Awal Pertama Masuk SMA

Awal Pertama Masuk SMA
CHAPTER 10


__ADS_3

“Papah hanya ingin kasih tau kamu untuk jaga diri, kamu harus mandiri, jangan bergantungan sama orang lain ya.” Ucap Papah Tina.


“Iya pah,” ucap Tina dan mengusap air matanya yang mengalir sedikit demi sedikit.


“Tina mau minta Izin sama Wali Kelas Tina dulu ya Pah, minta Izin selama beberapa hari ga masuk sekolah buat rawat Papah di rumah sakit.” Ucap Tina.


“Gausah Na, kamu sekolah aja, nanti ketinggalan pelajaran.” Ucap Papah Tina.


“Ngga Pah, Tina mau rawat Papah, Tina kangen sama Papah.” Ucap Tina memeluk Papahnya dan menangis di pelukan Papahnya.


“Sudah-sudah jangan nangis, ya sudah kalau itu yang kamu mau.” Ucap Papah Tina.


Setelah 5 hari Papah Tina di rawat di Rumah Sakit, akhirnya sama Bu Dokter sudah boleh pulang.


Sore hari.


Di Rumah Sakit.


“Papah sekarang sudah boleh pulang, Papah tinggal sama Tina di kosan ya.” Ucap Tina.


“Ngga Na, Papah ga mau ngerepotin kamu. Papah ingin pulang kerumah dan bicara sama Mamah kamu.” Ucap Papah Tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.


“Ok Pah, kalau gitu Tina pesan Taksi Online dulu ya.” Ucap Tina memegang tangan Papahnya.


“Iya, makasih ya sayang.” Papah Tina mencium kening Tina dan memeluknya.


Beberapa menit kemudian, Taksi yang di pesan Tina datang.


“Pah, Taksinya udah datang. Yuk kita pulang ke rumah.” Ucap Tina senyum bahagia karna akhirnya Papahnya bisa pulang.


“Ayo sayang,” balas Papah Tina dengan menggandeng Tina.


Selama di perjalanan, mereka berbagi kasih sayang. Karna, beberapa hari tidak bertemu.


Papahnya Tina memeluk Tina sepanjang perjalanan, dan Tina membalas pelukan Papahnya.


Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai.


Di depan rumah Tina.


“Hati-hati Pah turunnya,” Tina membantu Papahnya turun dari mobil.


“Makasih ya sayang, ayo kita masuk.” Papah Tina menggandeng tangan Tina dengan erat.


“Eh Tuan? Tuan sudah sembuh?” ucap Pak penjaga.


“Bagaimana kamu bisa tau, kalau Saya di sakit?” tanya Papah Tina.


“Saya sama Non Tina yang membawa Tuan ke Rumah Sakit, Tuan.” Ucapnya.


“Makasih ya, tolong buka kan gerbangnya.” Ucap Papah Tina.


“Baik Tuan,” ucap Pak penjaga itu dan membuka lebar pintu gerbang tersebut.


“Tok tok tok,” Papah Tina mengetok pintu rumahnya.


Pintu terbuka, “Eh?! Tuan sudah pulang?” ucap pembantu rumahnya.

__ADS_1


“Dimana Nyonya? Panggil dia!”  teriak Papah Tina dari ruang tengah.


“Baik Tuan,” ucap pembantu menghormati Tuannya dan pergi mencari Nyonyanya.


Di kamar Nyonya.


“Tok tok tok,” pembantu itu mengetuk pintu kamar Nyonya.


“Ada apa sih?! Ganggu aja!” teriak Mamah Tina dari dalam kamarnya dengan nadanya yang tinggi dan kesal.


“Itu Nyonya, Tuan sudah pulang.” Ucap pembantu.


“!!?, yang bener kamu?!’ ucap Mamah Tina dengan terkejut dan langsung membuka pintu kamarnya.


“Iya Nyonya, Tuan ada di bawah Nyonya.” Ucap pembantu.


“Bagaimana ini, dia kenapa harus pulang?! Seharusnya sudah mati di gudang itu!” dalam hati Mamah Tina.


“Bilang padanya, Saya akan turun sebentar lagi.” Ucap Mamah Tina, wajahnya penuh dengan keringat.


Setelah itu, pembantu tersebut turun ke bawah.


“Tenang.., harus tenang. Biar ga ketahuan.” Gumam Mamah Tina dan mempersiapkan dirinya.


Di lantai bawah.


“Mana Nyonya?! Kenapa dia ga turun?!” ucap Papah Tina mulai mengeluarkan amarah yang dia pendam.


“Nyo, Nyonya ada di atas Tuan, katanya sebentar lagi akan turun Tuan.” Ucap pembantu dengan gugup karna ketakutan.


