Awal Pertama Masuk SMA

Awal Pertama Masuk SMA
CHAPTER 07


__ADS_3

“Maaf dok,” ucap Tina dan Ivan dengan bersamaan.


Lalu dokter tersebut keluar dari kamar ibu kos.


“Gara-gara lu kan Van,” ucap Tina dan duduk di kursi.


“Lo duluan yang ngejar-ngejar gue.” Balas Ivan.


“Gara-gara lo, bukan gue. Udah ah, lu mau ga makan nih makanan?” tanya Tina dengan menunjuk makanan tersebut dengan dagu nya.


“Iya gue makan, tapi lo juga harus makan.” Ucap Ivan mengambil makanan.


“Iya deh, gue juga laper.” Balas Tina.


“Nih, Aaa.” Ucap Ivan memberika satu suapan.


Ivan jonggok di bawah Tina, karna Tina duduk di kursi.


“Bentar,” Tina bangun dari duduknya dan duduk di lantai.


“Nah kalau gini kan enak, udah lu duduk aja di lantai, jangan jongkok gitu ke mau boker.” Ucap Tina dengan ekspresi wajah menahan tawa.


“Jangan ketawain gue mulu lo,” Ivan sedikit kesal terhadap Tina.


“Eh, ketawa bagus lho, senam wajah.” Dengan gampangnya Tina menjawab.


“Yaudah deh terserah lo, lanjut makan aja.” Ucap Ivan.


Mereka duduk di lantai, makan bersama dan saling menyuapi.


“Uumm,” suara ibu kos.


“Mereka lagi makan bareng ya? Syukurlah.” Gumam bu kos.


“Hm?” tina melihat ke atas ranjang.


“Eh ibu udah siuman, Allhamdulillah.” Ucap Tina dengan senang.


“Kalian sedang makan bareng ya?” ibu kos berusaha bangun.


“Jangan bangun dulu bu, ibu istirahat yang banyak ya.” Ucap Ivan.


“Gapapa ko, ibu udah mendingan.” Ucap ibu kos.


“Oh ya, ibu mau makan ga? Tadi suster udah bawain makanan buat ibu.” Ucap Tina.


“Mau Tina,” ucap ibu kos tersenyum.


“Aku suapin ya bu,” ucap Tina sambil menyiapkan makanannya.


Setelah ibu kos memakan makanan dari rumah sakit tadi, pak dokter yang merawat ibu kos datang.


“Bagaimana bu? Apa sudah mendingan?” tanya pak dokter.


“Sudah dok, apa hari ini Saya sudah boleh pulang dok?” tanya ibu kos.


“Ibu sudah boleh pulang, kalau gejala ibu kambuh lagi, langsung ke rumah sakit ya bu.” Ucap pak dokter.


“Memangnya ibu Saya sakit apa dok?” tanya Ivan.


“Ngg,” melirik ibu kos.


“Ting,” ibu kos mengedipkan matanya.


“Ibu kamu hanya kelelahan.” Ucap pak dokter.


“Terima kasih dok,” dalam hati ibu kos.


“Kalau gitu Saya permisi dulu ya,” ucap pak dokter dan pergi keluar.


“Ivan beresin pakaian ibu dulu ya. Tina, tolong bantuin ibu ya.” Ucap Ivan sambil beres-beres pakaian.


“Ya Van,” balas Tina.


“Ayo bu, Tina bantu.” Tina membantu ibu kos bangun dari tempat ranjangnya.


Setelah Ivan beres-beres, mereka bertiga pulang ke rumah.


¤¤¤

__ADS_1


Sore hari


Sampai rumah ibu kos.


“Bawa ibu ke kamar Na, biar ibu istirahat dulu.” Ucap Ivan.


“Ya Van,” balas Tina.


Beberapa hari kemudian, akhirnya Tina kembali bersekolah.


¤¤¤


Pagi hari


Di kamar kosan Tina.


“Akhirnya gue bisa masuk sekolah lagi,” ucap Tina bersemangat dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.


¤¤¤


Di luar kamar kosan.


“Tina!” teriak Ivan dari rumahnya.


“Apaan manggil-manggil gue?” tanya Tina.


“Berangkat sekolah bareng gue aja,” Ivan menawarkan Tina untuk berangkat sekolah naik motornya.


“Ok, tapi pelan-pelan nyetirnya! Kenceng-kenceng gue pletak ye palalu.” Tegas Tina.


“Iya-iya, tenang aja, gabakal kenceng ko. Paling cepet doang.” Tertawa kecil.


“Udah cepetan jalan! Keburu gerbang sekolah di tutup.” Ucap Tina dengan menepuk pundak Ivan.


“Ok ok santai aja,” ucapnya.


¤¤¤


Sampai sekolah.


