
Di jalan Dara meminta pada mang Arif agar kejadian tadi tidak sampai ke telinga orang tuanya. Sampai di rumah tidak ada siapun. Hanya ada asisten rumah tangga.
"Non Dara basah, sini Mbok bantu." meraih tas milik Dara.
"Bunda di mana Mbok?"
"Nyonya belum pulang sejak pagi, tapi tadi Nyonya berpesan agar Non Dara tidak usah menunggunya mungkin hari ini Nyonya pulangnya malam," jawab Mbok siti.
"Tolong buatkan coklat panas ya, Mbok, nanti antar ke kamar," balas Dara.
"Baik Non."
^~^
Dara baru menyesap coklat panasnya beberapa kali ponselnya yang ada di atas meja belajar berdering, panggilan telepon dari kakak laki-lakinya.
"Halo, Assallamuallaikum Bang," ucap Dara senang.
"Halo adikku sayang, waallaikumsalam," jawab Dion di seberang telepon.
"Tumben! ada apa?" tanya Dara, tak biasanya saudara tertuanya itu menghubunginya di siang har, biasanya hanya chat saja.
"Ayah mengirim pesan aneh tadi pagi, mungkin salah kirim. Tapi abang kepikiran, apa Bunda dan Ayah baik-baik saja!"
"Pesan aneh! pesan aneh gimana?" tanya Dara penasaran.
__ADS_1
"Sebuah gambar Tas dan jam tangan wanita, tapi sebelum sempat Abang simpan Ayah sudah menghapusnya, dan minta maaf karena sudah salah kirim pesan," jawab Dion.
"Mungkin itu untuk Bunda, lagian Ayah dan Bunda baik-baik saja kok," ucap Dara berbohong, dia belum siap bercerita dengan saudaranya itu, khawatir kuliah Dion terganggu.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah nanti Abang hubungi lagi, Assallamuallaikum."
"Waallaikumsalam." Dara meletakan ponselnya di tempat semula, dan kembali menikmati secangkir coklat panas miliknya.
Keesokan harinya Dara sudah ceria kembali, bahkan dia bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Sean. Sang kapten basket itu cinta pertamanya dan di hati gadis itu masih ada bunga-bunga asamara untuk Sean. Habis shubuh dia sibuk di dapur menyiapakan bekal untuk Sean berupa nasi dan udang saus pedas manis di tabur wijen.
"Dara duluan ya, Bun, Yah," ucap Dara, sembari mengecup kedua pipi orang tuanya. Bukannya Dara tidak ingin ikut sarapan hanya saja tadi dia memperhatikan Rijal dan Widuri sudah mulai akur mungkin saja masalah mereka sudah selesai dan berakhir dengan baik-baik.
Sampai di sekolah Dara mencari keberadaan Sean, dan ternyata dia sudah di tunggu di ruang BP untuk menjadi saksi atas perkelahian Sean dan Arbi kemarin. Di sana juga ada Papa-nya Sean dan Om Chan paman-nya Arbi.
"Itu hanya salah paham, Pak, karena hujan dan jemputanku belum datang aku duduk di kursi dekat parkiran di sana juga ada Arbi," ucap Dara menjeda ucapannya, gadis itu bingung bagaimana menjelaskannya.
"Apa betul kamu pacaran dengan Sean?" tanya guru BP, Pak Sam.
Dara tidak menjawab dia hanya mengangguk.
"Dan Sean menuduhmu selingkuh dengan Arbi dan berbuat kasar dengan menarik tanganmu!" ucap Pak Sam, lagi.
"Hem.., Sean hanya salah paham, Pak," jawab Dara, dia bingung harus berkata apa.
"Maaf sebelumnya kita semua sudah melihat di cctv dan jelas terlihat keponakan saya hanya sesekali memberikan pukulan itupun di saat pemuda ini sudah kelewatan, Arbi lebih banyak menghindar, jadi saya harap itu bisa menjadi pertimbangan pihak sekolah agar tidak menghukum keponakan saya," ucap Om Chan.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, donk, anak ini sudah membuat anak saya terluka! setidaknya dia bertanggung jawab dan minta maaf," balas Papa-nya Sean tidak terima.
