Baby Dont Stop

Baby Dont Stop
-3 [Pembatasan Diri]


__ADS_3

.


.


.


Jangan pernah menghindar dari apa yang sudah aku tetapkan karena peraturan dari ku adalah kewajiban untuk mu. —Rexan


╬╬══════════╬╬╬╬══════════╬╬


Langkah mundurnya terhalang oleh pilar di belakangnya. Ia tengah menghindar tapi tangan itu sudah menangkapnya, membuat ia tak berkutik. Gadis itu berontak. Mata tajamnya itu ia tujukan kepada seseorang yang ada di hadapannya.


"Lepas atau gue bakal teriak!!" Ancam Azze yang membuat Rexan tertawa lepas. Di matanya Azze saat ini terlihat lucu dan menggemaskan.


"Ya udah, teriak aja!" Rexan mempersilahkan.


Kebetulan guru BK yang terkenal ganas sedang piket. Beliau selalu keliling mencari murid yang keluyuran di jam belajar. Irexan yang melihat itu sengaja memancing Azze yang tempramen nya sangat buruk.


"Dasar Gila! Minggir!" Pekik Azze saat Irexan ingin menyudutkannya di pilar.


"Ada apa ini?!? Kenapa Jam segini kalian berkeliaran di dekat kantin?!?" Rexan memasang wajah dingin menatap Buk Aldercy yang tampak marah melihat Azze dan terkejut melihat Rexan yang juga berada di sana.


"Saya akan mengurusnya. Ibuk bisa kembali bertugas." Ucapan Irexan membuat guru itu tersenyum lebar, berbeda dengan Azzeus yang terlihat bingung.


"Jangan terlalu kelewatan menghukumnya. Mungkin dia kelaparan." Azzeus semakin bingung saat kata-kata guru itu seperti sedang membelanya.


"Ibuk tahu saya gimana kan? Kalau gitu saya permisi dulu. Dan kamu ikuti saya!" Pamit Rexan pada gurunya dan membawa Azzeus ke ruangannya.


"Lepasin gak! Gue gak mau ikut! Pokoknya lepasin!!" Azzeus berhasil melepas tangannya dan segera berlari menuju kelasnya.


Rexan tersenyum tanpa mengejarnya. Ia keluar dari ruangan MPK hanya karena suntuk mengerjakan semua rencana sekolah yang OSIS usulkan. Bertemu Azzeus sedikit menghilangkan kejenuhan nya.


"Berharap lepas dari gue? Haha... Gak akan bisa." Gumam Rexan seraya menatap bayangan Azzeus yang perlahan menghilang.


╬╬══════════╬╬╬╬══════════╬╬


"Coba perkenalkan diri kamu dan sebutkan Visi dan Misi kamu sebagai Calon ketua MPK."

__ADS_1


Ya! Sudah sebulan berlalu, mereka yang mengajukan diri sudah melewati seleksi ketat. Mereka yang di tunjuk harus mempersiapkan mental dan juga Visi dan Misi yang di bantu oleh guru pembimbing.


Gadis itu sengaja menggeraikan rambutnya yang biasa di kuncir kuda. Ia juga tinggal menghafal Visi dan Misi yang di buat ibuk Zellin selaku guru pembimbing dan juga wali kelasnya. Kini ia berada di hadapan ketua dan wakil ketua MPK yaitu Taehyung Irexan Navaniel S dan Yejinea Zeehafa. Gadis itu juga di kelilingi Anggota MPK dan OSIS serta para calon kandidat lainnya.


Masalah mental atau persiapan lainnya tak perlu lagi meragukan Azzeus. Bahkan Irexan memilih gadis itu karena Kualifikasi yang lebih baik dari yang ia harapkan. Namun kekurangan Azzeus hanya pembangkang dan tidak penurut tapi hal itu membuat Irexan semakin tertarik padanya.


