
Selamat Membaca🤗
...🌹🌹🌹🌹...
Percakapan antara Anita dan Alzahra yang mengenai curi-curi pandang yang dilakukan oleh Pak Aftar. Anita menyimpulkan bahwa Pak Aftar menyukai Alzahra. Alzahra tidak menghiraukannya dan Anita tidak menyetujui karena Pak Aftar termasuk pria Playboy.
Keesokan pagi dengan pakaian setelan gamis Alzahra bersiap berangkat ke sekolah. Sedangkan Anita memakai atasan batik dan rok serta jilbab senada. Mereka kali ini berangkat menggunakan taksi online yang sudah dipesannya 30 menit yang lalu karena motornya mogok.
Setiba di Sekolah Menengah Atas Anita dan Alzahra turun dari mobil. Tampak siswa-siswi sudah ada yang mulai berdatangan. Karena waktu baru menunjukkan pukul 06.15 wib. Siswa-siswi menegur sapa dengan mengucapkan salam bagi yang Islam sedangkan non Islam mengucapkan selamat pagi.
Tanpa sengaja mereka kembali berpapasan dengan Pak Aftar yang baru saja memarkirkan motor menuju ke pintu gerbang sekolah. Anita yang merasa risih secepatnya menarik Alzahra menuju masuk ke dalam. Pak Aftar yang melihat Anita dan Alzahra berjalan masuk dipanggil oleh Pak Aftar.
"Bu Anita, Bu Zahra... " teriak Pak Aftar.
Anita terus menarik Alzahra masuk dengan pura-pura tidak mendengar. Alzahra melihat tingkah sahabatnya Anita ini hanya terdiam mengikuti dan pasrah. Di depan kantor dewan guru Pak Aftar secepatnya menuju mendekati mereka.
"Pagi Bu Zahra, Bu Anita." ucap Pak Aftar menampilkan senyum paginya.
"Pagi juga Pak Aftar." jawab Alzahra.
"Pagi juga Pak Aftar."jawab Anita.
"Tadi saya memanggil kalian di depan. Kenapa tidak menyahut?" tanya Pak Aftar.
"Memang Pak Aftar ada memanggil kami tadi?" ujar Anita berbohong.
Sedangkan Alzahra melirik Anita namun tangan Anita mencubit tangan Alzahra untuk tidak menjawab.
"Ada tadi di parkiran."
"Mungkin kami tidak mendengarnya, Pak. Kami masuk dulu Pak."
Pak Aftar hanya menganggukkan kepala saja. Anita dan Alzahra menuju meja masing-masing. Terlihat sudah ada beberapa guru yang sudah hadir. Pak Aftar masuk kemudian mendekati meja Alzahra sedikit berbicara pelan namun Anita bisa mendengarnya.
"Bu Zahra. Nanti malam sibuk atau tidak. Kalau tidak saya mau mengajak Ibu Zahra makan malam di cafe sekitaran sini." ajak Pak Aftar.
Mata Alzahra melirik Anita yang memberi isyarat agar tidak menerima ajakan Pak Aftar. Lalu mata netra nya beralih menatap Pak Aftar.
"Maaf Pak Aftar. Saya tidak bisa karena ada urusan penting. Jadi lain kali saja, Pak." tolak Alzahra sopan.
"Kalau makan siang di kantin bersama saya bagaimana?"
"Maaf Pak. Saya ke kantin bersama Bu Anita saja. Tidak enak kalau teman kita tinggal sendiri."
"Bertiga saja." Pak Aftar menoleh ke meja Anita dan bertanya. Anita kelabakan secepatnya pura-pura melihat laptop. "Bu Anita, mau tidak makan siang di kantin bersama."
Anita pun tidak kalah melihat Alzahra yang sama-sama melihat juga. Dengan terpaksa Anita mengiyakan yang penting jangan sampai Alzahra berduaan sama Pak Aftar. Bisa bahaya kalau Alzahra terjerumus ke lubang buaya versi Pak Aftar bukan lagi versi G30SPKI😅
"Baiklah, saya bersedia." jawab Anita dengan senyum geli.
Pak Aftar pun kembali ke meja dengan perasaan senang walaupun bertiga. Yang penting bisa dekat dengan Alzahra pikirnya.
