Ayahku Bukan Papamu

Ayahku Bukan Papamu
Arbi vs Sean


__ADS_3

Selesai makan malam berdua dengan Bunda. Wanita cantik yang menjadi malaikat dalam hidupku mengajakku duduk di taman belakang rumah, di sana ada kolam renang, ada juga beberapa lampu hias menabah indahnya malam ini.


"Ra, Bunda tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu! tapi menurut Bunda kamu sudah cukup dewasa untuk menjadi tempat Bunda berbagi masalah hati," ucap Bunda, membuka percakapan. Dengan menggenggam erat tanganku.


"Ayahmu sudah menikah lagi, dan sampai sekarang Bunda belum tahu siapa wanita itu! Bunda hanya butuh waktu untuk membuktikan semuanya, apakah Dara sayang sama Bunda?" tambah Bunda lagi.


Aku mengangguk cepat dengan air mata yang sama derasnya dengan Bunda.


"Apapun yeng terjadi nantinya, tolong tetaplah bersama Bunda. Bunda takut tidak kuat menghadapi ini semua, dan ingatkan Bunda agar tetap menjadi wanita yang beradab. Sungguh Bunda takut, Nak!" kami berpelukan begitu erat.


****


Pov Author


Lima hari berlalu. Sore hari saat Dara dan Widuri sedang duduk di ruang tamu Rijal pulang dengan wajah lelah. Laki-laki itu terlihat sangat kusut sekali. Dara dan Widuri tetap duduk di sofa putih yang ada di sana. Rijal sedikit heran, Widuri tidak menyambut kepulanganya, biasanya wanita itu akan sibuk, menyiapakan minum dan memeluk dirinya.


Karena di abaikan Rijal ikut duduk, dan meminta Mang Arif membawa kopernya ke kamar.


"Dua bidadariku sangat asik dengan ponsel, sampai aku yang tampan ini di abaikan," ucap Rijal, mencoba mencairkan suasana.


Widuri beranjak dari tempat duduknya, dan pergi ke kamar.


"Mang, koper Bapak letak di kamar tamu saja," ucap Widuri, sebelum menutup kamar dan menguncinya dari dalam.


Dara ikut berdiri dan naik ke lantai dua, masuk ke kamar dan menangis. Hatinya mengutuk perbuatan Ayahnya tapi cinta untuk sang Ayah juga besar. Dara yang lupa mengunci pintu, membuat Rijal bisa masuk dengan mudah ke kamar Putrinya.


"Ra, apa boleh Ayah duduk di sini?"


Dara tidak menjawab, tapi memiringkan tubuhnya membelakangi sang cinta pertamanya.

__ADS_1


"Jujur Ayah juga bingung dengan semua ini, tapi percayalah Ayah sangat mencintai Bundamu. Semua ini hanya salah paham! percayalah, Ayah tidak mungkin menghianati kalian, Ayah sayang Bunda dan juga anak-anak Ayah," ucap Rijal panjang lebar.


"Ayah janji, keluarga kita akan baik-baik saja, di hati Ayah hanya ada Bunda tidak ada wanita lain," tambah Rijal lagi.


Rijal keluar dari kamar Dara. Dia memilih tidur di kamar putranya yang kosong karena pemiliknya sedang menuntut ilmu di kota lain.


Di sekolah Dara dan Sean masih perang dingin, dan beberapa hari ini Sean sibuk dengan tim basketnya jadi Dara tidak begitu sulit untuk menghindari laki-laki itu. Dia tidak suka dengan sifat Sean yang mudah marah dan menuduhnya sembarangan. Ayu yang baru masuk sekolah hari ini tentu saja senang dengan renggangnya hubungan Sean dan Dara.


"Aku mengenal Sean sejak sekolah dasar, Ra! sumpah aku tidak suka kamu pacaran dengannya, dia itu cowok songong, nyebelin juga egois. Tapi aku tidak berbuat apa-apa karena kamu sudah terlanjur cinta," ucap Ayu, bersemangat.


"Entahlah, Yu, aku hanya bingung kenapa Sean begitu mudah menuduhku," balas Dara.


"Ra, hari ini kami pindah rumah, Papa Afri membelikan rumah baru untuk kami tempati. Aku juga di belikan motor baru, kata Mama mungkin beberapa bulan lagi Papa Afri akan membelikanku mobil. Nih liat ponselku juga sudah ganti dengan keluaran terbaru," ucap Ayu panjang lebar, senyumnya mengembang.


