
════════ ◖◍◗ ════════
Ruangan itu seketika terasa mencekam. Aura yang sangat terasa di antara orang-orang itu membuat semua menjadi tegang. Pemilihan OSIS sudah di tetapkan. Bahkan seleksi anggota dan juga ospek anggota baru OSIS sedang berjalan. Sekarang semua orang sedang berkumpul di aula sekolah untuk memperkenalkan calon-calon organisasi MPK yang terdiri dari Ketua, Wakil, Sekretaris dan komite keuangan yang berbeda dari bendahara.
Mereka telah sepakat saat memutuskan kalau Ketua MPK yang terpilih adalah Changbin AbieVandy Prasajaya dan Wakil Ketuanya adalah Lalisa A Marazzeus. Namun seseorang menolak dengan keras, tanda tidak setuju untuk memilih Azzeus sebagai wakil ketua MPK.
"Alasan kakak untuk menentang saya apa kak?" Dengan lantang Azzeus menatap mata tajam orang itu yang seakan ingin membunuhnya dengan sekali tatap.
Taeyong Azzariel. Dengan geramnya ia menatap wajah tanpa takut itu. Belum lagi Rexan yang terlihat sangat santai dalam perdebatan ini.
"Pertama kamu sudah merendahkan organisasi kami dengan mengatakan organisasi kami ini sampah sebanyak dua kali. Kedua kamu menolak keputusan Ketua kami untuk menunjuk mu sebagai ketua selanjutnya. Itu sudah cukup mewakilkan rasa tidak setuju saya." Jelas Azzariel.
"Saya minta maaf. Saya mengakui kesalahan itu. Dan untuk yang kedua, saya bukannya menolak tapi saya rasa, saya cukup hanya menjadi wakil ketua saja. Dan jika kakak masih tidak setuju. Saya tidak akan memaksa dan undur diri dari pencalonan ini." Azze menatap Azzariel dengan senyum remehnya.
"Dan kalau dia undur diri. Presepsi saya tentang kebodohan seseorang yang saya pilih ternyata benar." Rexan ikut bersuara. Azzeus menatap Irexan tidak suka.
"Baiklah. Saya ikut keputusan akhir saja." Azzariel hanya menerima kekesalannya bulat-bulat. Toh sebentar lagi ia akan tamat. Malas juga berurusan dengan gadis yang ia pandang menyebalkan itu.
"Oke keputusan sudah di tetapkan. Persiapkan untuk senin depan. Kita upacara pelantikan dan serah Terima tugas. Kalian boleh keluar." Ucap Irexan. Meski berkata begitu, tangan Irexan begitu cepat menggenggam tangan Azzeus yang berada cukup jauh dari tempatnya.
Zeehava menatap Azzeus tidak suka. Gadis itu berdiri di depan Azzeus dan menatap Azzeus dengan tajam.
"Awas lo buat malu MPK!" Ancam Zeeha yang mengundang gelak tawa Rexan karena wajah Azzeus yang sedikit memucat.
"Udah udah! Itu urusan gue." Ucap Rexan yang mendorong Zeeha keluar dari ruangannya. Irexan menarik Azzeus ke sofa setelah mengunci pintu ruangannya.
"Lo mau apain gue lagi?!?" Kesal Azzeus yang selalu mendapat masalah karena cowok di depannya.
"Bibir lo... Hari ini gue kangen itu aja." Azzeus memutar matanya kesal melihat wink Rexan.
"Najis! Orang gila yang mesum kek lo kenapa bisa jadi ketua MPK sih?!? yang milih lo pasti udah gila juga! dan Lo mau nganggep gue pacar lo atau apapun itu! Yang jelas gue nganggep lo bukan siapa-siapa! Jadi berhenti bersikap gila. Gue cuma mau nanya, proposal yang lo kasih ke Vandy."
"Cium dulu dong" Rexan menunjuk pipinya sambil tersenyum menatap jahil gadis itu.
__ADS_1
PLAK
Tamparan yang lumayan keras itu buat Irexan meringis mengusap pipinya dan menatap gadis itu kesal. Sedangkan Azzeus segera berdiri menjauh.
"Gue lagi capek. Mana proposal nya!" Kesal Azze dan menunggu di belakang pintu agar memudahkan ia untuk kabur.
Irexan menggelengkan kepalanya pelan. Tak menyangka kalau gadis itu bisa takut juga padanya. Rexan mengambil proposal dalam laci mejanya lalu berjalan ke arah Azze.
Bukannya langsung memberikan proposal itu. Irexan malah mengurung Azze di antara kedua tangannya. Azzeus mendengus kesal. Kedua tangannya sedikit menahan tubuh Rexan yang selalu berusaha menempel dengannya.
"Nempel-nempel mulu udah kayak permen karet! Mau ngapain sih lo!" Geram Azze dengan mendongakkan kepalanya. Menatap kesal Irexan yang tersenyum.