Kring kring kring
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Suara bel sekolah telah berbunyi menandakan masuk kelas. Semua siswa telah memasuki kelas masing-masing. Alzahra kali ini memasuki kelas 12 IPS 3 tanpa di temani oleh Anita. Karena ia sudah mengetahui posisi kelas tersebut.
__ADS_1
Saat Alzahra menelusuri koridor tanpa sengaja seorang siswa cowok berlari menabrak Alzahra.
Bruk
Buku-buku yang dibawa oleh Alzahra bertaburan di lantai. Siswa cowok itu berhenti membantu memungut buku yang bertaburan diberikan kembali ke Alzahra dan meminta maaf. Ya siswa cowok yang menabraknya ialah Sean Hyun Lee.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja." ucap Sean sambil memungut buku tampa menatap Alzahra.
"Tidak apa-apa." ujar Alzahra memegang buku dan berdiri melihat wajah Sean.
"Kenapa kamu berlari?" tanya Alzahra.
"Maafkan saya. Tadi saya terburu-buru, Buk." jawab Sean melihat wajah Alzahra.
"Baiklah. Kamu di kelas berapa?"
"Saya di kelas 12 IPS 3, Buk."
"Wah... saya pun masuk mengajar kelas itu. Kalau begitu kita masuk sekarang." ajak Alzahra berjalan bersama dengan Sean dibelakang Alzahra.
Saat memasuki kelas Alzahra mengucap salam yang kemudian dijawab oleh semua siswa. Sean pun menuju ke mejanya dan duduk. Alzahra melihat Sean berjalan ke meja paling belakang ternyata itu siswa yang tidak masuk kemarin.
"Sebelum kita mulai belajar, saya absen terlebih dahulu."
Setelah mengabsen beberapa siswa kini giliran nama Sean yang disebut oleh Alzahra.
"Sean Hyun Lee. Kamu yang kemarin yang tidak masuk itu bukan?" tanya Alzahra.
"Ya, Buk."
Sean berdiri "Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Sean Hyun Lee tinggal di sekitar komplek B. Mohon maaf kemarin saya tidak hadir karena sedang sakit."
"Baik. Saya Alzahra Muqadimah panggil saja Bu Zahra. Saya menggantikan Bu Sarah sekaligus menjadi wali kelas ini. Saya rasa cukup kamu boleh duduk." ucap Alzahra mempersilahkan duduk.
Sean pun duduk kembali mengeluarkan buku dari tasnya. Alzahra memulai sesi pembelajaran dengan menjelaskan materi. Saat Alzahra sedangkan menjelaskan materi. Teman sebangku Sean yang bernama Hafiz berbisik padanya.
"Sean. Menurut kamu cantik tidak guru pengganti Bu Sarah?" tanya Hafiz berbisik.
"Lumayan." jawab Sean singkat.
"Lumayan?"
"Iya, terus apa?"
"Tidak apa-apa."
Hafiz sedikit kesal karena pertanyaannya dijawab Sean secara singkat. Sean tidak memperhatikan Alzahra menerangkan materi tetapi ia malah membaca sebuah buku novel. Buku novel yang dibaca Sean berjudul Novel Hijrah Cinta. Awalnya Sean tidak tahu kenapa ia bisa tertarik dengan novel berbau Islami tersebut.
Hafiz sebagai sahabatnya tidak heran dengan Sean. Sean memiliki sifat susah ditebak kadang A dan kadang B. Sean berhubungan mata pelajaran sangat kurang. Ayah Sean sering mendaftarkan les privat tetapi tidak ia ikuti.
...🌹🌹🌹🌹...
Kring kring kring
Bunyi suara lonceng menandakan istirahat. Para guru sudah waktunya mengakhiri pembelajarannya. Semua siswa meninggalkan kelas menuju ke kantin ada pula yang tetap tinggal dikelas salah satunya Sean.
__ADS_1
Ia lebih memilih menetap di kelas membaca novelnya. Sean sangat lapar barulah ia pergi ke kantin. Alzahra yang sedangkan mengemas buku hanya memperhatikan heran Sean. Memang siswa yang berbeda dari yang lain. Pandangannya tertuju ke judul novel yang dibaca Sean.
