Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )

Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )
Tuhan... Kepadamu aku berserah diri..


__ADS_3

***Andai menjadi putih dapat membuatku terlihat, aku ingin menjadi hitam yang selalu menjadi noda dalam warna indahmu...


Aku ingin selalu berada disekitarmu agar kau sadar diriku ini ada.


Tuhan... aku berserah diri***...


•┈••••○❁❁○••••┈•


Namaku Dayana Amore, namun biasa disapa Day.


Singkat cerita, aku adalah seorang ibu yang memiliki tiga orang anak perempuan.


Anak perempuan sulungku bernama Zahara Ghaitsaa Daneen atau biasa ku sapa Zahra, dan kedua anak kembarku bernama Zura Shahzaadee Alamsyah dan Yura Shahzaanaa Alamsyah atau biasa ku sapa Zura dan Yura.


Aku adalah seorang Mualaf.


Waktu itu aku begitu mantap berpindah kepercayaan karena seseorang yang mendukungku. Banyak hal berbeda yang ku temukan didalam agama ku saat ini. Aku mengagumi perihal tentang seorang wanita yang punya kewajiban menjaga auratnya. Aku kagum dengan banyak hal yang dia jelaskan.


Suamiku adalah seseorang yang aku percayai akan mengajarkanku tentang agama ini jika aku menikah dengannya nanti. Aku sangat bersyukur saat itu ketika dia hadir didalam kehidupan masa laluku yang penuh dengan kisah kelam.


Dia adalah cahaya di dalam kegelapan dunia ku selama ini.


Aku percaya saat itu dia akan mencintaiku selamanya karena yang ku tau dia memahami agama islam dengan sangat baik.


Dia membuatku jatuh cinta pada saat pertemuan kami pertama kalinya. Ada hal didalam dirinya yang membuat aku tertarik untuk menyukainya. Dia begitu berbeda. Ku pikir, jatuh cinta dan menikah dengannya adalah pilihan yang terbaik setelah kegagalanku sebelumnya.


Namun ternyata setelah aku hidup dengannya, semuanya jauh berbeda dari kenyataan yang diinginkan. Pahit sekali rasanya kenyataan itu.


Kehidupanku biasa saja, aku seorang ibu pekerja dengan jabatan sebagai seorang Manager Administrasi disalah satu kantor konsultan ternama di kota Tanjungpinang.


Jika dilihat dari kacamata orang lain, aku wanita yang sangat beruntung karena memiliki seorang suami yang notaben nya adalah seorang pengusaha dibidang Iklan dan Percetakan Buku dan Majalah.


Yaa ... itu yang dilihat orang lain dari luar, namun bagaimana kehidupanku didalam kisah ini? Akan aku ceritakan agar kalian menjadikan kisahku ini sebagai kisah yang menarik untuk mengambilnya sebagai pelajaran.


*****


Selama tiga tahun pernikahan, rumah tangga kami baik-baik saja, berjalan selayaknya rumah tangga pada umumnya.


Permasalahan itu muncul di tahun ke empat usia pernikahan kami.


Kobaran itu tak pernah redam hingga akhir kisah kami.


Semakin banyak masalah yang muncul yang aku sendiri pun tidak memahami kenapa semua berubah menjadi seperti ini.


Masalah itu semakin bermunculan ketika keuangan dan bisnis suamiku mulai mengalami penurunan karena kasus penipuan sesama rekan bisnis.


Ditambah lagi kebiasaan suamiku yang mulai lebih sibuk dengan gawainya dan bahkan bersikap dingin dan acuh yang semakin hari semakin menampakkan ketidak tertarikan terhadap diriku. Bahkan juga muncul pengakuannya tentang cinta pertamanya.


Sayatan demi sayatan semakin bermunculan, bahkan pernikahan kami pun mulai diambang kehancuran.


Salah satunya yang menjadi puncak masalah adalah ketika Dayana menyadari bahwa Rofie ternyata tak pernah mencintainya.


Ternyata dia hanya pelampiasan karena kegagalan di masa lalu akan cinta pertama Rofie.


Bagaimana kelanjutan kisahnya???


Disini kisahku bermula ...


*****


04 Mei 2017


Pagi itu kegiatanku seperti biasanya. Bangun pagi untuk bersiap-siap berangkat kekantor. Dan juga sibuk menyiapkan pakaian suamiku yang akan berangkat kekantor juga. Ditambah lagi memberikan pesan-pesan kepada baby sitterku apa saja kegiatan anak sulung ku Zahra dan apa saja yang dibutuhkan oleh kedua bayi kembarku Zura dan Yura.


