sang atasan.
Ketika baru saja menutup pintu, gadis dengan kemeja mocha yang disandingkan dengan rok span sedengkul berwarna navy itu menghela napasnya dan mengelus dadanya.
Chaca menggeleng pelan dan segera berjalan menuju meja kerjanya. Meja yang berdiri tepat di depan pintu ruangan atasannya. Karna dirinya yang menjabat sebagai sekretaris dari pemegang saham terbesar di salah satu perseroan terbatas atau yang lebih dikenal dengan singkata PT.
Dan lebihnya lagi, atasannya itu juga memiliki perusahaan sendiri yang bernama Alphabet Corp. Perusahaan manufaktur terbesar di ASEAN.
Akhir-akhir ini memang dirinya mendapat banyak kerjaan dikarenakan pihak tertinggi dari PT belum mengirimkan laporan data bulan ini. Sedangkan sang atasan sudah menodongnya berkali-kali ... bahkan hampir mengamuk.
...ðŸ’ðŸ’ðŸ’...
Dengan tangan yang sibuk namun kuping yang sedang mencerna ucapan dari teman-teman satu mejanya, Aga mencoba tenang dan sesekali akan menimpali atau hanya tertawa saja jika ada yang lucu.
Bagaimanapun, mengobrol dan membicarakan sesuatu adalah cara ampuh untuk membuat kita agar tidak mengantuk saat bekerja.
__ADS_1
Aga baru saja ingin mengambil fom dari map biru pengambilan barang. Ibu paruh baya yang sering mereka panggil Bunda menyuruhnya untuk mengambil beberapa tas dari gudang packing.
Gadis berkuncir itu segera mengangguk dan segera melaksanakan perintah.
Aga berjala menuju gudang packing, mencari Petir terlebih dulu untuk menanyakan tas group gramerci kepada packing transfer mereka. Yang lebih tau ditaruh di mana karton boks tas tersebut.
"Mba Fira liat Petir gak?"
Mba Fira yang Aga tanyakan menggeleng dan gadis itu mengangguk, segera mencari Petir ke belakang gudang.
Mendengus sebal saat melihat Petir yang sedang rebahan dengan tangan yang diletakkan di bawah kepala untuk dia jadikan bantal, dan memperlihatkan tato sayap di otot lengannya.
Dengan kakinya yang menendang kaki Petir, Aga mencoba membangunkan Petir dan laki-laki gondrong itu segera mengangkat kepalanya kemudian menghela napas saat melihat Aga.
"Barang gramerci di mana?" tanya Aga dan mengisyaratkan Petir untuk mengambilkannya.
"Di sebelah, cari aja ada namanya. Udah gue namain Line 11," jawab Petir dan melanjutkan tidurnya.
Aga mendengus. "Gak mau ngambilin gitu?" tanyanya berharap Petir ingin mengambilkannya untuk dirinya.
"Punya kaki sama tangan, masih sehat lagi. Bisa dong ambil sendiri," jawab laki-laki gondrong itu yang terdengar menyebalkan ditelinga Aga.
Gadis itu mendengus dan segera berjalan ke tempat yang Petir maksud. Memang sudah ada tulisannya, dan Aga juga sudah melihatnya tadi.
Tapi karna takut salah mengambil barang, dia lebih ingin memastikannya saja kepada Petir.
"Emang tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang geluduk sejenis dia, seharusnya gue tau itu," dumel Aga dengan tangan yang sibuk menggapai satu karton boks yang lebih tinggi darinya.
Sangking fokusnya ingin segera menurunkan satu boks yang sedang dia gapai tersebut, membuatnya berjinjit dan tidak sadar jika boks di samping boks yang akan dia ambil itu bergoyang dan terjatuh.
Aga langsung memejamkan kepalanya dengan tangan yang melindungi kepalanya.
Hanya terdengar suara karton berjatuhan, dan itu membuat Aga janggal.
Kenapa tidak ada karton yang menjatuhinya? Padahal dirinya berdiri tepat di samping karton-karton yang berjatuhan.
Dan perlahan namun pasti, Aga mendongak. Mengernyit saat menatap dasi biru dongker di hadapannya dan semakin ke atas dia bisa melihat jakun yang naik-turun milik seorang pria.
Lebih kagetnya lagi, saat dirinya semakin mendongak, Aga melihat seorang pria dengan alis tebal, hidung mancung, tatapan matanya yang tajam, rambutnya yang klimis, dan yang membuatnya gagal fokus adalah ... lesung pipi di pipi kanan laki-laki itu yang terlihat samar saat laki-laki di hadapannya mengatur napas.
Dan sekarang ... Aga serasa bermimpi ... bermimpi bertemu dengan pangeran tampan dalam dunia dongeng.
Entah ini beneran hanya mimpi atau memang kejadian seperti sekarang.
Laki-laki itu baru saja menghalanginya dari tumpukan karton yang berjatuhan akibat ulahnya ... dengan punggung lebarnya.
âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–
Hai, salam kenal. Aku Rea. Di sini aku membuat cerita kolaborasi dengan Indah Oktaviany.
Terima kasih sudah baca dan sukai ceritanya.
Love From.
Anye & Indah.
__ADS_1