"Aku ikut senang, Yu, syukurlah tertanyata Papa barumu pria yang baik." Dara tersenyum, ikut senang dengan kebahagian sahabatnya.


Dara tidak tahu, kebahagian sahabatnya itu berasal dari Ayah-nya. Laki-laki yang tadi malam berjanji untuk setia pada keluarganya. Jam sekolah berakhir di iringi dengan turunnya hujan, Ayu pulang terlebih dahulu karena di jemput Farah sekalian pergi ke salon dengan Putrinya itu. Sementara Dara baru saja mendapatkan pesan dari Mang Arif kalau dia agak telat menjemput karena sedang berada di bengkel.


"Hemm.., Mang Arif terjebak macet," ucap Dara datar, tanpa menoleh ke arah Arbi.


Ada beberapa siswa lainnya yang menunggu hujan berhenti agar bisa pulang. Beberapa waktu berlalu hujanpun hanya sisa rintikan kecil, di parkiran hanya tersisa motor milik Arbi.


"Ar, kenapa belum pulang?" tanya Dara, melirik ke arah teman sekelasnya itu.


"Masih menunggu seseorang," jawab Arbi tersenyum. Padahal dia tidak menunggu siapapun, Arbi hanya ingin menemani Dara menunggu jemputannya.


Sebuah mobil berhenti di sana ternyata Sean, dia turun dan langsung duduk di sebelah Dara.


"Kenapa belum pulang?" tanya Sean, matanya melirik Arbi.

__ADS_1


"Mang Arif belum datang," jawab Dara.


"Bukan karena dia!"


"See, aku ga suka dengan ucapanmu! apa masih kurang tuduhanmu beberapa hari yang lalu?" balas Dara tak suka.


"Baiklah, lagian ga mungkinkan meninggalkanku demi laki-laki macam dia!" ucap Sean, terkekeh.


"Jaga ucapanmu, See! Arbi itu teman kita!" Dara tak suka dengan ucapan Sean.


"Kok belain dia! pacarmu itu aku bukan dia." menarik kasar tangan Dara. Dara yang sedang duduk hampir jatuh karena kuatnya tarikan tangan Sean.


"Jangan kasar sama perempuan!" Arbi menepuk bahu Sean.


"Cuihh.., tanganmu najis, preman!" balas Sean, sembari meludah. Sean bahkan melayangkan tinjunya ke arah Arbi, tapi tidak kena karena Arbi menghindar.


Mukul kok kayak banci," ucap Arbi, tersenyum sinis.


"Aku hanya bilang jangan kasar sama perempuan, kok emosi," tambah Arbi lagi.


Tak ayal dua siswa kelas tiga sekolah menengah atas itu saling pukul, dan hujan turun lagi dengan lebatnya. Dara yang panik sudah melerai semampumya tapi Sean dan Arbi terlalu kuat untuk gadis seperti Dara. Baju ketiganya sudah basah. Dara berniat berlari ke pos satpam sekolah di sana pasti ada yang masih berjaga, tapi kosong di sana tidak ada siapa-siapa, untungnya Mang Arif tiba.


"Mang! bantuin saya," menarik tangan supir pribadi keluarganya itu.


Di parkiran sekolah Sean dan Arbi masih berkelahi, tapi Sean kualahan melawan Arbi, sudut bibir Sean bahkan mengelurakan darah, bercampur dengan air hujan. Padahal Arbi tidak banyak memukul dia lebih banyak menghidar karena dia sadar Sean bukan lawan yang seimbang untuknya yang sudah mahir bela diri. Arbi hanya memukul di saat Sean sudah tidak bisa di kendalikan.


Mang Arif melerai dua pemuda itu, Arbi minta maaf pada Dara, karena sebenarnya dia hanya tidak suka melihat Sean mengasarinya.


"Aku tak suka dia mengasarimu! jaga dirimu aku pamit duluan," ucap Arbi, mengusap wajahnya dari air hujan dan pergi dengan motor besarnya.

__ADS_1


Sean yang masih di tahan Mang Arif dengan memegang erat tangan pemuda itu sangat marah menyaksikan saat Arbi berpamitan pada Dara. Dara mendekati Sean.


"See, jujur aku kecewa padamu! untuk kedua kalinya kamu menuduhku tanpa bertanya terlebih dahulu! apa kamu pikir aku cewek gampangan," ucap Dara dan pergi berlari ke mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah. Meninggalkan Sean yang menatapnya heran.


__ADS_2