Ayahku Bukan Papamu

Ayahku Bukan Papamu
Sahabat


__ADS_3

Sean menemui Dara di kelasnya, "Ra, temenin ke purpus donk!"


"Tapi aku dah janji dengan Ayu," jawab Dara tak enak.


"Sebentar aja kok." langsung menarik tangan Dara.


Keduanya menjalin kasih sejak kelas dua, Sean yang tampan menjadi cowok populer di sekokah karena wajah gantengnya di tambah lagi dia sebagai kapten basket sana.


Sampai di perpustakaan Dara sibuk mencari buku yang kata Sean sangat penting untuknya sebagai bahan untuk debat di kelas. Itu hanya akal-akalan Sean dia jarang memiliki waktu berdua dengan Dara, terkadang ada Ayu, sahabat Dara yang ada di antara mereka berdua. Sean hanya memandangi Dara dari celah-celah buku yang tersusun rapi di rak.


"Nih bukunya!" ucap Dara, mendekati Sean, dengan sebuah buku bercover warna hitam di tangannya.


Dara ke kantin di antar oleh Sean, beberapa kali Dara ingin melepaskan tangannya dari genggaman Sean.


"Lepaskan, malu," ucap Dara protes.


"Malu! kenapa? aku tampan, pinter, juga terkenal, apa itu belum cukup," balas Sean, tersenyum. Dia tetap menggenggam tangan Dara.


Dara tahu setelah sampai di kantin Ayu akan marah besar padanya, dan betul saja baru saja duduk, sahabatnya itu langsung pergi.


"Pacaran boleh, tapi jangan terlalu bucin," ucap Ayu ketus, dan pergi, tanpa menoleh lagi.


"Betah amat berteman dengan cewek aneh itu," ucap Sean, saat Ayu sudah jauh.


"Dia itu sahabatku, dan ingat kamu sudah mengenalnya sejak sekolah dasar, jadi gak usah julid," balas Dara, tersenyum.


"Ga ngaruhlah, aku bahkan lupa dia dulu ada, bahkan tidak tahu kami sekolah di tempat yang sama," protes Sean.


"Aku susul Ayu, ya!" langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari Sean.


Dara sudah mencari Ayu di sekeliling sekolah tapi tidak menemukan keberadan sahabatnya itu. Hingga jam sekolah berakhir dan Dara pulang dengan di jemput supir pribadi.


Di parkiran Ayu sengaja menunggu Sean, berharap laki-laki itu bersedia memberi tumpangan padanya.

__ADS_1


"Sean, aku nebeng, ya! kitakan searah," ucap Ayu memelas.


"Tapi aku harus mampir ke rumah Dika, sepatu futsalku tertinggal di sana," balas, Sean, dia berbohong, berharap Ayu tidak jadi nebeng padanya.


"Gak apa-apa, santai saja, aku gak buru-buru kok," jawab Ayu.


Sean jadi tidak punya alasan untuk menolak permintaan sahabat kekasihnya itu. Gadis berpostur kecil itu duduk di jok belakang dengan memeluk pinggang Sean.


"Yu, gak usah di peluk, gak enak di liat sama orang," protes Sean.


"Aku takut jatuh, motormu besar lagian bingung harus pegang apa, nanti kalau ada apa-apa gimana!" ucap Ayu, beralasan.


Dengan kecepatan tinggi Sean membawa motornya. Dia tidak jadi singgah di rumah Dika berharap bisa cepat menjauh dari wanita yang duduk di jok belakang motornya. Tak sampai dua puluh menit mereka sudah sampai, Sean nyaris tertawa lebar saat melihat Ayu, rambut gadis itu berantakan, mungkin karena Sean terlalu ngebut membawa motornya.


"Mampir yuk! besok jemput aku, Ya!" ucap Ayu.


"Maaf Yu, aku buru-buru. Oke besok aku jemput." Sean langsung pergi, padahal Ayu berniat untuk mengajaknya makan terlebih dahulu.


"Dia Sean, Ma, anaknya teman Mama-kan!"


"Oh, dia Sean, tambah ganteng tu anak. Yuk masuk, Mama mau memperkenalkanmu dengan seseorang," ucap Farah.


