At The Speed Of Light

At The Speed Of Light
EMPAT


__ADS_3

Hari semakin gelap. Namun, Aga dan juga Chaca masih setia menempati salah satu meja kafe.


Yang keduanya lakukan sedaritadi membahas sesuatu yang sama sekali tidak penting sebenarnya.


Hanya saja, menurut Chaca, hal ini bisa membuat rasa lelah dan pusing akibat pekerjaan sedikit berkurang.


Chaca menyesap kopi latte-nya yang tersisa. Kemudian, dia menyimpan gelas itu ke meja dan kembali menatap Aga. "Gue pengen punya pacar," ujar Chaca tiba-tiba.


Red velvet latte yang baru saja melewati bibir hingga mulut Aga, hampir saja berbalik arah.


Gadis itu terbatuk dan menepuk dadanya beberapa kali saking kagetnya dengan apa yang diucapkan Chaca. "Bercanda, 'kan?" tanya Aga masih dengan sisa-sisa kagetnya.


Chaca menghela napas pelan. Rambut yang awalnya diikat itu, dibuka secara perlahan. Menyisir rambut coklat gelapnya dengan sela-sela jari, kemudian tangannya beralih menopang dagunya di atas meja. "Hidup gue terlalu membosankan, Ga. Gue butuh sesuatu yang baru," kata Chaca.


"Dan sesuatu yang baru itu ... pacaran gitu?" tanya Aga ragu.


"Ya gitu," sahutnya.


"Kenapa harus pacaran?" Aga bertanya lagi.


Chaca mengangkat bahunya tak acuh. "Biar punya pengalihan. Lagian, umur gue juga udah cukup kali buat nyoba hal kayak gitu."


Aga mengangkat satu tangannya. Gadis itu masih terbelalak menatap Chaca. "Bukan masalah umurnya, Cha. Masalahnya, ini terlalu tiba-tiba. Seorang Chaca, si gila kerja, tiba-tiba bilang pengen punya pacar. Emang dari sekian banyak cowok yang deketin lo, ada yang sesuai selera? Bukannya menurut lo semua cowok enggak menarik di mata lo?"


"Bahkan, Pak ... Siapa nama bos lo?" Aga menghentikan ocehannya karena melupakan nama seseorang yang sudah menolongnya dari tumpukan karton pagi tadi.


"Pak Bima."


"Nah! Itu, Pak Bima. Manusia yang rupanya udah kayak malaikat aja, lo ogah buat ketemu dia." Aga kembali mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.


Chaca mengedikkan bahunya. "Nah masalahnya itu."


"Temen lo ... Ada gak yang ...."


"Gak ada!" Aga menyahut cepat.


Temannya yang mana? Tipe cowok Chaca saja, Aga tidak tahu yang seperti apa. Sejak dulu, waktu Chaca kerap kali dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar.


Padahal, banyak cowok yang menyukai Chaca sejak zaman sekolah, dulu. Tapi, tak ada satupun yang berhasil menjadi pacarnya Chaca.


Chaca bilang, dia tidak tertarik untuk berhubungan dengan lawan jenis. Entah apa penyebabnya.


Dulu, anak-anak populer sekalipun secara terang-terangan mengungkapkan kekagumannya pada Chaca. Dia cantik, wajar saja. Tapi, jika cowok populer saja ditolak, bagaimana dengan teman-teman Aga yang hanya karyawan pabrik?


"Kayaknya gak ada, Cha ...." Aga bergumam ragu.


Chaca menghela napas pelan. "Siapa aja, kek, Ga," ujar Chaca merajuk.


"Temen gue ya rata-rata satu kerjaan sama gue."


Iya, Chaca berasal dari keluarga berada. Dia sempurna, terlalu sulit mencari orang yang pas untuk Chaca menurut Aga.


"Ya terus kenapa?"


"Ih, lo kok ngebet banget, sih?" Aga mendengkus pelan. Mengaduk minumannya yang tersisa sedikit dengan sedotan.


Chaca tertawa. "Iya juga, ya. Gue lagi ngelantur kayaknya."


Akhirnya, pembahasan tak lagi berlanjut.


Ngomong-ngomong, tadi Chaca sempat membicarakan Petir. Jika Aga menjodohkan Chaca dengan Petir ... tidak, tidak! Itu bukan hal yang bagus, pikir Aga.


Petir itu pacarnya di mana-mana. Tidak cocok sekali dengan Chaca yang ingin memulai pengalaman pertamanya untuk menemukan seorang kekasih.


Tapi ... ini juga kali pertama Chaca menanyakan seorang laki-laki pada Aga. Lantas ... apakah benaran Chaca penasaran dengan Petir?


Aga menghela napas pelan dan menggeleng. Sepertinya, Aga sama lelahnya dengan Chaca. Pikirannya jadi melantur ke mana-mana.


"Eh, pulang, yuk. Udah mau malem," ajak Chaca.


...💭💭💭...


Suasana warung kopi di pinggir jalan dekat kos-kosan membuat suasana tampak riuh.