Waktu itu keadaan masih baik-baik saja. Tidak ada hal yang memicu aku dan suamiku untuk bertengkar. Tapi begitulah ... Kami sudah lama sekali tidak bertegur sapa satu sama lainnya. Seolah-olah kami tidak saling kenal dan juga tidak butuh untuk saling mengobrol atau berbicara. Semuanya seperti acuh tak acuh.


Aku masih menjalankan kewajibanku sebagai seorang isteri. Seperti biasa, aku masih menyiapkan kebutuhan suamiku. Mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kakinya. Semua ku lakukan seperti biasanya. Mulai dari menyiapkan pakaian suamiku untuk bekerja. Hingga sarapan, tas bahkan sepatu suamiku pun ku handle sendiri sebagai tugasku sebagai seorang isteri.


Sebelum berangkat ke kantor, aku dan suamiku masih baik-baik saja. Kami masih mengobrol seadanya seperti biasa. Tapi semuanya berubah ketika tanpa sengaja aku melihat layar gawai suamiku ada sebuah foto perempuan. Perempuan cantik memakai kacamata. Wajahnya begitu anggun.



Ku lihat dengan seksama siapa wanita itu sebenarnya. Ternyata suamiku sedang membuka profil sebuah akun instgram. Disana tertulis sebuah nama.


"Puspa Ningsih."


Aku mulai mengingat jelas nama wanita itu. Ketika ingin ku pinjam gawainya, suamiku dengan sigap mengambil gawainya dari tanganku. Alasannya dia mau menelpon kliennya untuk meeting pagi. Aku tau suamiku sengaja berbuat demikian. Agar aku kehilangan jejak tentang siapa wanita itu sebenarnya.


Dia salah besar. Aku pun pengguna sosial media. Tidak sulit bagiku mencari info siapa wanita tersebut ketika aku juga memiliki akun sosial media yang sama. Aku pun mulai berseluncur di akun instagram ku. Ku ketik di kolom pencarian nama, nama wanita itu. Banyak sekali akun yang bermunculan, sampai akhirnya aku menemukan akun wanita itu.


Mungkin ini keberuntungan bagiku. Ternyata akunnya tidak dalam keadaan di private. Ternyata akunnya dibuat publik. Jadi aku bisa melihat apa saja isi postingan wanita itu. Pantas saja suamiku bisa dengan mudah mengecek akun wanita itu. Ternyata akunnya tidak di private.


Isi postingannya tidak begitu banyak, mungkin hanya sekitar tiga. Kalau pun aku saat itu adalah lelaki, mungkin, aku pun akan jatuh cinta ketika melihatnya. Jika ku berikan penilaian satu sampai dengan sepuluh, dia ada di urutan ke delapan.


Ku lihat siapa saja yang dia follow, ternyata dia mengikuti akun suamiku. Ku cek kembali, apakah suamiku mengikuti akun nya juga? Aku berpindah mencari akun suamiku. Ku buka profil akunnya. Masih terpampang jelas disana foto-foto pernikahanku dan juga kebersamaan kami dulu. Foto-foto yang akan membuat iri semua mata yang melihat. Tapi kenyataannya, tidak seindah itu.


Suamiku gemar memposting segala hal tentang kehidupannya. Mulai dari pekerjaannya hari ini, apa yang dia lakukan hari ini, bahkan hampir postingannya sekarang dikuasai oleh foto bayi kembarku. Katanya dia bangga bisa memiliki anak kembar. Fotoku hanya ada beberapa didalam postingan akunnya. Mungkin, itupun tanpa sengaja dia posting.


Entahlah ... Aku pun tak tau.


Ku lihat siapa saja yang suamiku ikuti diakun instagram nya. Nihil. Suamiku tidak mengikuti akun perempuan itu. Lucu sekali. Tidak mengikuti namun sering mencuri pandang. Benar-benar tidak masuk akal. Jika dia masih hobby memperhatikan wanita itu, kenapa tidak di follow nya saja. Lucu memang sifat laki-laki zaman sekarang.


Aku kembali berseluncur di akun instagram perempuan itu sampai akhirnya aku terganggu dengan sebuah postingannya di bagian paling bawah. Disana tertera nama suamiku dikolom komentarnya. Sebuah kalimat mengerikan yang tidak pernah ku bayangkan. Hatiku sakit membacanya. Disana suamiku menuliskan sebuah kalimat menohok yang tidak pernah terbayangkan olehku.


Sebuah kalimat penghianatan.


"Aku merindukan senyuman mu. Bagaimana mungkin aku mampu berjauhan dari mu?"


Begitu tulisan suamiku di kolom komentarnya.


Kalimat menohok itu tertulis disebuah foto postingan perempuan itu. Foto berlatar belakang sebuah tempat yang sangat indah. Tempat itu dipenuhi oleh balon-balon udara yang beterbangan. Seingat ku, ini seperti sebuah daerah di negara Turki. Entahlah. Mungkin aku salah menebak.



