
Tidak lama kemudian masuk lagi chat dari Sean, malas membuka pesan darinya, aku tidak suka dengan amarahnya yang memojokanku tadi, kalau dia betul sayang padaku seharusnya dia melakuakan apa yang tadi Arbi perbuat. Arbi yang terkenal nakal dan bandel di sekolah kami bisa berpikir untuk melakukan itu kenapa dia tidak.
Ponselku berbunyi lagi, sekarang panggilan telepon dari Sean, aku tetap tidak menggubrisnya meletakan benda persegi pipih itu di laci dan menutupnya.
Makan malam, kami bertiga duduk di kursi masing-masing menikmati hidangan dengan diam. Sebenaranya aku punya dua saudara, yang pertama Bang Dion, dia menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan tinggal di sana, dengan menjadi anak kos. Dan satu lagi Devan, anak bungsu, adikku yang menjadi santri di salah satu pondok pasantren di jawa timur, sekarang Devan kelas dua sekolah menengah atas. Hanya aku anak Ayah dan Bunda yang tinggal di rumah.
"Besok Ayah akan ke Bandung, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Bunda ga apa-apakan berdua dengan Dara di rumah?" ucap Ayah setelah menyelesaikan makannya.
"Bunda ikut!" ucap wanita yang sudah melahirkanku itu dengan nada ketus Suasana terasa dingin, Bunda marah.
"Bun, Ayah hanya beberapa hari di sana, kasian Dara hanya sendirian di rumah!" balas Ayah.
"Tapi Dara gak apa-apa kok, Yah! nanti Dara ajak Ayu untuk menemani," ucapku, mencoba menengahi.
"Tetap tidak bisa! lagian Ayah naik mobil, nanti Bunda gak nyaman soalnya ada dua karyawan Ayah yang ikut," balas Ayah, masih tidak mengijinkan Bunda untuk ikut.
"Ra, kalau sudah selesai makannya ke kamar duluan, Ya!" ucap Bunda menatapku.
"Iya, Bunda," balasku, mencoba tersenyum. Pergi ke lantai atas di mana kamarku berada.
Baru saja membaca satu halaman buku pelajaran sekolah terdengar suara ribut-ribut dari bawah, Ayah dan Bunda bertengkar lagi, sungguh kejadian ini membuatku tak nyaman dan takut pernikahan orang tuaku jadi hancur. Apa betul Ayah selingkuh? menduakan Bunda yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka.
Aku tertidur setelah merasakan gundah yang mendalam karena pertengkaran orang tuaku. Dan bangun saat rasa haus terasa di tenggorokan, biasanya ada satu teko yang berada di nakas di siapkan oleh Mbok Yati, tapi malam ini isinya kosong, mungkin Mbok Yati lupa mengisinya.
Dengan langkah berat kulangkahkan kaki ke bawah, sembari membawa teko. Belum sampai kakiku ke dapur sayup-sayup kudengar suara seseorang di ruang makan, itu suara Ayah, cinta pertamaku itu sedang menelepon dengan suara pelan. Kepeluk teko dengan rasa gugup, mencoba menguping pembicaraan Ayah.
"Sayang, sebaiknya kita tunda dulu, istriku curiga dengan hubugan kita! malam ini aku terpaksa tidur di sofa karena Widuri tidak mengijinkanku masuk ke kamar kami," ucap Ayah, suaranya sangat pelan sekali.
Tentu saja ucapan Ayah barusan membuatku sedih, Ayah memanggil selingkuhannya dengan sebutan sayang. Siapa wanita itu? kenapa dia begitu jahat!
Tak ingin mendengar lebih banyak lagi, aku keluar dari persembuyian dan meletakan teko dengan kasar di meja makan, tepat di depan Ayah duduk. Mungkin Ayah sangat kaget, hingga ponselnya jatuh ke lantai. Aku tidak memperdulikan panggilan Ayah, dengan cepat berlari dan mengunci pintu kamar dari dalam.
"Dara, sayang! buka pintunya, Nak, dengarkan penjelasan Ayah dulu," ucap Ayah di depan pintu kamarku, seiring dengan suara ketukan. Aku tidak perduli, dengan bantal kututup wajah, menangis dalam diam.