Salah satu penghuni kos pemilik rambut gondrong yang diikat sebagian menyesap kopinya seraya menatap fokus pada pertandingan sepak bola yang tersaji pada layar televisi kecil.


Tak hanya sendiri, banyak bapak-bapak yang bertugas ronda ikut serta menonton pertandingan sepak bola seraya menyesap kopi yang mereka pesan.


"Wasitnya gak adil. Harusnya pelanggaran, itu!"


Petir memilih fokus tanpa banyak bicara.

__ADS_1


"Eh, Petir, ikut nonton juga?"


Petir menoleh, lelaki itu cengengesan kala mendapati seorang bapak-bapak yang dia kenali duduk di sampingnya.


Pak Saeful. Ketua RT di kompleks tempatnya ngekost.


"Iya, Pak. Bosen di kos, gak ada makanan. Mending di sini, mau makan tinggal ambil," jawab Petir ngasal.


Pak Saeful tertawa mendengarnya. "Tetep aja harus bayar," jawabnya.


"Ya seenggaknya gak perlu keluarin tenaga banyak, Pak. Kalau diem di kos, belum beli mentahannya, belum masaknya, belum beresin bekasnya. Kalau di sini kan tinggal ambil, makan, bayar. Selesai."


Pak Saeful menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Petir. Tangannya terulur menepuk pundak Petir sekali. "Bisa aja, kamu."


"Eh, di tempat kerja kamu ada lowongan, nggak?" tanya Pak Saeful.


Petir mengerutkan alisnya mencoba mengingat-ingat. "Kurang tau, Pak. Pak RT mau ngelamar?"


"Ah, kamu. Masa umur tua kayak Bapak ngelamar. Mana diterima. Berdiri lama-lama aja udah gak kuat."


Petir cengengesan lagi. Laki-laki itu lantas menopang dagunya dan menatap ke arah Pak Saeful. "Siapa yang mau ngelamar?"


"Itu, anak Bapak. Si Rara. Bosen di rumah terus, pengen kerja katanya," jawab pak Saeful.


Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. "Coba aja suruh ngelamar, Pak. Atau enggak, si Rara suruh e-mail aja terus ke pabrik," jelas Petir.


Pak Saeful tersenyum sumringah. Pria paruh baya itu menepuk pundak Petir beberapa kali. "Oke, terimakasih, Petir. Nanti Bapak kasih tau Rara."


Petir mengangguk singkat dan tersenyum. "Asal anak gadisnya buat saya ya, Pak," jawab Petir asal.


Pak Saeful tertawa mendengar jawaban bercanda Petir.


...💭💭💭...


Sepulangnya dari cafe, Chaca langsung membersihkan tubuhnya. Namun, hal yang Chaca lakukan selanjutnya adalah, menyeduh kopi sachet rasa latte dan duduk di meja tempat dia menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai.


Ditemani dengan segelas kopi, Chaca membuka laptopnya.


Gadis itu menghela napas lega kala laporan bulan ini sudah dikirim lewat e-mail.


Gadis itu mengikat rambutnya asal. Mengenakan kacamata, kemudian memilih memulai pekerjaannya.


Seharusnya, Chaca bisa menyelesaikan ini besok. Namun, dia memilih memulai pekerjaannya hari ini ketika mengingat apa yang bosnya katakan.


Tring!


Pekerjaan Chaca berhenti sebentar. Gadis itu melirik ponselnya yang sengaja di simpan di samping laptop.


Meliriknya sekilas, rupanya chat itu berasal dari Aga.


Seperti malam-malam sebelumnya, dia akan menyuruh Chaca tidur dan beristirahat.


Dia yang paling tahu kebiasaan Chaca.


Selama hampir beberapa jam kemudian, pekerjaan Chaca selesai.


Gadis itu melirik ke arah jam di dinding.


Hampir tengah malam. Kopinya sudah dingin, padahal belum dia minum sama sekali.


Gadis itu memijat pelipisnya pelan setelah membuka kacamata yang dia kenakan. "Akhirnya beres juga," gumam Chaca.


Gadis itu meraih ponselnya dan tertawa pelan kala melihat chat spam yang berasal dari Aga.


Sahabatnya itu marah-marah dan mengatakan, chat yang dia kirim pada Chaca masih ceklis dua.


...💭💭💭...


"Woi, nebeng, gak?" teriakan Petir terdengar ketika Aga baru saja keluar dari rumahnya.


Lelaki itu berhenti di depan rumahnya menuju tempat mereka bekerja.


Sebenarnya hanya berjalan sedikit, sampai. Tapi ya ikut dengan Petir tidak masalah juga, 'kan? Anggap saja menghemat tenaga.


"Bentar," kata Aga. Gadis itu segera membenarkan sepatu yang dikenakannya.


Setelahnya, Aga berjalan sedikit cepat menghampiri Petir dan naik ke motornya.


"Selamat pagi dulu dong, Ga. Biar gue semangat menjalani hari ini," ujar Petir lebay.


