Ayahku Bukan Papamu

Ayahku Bukan Papamu
Noda di rok sekolah


__ADS_3

Ayu tidak bisa tidur, memikirkan niat Mama-nya yang ingin menikah lagi, Papa-nya belum setahun meninggal dunia, kenapa wanita yang sudah melahirkannya itu begitu cepat bisa jatuh cinta lagi. 


"Kenapa aku tidak seberuntung Dara. Dia hidup di keluarga yang sempurna, terlahir dari orang tua yang kaya, pintar, dia juga cantik. Sean yang sejak dulu aku kagumi juga akhirnya memilih Dara untuk jadi kekasihnya! hemm.., tapi apa benar setelah Mama menikah, semua yang aku inginkan akan bisa terpenuhi? tapi kenapa aku seperti berkhianat pada almarhum Papa!" ucap Ayu pelan, bicara pada dirinya sendiri. 


Ayu akhirnya terlelep, dan bangun saat pintu kamarnya di gedor keras. 


"Ayu, bangun! nanti telat," teriak Farah di depan pintu kamar anak gadisnya. 


"Iya, Ma," jawab Ayu singkat, dan dia teringat dengan Sean yang bersedia menjemputnya pagi ini. Bergegas meraih handuk dan berlari ke kamar mandi, untuknya tidak ada orang di dalam. Selesai mandi dengan cepat bersiap, dan memoles wajahnya agak lebih dari biasanya, berharap Sean bisa menyukai penampilannya.


Tapi setelah sekian lama menunggu Sean sama sekali tidak terlihat batang hidungnya, chat dan panggilannya pun di abaikan oleh laki-laki yang sudah menjadi temannya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu.


Karena takut terlambat sampai di sekolah Ayu terpaksa menggunakan jasa ojek yang mangkal tak jauh dari rumahnya. Dia semakin sakit hati saat tiba di sekolah Ayu melihat Sean dan Dara sedang jalan beriringan menuju kelas.


"Sial! dasar jahat," gerutu Ayu pelan. Dan hatinya semakin membenci Dara.


Saat jam istirahat Dara dan Ayu duduk di kantin, Ayu menikmati Bakso kesukaannya dan Dara seporsi mie ayam tanpa kecap dan saus.


"Ra, tolong bayarin ya, uang sakuku habis!" ucap Ayu memelas


"Iya, sebentar aku bayar dulu ya, habis tu temenin aku ke ruang osis mau memberi tahu Gita kalau nanti aku ga jadi ke rumahnya," balas Dara, sembari menghabiskan jus jeruknya.


Dara beranjak dari tempat duduknya, menuju kasir untuk membayar makanannya dan juga Ayu. Kesempatan itu di gunakan Ayu untuk mengerjai Dara, meraih botol kecap dan menumpahkan beberapa sendok di kursi yang tadi Dara duduki, setelah selesai Ayu kembali menikmati Baksonya yang sisa sedikit.


"Yu, kita keruang OSIS, ya!" ajak Dara.


"Duduk dulu, baksoku baru habis masa langsung jalan." menarik tangan Dara, dan memintanya untuk duduk kembali. Tanpa memperhatikan ke arah kursi Dara langsung duduk dia tidak tahu rok yang dia gunakan terkena tumpahan kecap.


"Duh, perutku sakit Ra! maaf ya sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke ruang OSIS, gimana donk!"


"Ya sudah buruan ke toilet sana."


"Maaf ya," ucap Ayu lagi memasang wajah tak enak.


Dengan langkah cepat Ayu buru-buru ke arah toilet, dan Dara jalan sendiri ke ruang pengurus OSIS kebetulan dia menjadi salah satu anggotanya. Bercak di bagaian belakang rok Dara mirip dengan merah datang bulan, dan membuatnya menjadi bahan tertawaan, Sean yang melihat itu tentu saja tak suka. Dia yang di kenal sebagai pacar Dara menjadi malu.


Sementara Dara masih berjalan santai dia tidak tahu sudah menjadi bahan olokkan satu sekolah.


"Dara pakai ini, tutupi bagain belakang rokmu." tiba-tiba Arbi teman sekelasnya yang terkenal jahil dan urakan mengulurkan jaket miliknya ke arah Dara.


"Untuk aku? tapi aku tidak membutuhkan jaketmu, Ar!" jawab Dara, bingung.


tanpa membalas ucapan Dara, Arbi melilitkan jaket miliknya ke pinggang Dara, hingga menutupi bagian belakang rok gadis itu.

__ADS_1


"Arbi, hentikan! aku tidak butuh jaketmu!" protes Dara kesal.


"Ayo ikut aku," ucap Arbi, dan langsung menarik Dara untuk ikut dengannya.


"Arbi, lepaskan!" protes Dara lagi.


Arbi tidak perduli dan mereka jadi tontonan siswa lainya. Sampai di uks Arbi melepaskan tangan Dara.


"Aku tidak sakit, ngapain di bawa ke sini?"


"Dasar cewek bodoh! kalau lagi sedang datang bulan di tutupi jangan di umbar kemana-mana, apa kamu tidak tahu sudah jadi bahan tertawaan satu sekolah?" ucap Arbi sedikit keras, sembari melepas jaket miliknya dari pinggang Dara.


Sontak saja ucapan Arbi membuat wajah Dara memerah, dengan cepat dia melihat ke belakang rok nya, dan ada bercak merah yang cukup lebar di sana.


"Tapi aku sedang tidak datang bulan!" ucap Dara gagap.


"Terus itu apa?"


