Awali Syahadat Akhiri Bismillah

Awali Syahadat Akhiri Bismillah
02 Kontrakan Anita


__ADS_3

Selamat Membaca 🤗


...🌹🌹🌹🌹...


Udara dingin menyentuh kulit terasa merinding. Terdengar suara merdu yang bersahutan jelas seperti bersenandung menyerukan suara azan hingga membangunkan umat Muslim melakukan kewajiban Shalat Subuh.


Alzahra ketika suara azan berkumandang langsung melesat ke kamar mandi di dapur untuk mandi dan mengambil air wudhu. Sedangkan Ayah, Ibu, dan sang Adik juga ikut mengambil air wudhu di keran belakang rumah. Lalu shalat berjamaah di ruang tengah yang cukup luas.


Beberapa saat menyelesaikan shalat berjamaah. Alzahra dan Alziqra mencium tangan Ayah dan Ibu secara bergantian. Melipat peralatan shalat disimpan ke dalam kamar. Ibu Fatimah menuju ke dapur memasak untuk sarapan pagi sekaligus bekal untuk Alzahra nanti.


Alzahra ikut membantu sang ibu mengupas bawang sedangkan sang ibu mengiris sayuran. Sang adik Alziqra sehabis shalat langsung melesat ke kamar mandi. Pak Firdaus duduk di ruang tengah membaca ayat suci Alquran.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wib pagi. Alzahra bersiap-siap mengganti pakaiannya dengan outfit rok dan baju panjang jilbab senada. Sekiranya sudah rapi Alzahra menuju ke dapur. Telah tersaji nasi goreng ayam di atas meja makan.


Alzahra menarik kursi mendudukan diri begitu juga dengan yang lain. Tidak ada yang berbicara saat makan. Hanya suara dentingan sendok dan piring beradu. Setelah selesai sarapan sang Ibu yang dibantu Alziqra membersihkan meja dan membasuh piring kotor.


Pak Firdaus dan Alzahra masih tetap duduk di kursi meja makan. Menyeruput segelas teh panas dan pisanv goreng buatan Ibu Fatimah. Ibu Fatimah dan Alziqra yang sudah selesai membasuh piring. Juga ikut duduk dan menyeruput teh panas tersebut.


"Zahra. Apa barang dan keperluanmu sudah siap semua?" tanya sang Ayah.


"Sudah, Yah. Sudah semua."


"Nanti ayah akan mengantarkanmu ke stasiun bus sekalian beli tiket untukmu." ujar sang ayah sambil menyeruput teh.


"Baik, Yah."


"Zahra, ingat pesan ibu semalam. Jaga kesehatan dan jangan keluar sendirian. Kalau kemana-kemana ajak Anita." ucap nasihat sang Ibu.


"Yahh... Ziqra sendiri dong. Tidak ada teman berantem lagi deh. Tapi kak kalau pulang nanti bawa oleh-oleh ya?" ujar sang adik senyum menampilkan gigi putih.


"Ziqra, kamu ini." ujar sang Ibu.


Ziqra hanya menanggapi ucapan sang Ibu dengan ketawa geli saja.


"Zahra, kalau sudah sampai sana jangan lupa beritahu Ibu dan Ayah biar tidak khawatir." ucap sang Ibu.


"Ya, Ibu. Nanti kalau Zahra sudah sampai akan Zahra beritahu. Dan pas di stasiun sana juga Anita akan jemput."


"Syukur lah. Apa Anita tahu kalau kamu akan berangkat pagi ini?".


"Sudah, Buk. Semalam Zahra beritahu kok."


Sedang asyik mengobrol langit sudah menjadi terang. Matahari hampir saja memunculkan diri dengan memancarkan cahayanya. Kilauan air embun membasahi di atas dedaunan. Udara segar dan ketenangan di pedesaan akan sangat dirindukan Zahra.


