Baby Dont Stop

Baby Dont Stop
-5 [Kilasan Yang Lalu]


__ADS_3

.


.


Meski hancur sekalipun. Aku akan tetap melakukannya karena kenangan yang tertinggal bukan hanya sedih tapi juga menyenangkan —Rexan


════════ ◖◍◗ ════════


Ruang Osis tampak sepi setelah rapat usai. Alde masih sibuk dengan proposal yang harus ia berikan pada MPK. Matanya fokus pada monitor computer di hadapannya. Saking fokusnya, Alde tidak lagi sadar kalau seseorang tengah memperhatikannya.


Orang itu menepuk bahunya cukup keras tanpa suara. "Astaga! Bikin jantungan aja sih!" Alde mendelik kesal pada si pelaku yang membuatnya terkejut. Sedangkan si pelaku malah tertawa melihat wajah lucu Alde yang terkejut.


"Aku yang ketua, kamu yang sibuk!" Lagi-lagi Alde memutarkan matanya merasa jengah dengan sahutan pacarnya itu.


"Makanya tugas ketua di cek biar wakil gak capek." Dumal Alde yang sedang mengumpulkan proposal yang baru di cetaknya.


"keluar yuk."


"Bukannya kita masih sibuk sampe event selesai?"


Adam menghela napas. Susah sekali mengajak gadis yang satu ini kalau lagi masa sibuk. "Sehari ini aja. Besok fokus lagi, ya?" Adam menggoda Alde dengan alis matanya yang naik turun.


Alde hanya bisa mengangguk pasrah. "Ya udah ayok tapi temenin ke ruangan Rexan dulu."


"Siap Nyonya!" Alde memukul bahu Adam pelan karena tingkah Adam yang selalu berlebihan.


Adam merebut setumpuk laporan yang ada di pelukan Alde. Adam mengerutkan keningnya saat mereka hampir sampai di ruangan ketua MPK. Alde melirik Adam yang terdiam di tempat.


"Kamu kenapa?"


"Gak papa. Yuk lanjut jalan." Adam mengambil langkah lebih dulu masuk ke ruangan Rexan.


"Nih ketua! Udah selesai, cek lagi aja. Siapa tau ada perubahan." Alde meletakan laporan proposal mereka itu di atas meja Rexan.


Tanpa menggubris Alde. Rexan memanggil Adam. "Adam!" Adam melirik sekilas.

__ADS_1


"Ntar malam ngumpul tempat biasa." Rexan meletakan pena sembarangan dan menatap Adam yang mengangguk paham.


"Emang mau kemana? Ngapain?" Alde melirik Adam dan Rexan bergantian. Mereka selalu membuat Alde penasaran dengan obrolan mereka.


"Kepo aja lo. Gih sana balik! Gue udah tau kalian mau jalan." Adam melotot tajam ke arah Rexan tapi sebelum itu ia melirik takut ke arah Alde yang sudah siap memukulnya.


"Dikit-dikit lapor! Emang dia siapa kamu sih, hah?!?" Geram Alde lalu menghentakan kakinya keluar dari ruangan Rexan. Adam hanya menghela napas lelahnya, sedangkan Rexan terkekeh pelan menatap sahabatnya.


"Lo sih! Diem aja napa?!?" Rexan mengedikan kedua bahunya, terkesan tak peduli. Ia sangat suka mengganggu kekasih teman-temannya. Baginya mereka sudah sangat dekat untuk saling mengganggu.


"Ya udah gih kejar! Entar tambah ngambek, kasian dia ntar kakinya pegel diri depan pintu."


BRAAAKS


Melihat dan mendengar suara pintu ruangannya di banting dengan cukup keras, mereka tersentak kaget lalu Rexan tertawa lepas. Ia tau kalau Alde belum pergi dan menunggu di depan ruangan untuk mendengar percakapannya dengan Adam.


"Parah emang lo! Gue entar yang kena dodol!" gelak tawa rexan semakin terdengar keras. Adam mendumal sendiri, heran dengan sahabatnya yang satu ini. Selalu konsisten dengan sikap jahilnya.


"Btw, dia tadi datang kan?" Adam menatap Rexan yang terlihat sedikit kaget. Senyum singkat yang di berikan Adam memberitahukan kalau dirinya merasa terganggu.