Entah berapa lama Ayah di depan pintu kamarku, saat pagi tiba aku bangun dengan mata bengkak, karena terlalu lama menangis. Setelah siap dengan seragam sekolah aku turun untuk sarapan. Di ruang makan hanya ada Bunda.
"Cantiknya anak Bunda, yuk sarapan dulu, Bunda masak nasi goreng ayam kesukaanmu," ucap Bunda tersenyum sembari menuangkan susu di gelas milikku.
Dari wajahnya aku tahu Bunda sedang tidak baik-baik saja, bekas air mata terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Ayah gak sarapan, Bun?" tanyaku, spontan.
__ADS_1
Tiba-tiba tangan Bunda yang sedang menyuap nasi goreng mikiknya terhenti. Kenapa aku begitu bodoh seharusnya aku tidak bertanya tentang Ayah.
"Ayah berangkat ke Bandung jam lima tadi pagi. Habiskan sarapanmu hari ini Bunda mengijinkanmu membawa mobil sendiri ke sekolah, Mang Arif libur, istrinya melahirkan tadi malam. Hemm.. jangan lupa bawa ponselmu," jawab Bunda, tanpa menoleh padaku.
Sebelum meninggalkan meja makan kupeluk Bunda, berharap bisa memberinya sedikit kekuatan.
"Bunda tetaplah kuat, apapun yang terjadi putrimu ini akan selalu menemanimu," ucapku dalam hati. Bunda mengecup kening dan pipiku berkali-kali sebelum aku masuk ke dalam mobil.
Sampai di sekokah, Sean sudah menungguku di parkiran.
"Ra, kenapa chatku tak di buka? teleponku ga di angkat? maaf! kemarin aku membuatmu kesal," ucap Sean, padahal aku baru turun dari mobil tapi dia sudah ngoceh, mirip miss Rose, guru bahasa inggris kami.
"Sorry," tambahnya lagi, sembari memegang hidung mancungnya. Tentu saja tingkahnya itu membuatku tertawa.
"Sepertinya hari ini kita bisa kekantin berdua tanpa ganguan dari sahabatmu itu," kembali Sean membuka suara, saat kami berjalan beriringan ke dalam kelas.
"Ayu, kemana dia?" tanyaku cepat.
"Di grup wa kelas, dia minta ijin dua hari gak masuk. Alasannya dia dan keluarganya ada acara di Bandung," balas Sean.
Sean memang sekelas dengan Ayu, di kelas tiga dua sementara aku di kelas tiga satu. Kebetulan sekali Ayu ke Bandung, Ayah juga ke sana, seandainya Ayu mengajakku tentu saja dengan senang hati aku mau dan bisa mencari tahu apa yang Ayah lakukan di sana, dan mencari bukti tentang perselingkuha Ayah. Tapi jangankan mengajakku memberitahuku saja tidak, mungkin Ayu sibuk atau masih galau dengan pernikahan Tante Farah sehingga sahabatku itu lupa memberi tahuku.
Di sekolah aku tidak seceria biasanya, mungkin karena tidak adanya Ayu, juga tentang kegelisahan hatiku dengan pertengkaran Ayah dan Bunda, sementara Sean sedang latihan basket dengan tim-nya, seminggu lagi ada pertandingan dengan sekolah lain. Duduk di kursi dengan mencoret-coret kertas kosong.
"Untukku!" ucapku bingung.
"Hemm.., kenapa? aku memang tidak tampan dan bukan kapten basket, walau urakan dan sedikit nakal tapi aku tau rasa es krim kesukaanmu," ucap Arbi, dia tersenyum, sesuatu yang jarang dia lakukan. Senyumnya manis, di tambah lesung pipinya yang kian terlihat jelas.
"Makasih," ucapku singkat, membalas senyumannya.
"Tetaplah tersenyum, aku tidak suka melihatmu murung seperti tadi," balas Arbi, dan berlalu pergi keluar kelas.
Ponselku yang di dalam tas berbunyi pendek, mungkin pesan dari Bunda. Kubuka Aplikasi berlogo ganggang telepon berwarna hijau, ternyata chat dari Ayu.
