At The Speed Of Light

At The Speed Of Light
DUA


__ADS_3

Aga mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya, dia tersadar ketika laki-laki yang melindunginya dari karton-karton yang berjatuhan, sudah berjongkok membereskannya.


"E-eh."


Aga sontak saja ikut berjongkok dan ikut membereskan karton.


Lelaki yang memiliki wajah bak malaikat itu, melirik sekilas ke arah Aga. Tanpa banyak bicara, dia berdiri dan menatap ke arah gadis yang kini sudah berdiri seraya memeluk sebuah karton berisikan beberapa tas yang dia cari tadi.


"Makasih." Aga menunduk seraya mengucapkan terimakasih.


Lelaki yang memiliki postur tegap dan tegas secara bersamaan itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana.


Dia mengangguk sekilas. "Hati-hati," ingatnya.


Tanpa banyak bicara, lelaki itu melangkah meninggalkan Aga sendirian.


Sampai akhirnya, perhatian Aga beralih ketika sebuah tangan halus mengusap lengannya.


Aga mendongak.


"Hati-hati, Ga," ujarnya kala mengusap lengan Aga sekilas seraya berjalan melewatinya karena harus mengikuti langkah laki-laki yang sudah menolong Aga, tadi.


Aga mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang dia lihat.


Ya, benar. Sepertinya Aga tidak salah lihat.


Dia Chaca — Recha Anggita Putri. Sahabatnya sejak zaman duduk di bangku sekolah dasar.


Gadis yang sejak dulu memiliki badan paling tinggi di antara teman-temannya. Dan sahabat yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


Aga tau Chaca adalah seorang sekretaris. Jika saja Chaca berada di sini bersama seseorang yang mengenakan jas khas kantoran, itu artinya ... Apakah lelaki tadi adalah Bos-nya Chaca?


...💭💭💭...


Gadis dengan tinggi 170 cm itu terus mengikuti langkah atasannya dengan beberapa berkas yang berada di pelukannya.


Ucapan Bima Alfan Gemantara — yang tak lain adalah atasan Chaca perihal ingin tahu apa yang karyawan lakukan benar-benar terjadi. Sedaritadi, yang Bima lakukan adalah berjalan untuk memantau pekerjaan mereka.


Dan sudah tentu Chaca ikut menemaninya walau hanya berjalan di belakangnya.


"Laporan bulan ini harus sudah ada di meja saya paling lambat lusa."


Lagi-lagi, Chaca mendapatkan kalimat itu.


"Baik, Pak," jawab Chaca.


Bima kembali melangkah. Dan Chaca kembali mengikuti langkahnya.


"Pak Bima."


Langkah Bima dan Chaca berhenti kala seorang wanita dengan baju biru yang menandakan jika dia adalah pengawas berjalan menghampirinya.


"Sudah ada janji dengan pak Harto?" tanyanya basa-basi.


Pak Harto adalah atasan di sini. Salah satu orang yang sering Bima dan juga Chaca temui karena dia adalah atasan di PT ini, dan perusahaan Bima adalah salah satu pemegang sahamnya.


"Enggak ada," jawab Bima.


"Pak Harto enggak akan datang hari ini, Pak. Saya kaget waktu lihat Bapak berkunjung, saya kira Bapak ada janji dengan beliau," ujar pengawas itu menjelaskan.


"Saya pamit." Bima mengatakan itu seraya melirik sekilas ke arah pengawas tersebut dan memberi isyarat pada Chaca untuk segera pergi.

__ADS_1


"Maaf, Pak? Bapak bisa duluan? Saya akan menyusul." Chaca menunduk sopan.


Bima menatap Chaca sebentar. Sebelum akhirnya, dia mengangguk dan memilih pergi. "Saya tunggu di mobil," ujarnya sebelum benar-benar pergi.


Chaca membuang napasnya secara perlahan. Kemudian, dia beralih menatap ke arah pengawas di depannya. "Kira-kira, kapan pak Harto masuk?" tanya Chaca.


"Sepertinya, besok, Bu."


"Bisa minta tolong sampaikan pada pak Harto untuk segera mengirim laporan bulanan? Sudah saya chat di WA, sudah saya kirim e-mail beberapa kali. Tapi enggak ada balasan dari beliau." Chaca menjelaskan.


Wajah yang terlihat jutek tapi cantik itu benar-benar menampakan raut serius sekarang.


"Baik, Bu. Akan saya sampaikan."


"Saya tunggu secepatnya. Kalau gitu, saya pamit, ya, terimakasih, Bu." Setelah berpamitan, Chaca memilih melangkah pergi.


Gadis itu berdecak pelan kala merasakan sakit di bagian kakinya.


Sepertinya akan lecet, mengingat dia terus berjalan mengikuti Bima dengan high heels yang dia kenakan.


Chaca berhenti sebentar. Melihat sebuah kursi panjang. Gadis itu duduk sebentar untuk memastikan kakinya terlebih dahulu.