“Nanti pulang sekolah bareng gue lagi aja, kan deket.” Ucap Ivan ke Tina.


“Memangnya kenapa? Lo mau kemana emangnya?” tanya Ivan.


“Gue masih ada urusan aja,” balas Tina.


“Ok, byee. Gue ke kelas duluan ya.” Ucap Ivan.


“Ya, gue juga ke kelas, bye.” Balas Tina.


Mereka pergi ke kelasnya masing-masing.


¤¤¤


Di kelas Tina.


Tina merasakan tatapan dan bisikan orang-orang di sekitarnya.


“Kenapa lagi dah?” gumam Tina.


Lalu ada yang menyaut gumam Tina tersebut.


“Masih nanya kenapa? Lo ga malu setelah di diskors karna bermain-main dengan laki-laki.” Ucap seorang murid perempuan dengan senyum sinis.


“Ngapain malu? Gue ga pernah ngelakuin hal itu, mungkin lo kali yang begitu?” balas Tina.


“Masih berani ngomong juga ya lo, rasain nih!!” cewe tersebut menjambak rambut Tina dan menyuruh teman-temannya membantunya.


“Rasain lo! Tarik terus rambutnya guys, kalau bisa sampai copot tuh rambut!” ucap cewe itu.


“Gue bakalan bales perbuatan kalian!” teriak Tina.


Di kelas Tina menjadi heboh, hingga menarik perhatian orang-orang di luar.


“Ada apa rame-rame,” tanya Rina ke orang-orang.


“Itu Rin, ada yang berantem.” Ucap teman kelas Rina.


“Itu kan Tina!” gumam Rina.

__ADS_1


“TINAA!” Rina berlari ke ruang kelas Tina.


“Hentikan! Hentikan! Jangan sakiti Tina, dia ga salah!” teriak Rina.


“Halah ga usah ikut campur lo! Anak kelas mana lo?!” ucap cewe tersebut.


“Guys! Jambak rambut cewe sok pahlawan ini!” ucap teman cewe tersebut.


“LEPASKAANN!” teriak Rina.


Sekelas menjadi heboh, hingga terdengar semua orang.


“Ada apa sih? Ko rame-rame gitu.” Tanya Ivan ke seseorang yang berkumpul di depan kelas Tina.


“Itu ada yang berantem, cewe yang waktu itu di diskors.” Ucapnya.


“Tina!” dalam hati Ivan.


“Permisi-permisi, gue mau lewat!” teriak Ivan.


“Tinaa!” teriak Ivan di pintu kelas, Ivan menghampiri Tina dan membubarkan mereka.


“Ada apa sih! Ko sampai jambak-jambakan!” teriak Ivan.


“Tanya aja noh sama si cewe murahan!” tegas cewe tersebut.


“Maksud lo apaan bilang gue murahan?!” ucap Tina menahan amarahnya.


“Tina,” ucap Rina dengan lembut.


“Rina! Lo gapapa kan?” tanya Tina.


“Gue gapapa ko Na, lo juga gapapa kan?” ucap Rina.


“Iya, gue gapapa ko.” Ucap Tina memegang tangan Rina.


¤¤¤


Tiba-tiba segerombolan Rivan datang dan masuk ke ruang kelas Tina.


“Apa-apaan nih? Berantem di sekolah gue!” teriak Rivan.


Sekolah itu punya ayahnya Rivan.


“Sepertinya cewe itu menjambak cewe yang kemarin di diskors,” ucap temannya Rivan.


“Lo tau dari mana?” tanya Rivan.


“Dari ucapan orang-orang,” balasnya.


“Lo! Sini!” Rivan menunjuk cewe tersebut.


“Loh ko Saya ka? Kan dia si cewe murahan!” tegas si cewe.


“Lo tuh yang murahan!” balas Tina.


“Gue suruh lo yang kesini, kenapa malah berantem!” tegas Rivan.


“I, iya ka, maaf.” Ucap cewe tersebut.


“Lo harus minta maaf sama tuh cewe,” ucap Rivan ke cewe itu.


“Ga ka, Saya ga mau!” tegasnya.


“Saya suruh ya lakuin! Ga usah ngebantah!” ucap Rivan dengan tegas.


“Ba, baik ka.” Ucap cewe tersebut dengan terbata-bata.


“Cepetan!” ucap Rivan dan mendorong cewe itu sampai hampir jatuh ke lantai.


“Van, jangan berlebihan.” Ucap temannya Rivan.


“Biarkan, kalau dia berlebihan dengan cewe itu, kenapa gue juga ga boleh?” balasnya.


·Bersambung·


Halo semua, jangan lupa di vote ya. Supaya semangat untuk membuat part selanjutnya👌.


*25Juni2020*

__ADS_1


__ADS_2