Tempatnya begitu indah. Seperti suasana sore hari. Mungkin ketika waktu senja akan tiba. Saat ketika suasana sedang sunset. Romantis sekali.


Ku baca kembali kolom komentar itu. Ternyata mereka berbalas komentar disana. Hebat sekali. Tidak berteman tapi saling berbalas komentar.


Ku baca lagi isi komentar balasan dari wanita itu. Kalimatnya cukup menarik. Hanya sebuah kalimat, namun memberikan efek sesak ketika aku membacanya.


"Kamu masih ingat tempat ini A? Ini tempat pertama kali kita mengikat janji. Aku merindukan kenangan malam itu."


Begitu tulisannya dikolom balasan.


"Astaghfirullah hal adzim. Yaa Allah, apa yang pernah dilakukan oleh suamiku dengan wanita ini?"


Aku tersentak. Mata ku berkaca-kaca. Aku benar-benar ingin menangis.


*****


Suamiku kembali ke meja makan setelah pergi kedepan untuk pamit menelepon kliennya. Dia masih belum melihat wajahku. Masih sibuk mengetik dipapan layar benda pipih itu. Dia sama sekali tidak berusaha melihat kearahku. Padahal waktu itu, mataku sudah benar-benar merah. Jika tidak ku tahan dengan kuat, air matanya pasti sudah berlinangan.


Dia mulai menegurku. Bertanya kenapa aku tidak menghabiskan sarapanku. Aku terdiam. Tidak ku balas tegurannya barusan. Jujur, aku masih menahan amarah dan rasa kesal ku. Aku kecewa. Tapi aku berusaha menepis rasaku agar suamiku tidak melihat kesedihanku. Ku jawab tanya nya dengan terlambat.


"Afwan A, buru-buru mesti ke kantor sekarang. Barusan sekretaris Day mengirim pesan. Day ada jadwal meeting dengan kolega dari malaysia, jadi harus segera berangkat kekantor."


Lirihku berbohong kepadanya.


Sekuat mungkin ku tahan air mataku agar tidak sedikit pun menetes didepannya. Ku salami tangannya untuk pamit pergi bekerja. Ku ciumi ketiga anakku. Lalu segera ku percepat langkah kakiku menuju mobil dan masuk kedalamnya.


Pertahananku jebol. Aku menangis sejadi-jadinya didalam mobil. Tidak ku perdulikan makeup dan khimar ku yang basah terkena air mata. Hatiku sudah terlanjur sakit.


Ku hidupkan mobil dan segera berjalan keluar dari pekarangan. Didalam perjalan menuju ke kantor. Air mataku tak pernah berhenti. Malah semakin deras mengalir.


"Siapakah wanita itu? Dan ada hubungan apa dia dengan suamaiku? Sejauh apa hubungan mereka?"


Gumamku didalam hati.


*****


Begitu banyak pertanyaan yang muncul didalam kepalaku. Rasanya pikiranku blank. Mood untuk bekerja pun sudah tak ada. Tapi karena tanggung jawabku. Aku pun harus tetap bekerja hari ini. Janjiku bertemu kolega tidak mungkin ku batalkan hanya karena masalah ini.


Ku parkirkan mobilku ke sebuah tepi jalan. Aku tak peduli jika kehadiranku sedikit terlambat beberapa menit. Yang penting, aku butuh sedikit waktu untuk menangis dan memperbaiki mood dan makeup ku. Tidak mungkin aku harus bertemu kolega dengan wajah dan penampilan seperti ini.


Kurang lebih lima belas menit berlalu. Aku merasa cukup puas menangis. Lalu ku bersihkan wajahku mengunakan tissue basah dan ku gunakan makeup kembali untuk menutupi mata sembab ku. Wajahku benar-benar kacau. Harus ku gunakan tambahan riasan dibagian mata agar bengkaknya tersamarkan.


Setelah ku rasa makeup ku selesai. Ku ganti khimarku yang penuh noda itu dengan khimar yang baru. Aku selalu menyiapkan gamis dan khimar ekstra dimobil. Agar jika sewaktu-waktu aku butuh, aku tidak harus pusing mencari kemana-mana.


Ku percepat laju mobilku agar segera sampai dikantor. Aku sudah sangat terlambat. Untung saja ketika aku tiba dikantor, mereka belum datang. Ternyata mereka juga datang terlambat karena sesuatu hal. Lagi-lagi aku beruntung.