Pak Firdaus sudah siap dengan mengendarai motornya mengantar Alzahra menuju stasiun bus. Alzahra berpamitan sambil mencium tangan sang ibu memeluk erat yang akan ia tinggal. Kini Alzahra memeluk sang adik yang akan juga ia rindukan. Melepas pelukan Alzahra menenteng kantong bekal nasi dan koper kecil menaiki motor.


Ibu Fatimah dan Alziqra hanya menatap punggung sang anak yang masih terlihat. Kemudian disusul Alziqra berpamitan berangkat ke sekolah mencium tangan sang ibu. Tampak terlihat sedih dari raut wajah Ibu Fatimah ketika ditinggal satu anaknya. Tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa melarang.


Sekitar 30 menit kemudian, Pak Firdaus dan Alzahra tiba di stasiun bus. Alzahra turun dari motor dan disuruh tetap berada di tempat oleh sang ayah. Biarlah sang ayah yang membeli tiket untuk jurusan kota S. Tidak perlu waktu lama Pak Firdaus kembali membawa selembar tiket menyerahkan ke Alzahra. Memberikan uang 10 lembar berwarna pink untuk keperluan disana.


Pak Firdaus mengantar Alzahra menuju bus untuk jurusan ke kota S. Tampak sedih terlihat dari raut wajah Pak Firdaus. Alzahra yang mengerti langsung memeluk sang ayah.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa kalau sudah sampai beritahu Ayah dan Ibu segera. Bekalmu jangan lupa dimakan?" pesan sang Ayah.


"Ya, Ayah. Zahra akan selalu ingat dan pasti akan Zahra makan. Ayah dan Ibu juga jaga kesehatan jangan terlalu capek kerjanya. Banyak-banyak istirahat." ujar pesan Alzahra juga ke sang Ayah.

__ADS_1


"Ya. Nak." ujar sang Ayah sambil mengecup kening Alzahra.


Saat sang kenit berteriak menandakan mobil hendak berangkat. Alzahra berpamitan mencium tangan sang Ayah kemudian masuk ke dalam dengan melambaikan tangan ke Pak Firdaus.


Pak Firdaus melihat bus sudah berjalan jauh. Ia menyeka air matanya yang sempat terjatuh kemudian mengendarai motor pulang ke rumah. Begitu juga Alzahra ketika bus sudah berjalan jauh menyeka air mata. Perasaannya saat ini campur aduk antara sedih dan senang. Tapi Alzahra tetap akan kuat demi Ibu, Ayah, dan Adiknya.


Dalam perjalanan Alzahra menyempatkan memberitahu Anita via whatsapp kalau ia sudah berangkat menggunakan bus. Alzahra memandangi jalanan di balik kaca bus. Tanpa terasa kantuk melanda Alzahra bersandar lalu tidur sejenak mumpung belum sampai di stasiun Kota S.


...🌹🌹🌹🌹...


Sekitar 2 jam lebih perjalanan yang ditempuh. Bus yang ditumpangi Alzahra sudah tiba di stasiun Kota S. Alzahra yang sempat tertidur terbangun karena mobil berhenti dan mendengar suara kenit teriak. Alzahra segera turun dari bus menunggu sang kenit menurunkan kopernya.


Alzahra menghubungi Anita kalau ia sudah tiba di stasiun Kota S. Alzahra menuju ke sebuah warung menunggu kedatangan Anita sambil memakan bekal yang disiapkan oleh sang Ibu tadi pagi sambil memainkan ponselnya. Berselang beberapa menit, ponsel Alzahra berbunyi tercantum nama Anita lalu menjawab panggilan.


"Hello, Assalamualaikum. Kamu dimana Zahra? Aku sekarang berdiri dekat penjualan tiket." ucap Anita sambil mata melirik mencari keberadaan temannya.


"Wa'alaikumussalam. Aku sekarang ada di warung dekat pemberhentian bus berwarna Orange." sahut Alzahra matanya juga mencari keberadaan Anita.