( Doakan pernikahan kedua Mamaku langgeng ya, Ra, dan Papa tiriku bisa menerimaku dengan baik dan menyayangiku seperti anaknya sendiri ) isi chat Ayu, dan di pesan kedua satu foto saat seorang laki-laki sedang duduk berdua dengan Tante Farah, tapi wajah pria itu tidak kelihatan karena di tutup stiker. Semalam katanya dua hari lagi tapi ternyata pernikahan Tante Farah hari ini.
Kubalas chat Ayu dengan kata Aamiin juga beberapa kata semoga pernikahan kedua Tante Farah langgeng dan bahagia.
*~~*
Di perjalan pulang ke rumah, mobilku tiba-tiba mogok. Mungkin karena jarang di pakai, berkali-kali mencoba tapi si merah tidak juga hidup. Kutelepon Sean, untungnya di panggilan pertama dia langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo, Ra," ucap Sean di seberang telepon.
"See, mobilku mogok, tolong bantu aku," ucapku cepat.
"Di mana," balas Sean.
"Di depan taman kota," jawabku.
"Tapi saat ini aku gak bisa, kami baru saja sampai di Gor, posisinya terlalu jauh," balas Sean lagi.
"Hahh, terus gimana donk!" ucapku putus asa.
"Telepon layanan motir online saja, maaf ya Ra, latihannya mau di mulai." Sean memutuskan panggilan sepihak. Ingin rasanya berteriak, menyebutnya pacar gak peka tapi ini di tengah jalan, malah panas lagi, matahari seakan-akan ada di atas kepalaku.
"Dara!" tiba-tiba Arbi sudah berdiri di belakangku.
"Mobilmu kenapa?"
"Mogok," jawabku, hampir menangis. Aku memang jarang menyetir sendiri.
Arbi mengelurkan ponselnya, bicara sebentar di sana. Dia kembali ke motor besarnya dan memintaku duduk di belakangnya.
V
"Sebentar lagi karyawan Om chan akan datang mengurus mobilmu, tidak usah khawatir Om Chan itu pamanku. Ayo, aku antar pulang," ucap Arbi santai, sembari mengenakan helm miliknya.
Tidak ada pilihan lain, dengan memegang erat jaket Arbi aku duduk di jok belakang motor besar miliknya. Tapi baru beberapa menit tiba-tiba Arbi mengerem mendadak dan aku terdorong ke depan, kepalaku terbentur di punggung Arbi.
"Maaf, Ra! di depan ada kecelakan, kita cari jalan lain, Ya," ucap Arbi sedikit keras, karena memang sangat berisik, suara klakson saling bersahutan.
"Ya," jawabku singkat dengan suara lumayan keras juga.
Akhirnya kami sampai juga di rumah, Arbi kupersilakan mampir tapi dia menolak, katanya ada urusan di tempat lain. Arbi kukenal sebagai siswa nakal di kelas, dia sering bolos, jarang mengerjakan tugas, juga suka balapan liar. Semua siswa nakal di sekolah kami pasti dekat dengan Arbi.
Di rumah ada Bunda dengan dua temannya, mereka sepertinya sedang membahas hal penting sampai tak menyadari kehadiranku.
"Dara, sudah pulang, Nak! ganti baju setelah itu makan, Bunda masak ayam semur dan sambal tahu," ucap Bunda, menghampiriku.
Aku meninggalakan Bunda dan dua temannya, masuk ke kamar dan istrahat sebentar. Dengan malas ku raih ponsel, ada bunyi nontifikasi wa masuk.
( Ada hubungan apa kamu dengan Arbi, apa selama ini kamu sering jalan berdua dengan cowok bej*t itu ) isi pesan Sean, juga sebuah foto saat aku di bonceng Arbi tadi.
__ADS_1
Andai saat ini hatiku tidak galau dengan masalah Ayah dan Bunda aku akan membalas pesan Sean dengan bertanya baik-baik apa maksudnya mengirim pesan seperti itu. Tapi sekarang kepalaku sakit, di tambah lagi habis panas-panasan di luar.
"Terserah kamu, tolong jangan ganggu aku dulu, kepalaku pusing," balasku, mengirim pesan yang kuketik, kemudian mematikan ponsel, dan melempar benda itu ke atas ranjang.