Meeting kami berjalan sukses. Aku selalu menjadi primadona kebanggaan kantor jika dalam urusan merebut hati kolega. Aku pasti akan selalu berhasil mendapatkan klien yang selalu membayar tinggi untuk jasa yang kami berikan. Itulah sebab kenapa jenjang karier ku semakin meningkat.


*****


Siang itu ku putuskan untuk bertanya kepada suamiku. Ku kirimkan pesan singkat kepadanya.


[Assalamu'alykum A, Aa dimana?"]


Tanyaku membuka obrolan.


Lama sekali pesanku baru dibacanya. Aku sudah terbiasa dengan sikap suamiku yang seperti ini kepadaku. Bukan untuk pertama kalinya dia membalas pesanku dengan sangat lama. Bahkan setelah beberapa hari baru dibalas pun aku sudah pernah merasakannya.


"Mungkin dia sibuk. Jadi tak sempat membalas pesanku."


Bathinku bergumam.


Ku letakkan gawaiku diatas nakas. Kulanjutkan mengecek laporan yang harus dikirim hari ini. Setengah jam kemudian, suamiku membalas pesanku.


"Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh sayang. Aa dikantor. Sibuk sekali hari ini. Ada apa sayang kamu bertanya?"


Begitu balasnya dipesan.


Aku terkesima. Dia benar-benar tidak menyadari isi hatiku yang sudah berantakan tadi pagi karena ulahnya. Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Padahal aku sadar benar, dia mengetahui bahwa aku melihat apa yang dia lakukan di gawainya tadi pagi sebelum berangkat kekantor. Tapi dia bersikap seolah tidak terjadi apapun. Sekali lagi, aku terkesima dengan sikapnya itu.


Ku balas segera pesannya.


"Oh begitu. Aa, bolehkah Day bertanya?"


Pesan itu ku kirim.


Beberapa saat kemudian, pesanku dibalas.


"Kenapa tidak sayang. Kamu ingin bertanya apa?"


Balasnya lagi dipesan.


Sejujurnya aku ragu untuk mengetik pesan ini. Tapi karena rasa penasaranku. Ku tanyakan hal ini kepada suamiku.


"Foto siapa tadi A yang kamu lihat pada saat kita sarapan tadi? Apakah dia seorang wanita? Jika benar, siapa dia?"


Tulisku dipesan.


Cukup lama suamiku membalas pesanku. Mungkin dia sedang mencari alasan untuk dijadikan jawaban yang tepat untuk menjawab pesanku. Lalu dia membalasnya.

__ADS_1


"Wanita siapa sayang? Aa gak ngeliatin foto siapapun. Mungkin itu teman di akun Aa yang tanpa sengaja muncul diberanda. Kamu sedang cemburu kah sayang ?"


Begitu balasnya dipesan.


"Keterlaluan sekali dia. Hanya ini jawabnnya."


Gumamku dalam hati.


Aku tidak puas dengan jawabn suamiku. Jika bertanya lagi pun pasti akan berakhir dengan pertengkaran. Jadi aku memilih mengakhiri obrolan ini.


"Mungkin juga yaa Aa. Mungkin Day yang salah melihat."


Begitulah balasku dipesannya.


"Suamiku sudah mulai berbohong kepadaku."


Ku letakkan kembali gawaiku dinakas. Aku cukup terpukul dengan jawaban suamiku. Tega sekali dia membohongiku.


Ku ambil gawaiku kembali.


Ku kirimkan pesan kepada ibu.


[Bu, jika Day mengajukan gugatan cerai kepada Aa Rofie, apakah Day salah bu?]


Ku kirimkan pesan singkat itu kepada ibu.


Setengah jam kemudian. Ibu membalas pesanku.


[Kenapa kalian Day? Ada masalah apa? Angkat telepon ibu sebentar Nak, ibu mau bicara.]


Begitu balasnya dipesan.


Beberapa saat kemudian, muncul nama panggilan masuk darinya. Dilayar gawaiku, muncul nama ibu. Ku angkat panggilan masuk darinya. Ibu pun mulai berbicara banyak hal kepadaku.


[Day, kamu yakin dengan keputusanmu?] tegur ibu ketika bertanya akan keyakinanku ketika mengirim pesan singkat tadi yang mengatakan akan bercerai.


[Day yakin bu, hatiku rasanya sudah tak mampu untuk bertahan.]


Menjawab seadanya sambil menahan sesegukan karena menahan suara tangis.


[Tapi day, bagaimana nasib anak-anakmu nanti? Apakah Rofie akan memberikan nafkah penuh?]


Tanya ibu lagi dengan nada khawatir.


Aku terdiam, menarik nafas..


Dan melanjutkan berbicara.


[Jika itu rezeki anak-anakku bu, dia akan memberikannya, namun jika tidak, day ikhlas bu, menjalani semua ini]


Jawabku berusaha tegar.