Saat menemukan bus berwarna Orange yang tidak jauh dari posisi ia berdiri. Lalu ia mendekati posisi yang dibilang oleh Alzahra.


"Baiklah. Ku akan ke sana." berjalan menuju posisi bus.


Mata menemukan warung yang dibilang Alzahra. Anita berteriak lalu memeluk Alzahra sangat erat sehingga dadanya sesak.


"Zahra, Zahra.... Wah aku kangen. Kamu apa kabar? Kamu semakin cantik saja." ujar Anita sambil memeluk Alzahra.


Merenggangkan pelukan "Kamu bisa saja, Nita. Alhamdulillah, aku sehat. Sama aku juga kangen sama kamu. Kamu juga apa kabar?" jawab Alzahra.


"Alhamdulillah, aku juga sehat. Ya sudah kangen-kangenannya nanti saja sekarang kita pulang. Ayo." ujar Anita mengajar pulang.


Taksi yang dipesan Anita akhirnya sudah tiba. Sang sopir membawa koper Alzahra menyimpannya di bagasi. Anita dan Alzahra kemudian memasuki mobil menuju kontrakan Anita. Tidak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi tiba dihalaman rumah kontrakan Anita.


Sang sopir mengeluarkan koper dari dalam bagasi mobil. Alzahra dan Anita turun dari mobil dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari tasnya ke sopir taksi online. Mobil taksi akhirnya melaju jauh meninggalkan mereka berdua.


Rumah kontrakan Anita cukup besar dan bersih serta tetangga yang ramah tamah. Lokasi rumah kontrakan berada di Dusun C jarak dengan sekolah tidak terlalu jauh. Jarak dari kontrakan menuju ke sekolah hanya berjarak sekitar 400 meter.


Anita dan Alzahra masuk ke dalam rumah sedikit kagum tidak seperti kontrakan seperti biasanya ia lihat. Rumah kontrakan Anita cukup besar memiliki dua kamar tidur, dapur, ruang tamu dan satu kamar mandi. Peralatan perabotan yang dimiliki cukup banyak.


Anita menunjukkan kamar tidur milik Alzahra. Memasuki kamar Alzahra terperanjat dengan luas kamarnya dan sudah tertata rapi. Anita meletakkan koper milik Alzahra dekat lemari yang telah ia kosongkan.


"Nah, sekarang ini kamar kamu." ujar Anita sambil menunjukan kamar.


"Besar sekali, Nita. Kamu tidak salah ya?" terheran-heran.


"Apa yang salah memang ini kamar kamu. Ini lemari sudah aku kosongkan. Kamu bisa mengisinya dengan pakaianmu." sambil meletakkan koper dekat lemari.


"Soalnya kamar ini besar sekali. Apa kamu yang menyiapkannya? ujar Alzahra dilihatnya sudah tertata rapi.


"Ya Iyalah. Kan kamu mau datang ke sini. Jadi aku menyiapkan semuanya. Jadi, kamu istirahat saja. Pasti kamu capek dari perjalanan jauh. Aku mau masak dulu buat makan siang kita." ujar Anita panjang sambil meninggalkan Alzahra di kamar.


"Terima kasih ya Anita. Oh, ya. Apa perlu aku bantu?"


"Sama-sama, Zahra. Eh tidak perlu kamu istirahat saja. Aku keluar dulu ya."


Alzahra hanya menganggukkan kepala. Ia meletakkan koper di atas ranjang mulai membukanya. Memindahkan pakaiannya ke dalam lemari yang sudah di kosongkan oleh Anita. Meletakkan keperluan wajah di meja hias mini dekat ranjang. Setelah beres-beres ia merebahkan badannya di ranjang dan memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹...


Beberapa menit kemudian Anita masuk memanggil Alzahra untuk makan siang bersama. Alzahra pun bangun langsung menuju ke dapur. Tampak makanan sudah tersaji walaupun hanya seadanya nasi, telur ceplok, ikan goreng, dan sayur tumis kangkung.