"Selamat Siang. Saya Lalisa Azzeus dari kelas X IPS¹. Disini saya di pilih jadi Calon ketua MPK dan saya menolak menjadi Calon Ketua MPK. Saya harap kakak-kakak sekalian bisa mencari calon peserta baru. Terima kasih." Usai mengucapkan itu terdengar suara tepuk tangan dari Irexan. Semua mata tertuju pada pria tampan dengan segala kuasanya.


Wajah dingin itu menatap lekat Azzeus yang juga menatapnya balik tanpa takut. "Apa saya salah menunjuk orang? Atau prestasi yang kamu dapat di sekolah sebelumnya hanya karangan semata. Ternyata kamu tidak sehebat yang saya kira atau malah kamu sebenarnya orang bodoh yang sedang berlagak, mencari perhatian sana sini agar terkesan pintar?"


"Stop! Gue gak bodoh! Dan itu hasil kerja keras gue sendiri! Gue bakal buktiin kalau itu hasil gue sendiri tapi gue gak mau jadi ketua organisasi Sampah ini!" Geram Azzeus saat Irexan menghinanya di depan semua orang tanpa ia sadari kalimat yang di lontarkan Azzeus memancing amarah orang-orang di sana.


"Di sini orang-orang terpilih semua! Dan lo gak berhak menghina kerja keras orang-orang yang berada di sini!"


Taeyong Azzariel Dannish Havaendy. Perwakilan Olimpiade luar negri yang juga anggota MPK. Pria itu menatap marah pada Azzeus.


"Azzariel! Biar saya yang urus masalah ini. Selebihnya boleh kembali menjalankan apa yang sudah saya katakan di rapat. Voting ketua dan wakil OSIS yang baru bisa di selesaikan. Setelah ini yang namanya Chanbin Vandy, pulang sekolah temui saya di ruangan. Kamu ikut saya!"


Semuanya bubar dari ruang rapat yang menyesakan itu. Bahkan para peserta sebagian ada yang menahan nafas karena perdebatan itu. Azzeus juga terus menggigit bibirnya karena tahu salah bicara. Ia cuma mengikuti emosinya jadi ia tak berfikir jernih.


"Irexan!" Seseorang menghentikan langkah mereka berdua yang baru saja akan masuk ruangan ketua MPK.


"Saya cuma mau bilang, susunan strukturnya mau di ubah atau enggak? Kami mau memulai penyusunannya." Azzeus hanya tertunduk saat Amel malah membahas event sekolah.


"Nanti saya mau diskusikan pada seseorang dahulu. Paling telat nanti sore saya beri kabar." Jelas Irexan.


"Hmm Rexan. Sebagai teman, apa lo bisa lepasin Azzeus kali ini aja. Gue janji dia gak bakal gitu lagi." Ucap Amel sedikit ragu. Azzeus juga ikut berdiri di samping Amel dengan tatapan memelas.


"Enggak! Udah sana balik" Usir Rexan yang membuat Amel hanya bisa menepuk pundak Azzeus.


Dengan pasrah gadis itu masuk tanpa di seret. Irexan duduk di kursinya menyusun kertas yang di minta Amel dan membawanya ke pada Azzeus.


"Lihat strukturnya, gue ngerasa masih ada yang kurang." Ucap Irexan yang sudah buntu.


Azzeus mengambil kliping itu dan membacanya dengan seksama. Meski bingung kenapa ia di suruh membaca ini tapi ia tetap melakukannya.


"Kenapa tamu penting sekolah duduk di paling depan. Seenggaknya mereka harus duduk di tengah tribun biar melihat ke arah panggung dengan nyaman." Jelas Azzeus yang menatap wajah bingung Irexan untuk yang pertama kali.

__ADS_1


"Terus anak-anak rusuh itu duduk di depan?" Azze menggeleng. Bukan maksud menomorduakan para petinggi sekolah.


"Mereka berada paling depan tapi enggak duduk. Mereka berdiri seperti konser-konser gitu. Jadi sekolah bisa sedikit menghemat anggaran sewa kursinya." Irexan tersenyum. Kenapa ia tidak bisa terpikirkan hal sekecil ini.


