
Bel pulang baru saja berbunyi. Aga dan teman-teman yang lain segera merapihkan peralatan kerja mereka yang ada di atas meja. Aga segera meraih sapu yang ada di bawah meja kerja mereka dan merapihkan lantai, begitu juga dengan Kani – teman satu line-nya.
Setelah semua bersih, Aga segera berjalan menuju pintu keluar. Tidak lupa juga mereka melakukan timecard untuk menandakan mereka sudah keluar dan jam kerja hari ini telah berakhir.
Saat baru saja membuka loker dan mengecek ponselnya, sebuah pesan dikirimkan padanya.
Chaca Marica
- Ketemuan di kafe biasa ya.
- Gue sampe setengah jam lagi kok.
Dan pesan tersebut telah dikirimkan padanya sejak limabelas menit yang lalu, yang artinya Chaca akan tiba limabelas menit lagi.
Aga segera membalas pesan yang tadi Chaca kirimkan padanya, menyetujui ajakan sahabatnya itu.
Mereka berdua memang sering bertemu saat keduanya memiliki waktu luang. Dan Aga sedikit penasaran dengan Chaca. Tumben sekali sahabatnya itu tidak lembur dan tidak sibuk sampai-sampai meminta untuk bertemu.
Tapi tidak apalah, itu lebih bagus. Mereka jadi memiliki waktu berdua yang sudah jarang ditemukan sejak Chaca bekerja sebagai sekretaris dan pekerjaan sahabatnya itu banyak. Chaca itu gadis yang super sibuk, tidak seperti dirinya yang hanya pura-pura menyibukkan diri.
Langkah kaki ringan Aga mengiringinya menuju kafe depan persimpangan yang tidak jauh dari pabrik tempat dirinya bekerja.
Sesampainya di kafe Aga segera masuk dan ternyata Chaca belum juga tiba di sana. Ahh – Aga mekmalumi, mungkin jalanan sedang macet dan sahabatnya itu terjebak dalam lautan kendaraan.
Gadis berkuncir itu segera memesan favoritnya, yaitu red velvet latte dan tidak lupa memesankan minuman untuk Chaca juga —kopi latte.
Setelahnya Aga berjalan menuju meja favorit mereka, yang berada di samping kaca paling pojok sebelah kanan kafe. Karna di sanalah mereka bisa menatap ke arah luar dengan sangat leluasa, dan di sana juga adalah tempat paling ternyaman mereka berdua saat menghabiskan waktu bersama.
Selagi menunggu, Aga mencoba menyambungkan jaringan wifi dan segera berselanjar ke social media untuk menghilangkan rasa bosannya sampai Chaca tiba nantinya.
Tidak lama akhirnya yang ditunggu tiba juga. Chaca datang bersamaan dengan datanganya minuman yang Aga pesan tadi.
Chaca yang mengtahui bahwa Aga sudah memesankan untuknya juga langsung tersenyum senang dengan tatapan kepada Aga.
"Thank you, masih perhatian gak taunya."
Mendengar itu Aga mendengus sebal dan segera mengambil gelas minuman miliknya.
Setelah meneguk minumannya, tatapan Aga kembali menatap sahabat kecilnya itu.
__ADS_1
"Kenapa nih? Tumben lo ngajak ketemuan?" tanya Aga pada akhirnya.
Bukannya langsung menjawab, Chaca malah terkekeh mendengar pertanyaan yang Aga lontarkan padanya. Mungkin kemarin-kemarin dirinya memang sangat sibuk sekali sampai-sampai di rumah hanya numpang tidur saja.
"Kange aja sama lo," sahut Chaca yang membuat Aga langsung menatapnya dengan tatapan aneh dan itu kembali membuat Chaca terkekeh.
"Kaget gue seorang Chaca ngomong gitu, tiba-tiba pula."
Chaca tertawa geli dan kembali menyeruput minumannya.
"Tadi lo beneran gak papa?" tanya Chaca dengan wajah khawatirnya.
Aga mengernyit dan mengangguk. "Gak papa. Yang seharusnya lo tanyain itu bos lo, dia gak papa, kan?" tanya Aga dengan penasaran.
Chaca berdeham agak panjang. "Tadi sih sebelum ke sini gue ketemu dia ... baik-baik aja. Masih datar seperti biasaanya," jawabnya membuat Aga terkekeh.
"Baru tau gue kalau bos lo pemegang saham terbesar di pabrik tempat gue kerja."
"Ya gitu," sahut Chaca dengan sedotan yang tidak berpindah dari bibirnya.