[Do'a ibu menyertaimu day, semoga pilihanmu kali ini benar nak]


Balas ibu menguatkanku.


Ku akhiri percakapan ditelpon dan meletakkan gawaiku keatas nakas disamping laptopku.


Kembali berpikir bagaimana nasib kedua anak kembarku dan si sulung.


"In syaa Allah, aku pasti bisa."


Bathinku bergumam.


Kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda, karena jam istirahat kantor telah usai.


*****


15.30 WIB


Gawaiku berbunyi.


[Day, bisa kamu datang ke ruanganku?]


Isi pesan whatsapp dari atasanku.


[Baik pak, Day kesana.]


Balasku singkat.


Rasanya jika menuruti hati, aku enggan bertemu Pak Pradana, rasanya malas menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang akan dia berikan nanti ketika bertemu denganku, namun menghindar pun rasanya tak mungkin. Dia pasti akan terus bertanya hingga menemukan jawabannya


Pradana adalah atasanku, sekaligus dia adalah sahabatku ketika kuliah dulu.


Dia adalah sosok pria hebat yang sedikit ku kagumi karena sikapnya yang dermawan dan juga sholeh, bahkan dia adalah orang yang selalu menasihatiku ketika aku larut dalam masalah apapun. Dia selalu menjadi orang pertama yang peka terhadap riak wajahku.


Pradana lah yang sebenarnya membuat hatiku tertarik akan agama Islam, lewat kebiasaanya setiap hari yang rajin ke Mesjid dan mengikuti kegiatan Rohis membuatku menjadi dekat dengannya kala itu.


Pintu ku ketuk lalu membuka pintu kaca tersebut.


"Maaf pak, bapak memanggil saya?"


Tanyaku.


"Iya, masuk Day, kesini."


Jawabnya lugas.


"Ada apa pak?"


"Day, kamu kenapa lagi?" berantem lagi sama Rofie? Kenapa lagi kalian?"


Tanyanya beruntun.


"Gak apa-apa Pra, aku sama A Rofie baik-baik saja."


Jawabku berbohong.


"Jangan bohong Day, barusan ibu nelpon aku, ibu bilang kamu mau bercerai dengan Rofie, benar itu day?"


Tanyanya lagi terus mencari jawaban.


Aku tertunduk, diam dan melihat layar gawaiku tanpa melihat wajah Pradana.


"Kenapa kamu diam Day, jawablah, ada masalah apa kalian?"


Tanya nya lagi makin penasaran.


Aku masih tetap memilih diam dan kembali menatap layak gawaiku, menarik nafas panjang lalu berucap..


"Aku lelah Pra, aku sudah tak sanggup menjalani semua ini. Kamu akan paham jika kamu juga wanita, dan kamu sudah menjalani pernikahan itu seperti apa."


Jawabku seadanya.


"Allah membenci perceraian Day, dan perceraian bukan solusi dalam menyelesaikan permasalahanmu. Aku mengenal dirimu seperti apa Day, dan ini bukan dirimu."


Pradana berargumen.


Ucapan Pradana barusan rasanya menghujam jantungku, memberikan efek kesedihan, namun aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh dihadapannya. Aku seperti terpuruk dengan ucapannya.


"Aku yang tak mampu mendampingi A Rofie, Pra."


" Aku yang belum mampu menjadi isteri. Ku sudahi percakapan kita ini Pra, ada deadline laporan yang harus aku selesaikan."


"Tolong dukung keputusanku Pra. Kamu satu-satunya sahabat dekatku saat ini."


Jawabku mengakhiri pembicaraan.


"Yaa sudah Day, kembalilah ke ruanganmu. Maafkan aku karena terlalu banyak bertanya."


Balas Pradana mengakhiri.


Dia tersenyum, mengangguk serta memberikan isyarat, memperbolehkanku keluar dari ruangan.


Aku pun berdiri, berlalu melewati pintu kaca itu dan kembali keruanganku.


Ku rasakan sesak didalam dada, rasanya aku terjepit dengan keputusanku sendiri.


Selama ini aku berusaha bertahan dengan sikapnya, namun rasanya aku sudah tak mampu bertahan dengan prilakunya yang berubah-ubah setiap hari.


"Yaa Allah, salahkah keputusanku kali ini?"


Gumamku dalam hati.


Tertunduk didepan laptop dan mengusap ujung mataku yang mulai meneteskan air mata.


Aku tersedu dalam diam.


*****


18.15 WIB


Setibanya dirumah.


"Assalamu'alaykum, tumben sudah pulang A?"


Tanyaku ketika membuka pintu melihat a Rofie di ruang nonton.


"Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh, sudah Neng, jam lima tadi Aa sudah free job, percetakan sudah di handle sama Kang Yadi dan Jamal, jadi Aa pulang duluan."


Jawab suamiku menjelaskan.


"Yaa sudah kalau begitu, Day pamit ke kamar, mau mandi, gerah. Kembar sama Zahra dimana A?"


Tanyaku sambil menyapu sekeliling pandangan di ruang nonton karna tak melihat anak-anakku.


"Sama Bi Arum Neng, di gazebo lagi main."


Jawab suamiku singkat.


"Ohh begitu, yaa sudah atueh A, Neng pamit mandi sekalian mau shalat magrib udah kelewatan soalnya kelamaan di jalan, Aa sudah sholat?"


Tanyaku lagi sambil melihat kearah suamiku.


"Sudah Neng, Aa sudah sholat."


Jawabnya singkat, sambil kembali fokus mengetik di papan gawai nya.


Menghela nafas.


Aku berlalu.


*****

__ADS_1


Begitulah keseharianku dengan suamiku, kami baik-baik saja kelihatannya. Bahkan sesekali kami mengobrol selayaknya suami dan isteri,


Namun...


Hingga detik ini, apapun perihal tentang suamiku, aku sama sekali tidak pernah mengetahuinya karena suamiku enggan berbagi cerita mengenai kebiasaan dan kesibukannya.


Sementara aku, aku enggan bertanya banyak hal selain bertegur sapa singkat dengannya. Suamiku tidak akan pernah menjawab apapun pertanyaan yang aku berikan, jika itu berhubungan dengan hal pribadinya.


Dia akan mengelak menjawab, lalu mengalihkan pembicaraan kepada obrolan yang lain. Seolah ada batasan tembok besar yang sudah sejak awal dibuat oleh suamiku. Namun baru sekarang aku sadari keberadaan tembok besar tersebut. Aku terlambat menyadari hal itu.


Diawal pernikahan, ku pikir, baik-baik saja menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini, namun lama kelamaan, aku jenuh dengan sikap datar suamiku kepadaku. Dia hanya akan bertanya jika dia mau. Dia hanya akan memberikan hal special jika dia mau. Dan dia hanya akan berlaku baik terhadapku jika itu yang dia inginkan hari ini.


Jika hari ini dia berlaku begitu sangat manis dan baik terhadapku, maka keesokan harinya dia akan berucap kasar padaku bahkan menghindariku seperti aku sebuah benalu dalam hidupnya. Dan ini akan selalu berulang setiap harinya.


Seperti kehidupan pernikahan pada umumnya, aku merindukan perhatian yang khusus dari suamiku, namun suamiku, dia hanya sibuk dengan gawai dan pekerjaannya. Tiada hari tanpa tangannya terlepas dari gawai.


Aku berusaha memahami posisinya sebagai seorang pengusaha muda, Namun...


Apakah seorang pengusaha harus selalu terikat dengan gawainya??? Itulah yang sekarang mulai mengusik hati kecilku berulang kali.


Untuk sedikit berlaku romantis dan bertanya apa yang aku sukai pun dia enggan sekarang, begitulah suamiku saat ini. Aku pernah mendapatkan perhatiannya, dulu...


Ketika diawal perkenalan kami, dia adalah sesosok lelaki yang sangat dewasa dan penuh kehangatan yang pernah ku kenal. Semua ucapannya terdengar begitu manis dan meyakinkan. Namun entah kenapa, di usia pernikahan kami yang berjalan tiga tahun ini, sikapnya mulai menampakkan perubahan, dia mulai lebih sering menghindariku. Bahkan berbicara padaku pun lebih sering melalui pesan singkat dan telpon. Tanpa bertatap muka secara langsung.


*****


19.30 WIB


Gawaiku berbunyi.


[Neng, Aa keluar sebentar yaa, ada klien yang mau ketemu.]


Isi whatsapp suamiku kepadaku.


Ku tatap isi whatsapp itu. Mengetik cepat dan segera membalas pesan tersebut.


[Na'am. Fii Amanillah suamiku.]


Balasku dipesan.


Aku segera membuka mukenaku. Merapikan sajadah dan juga meletakkan mushabku didalam lemari.


Kali ini dzikir dan bacaan mushabku sedikit lebih panjang dari biasanya karena gejolak dalam hatiku. Begitu banyak hal tidak menyenangkan yang baru saja ku lewati belakangan ini. Hanya hamparan sajadah yang membantuku untuk terus melanjutkan kehidupan, aku benar-benar kelelahan dengan semua hal yang terjadi.


Aku sekarat, namun tak terlihat oleh pandangan mata. Sekelilingku terasa gelap tidak memiliki pendar cahaya, namun aku harus bertahan dan terus menjalani semua hal ini. Aku harus belajar kuat.


