At The Speed Of Light

At The Speed Of Light
LIMA


__ADS_3

Bima menggerutu, berkas yang ada di lengannya dia lempar asal ke atas mejanya menimbulkan suara nyaring.


Entah mengapa menurutnya semua orang sangat menyebalkan akhir-akhir ini. Apa mereka selalu ingin dia marahi setiap hari?


Mereka pikir Bima marah-marah tiap hari tidak capek apa. Dia akui, marah-marah setiap hari sangat melelahkan. Tapi jika tidak marah-marah bukan Bima namanya.


Laki-laki yang sudah menangkalkan jasnya dan menggulung kemeja putihnya hingga ke siku itu menghela napas kasar saat sebuah sambungan telepon mampir ke ponselnya.


Apalagi saat dirinya membaca papan nama siapa yang menghubunginya.


Dengan malas sebelum menjawab panggilan telepon dari sebrang sana, Bima mengatur napasnya. Mencoba meredamkan amarahnya.


Jempolnya dengan perlahan menggeser ke kanan custom berbentuk telepon berwarna hijau.


Dan sebuah omelan langsung membuka percakapan antara dirinya dan juga si penelepon.


"Bima! Kenapa dengan laporan ini? Kenapa semakin lama semakin menurun saja pemasukan bisnis kita? Apa yang kamu kerjakan tiap hari? Pemasukan dan pengeluaran terjadi defisit."


Sebelum menjawab Bima menghela napasnya terlebih dulu.


"Bima bisa jelaskan, Pa," ujarnya setenang mungkin.


Namun belum juga menyelesaikan kata-katanya, Papanya — orang diseberang sana langsung memotongnya dan memaki Bima seperti biasa.


"Apa yang harus dijelaskan? Semua sudah terbukti."


Lagi, Bima mencoba mengatur napasnya. Laki-laki itu memijat keningnya yang terasa sangat pening.


"Papa dengar kemarin kamu ke pabrik? Apa yang kamu dapat? Kenapa laporan bulanan anjlok? Kamu tanam saham di pabrik mana? Pabrik kecil lagi? Rugi Bima! Percuma saya kuliahin kamu keluar negeri jika hasilnya begini."


Tangan Bima mengepal kemudian membuka lagi dan menahan emosinya dengan memegang pahanya kuat.


"Iya, Bima atasi segera, Pa. Dan untuk tanam saham, Bima yang atur sendiri."


"KARNA ITU. Apa-apa yang kami atur sendiri tidak akan membuahkan hasil yang manis."


"Beri Bima waktu, Pa," ujarnya pelan, seperti berbisik. Menahan emosi yang menjadi air mata. "Bima pasti bisa menaikkan harga saham yang Papa mau, beri Bima waktu."


Terdengar celaan menyakitkan dari sebrang sama sebelum panggilan diputus oleh Papanya.


Bima mengatur napasnya, mengatur emosinya, dan mengelap air matanya.


Mungkin orang-orang akan mengiranya cengeng. Seperti anak yang baru saja diomeli Papanya lalu menangis.


Tapi faktanya, Bima setengah mati menahan emosinya yang selalu berakhir dengan mengeluarkan air mata. Karna jujur, menahan emosi itu susah, sedangkan meluapkan emosi itu mudah.


...💭💭💭...


Aga baru saja keluar dari area pabrik. Di tangannya sekarang ada botol minum biru satu liternya dan juga ponsel genggam miliknya.


Gadis itu berjalan menuju rumah sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya tidak ada yang harus Aga periksa, karna dia tau ... tidak akan ada seseorang yang menghubunginya. Jika bukan operator pemberitahuan kuota malamnya sudah habis.


Ketika sedang memainkan ponselnya tiba-tiba saja telepon masuk membuatnya tersentak dan mengernyit saat mendapati nama Chaca di sana.


Dengan sesegera Aga mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Cha."


"Waalaikumsalam, Ga. Urgent, bantu gue."


Aga yang mendengar itu langsung menghentikan langkah kakinya dan memfokuskan pendengarannya.


"Kenapa, Cha?"


"Bos gue ... Pak Bima. Crush elo."


Gadis berkuncir itu langsung tegap dan pegangan pada botol minum birunya semakin kuat.


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Pak Bima pingsan, Ga. Gue bingung harus gimana."


"Kok bisa?" Aga ikutan panik mendengarnya. "Emang gak ada siapapun di sana?"


"No. Semua orang udah pada pulang. Dan hari ini Pak Bima gak ngizinin ada yang lembur. Jadi tinggal gue sama dia di sini."


Aga menarik napasnya kemudian menghelanya dengan perlahan.


"Okay. Lo tunggu sana, gue ke sana lima menit."


"Heh! Gimana bisa lima menit?!"


Aga langsung memutuskan panggilan teleponnya. Gadis itu segera berlari berbalik arah menuju area pabrik lagi.