Dengan gerakan reflek Irexan mengelus puncak kepala Azzeus dan segera berdiri untuk menelfon anggota lainnya.


Mereka berkumpul di ruangan Rexan dan mendengarkan dengan Jelas susunan rancangan yang sudah Rexan diskusikan bersama Azzeus. Semuanya paham dan mengerti. Mereka kembali bubar, menyisakan Irexan dan Azzeus di dalam ruangan itu.


Azzeus duduk berada di sofa dengan jemari tangan yang saling remas. Irexan tersenyum lalu duduk di sebelah Azzeus.


"Kenapa gak mau jadi ketua MPK?" Irexan menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap rambut panjang Azzeus yang tergerai.


"Capek! Gue cuma mau sekolah dengan tenang." Jelas Azzeus.


Tangan Irexan tidak bisa diam. Kini telunjuknya itu tengah memainkan rambut Azzeus yang sekarang menatap ketua MPK itu.


"Ya udah lo jadi wakil aja, gak pake nolak lagi." Azzeus menghela nafas. Susah menjelaskan pada orang cerdas di depannya kalau ia ingin sekolah dengan tenang tanpa beban.


"Jadi ketuanya siapa? Gue gak suka adu argumen sama orang ****." Jelas Azzeus seraya memukul tangan Rexan yang memainkan rambutnya.


"Changbin Vandy, lawan berat lo dulu di Olimpiade di Singapure. Di bakal jadi ketuanya."


"Emang gak bisa ya gue gak ikut organisasi sekolah?" Irexan tersenyum. Ternyata bisa tawar menawar dengan lancar seperti ini tanpa pemberontakan dari Lalisa Azzeus. Tapi rasanya kurang menarik dan Irexan terus menatap bibir ranum itu.


"Gak bisa karena lo pacar gue."


"Sejak kapan gue pacaran sama lo! Kepedean amat sih lo! Ishh..." Azzeus segera berdiri namun tangannya di tarik untuk kembali duduk. Gadis itu melotot saat tubuhnya terdorong dan tertidur di sofa.


"Apa-apa an sih lo! Rexan lepas gak!" Lagi lagi Rexan menahan kedua tangan itu yang ia silang kan di atas kepala Azzeus. Irexan juga sudah berada di atas Azzeus. Menatap wajah cantik gadis itu.


"Lo nanya sejak kapan kan? Kalau gue ***** dulu di sini terus kita resmi pacaran gimana?"


"Gila lo! Lepas gak! Lepmmmmmppp"


Irexan menutup matanya. Akhirnya bibir lembut itu kembali ia rasakan. Rindu? Entahlah ia hanya ingin mencoba lagi dan lagi bibir Azzeus yang terasa manis di mulutnya. Meleleh, menyatu dengan lidahnya dengan hembusan nafas hangat itu. Dengan Azzeus itu adalah ciuman pertama Irexan tapi pria itu tampak lihai dan seperti kisser yang handal. Lagi-lagi Azzeus di buat terengah-engah. Irexan menurunkan ciumannya ke leher Azzeus. Wangi memabukan dari tubuh Azzeus membuat kepala Irexan pening tak tertahan. Irexan menatap wajah Azzeus yang memerah karena ikut terangsang oleh belaian tangan Irexan di tubuh gadis itu, tepatnya di titik-titik sensitif nya.


"Cukup sampai di sini. Yang jelas lo harus inget kalau lo pacar gue atau gue hukum lagi!"

__ADS_1


Ucapan Irexan membuat Azzeus memejamkan mata dan menghembuskan nafas kesal. Kenapa ia harus menikmati sentuhan pria itu. Masa bodo dengan semua ucapan Irexan. Yang jelas ia harus keluar dari ruangan itu.


╬╬══════════╬╬╬╬══════════╬╬


__ADS_2