"Baiklah, saya dan keponakan saya minta maaf sebesar-besarnya, dan kami bersedia menanggung semua biaya pengobatannya," ucap Om Chan, sembari nenatap Arbi dan menganguk.
"Untuk biaya pengobatan kami tidak butuh! kami bukan orang miskin yang harus di santuni, sebagai orang tua Sean saya hanya berharap orang yang sudah memukul anak saya bisa di hukum, agar tidak melakukan hal serupa di lain hari." orang tua Sean, minta Arbi di hukum.
"Tapi kami tidak bisa hanya menghukum Arbi, mereka berdua berkelahi di sekokah gara-gara salah paham, jadi Sean dan Arbi sama-sama kami berikan hukuman, hanya saja karena Sean sedikit terluka dia kami beri hukuman ringan dengan membersihkan ruang uks dan Arbi membersihkan seluruh toilet laki-laki di sekolah ini," ucap Pak Sam, menjelaskan.
Sean dan Arbi sama-sama menerima hukuman dengan berat hati. Sean keluar dari ruang BP tanpa menoleh ke arah Dara. Sean langsung ke ruang uks yang dia yakini pasti sudah bersih karena Sean tahu ruangan itu tidak pernah kotor.
Dan Arbi sama sekali tidak memikirkan hukumannya, menghubungi genknya dan hukumanpun selesai. Pekerjaannya membersihkan toilet akan di ambil alih oleh mereka. Saat jam istrahat Dara menatap kotak bekal yang awalnya ingin dia berikan untuk Sean, tapi cinta pertamanya itu ijin pulang cepat karena kurang sehat. Dara tidak mungkin memakannya karena dia alergi dengan udang.
Dara meletakan kotak bekal berwarna pink di atas meja Arbi.
"Ar, aku minta maaf karena Sean sudah salah paham tentang kita, sampai kamu di hukum. Ini terimalah," ucap Dara, tersenyum kecil. Tanpa menunggu jawaban dari Arbi, Dara kembali ke kursinya, sekali-kali dia menoleh ke belakang.
Arbi membuka kotak bekal dari Dara, awalnya dia ingin menutup kembali kotak berwarna pink itu setelah melihat isinya, tapi dia tidak mau membuat Dara kecewa. Arbi menghabiskan isinya dengan cepat, tapi baru beberapa menit tiba-tiba Arbi jatuh dan tak sadarkan diri.
Semua yang ada di dalam kelas menjadi panik, termasuk aku, apa dia keracuanan setelah menyantap bekal pemberianku, tapi aku tidak memasukan apapun ke dalamnya kecuali seiris timun dan tomat sebagai pemanisnya. Arbi alias Arbian di bawa ke klinik yang ada di sebelah sekolah, biasanya kalau ada salah satu pelajar yang sakit dan tidak mungkin lagi di tangani di uks akan di bawa ke klinik ini.
Aku yang bingung kenapa Arbi tiba-tiba pingsan menyusul ke klinik setelah sebelumnya ijin ke guru. Ada dua guru yang ikut , Pak Sam dan Pak ilham (guru olah raga). Kami bertiga menunggu di depan pintu IGD, sungguh aku sangat penasaran apa yang terjadi dengan siswa yang terkenal nakal itu. Om Chan datang di saat Dokter ke luar dari ruang IGD.
"Keluarga pasien Arbian," ucap suster yang berdiri di sebelah Dokter laki-laki berkaca mata itu.
Apa yang terjadi pada Arbi, Ya Allah mudah-mudahan dia baik-baik saja. Jantungku seakan bekerja lebin keras saat ini, sungguh aku sangat takut sekali, apa lagi Arbi pingsan setelah memakan bekal dariku.
__ADS_1