Disatu sisi, aku takut akan keputusanku untuk bercerai. Namun disisi lain, aku lelah dengan sikap suamiku kepadaku selama ini. Dia benar-benar sudah berubah menjadi orang yang asing bagiku.


Berganti pakaian.


Memakai gamis berwarna dusty blue dan memakai khimar berwarna senada. Sedikit memakai lipstik berwarna nude agar tidak terlihat pucat


Melangkah keluar dari kamar yang bernuansa putih tulang ini dan segera turun melewati beberapa anak tangga yang berwarna coklat lembut khas warna kayu jati.


Berlalu dan berjalan pelan menuju gazebo. Tampak dari kejauhan si sulung sedang asyik dengan buku mewarnainya dan bi arum sedang menemani si kembar yang sibuk memperhatikan ikan-ikan emas yang sedang makan didalam kolam pancuran yang terletak didepan gazebo taman.


"Maa syaa Allah anak Mami, lagi ngapain Nak?"


Sapaku pada si sulung, Zahra.


"Lagi mewarnai Mi. Kakak suka mewarnai bunga." Jawab si sulung sambil tersenyum lebar dengan mulut penuh dengan coklat.


"Bagus Nak, cantik sekali bunga Kakak." Balasku memuji hasil mewarnainya yang keliatan berantakan karena dia mewarnai bunga dengan warna merah yang sangat menyala dan mewarnai tangkai dan daun dengan warna hijau bercampur hitam dan coklat.


Semua warna keluar dari posisi mewarnai. Lebih layak dikatakan berantakan dan tidak rapi.


Namun ...


Begitulah si sulungku. Dia sangat menyukai pensil warna-warni. Dan ini hasil mewarnainya yang kesekian kalinya.


"Cantik kan Mi, seperti Mami dan Kakak."


Jawabnya lagi penuh antusias.


"Iya Nak, Maa syaa Allah, bunganya cantik sekali seperti kakak."


Balas ku memuji.


Dia makin tersenyum lebar sambil terus mengunyah coklat yang mulai meleleh disekitaran jarinya.


"Kakak sudah makan Nak?"


Tanyaku lagi pada si sulung.


"Kakak sudah makan Mi, tadi makan pedas. Kakak suka makan pedas. Kakak juga suka makan es krim. Mami ada beli es krim buat Kakak gak Mi?"


Tanyanya beruntun.


"Maa syaa Allah pinter sekali anak Mami ... Belum Nak, Mami belum sempat beliin kakak eskrim, In syaa Allah besok kita beli sama-sama yaa Nak. Besok Mami usahain biar pulang lebih cepat."


Jawabku lirih sambil tersenyum padanya.


"Janji yaa Mi. Makasih Mami. Kakak sayang Mami."


Dia berhenti mewarnai, berlari ke arahku berdiri dan memeluk pinggangku.


Begitulah kelakuan Zahra anak sulungku. Dia akan segera berlari memelukku ketika meminta sesuatu dan segera memelukku ku kembali dengan begitu erat ketika aku berjanji membelikan apapun yang dia minta.


Perlakuanku sedikit khusus terhadap Zahra karena dia tidak memiliki Ayah kandung. Zahra adalah anakku bersama mantan suamiku dimasa lalu sebelum menikah dengan suamiku saat ini.


Ku balas erat pelukan Zahra.


Dia berlalu dan kembali melanjutkan kegiatan mewarnai sambil tersenyum lebar padaku seraya menampakkan barisan giginya yang berserakan coklat. Lucu sekali kelakuan anak berusia lima tahun ini. Begitu menggemaskan.


Ku dekati Stroller si kembar yang sedang memperhatikan ikan-ikan dikolam pancuran.


"Bik, biar Day saja yang jagain kembar sebentar, Bibik makan dulu aja."


Sapaku menegur Bik Arum, baby sitter ke tiga anakku.


"Baik bu, saya pamit kedalam."


Jawab Bik Arum sambil berlalu.


"Maafkan Mami Nak, Mami jahat. Berikan Mami kekuatan agar Mami tidak salah lagi dalam melangkah."


Lirihku kepada kedua anak kembarku dan menatap Zahra dari arah kolam.


Tanpa sadar, aku kembali menangis.


*****


Begitulah keseharianku ketika dirumah. Aku hanya akan bertegur sapa secara singkat dengan suamiku ketika tanpa sengaja bertatap muka. Dan kami akan kembali menjadi pasangan asing diwaktu selanjutnya. Aku sengaja memperlihatkan bahwa diriku sedang sibuk, padahal nyatanya, aku hanya berpikir entah kemana bahkan hanya menatap kosong layar laptop yang terbuka dihadapanku. Tidak satupun pekerjaan ku selesaikan. Aku hanya berusaha menyemangati diriku akibat rasa hampa ini.