“Turun kamu!!” teriak dan tegasnya Papah Tina, amarah yang ia pendam akhirnya keluar.


“Maksud Papah apa? Mamah ga ngerti?” tanyanya.


“Pinter banget ya akting kamu! Plak!” Papah Tina menampar istrinya.


“Pah! Kenapa Papah nampar Mamah?!” ucapnya tanpa bersalah.


“Ga usah pura-pura kamu! Plak!” ucap Papah Tina dan menamparnya lagi.


“Pah, udah Pah, kasian Mamah.” Tina menarik tangan Papahnya.


“Biarin! Dia itu bukan Mamah kamu! Ga usah kasian padanya!” ucap Papah Tina dengan tegas.


“Walapun Saya bukan Mamah kandungnya. Tapi, Saya juga Mamahnya! Saya yang merawat dia dari kecil!” balas Mamah Tina.


“Berisik kamu!!” Papah Tina menamparnya lagi.


“Bohong! Mamah baik sama aku kalau ada Papah doang di rumah!” ucap Tina.


“Diam kamu!” teriak Mamah Tina dari tangga dan menghampiri Tina.


“Kurang ajar ya kamu!!” Mamah Tina menjambak rambut Tina di hadapan Papah Tina.


“Hentikan! Suruh siapa kamu nyentuh anak Saya!” Papah Tina memegang tangan istrinya untuk melepaskan rambut Tina dan mendorongnya jatuh ke lantai.


“Kurang ajar kalian! Akan ku balas kalian semua!” ucap Mamah Tina dan pergi ke kamarnya.

__ADS_1


“Kamu gapapa kan Na?” tanya Papah Tina ke Tina.


“Gapapa ko pah, kita ke kamar Tina aja ya. Papah harus istirahat yang banyak.” Ucap Tina sambil menuntun Papahnya ke kamar Tina lantai atas.


Kamar Mamah Tina dan Tina satu lantai. Tapi, jarak antara kamar Tina dan Mamahnya sangat jauh.


Di kamar Tina.


“Papah istirahat dulu ya,” ucap Tina sambil membereskan kasurnya.


“Makasih ya sayang,” ucap Papah Tina melihat Tina dengan senyum bahagia, karna anaknya sangat menyayanginya.


“Na, Papah mau bicara sesuatu.” Ucap Papah Tina dengan ekspresi wajahnya yang serius.


“Mau bicara apa Pah?” Tina pun terbawa suasana karna keseriusan wajah Papahnya.


“Sini, lebih dekat sama Papah.” Ucap Papah Tina.


“Apa Pah? Tanyanya Tina dan mendekat ke Papahnya.


“Sesuatu,” ucap Papah Tina di telinga Tina.


“Iya, sesuatu apaan Pah? Tanyanya Tina dengan penasaran.


“Na, Papah mau cerai sama Mamah mu.” Ucap Papah Tina.


“Lho? Kenapa Pah?” tanya Tina.


“Mamah kamu udah jahat sama Papah, ternyata Papah salah menilai Mamah mu.” Ucap Papah Tina, raut wajahnya yang sedih membuat Tina merasakannya.


“Pah, tadi pas Tina ke rumah, Mamah marah sama Tina karna panggil dia Mamah, Mamah bilang dia bukan Mamah kandung Tina. Apa itu benar Pah?” tanya Tina.


“Iya Na, dia bukan Mamah kandung kamu.” Ucap Papah Tina.


“Terus, Mamah kandungku siapa Pah?!” tanya Tina.


“Papah ga tau Mamah kandungmu dimana. Dia juga membawa pergi anak laki-lakinya.” Ucap Papah Tina.


“Anak laki-laki? Apa itu adik kandungku? Atau kaka kandungku?” tanya Tina penasaran.


“Bukan, anak laki-laki itu kaka tirimu.” Ucapnya.


“Maaf Pah kalau Tina lancang, Tina boleh tau cerita Papah sama Mamah dulu?” ucap Tina.


“Kamu beneran mau tau ceritanya?” tanya Papah Tina sedikit khawatir.


“Iya Pah,” ucap Tina dengan keseriusannya.


“Baiklah, memang seharusnya kamu tau tentang Mamah kandung mu.” Ucap Papah Tina sambil memegang tangan Tina.


“Pada zaman Papah masih SMA, Papah sangat mencintai Mamah mu, dia sangat baik, perhatian, manis, pokonya Mamah mu itu saat SMA di bilang bunga kembang di sekolah SMA bahkan saat kuliah pun Mamah mu masih sangat cantik.” Ucap Papah Tina dengan membayangkan wajah Mamah Tina.


·Bersambung·


Halo semua, jangan lupa di vote ya. Supaya semangat untuk membuat part selanjutnya👌.


*16Juli2020*

__ADS_1


__ADS_2