"A..a.. aku ga tau,"


Tiba-tiba Kintan teman, sekaligus tetangga Dara masuk ke ruang uks dengan napas ngos-ngosan.


"Ya ampun Dara, aku sudah keliling nyarin ternyata di sini sama si Arbi," ucap Kintan.


"Sini aku periksa." langsung mendekati Dara dan memperhatikan bercak merah di rok gadis itu. Ujung jarinya menyentuh sedikit bagian yang terkena noda dan mengendusnya.


"Ini kecap, Ra! nih." mendekatkan ujung jarinya ke arah hidung Dara.


"Iya aroma kecap," ucap Dara.


"Oh iya, astaga kok aku bisa lupa sich," ucap kintan sembari menepuk jidatnya.


"Aku memang mencarimu, tadi si niko bilang kalau noda di rokmu hanya kecap yang sengaja di tuang si Ayu di kursimu," sambungnya lagi.


"Hahh, Ayu! tapi gak mungkin deh Ayu ngelakuin itu dia sahabatku," balas Dara, dengan ekspresi tak suka.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya, Ra! itu semua terserah kamu, selama ini kamu memang hanya percaya sama Ayu padahal dia sudah sering membuatmu susah termasuk memutuskan persahabatan kita," ucap Kintan dan langsung pergi.


"Kin, aku tidak bermaksud begitu," ucap Dara agak keras, dan tidak melanjutkan ucapnya kerena Kintan sudah jauh.


"Wanita memang rumit," celetuk Arbi yang duduk di kursi.


"Jaketnya untuk kamu aja," dan langsung pergi.

__ADS_1


Dara menarik napas dalam, "Apa Ayu setega itu padaku," gumannya dalam hati.


Bel sekolah berbunyi tanda jam istirahat sudah berakhir, dengan cepat Dara kembali ke kelas dengan jaket Arbi dia tidak sempat lagi membersihkan roknya, karena selanjutnya ada pelajaran bahasa inggris dan Miss Rose salah satu guru paling galak di sekolah mereka.


Di lorong terakhir menuju kelasnya Dara berpapasan dengan Sean, tapi laki-laki itu bersikap dingin padanya. Dara hendak menyapa tapi Sean memalingkan wajahnya. Karena buru-buru Dara memilih langsung masuk kelas dan melupakan sikap Sean barusan.


----------


Pov Dara


Sudah sering kumendengar tentang sahabatku 'Ayu' kata teman-teman yang lain dia sangat membenciku. Tapi tidak pernah kugubris bagiku Ayu adalah sahabat terbaik. Dan hari ini Kintan mengatakan Ayu lah yang jadi penyebab rokku terkena noda dan tentu saja aku tidak percaya, Ayu tidak mungkin setega itu padaku.


Saat jam sekolah berakhir Sean menemuiku di tempat kami biasanya bertemu, taman depan sekolah. Dia marah besar karena noda di rokku, sudah membuatnya malu.


"Ra, kamu tau tidak! aku tidak suka kamu seperti tadi, jorok!" ucap Sean, dia terlihat kesal.


"Tapi itu tidak seperti yang kami pikirkan, Se! itu hanya noda kecap," balasku.


"Apa kecap? tapi apapun itu orang-orang sudah mentertawakanmu, seharusnya kamu bisa lebih hati-hati lagi!" Sean terlihat semakin marah, kenapa masalah seperti ini bisa membuatnya begitu murka. Seharusnya kalau dia sayang padaku, Sean melakukan apa yang tadi Arbi perbuat.


"Kamu pacarku! aku gak suka kamu seperti tadi," ucapnya lagi.


"Apa tadi kamu melihatnya?" tanyaku.


"Iyalah, aku melihat rokmu yang menjijikkan itu," jawab Sean, masih dengan wajah marah.


"Maaf kalau aku sudah membuatmu malu," ucapku, sebenarnya kesal dengan sikap Sean, tapi aku malas berdebat dan pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun lagi.


Sampai di rumah aku mendengar suara ribut-ribut di kamar Bunda.


"Mas, apa kamu tidak sayang sama anak-anak kita! tolong, siapapun perempuan itu cepat tinggalkan dia, demi rumah tangga kita," terdengar suara Bunda, seperti memohon.


"Bunda hanya salah paham, Mas tidak mungkin menduakan Bunda! Mas juga tidak tahu siapa wanita yang mengirimkan pesan itu," balas ayah, sedangkan aku masih berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Gak mungkin salah kirim, Mas! di pesan itu dia menyebut namamu! dia juga mengatakan siap menjadi istrimu, walau hanya nikah siri!"


"Bisa jadi ini kerjaan orang yang ingin membuat rumah tangga kita hancur! percayalah, Mas tidak mungkin selingkuh. Kita sudah bersama selama dua puluh dua tahun, tidak mungkin Mas merusak itu semua!" kembali Ayah membantah tuduhan Bunda.


Aku naik ke lantai dua, jujur hatiku ikut ketar-ketir mendengar pertengkaran Ayah dan Bunda. Bagaimana kalau Ayah betul-betul selingkuh, apa aku akan hidup di keluarga yang di rusak karena ulah pe~la~k*r.


Baru saja mengganti baju, ponselku berbunyi, tanda ada chat yang masuk. Ternyata pesan dari Ayu.


( Ra, dua hari lagi Mamaku akan menikah di rumah nenek, sebenarnya aku tidak setuju tapi Mama sudah mantap dengan pilihannya. Doakan ya, mudah-mudahan ayah tiriku laki-laki yang baik )

__ADS_1


__ADS_2