"Siapa, Ma?"


"Ada Deh, yuk masuk."


Di ruang tamu seorang pria duduk dengan santainya sembari bermain ponsel.


"Mas, kenalkan ini Ayu putriku," ucap Farah, mengenalkan Putrinya.


"Yu, ini Om Afri, nama lengkapnya Afrijal Putra," mengenalkan balik calon suaminya pada Ayu. Ayu menatap laki-laki itu dengan intens, dia seperti tak asing dengan wajah pria yang duduk di depannya, tapi dia lupa pernah melihatnya di mana.


"Mama dan Om akan menikah dalam waktu dekat ini, Mama berharap kamu dan Om Afri bisa dekat," ucap Farah, menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi, Ma! Papa belum setahun meninggalkan kita, dan Mama mau menikah lagi! Ayu gak mau punya Papa baru," protes Ayu, dan berlari ke kamarnya.


Farah menyusul Ayu ke kamarnya, setelah calon suaminya pamit pulang.


"Yu, Mama menikah lagi untuk kebaikanmu juga! Mama bingung harus bagaimana membiaya pendidikan kalian, kamu sekolah di tempat elit karena Sean juga sekolah di sana dan Sarah kakakmu juga butuh uang banyak untuk biaya kuliahnya. Uang peninggalan almarhum Papamu sudah habis, kamu sendiri tahu Mama tidak terbiasa kerja. Dan Om Afri bisa menyelesaikan masalah kita, dia pengusaha sukses dan juga sayang sama Mama!"


"Apa Om itu single? atau sudah berkeluarga!"


"Itu bukan urusanmu! yang penting semua kebutuhan dan biaya pendidikan kalian bisa terpenuhi, dan Mama janji, setelah menikah dengan Om Afri kita akan hidup layak, bahkan bisa berlebih, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau," mencoba membujuk Ayu.


"Tapi aku tidak mau Mama menjadi p*lak*r! bagaimana kalau teman-temanku tahu, aku bisa malu, Ma, pokoknya aku gak mau punya Papa baru!" balas Ayu, dengan berlinang air mata.


"Kamu setuju atau tidak, Mama akan tetap menikah dengan Om Afri! jadilah anak yang patuh," ucap Farah dengan nada marah, dan keluar dari kamar Ayu dengan membanting pintu.


"Mama jahat! Mama menghianati Papa!" teriak Ayu, dari dalam kamar.


Ayu menangis tergugu, hatinya sedih. Sudah sore dan Ayu belum mengisi perutnya, dengan malas dia keluar dari kamar, menuju meja makan. Ayu tercengang karena di sana terhidang berbagai menu makanan lezat. Walau tubuhnya kecil Ayu termasuk gadis yang doyan makan, dengan lahap dia menghabiskan makanannya bahkan dia nambah sampai dua kali.


"Enak? makanan mahal lainnya masih banyak di kulkas, itu di beli dari uang pembelian Om Afri!" ucap Farah, duduk di depan Putrinya.


Dengan kesal Ayu meninggalkan meja makan dan masuk kembali dalam kamar. Dia akui hidangan tadi sangat nikmat, saat Ayahnya masih hiduppun mereka tidak pernah makan dengan menu mewah tadi.


"Kenapa hidup tidak pernah adil! kenapa aku tidak lahir di keluarga bahagia seperti Dara," guman Ayu, sembari manarik napas panjang.


Hingga malam Ayu tidak keluar dari kamarnya, dia tidak tahu kalau laki-laki yang tadi datang ke rumahnya dan akan menikahi Mama-nya datang lagi saat jam sepuluh malam. Farah melayani pria itu dengan sangat baik di ranjang kamarnya.


"Mas, bagaimana kalau istrimu tahu?"


"Yang penting kita bisa bermain cantik, dan kamu harus memperingati Ayu agar tidak memberi tahu siapapun tentang pernikahan kita, karena dari seragam sekolah yang tadi Ayu pakai, sepertinya dia satu sekolah dengan Putriku!"


"Baik Mas, aku pastikan Ayu akan tutup mulut," jawab Farah.


Keduanya kembali menikmati malam dengan melakukan hubungan layaknya suami istri.

__ADS_1


__ADS_2