"Enggak sih. Cuma liat aja pas dia keluar ruangan lo." Adam mengedarkan pandangannya ke arah lain.


"Tapi jangan bilang Alde. Tambah gawat ntar." Adam mengangguk. Memang semua yang di katakan Rexan selalu benar. Perasaan waspadanya kembali menaik. Ia hanya ingin tidak ada lagi masalah di antara mereka.


"ya udah gue duluan. Lu jangan kelamaan di sekolah. Ntar mati lu di kuburin proposal baru tau rasa."


"Udah gih sono." Usir Rexan dengan kibasan tangannya.


Rexan menghela napas. Ia menatap wallpaper ponselnya. Foto mereka berlima, tiga tahun yang lalu. Masa-masa yang paling menyenangkan. Di mana rasa benci itu hanya sebuah rasa kesal dan rasa suka hanya sebuah rasa senang semata. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Saat itu memang menyenangkan. Masa yang paling di rindukan.


***


Tasnya ia lempar sembarangan. Tubuhnya pun ia jatuhkan di ranjang milik saudara kesayangannya. Ia memeluk abangnya yang tengah membaca buku sambil menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


"Kenapa?" suara berat itu membuat Azze malah ingin tertidur lebih lama.

__ADS_1


"Pantes abang pindah dari sekolah itu. Sistemnya pemaksaan banget." Gerutunya dengan bibirnya yang manyun sembari bermanja di samping abangnya.


"Emang kamu di paksa ngapain sih dek? Tumben kamu ngeluh kayak gini." Bukunya ia letakan di sampingnya dan kini ia hanya fokus pada adiknya yang manja. Tangannya mengelus lembut rambut lebat adiknya.


"kan aku udah bilang gak mau ikut-ikut organisasi. Eh malah di paksa sama mereka! Abang tau gak kalau ketua yang milih aku itu kayaknya gak waras." tawanya meledak saat mendengar keluhan adiknya.


"ih! Abang malah ketawa. Azze serius tau!" gadis itu memukul perut abangnya cukup kencang karena kesal.


"Iya, bawel. Abis kamu lucu dek. Kamu di apain sampe bilang dia gak waras?"


"Tau ah! Azze balik ke kamar aja! Abang nyebelin." Azze menghentakan kakinya seraya keluar dari kamar abangnya.


"Yah malah ngambek." Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum merekah di wajahnya.


"Belom satu semester, udah ngeluh aja si bocil."


Di kamarnya, Azze menatap ponselnya yang tiba-tiba berdering. Anjing Gila –kontak rexan yang di simpan di ponsel Azze– muncul di layar ponselnya. Azze menghela nafasnya dan melempar ponselnya ke ranjang tanpa memperdulikan panggilan yang menurutnya sangat mengganggu itu.


"untung gue pinter. Kalau enggak, pasti gue bawa pulang tuh kerja rodi dari si ketua gak waras. Sekolah bukan buat belajar malah berasa magang di kantor papa." Dumal Azze. Ia segera mandi seperti biasa yang ia lakukan sepulang sekolah.


Sedangkan di sisi lain, Rexan hanya menatap ponselnya. Seperti dugaannya, Azze tak akan menjawab panggilannya.


"Dasar singa betina. Bikin gue penasaran aja..." gumamnya seraya menatap ponselnya.


"Siapa?" Rexan menggeleng pelan dan pergi dari sana. Selalu saja moodnya hancur melihat wajah yang sangat tak ingin di lihatnya.


"Sampai kapan lo kayak gini?" Rexan menghentikan langkahnya namun masih di posisi yang sama.


"Sampai gue gak ketemu lo lagi."


Meski sudah tau jawaban yang akan di katakan Rexan, sepertinya ia tak akan berhenti. Ini bukan salahnya ataupun salah Rexan. Ini hanya karena takdir yang tak menguntungkan mereka. Kesalahpahaman dan pemikiran yang belum dewasa di antara mereka.


"Gue gak bakal berhenti sampai semua masalah ini selesai." Gumamnya seraya menatap bayang-bayang Rexan yang perlahan menghilang.


∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶∆¶

__ADS_1


OKE GAISEEEEE.... TETEP STAY


__ADS_2