Aga mendelik sebal. "Males," jawabnya.

__ADS_1


"Aga mah, suka malu-malu tai kucing gitu, dehhh." Petir terkekeh pelan. Lelaki itu menjalankan motornya menuju parkiran luar.


Setelah sampai, Petir memarkirkan motornya, dan berjalan bersama Aga untuk melakukan timecard.


Keduanya berjalan menuju bagian mereka, packing.


"Eh, Ga, lo tau gak?"


"Lo belum cerita. Mana gue tau," jawab Aga. Gadis itu duduk di kursi dan melepas sepatunya untuk dia ganti dengan sandal seperti biasa.


Petir ikut duduk di sebelahnya. "Masa Pak RT nanyain lowongan kerja ke gue. Padahal, gue kan bukan yang punya pabrik, ya."


Aga memutar bola matanya malas. Seperti biasa, hari-hari Petir akan diisi dengan ucapan-ucapan yang tidak berfaedah sepertinya.


"Terserah. Lo mending siap-siap, deh. Kita ke sini mau kerja, bukan mau ghibah."


Petir mendelik sebal. "Lo mah gitu, Ga. Ke gue marah-marah, ke yang lain senyum-senyum ramah. Padahal hari ini orang pertama yang lo temui di pabrik, gue. Tapi enggak ada tuh lo ngucapin selamat pagi ke gue."


"Selamat pagi, Petir," sahut Aga malas.


Petir tersenyum. "Selamat pagi, Aga. Pulang kerja, jalan, yuk," ajaknya seraya cengengesan.


"Ogah!"


"Buset, enak banget nolaknya."


Petir melipat kedua tangannya di depan dada. Cowok itu menatap ke arah Aga. "Ga, temen lo yang kemarin, kapan ya ke sini lagi?"


"Mau apa?"


"Siapa tau kan, Ga, dia jadi ...."


"Salah satu cewek lo? Gak akan mau dia sama lo."


Petir memicingkan matanya. "Lo gak percaya dengan kekuatan pesona seorang Petir?"


...💭💭💭...


"E-mail yang kamu kirim. Sudah saya cek. Masih banyak yang salah. Perbaiki!"


Chaca mengangguk sopan. Sia-sia dia bergadang semalaman. Untungnya, sebelum mencetak laporan tersebut, Chaca memilih mengirim versi dokumennya.


Jadi, dia tak perlu menghabiskan kertas jika akhirnya menjadi sia-sia seperti sekarang.


"Baik, Pak."


"Kayaknya, sebulan sekali kita harus ngecek keadaan pabrik kayak kemarin. Biar kejadian kayak gini enggak terulang lagi. Ngirim laporan sampai ngaret begini."


Chaca mengangguk lagi. "Mau dibuat jadwal, Pak?"


"Kamu tau apa yang harus kamu lakuin. Gak usah nanya. Selesaikan tugas kamu sebelum jam makan siang. Kita rapat buat bahas masalah ini."


Chaca mengangguk lagi. "Baik, Pak. Kalau gitu, saya permisi."


Chaca keluar dari dalam ruangan bosnya. Gadis itu menghela napas pelan dan mengusap dadanya.


Sepertinya, mood Pak Bima masih belum membaik sejak kemarin.


Ini salah satu alasan kenapa Chaca memilih untuk tidak bertemu dengan Pak Bima. Ketika moodnya tidak bagus, dia akan mengomel walau kesalahan kecil sekalipun.


"Pagi, Chaca. Pak Bima sudah datang?"


Chaca yang baru saja akan melaksanakan tugasnya, mendongak. Gadis itu mengangguk. "Sudah. Ada perlu apa?" tanya Chaca.


"Mau kasih ini." Gadis itu mengangkat sebuah map.


"Udah ada janji sebelumnya?"


"Pak Bima yang nyuruh langsung masuk aja, Cha. Kemarin."


Chaca mengangguk paham. "Oke, langsung masuk aja."


Gadis itu berterimakasih dan langsung masuk.


Chaca menghela napas pelan. Mengambil kacamatanya dan memilih memulai pekerjaannya.


Oke, dua tugas, dan Chaca harus menyelesaikannya sebelum jam makan siang.


"Kerjaan kamu gimana, sih? Saya sudah kasih waktu lama dan masih banyak yang salah? Ulang, saya gak mau tau harus beres hari ini!"


Chaca menoleh ke arah pintu. Gadis itu menggeleng kepala pelan kala mendengar nada suara tidak santai di dalam sana.

__ADS_1


Menurutnya, Pak Bima itu moodnya lebih dari cewek PMS. Dan itu selalu berhasil membuatnya bergidik ngeri ketika Pak Bima mengalami mode mood swing begitu.


"Pantas aja gak dapet pacar, kerjaannya marah-marah mulu," gerutu Chaca dengan tatapan yang masih fokus pada layar monitornya dan jemarinya menari lincah di atas keyboard.


__ADS_2