Selesai makan, Alzahra membantu Anita membasuh piring mereka makan di wastafel. Anita memanaskan air untuk membuat teh panas. Alzahra yang sudah membasuh piring pergi ke teras depan memantau keadaan sekitar sambil duduk santai. Anita datang membawa nampan dua cangkir teh diletakkan di atas meja teras.


"Tempatnya cukup ramai ya?" ucap Alzahra.


"Ya, Zahra. Cukup ramai tidak seperti di pedesaan." ujar Anita.


Mendengar perkataan Anita tentang Pedesaan, Alzahra teringat kalau ia belum memberitahu Ibu dan Ayahnya di Desa. Ia pun langsung berlari masuk ke dalam kamar. mengambil ponsel kemudian keluar duduk kembali di teras. Anita yang heran hanya mengerutkan kening.


Alzahra mencari kontak sang Ibu lalu segera memencet tombol hijau. Terdengar panggilan Alzahra sudah dijawab oleh sang Ibu.


"Hello. Assalamualaikum, Bu. Zahra mau memberitahu kalau Zahra sudah sampai dan sekarang sudah berada di rumah kontrakan Anita."


"Alhamdulillah, Zahra. Kamu sudah sampai tujuan. Jangan lupa pesan Ibu ya Zahra. Bekal kamu sudah kamu makan atau belum?"


"Ya, Bu. Zahra selalu ingat Ibu tenang saja. Bekal tadi sudah Zahra makan saat di stasiun, Buk. Ibu juga jaga kesehatan jangan terlalu capek banyak-banyak istirahat."


"Oh ya. Ayah kemana?" timpal Alzahra lagi.


"Ya. Zahra. Ayah kamu sedang di kamar tidur sepertinya." ujar Ibu Fatimah yang sedang duduk melipat pakaian di ruang tengah.


"Biarlah ayah istirahat. Kalau begitu Zahra tutup dulu ya, Buk."


"Ya, Zahra. Tolong sampaikan salam Ibu buat Anita."


"In Syaa Allah akan Zahra sampaikan. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." menutup panggilan.


Setelah menutup panggilan Alzahra meletakkan ponselnya diatas meja lalu mengeruput secangkir teh tidak panas lagi. Kemudian meletakannya kembali.


"Apa yang Ibumu katakan, Zahra."


"Ibu hanya berkata jaga kesehatan saja. Dan Ibu titip salam buat kamu."


"Wa'alaikumussalam."


Setelahnya tidak ada obrolan lagi. Mereka asyik memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumahnya. Merasa capek duduk di teras saja, Alzahra merebahkan badannya ke atas ranjang sedangkan Anita hanya berbaring menonton tv di ruang tamu.


...🌹🌹🌹🌹...


Pada malam hari Anita dan Alzahra tengah menyantap makan malam dengan lauk seadanya telur dadar, ayam goreng, dan sayur bayam. Karena hanya bahan itu saja yang ada di dalam kulkasnya. Bahan yang dibelinya 2 hari yang lalu. Mungkin besok saja ia akan pergi ke pasar membeli bahan dapur fikirnya.


"Zahra, kata paman kamu besok sudah boleh masuk mengajar tapi jangan lupa langsung bawa berkas surat lamarannya." ujar Anita.


"Baiklah. Tapi kamu temani aku mengantar berkasnya ke ruangan paman kamu ya."


"Ya tenang saja akan aku temani."


Setelahnya tidak ada pembicaraan lagi. Selesai makan malam Alzahra membantu membersihkan bekas makan malam mereka. Apabila sudah mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Mulai merebahkan badan ke atas ranjang memejamkan mata menuju alam mimpi.


Alzahra sengaja tidur lebih awal karena besok ia harus ke sekolah mengantar berkas ke ruangan kepala sekolah sekaligus paman Anita. Dan ia tidak mau dicap sebagai tenaga pengajar yang tidak tertib apalagi ia baru masuk.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2