Membuka high heels yang dia kenakan, kemudian mengusap kakinya yang ternyata benar-benar lecet.


"Ngerepotin," umpatnya sebal.


Chaca kembali mengenakannya.


Berkas yang dia simpan di sampingnya ketika membuka high heels, kini dia ambil kembali.


"Kenapa kakinya?"


Wajahnya terlihat jelas menandakan bahwa dia baru saja bangun tidur.


"Ngantuk gue." Dia menguap tanpa malu.


Chaca berdecak pelan. Memilih berdiri, dan hendak melangkah pergi.


"Gue gak pernah lihat lo di sini. Lo siapa?" tanya lelaki itu.


"Saya salah satu bawahan dari pemegang saham di sini," jawab Chaca.


"Oh, kalau bawa-bawa kertas begitu ... berarti lo sekretarisnya?" tanya lelaki itu.


Dia menyandarkan tubuhnya seraya menatap ke arah Chaca.


Chaca mengangguk sekilas. Terlihat risih karena terus diperhatikan oleh laki-laki yang tidak dia kenal itu.


Kemudian, perhatian Chaca beralih pada baju yang dikenakan oleh lelaki itu. "Karyawan di sini?" tanya Chaca.


"Iya."


"Gak kerja?"


"Santai aja." Lelaki itu terkekeh pelan.


Chaca memicingkan matanya. Dia hendak mengeluarkan kata-kata. Namun, telponnya berdering.


Gadis itu dengan segera meraihnya dan menatap nama panggilan masuk di ponselnya.


"Hallo, Pak. Saya ke sana sekarang," ujar Chaca cepat. "Permisi." Chaca melirik sinis ke arah lelaki itu dan memilih melangkah pergi begitu saja.

__ADS_1


...💭💭💭...


"Jadi yang tadi itu salah satu pemegang saham di sini?" Pertanyaan itu diajukan oleh Aga di jam istirahat.


Mereka duduk di sebuah kantin dengan makan siang mereka masing-masing.


Di depan Aga, ada Petir yang sibuk ngemil Pocky kesukaannya.


"Kayaknya, sih," jawab salah satu teman Aga.


"Ada janji sama atasan atau gimana?" tanya Aga lagi.


Teman Aga menggeleng. "Enggak, gua denger dari pengawas yang enggak sengaja nyapa dia, katanya enggak ada janji. Kayaknya sih cuman ngecek doang."


Aga mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian kepalanya menoleh mantap Petir dan menunjuk laki-laki itu membuat Petir menaikkan alisnya.


"Apa tunjuk-tunjuk?" tanya laki-laki itu ngegas.


"Untung lo gak ketauan lagi tidur tadi. Kalau ketauan kena SP, terus abis kontrak gimana?"


"Do'a lo gitu banget sama gue, Ga," sahut Petir sedih dengan ekspresi kesedihannya yang dia buat-buat membuat Aga memutar bola matanya malas.


"Eh, gue duluan, ya." Teman Aga menepuk bahu Aga seraya berdiri.


"Mau ke mana, manis? Sini duduk sama Aa." Petir menyahut dengan senyum menyebalkan yang dia tunjukan.


Sebuah jari tengah ditunjukkan oleh gadis itu sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Petir tertawa. Mereka suka bercanda. Jadi, Petir tak akan ambil hati untuk itu.


"Eh ngomong-ngomong soal pemegang saham, tadi gue ketemu sama sekretarisnya."


"Chaca?!" Sahut Aga.


"Oh, namanya kayak jajanan gopean di warung."


Aga kembali memutar bola matanya malas. Bukan Petir namanya jika tidak menanggapi sesuatu secara asal-asalan.


"Tinggi ya dia, Ga. Lo kenal?"


"Sahabat gue."


"Kenalin dong." Petir menaik-turunkan alisnya. Dia tersenyum seraya mengigit Pocky-nya.


Mendengar itu, Aga mendelik. Dia berdiri saat itu juga. "Ogah!"


"Kenapa? cemburu, ya?"


"Amit-amit tujuh turunan, delapan tanjakan. Mimpi aja lo sana."


Mendengar jawaban dari Aga, Petir lantas tertawa keras.


Bahkan, setelah Aga meninggalkannya sekalipun, Petir masih belum bisa menghentikan tawanya.


Kebiasaan Petir yang satu ini sangat sulit dihilangkan. Ketika dia merasa ada sesuatu yang lucu, dia akan kesulitan untuk menghentikan tawanya.


Soal permintaan Petir untuk berkenalan dengan gadis bernama Chaca yang kataya Sahabat Aga, itu tidak serius.


Tapi kalau semisalkan Aga setuju sih ya enggak nolak juga.


Chaca cantik, terlihat jutek. Membuat lelaki manapun tertantang untuk mendekatinya. Enggak ada salahnya juga, kan, berkenalan dengan gadis itu?

__ADS_1


__ADS_2