"Ganteng bos lo, Cha," ujar Aga tiba-tiba. "Cuci muka mulu ya lo tiap hari," canda gadis itu juga.
"Ganteng sih emang gue akuin dia ganteng," ujar Chaca dan mengakat kedua jempolnya. "Tapi dia bukan tipe gue. Boro-boro cuci muka, gue sekali natap dia ...." Chaca langsung mengangkat kedua jarinya. Jari telunjuk dengan jari tengahnya dan disejajarkan dengan matanya. "Tatapan matanya itu kayak mau nusuk gue sampai mati." Chaca bergidik. "Kadang gue juga ogah ketemu sama Pak Bima."
Aga terkekeh mendengarnya. "Namanya Pak Bima?" tanyanya dan Chaca mengangguk sebagai jawabannya.
"Gue aja kaget tadi dia kok bisa nolongin lo biar gak kejatohan kardus-kardus itu."
"Karton boks, bukan kardus," ralat Aga atas ucapan Chaca dan sahabatnya itu malah hanya mengangguk saja. "Berarti dia baik dong, kan nolongin gue," ujar Aga menyahuti ucapan Chaca tadi.
Chaca malah mengadikkan kedua bahunya membuat Aga mendengus. Sekretaris macam apa yang menjelek-jelekkan bos-nya begini jika bukan Chaca pelakunya.
"Eh lupa ... gue mau nanya dong."
Aga mengernyit. "Apa?"
"Tadi di pabrik gue ketemu laki-laki, dia rambutnya gondrong terus diiket setengah gitu. Lo tau siapa?" tanya Chaca membuat kerutan Aga semakin jelas terlihat di dahinya.
Apa yang Chaca maksud itu si geluduk? - Batin Aga.
__ADS_1
"Emang kenapa?"
"Tadi gue ngeliat dia kayak orang bangun tidur gitu, terus dia ikutan duduk di bangku yang lagi gue dudukin. Gue mikirnya kok dia senggang banget sampai bisa duduk terus ngajak ngobrol gue. Padahal gue liat kalian kayaknya sibuk banget tadi. Siapa sih dia? Kok gak kena SP?" tanya Chaca panjang lebar menceritan orang yang dia maksud.
Aga yang mendengar itu tertawa pelan, ternyata tebakannya benar. Siapa lagi jika bukan karyawan pemalas yang anehnya selalu lolos dari pemeriksaan ketika laki-laki itu sedang malas-malasan. Aga saja sampa heran apalagi Chaca yang baru pertama melihat laki-laki gondrong itu.
"Oh dia ...."
"Lo kenal?" tanya Chaca penasaran dan Aga menganggukkan kepalanya.
"Dia Petir, satu line sama gue," jawab Aga dan menyeruput minumannya.
"Udah punya pacar?"
"Dia buaya," sahut Aga. Dan mengernyit saat menyadari sesuatu. "Kok tumben nanya gitu? Ada apa nih?" tanyanya penasaran dan menatap Chaca dengan menggoda.
Chaca berdeham dan mengalihkan pandangannya. "Yaaaa cuma pengen tau aja," sahutnya mencoba sesantai mungkin.
Aga hanya mengangguk tidak lagi mencurigai Chaca membuat gadis berambut panjang serta diponi itu bernapas lega dengan pelan.
"Pak Bima ... udah ada pacar belum?" tanya Aga tiba-tiba.
Chaca menaikkan kedua bahunya. "Karyawan di kantor gak ada yang begitu tau dengan urusan pribadinya. Pak Bima terlalu tertutup dan ... menyeramkan sih menurut gue," jawabnya dengan bergidik ngeri diakhir kalimatnya.
"Menurut lo gue cocok gak sama Pak Bima?" tanya Aga lagi.
Chaca tersedak dan menatap Aga. "Lo ... cinta pandangan pertama gitu? Sama dia?"
"Maybe, emang kenapa?" bukannya menjawab Aga malah bertanya balik.
"hemm ... menurut gue sih nggak."
"Kok gitu?"
"Pak Bima kayak gantar dan lo ... nanti nih kalau kalian beneran jadian gue takutnya lo malah dikira adeknya bukan bininya," jelas Chaca atas pendapatnya.
Aga yang mendengar itu hanya mendengus sebal. Tapi apa yang Chaca bilang ada benarnya juga.
Pak Bima terlalu tinggi untuk bisa dia gapai. Dan terlalu mustahil untuk bisa menjadi kenyataan.
__ADS_1