Ahh — Aga lupa, Petir tidak parkir di area pabrik. Jadi dia memutar arah dan berlari menuju parkiran umum di depan pabrik.


Gadis itu segera mencari keberadaan buaya air asin itu.


Aga melambaikan tangan agar Petir melihatnya, tapi namanya saja Petir, meskipun memiliki arti kilatan dan suara yang keras, namun Petir itu bolot.


"Gondrong! Buaya!"


Aga mendengus dan berlari menghampiri Petir, memukul kencang pundak laki-laki itu membuat Petir mengaduh sakit dan menatap Aga kaget.


"Woyla! Tangan lo," adu Petir sebal dan mengelus punggungnya meskipun agak susah.


"A-ante ...."


Petir ikutan mangap-mangap saat Aga berkata tidak jelas dan malah mangap-mangap karna merauk oksigen.


"Anterin gue ketemu Chaca," ujar Aga pada akhirnya dengan satu tarikan napas.


"Chaca?" tanya Petir bingung. "Chaca jajanan gopean itu?" tanyanya lagi dengan wajah idiotnya.


"Bukan nanti gue ceritain, pokoknya buruan."


Aga segera mendorong Petir menuju motor laki-laki itu. Untung saja tadi pagi dirinya pergi bersama Petir, jadi dia tau di mana motor Petir terparkir.


"Lo utang penjelasan," ujar laki-laki gondrong itu memberitahu dan Aga hanya mengangguk.


Tangan gadis itu memukul pundak kiri Petir dua kali kemudian mengacung ke depan. "Jalan!"

__ADS_1


Dan Petir segera menjalankan motornya, membelah lautan karyawan pabrik dengan perlahan. Jika ngebut, Petir tidak ingin bertanggung jawab.


Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Aga dan Petir sampai di depan gedung kantor Alphabet Corps.


Aga segera turun dan menarik tangan Petir membuat laki-laki itu hampir saja terjungkal ke belakang.


"Bener-bener nih cewek bar-bar," gerutunya sebal dengan Aga.


Aga itu benar-benar definisi kecil-kecil cabe rawit. Badan aja kecil tapi tenaganya melebihi kapasitas. Heran Petir juga.


"Mau ngapain sih kita?" tanya Petir ketika mereka sudah masuk lift.


"Nomor berapa sih? Lantai berapa? Buruan jawab!" omel Aga pada Petir membuat laki-laki gondrong itu kebingungan sendiri.


"Apanya yang nomor? Apanya yang berapa sih? Gue gak paham?" tanya Petir seperti orang bodoh.


Aga mendengus. "Lantai berapa Petir?! Kalau Pak Bima mati gue bunuh lo ya!"


"Astaga! Jahat bener lo sama gue."


Petir langsung bergidik. Aga ini — apa cewek jadi-jadian ya.


"Lantai paling atas kali ya, coba deh," ujarnya dan segera menekan lantai paling atas. "Kalau salah, lo tanggung jawab."


Petir tersentak saat Aga menatapnya tajam dengan tangan yang mengacung padanya.


"Bisa depresi gue kalau gini," gumam Petir mengasihani dirinya sendiri.


Lift terbuka, Aga langsung menarik tangan Petir untuk berlari. Dan kembali membuat Petir hampir terjungkal, untung saja dirinya bisa menjaga keseimbangan.


"Ini kantor siapa deh, Ga? Ngapain kita ke sini sih?" Petir bertanya-tanya bingung dan mengedarkan pandangannya ke penjuru koridor yang mereka lewati.


"Chaca."


"Heh kok lo teriak-teriak di tempat orang sih."


"Recha."


Brak.


Sebuah pintu terbuka dan muncullah Chaca dari dalam sana. "Aga."


Aga segera menghampiri Chaca begitu juga dengan Petir.


"Pak Bima," tunjuk Chaca pada seorang laki-laki yang tergeletak di atas sofa dengan tidak berdaya.


Aga menatap Petir galak. "Lo kok diem aja? Angkat! Bawa Pak Bima ke rumah sakit," perintah Aga.


Petir menunjuk dirinya sendiri dan Aga mengangguk dengan mendorong-dorong Petir agar mendekati Bima.


Petir menghela napasnya kasar. "Gue lagi yang jadi korban," gerutunya pelan, jika terdengar oleh Aga bisa kena omel lagi dia. Takut kena mental.


Laki-laki gondrong itu segera menggendong Bima di punggungnya dan keluar menuju rumah sakit dengan diikuti Aga dan Chaca di belakangnya.


"Pake mobil gue, sini," ujar Chaca saat Petir malah berputar-putar seperti orang bodoh ingin dinaiki apa Pak Bima ini.

__ADS_1


Petir mengangguk dan hanya mengikuti Chaca sedangkan Aga menjaga Bima dari belakang agar tidak terjatuh.


Dan mereka bertiga berhasil membawa Bima ke rumah sakit terdekat, dengan Petir yang selalu menjadi korban bully Agatha.


__ADS_2