"Kan gue udah bilang kangen. Kenapa lo suka banget gue ngomong dua kali!"
Azze mendorong tubuh Rexan dengan tangannya saat wajah itu mendekati wajahnya. Azze menatap tajam Rexan yang tersenyum kecil melihat ketidakberdayaan gadis pembangkang itu.
"Sekali. Abis itu gue gak ganggu lo." Bisik Rexan yang membuat Azze menghela nafas pasrah lalu mendorong Rexan sekuat tenaga tapi nihil.
Rexan terkekeh melihat perlawanan dari gadisnya itu yang tak kenal lelah. Rexan benar-benar menghimpit Azze di pintu hingga tangan gadis itu tidak bisa bergerak sama sekali. Cowok beralis mata tebal dengan sudut mata yang tajam tersenyum puas dan melirik bibir ranum itu.
Tiba-tiba pintu yang di sandari Azze terbuka yang membuatnya jatuh terduduk tanpa sempat di gapai Rexan. Azze merintih sakit dan melempar tatapan kesalnya pada Rexan bukan pada pelaku yang membuka pintu.
"Kalian ngapain?" Zeeha dengan polosnya masuk ke dalam ruangan Rexan dan meletakan setumpuk dokumen yang ia bawa ke meja Rexan.
Sedangkan Rexan dengan jengkelnya menggendong Azze ke sofa di dalam ruangannya. Azze hanya bisa pasrah karena rasa sakit di pantatnya membuat ia tak banyak bisa bergerak. Irexan segerah beralih ke Zeeha yang tampak memilih dokumen penting yang harus di baca Rexan.
"Bagian apa yang paling penting, biar gue yang nyari." Zeeha menatap bingung wajah ketuanya yang biasa nya berekspresi datar, kini malah terlihat jengkel.
"Eskul tambahan yang di ajui Osis. Sama tuh si Azze minta perkembangan Adiwiyata yang di setujuin Kepsek. Tinggal izin ketua aja." Jelas Zeeha lalu menatap Rexan yang sedang mencari sesuatu di laci.
"Kalau udah gak ada yang mau di sampaikan lagi tolong keluar!" Gemas Rexan saat Zeeha malah menatapnya penasaran.
"Kalian berdua tadi lagi–" Zeeha menghentikan kalimat tangannya saat Rexan menyuruhnya keluar dengan kibasan tangan dan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Setelah gadis itu keluar, Rexan segera mengunci pintu ruangannya dan berjalan menuju Azze yang memejamkan mata menahan sakit.
"Mau gue urutin gak?"
"Jangan gila deh lo!?!" Geram Azze dengan otak Rexan yang selalu di luar nalar Azze.
'Gue harus muter rencana. Ini anak binatang buas banget, otaknya gak ada kalau masalah ginian.' Batin dan otak Azze bekerja secara cepat saat tatapan Irexan mengunci wajahnya.
Ibu jari Rexan sudah menjalar mengusap bibir ranum yang sudah ingin sekali ia lahap. Tapi ringisan gadis itu membuat ia menelan ludahnya sendiri.
"Sakit banget?"
"Ya iyalah! Lo cobain aja sendiri. Udah ah gue mau balik ke kelas, kerjaan lo banyak kan." Baru saja Azze bangkit, smirk Rexan langsung menghentikan pergerakan gadis cantik itu.
"Lo di sini gue tahan buat gue ajarin tugas MPK"
"Tapi kan gue bukan ketua."
"Gue bilang tugas MPK, gue gak bilang ketua." Azze tampak mendecih kesal. Selalu saja pria itu punya banyak alasan untuk menahannya di dalam ruangannya.
"tapi sebelum itu gue masih pengen..." Rexan menjilat bibir bawahnya sediri sambil menatap bibir ranum milik Azze.
Saat Rexan mendekat, Azze menarik Rexan lebih dulu dan memeluk pria itu seraya membisikan kata-kata manja di telinga pria itu yang membuat Rexan mengulum senyumnya.
"gue capek. Sakitnya gak bercanda. Jadi kali ini lepasin gue, ya?"
Rexan menatap mata Azze yang juga menatapnya penuh permohonan. Rexan tersenyum dan membelai kepala gadis itu. "Trik baru nih ?" Azze hanya terkekeh geli karena rencana barunya malah terlihat jelas.
"Keliatan banget ya?" ucap Azze yang masih terkekeh. Namun tawanya terhenti saat Rexan mengecupnya sekilah.
"Woi! Gue capek!" Dengan kening berkerut dan bibir yang di poutkan, Azze tampak sangat lucu.
"Baik nona." Rexan hanya tersenyum lebar sambil mengusap kening Azze yang berkerut.
__ADS_1
••°°•• ••°°•• ••°°•• ••°°••