Alzahra tidak menghiraukannya dan tetap keluar karena seperti biasa ia akan pergi ke kantin dengan Anita. Baru saja ia tiba di kantor, Pak Aftar sudah memanggil Alzahra mengajaknya ke kantin. Kemudian disusul Anita yang baru masuk diajak juga oleh Pak Aftar.
Sudah terlambat untuk menolak akhirnya ia terpaksa menerima ajakan Pak Aftar. Mereka bertiga beriringan jalan bersama menuju ke kantin. Sesampai di kantin Pak Aftar memesan tiga mangkuk bakso serta teh es. Lalu mendekati tempat kosong mempersilahkan Anita dan Alzahra duduk.
Anita ambil posisi terlebih dulu duduk disamping Alzahra sedangkan Pak Aftar dengan perubahan wajah sedikit kesal terpaksa duduk dihadapan Alzahra. Anita yang menyadari wajah Pak Aftar sedikit kesal hanya ketawa geli. Beberapa menit menunggu, bakso pesanan mereka sudah tiba.
Ketika menyeruput kuah bakso Pak Aftar tidak hentinya memandang wajah Alzahra. Anita yang melihatnya segera berdehem sehingga membuyarkan pandangan ke Alzahra.
"Anita. Aku mau tanya, siswa yang bernama Sean anak 12 IPS 3 apa sifatnya pendiam?"
"Sean yang mana?" tanya Anita balik ketika menyeruput mie.
"Yang bangsa Cina. Duduknya paling belakang." ujar Alzahra.
Pak Aftar hanya memperhatikan interaksi mereka sesekali memperhatikan Alzahra berbicara.
"Oh itu, Ya memang orangnya seperti itu? kalau tidak ada keperluan tidak akan keluar kelas. Siswa satu itu memang beda dari yang lain." ujar Anita sambil menelan bulatan bakso sehabis dikunyahnya.
"Tapi yang aneh dari si Sean. Dia membaca novel Islami berjudul Hijrah Cinta."
"Itu sudah biasa. Bagi kamu yang guru baru pasti awalnya juga heran. Aku juga begitu."
"Tetapi kenapa harus novel Islami?"
"Zahra, novel itu pun bisa bacanya baik tema Islam atau bukan yang penting tidak ada unsur yang melanggar agama atau hukum."
Alzahra hanya menanggapi dengan diam sambil berpikir. Entah apa yang ia fikirkan tapi baginya itu cukup aneh. Tampak Alzahra bingung, Pak Aftar mengubah topik pembicaraan. Sehingga Alzahra sedikit bergeming.
"Bu Zahra asalnya dari daerah mana?" tanya Pak Aftar sambil menyesap teh disedotan.
"Eh... saya dari Desa BS, pak."
"Jauh juga ya. Apa baru pertama kali datang ke sini?"
"Tidak, semasa kuliah dulu pernah."
"Terus bisa kenal dengan Bu Anita bagaimana?"
"Ya bisalah pak. Kan Bu Zahra sahabat saya semasa SMA hingga kuliah bahkan sekarang." dijawab Anita cepat.
"Begitu. Bu Zahra nanti masuk dikelas mana?"
Anita yang melihatnya memutar bola matanya sedikit kesal dengan Pak Aftar. Mengambil ponsel sebagai penghilang kesalnya.
"Habis istirahat mungkin kosong, Pak."
"Baiklah. Oh ya nanti pulangnya saya antar boleh?"
"Mohon maaf sekali lagi pak. Saya pulangnya sama Anita saja. Soalnya kami satu kontrakan dan juga kami hal harus kami urus terlebih dahulu." tolak Alzahra.
Pak Aftar yang ditolak kesekian kalinya raut wajahnya berubah jadi sendu. Anita hanya menahan ketawa melihat ekspresi Pak Aftar. Cukup lama bel pun berbunyi kembali. Anita dan Alzahra dengan cepat pamitan terlebih dahulu meninggalkan Pak Aftar.
Sebelumnya Anita mau membayar makanan mereka. Tetapi Pak Aftar ngotot melarang biar ia saja yang membayar. Ketika Pak Aftar membayar. Anita dan Alzahra sudah beranjak menuju ke kantor.
__ADS_1
...Bersambung... ...