Aku hanya akan melihat wajah Suamiku dikamar, ketika tengah malam tanpa sengaja terbangun karena si kembar Zura dan Yura terbangun meminta ASI. itupun kadang-kadang. Lebih seringnya, aku sama sekali tak melihat wajahnya hingga beberapa hari. Alasannya selalu sama. Sibuk dengan rekan bisnisnya yang baru. Atau sibuk dengan usahanya yang baru. Bisnis dan Koleganya jauh lebih penting daripada diriku. Sedih sekali rasanya.


Sudah lama kami berpisah tempat tidur walaupun satu kamar.


Suamiku akan tidur ditempat tidur single di pojok kamar, sementara aku dan ke tiga anakku tidur di kasur utama berukuran size king. Yang akan terlihat banyak bersisa karena hanya aku orang dewasa yang tidur dikasur ini.


Semenjak aku melahirkan anak kedua ku, Suamiku memutuskan tidur di kasur yang berbeda dengan kami. Alasannya karena Zahra enggan tidur dikamar jika Suamiku tidur dikasur yang sama denganku. Disatu sisi aku membenarkan pernyataannya. Entahlah ... Aku binggung dengan perubahan sikapnya.


Padahal, menurutku itu bukan alasan. Namun sudahlah.


Ku turuti inginnya dan semenjak itu kami berpisah kasur ketika tidur. Sudah sepuluh bulan sesuai usia kedua anak kembarku. Kami tidur dalam keadaan terpisah seperti ini.


Apakah suamiku pernah mendatangiku?


Sering.


Namun ...


Nantinya akan berakhir dengan pertengkaran dan Suamiku akan memilih tidur kembali di kasur singlenya.


Penyebab pertengkaran pun bermacam-macam. Salah satunya dia sering memaksaku untuk melayaninya. Aku membencinya ketika dia memaksaku dengan cara yang cukup kasar karena menurutku berhubungan pasutri tidak layak dimulai dengan cara seperti itu. Aku bukan hanya pemuas nafsu baginya. Aku adalah isteri sekaligus pasangannya. Harusnya dia mampu menempatkan posisiku dan mengerti seperti apa diriku. Bukan malah bertindak kasar.


Aku tau kewajibanku sebagai isteri harus aku tunaikan. Itu hak suamiku ketika sah menjadi Suamiku. Tapi aku benci dengan caranya yang memaksa. Aku ingin dengan cara yang romantis. Aku ingin ajakan dengan cara yang lembut. Semua isteri pasti menginginkan perlakuan demikian, tidak hanya diriku. Tapi, aku sering kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Lebih banyak rasa terpaksa daripada rasa ikhlas ku. Miris sekali.


Suamiku tidak pernah memukulku. Menyentuhku dengan cara yang teramat kasar pun tidak pernah. Apalagi hingga mengangkat tangannya pun tidak pernah. Tapi, ketika lisannya berucap, jauh lebih tajam dari pada sebilah pisau. Ucapannya lah yang selalu melukai hatiku tanpa dia sadari. Itulah sisi buruk yang akhirnya ku ketahui ketika kami menikah. Dia tidak pernah berlaku kasar dengan sikap. Tapi semuanya terlihat lewat ucapannya yang spontan. Sadis sekali.


Dia sering berubah menjadi orang lain ketika malam hari.


Kadang tiba-tiba dia berlaku begitu sangat romantis. Memberikan kejutan-kejutan manis secara tiba-tiba. Memberikan kecupan dan pelukan hangat secara tiba-tiba. Mencium keningku dengan mesra sehingga aku jatuh cinta lagi. Intinya banyak perlakuan manisnya, tiba-tiba saja muncul tanpa ku minta.


Namun keesokannya, dia akan kembali lagi menjadi orang asing seperti biasanya. Tiba-tiba saja bernada keras dan kasar kepadaku. Bahkan tak segan mengeluarkan kata-kata sarkasme terhadap diriku. Sejauh yang ku ingat, dia tidak pernah mengakui bahwa ucapannya itu melukai hatiku. Dia tidak pernah mengakuinya.


Aku pernah begitu sangat takut melihat wajah Suamiku malam itu, entah kenapa. Seperti melihat sesosok hantu. Tapi, keesokan harinya perasaan ketakutan ku itu menghilang. Seperti kejadian itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Berganti dengan perasaan rindu yang teramat sangat seperti tidak pernah bertemu sebelumnya. Aneh bukan? Aku pun merasakan hal yang sama.


Aku pernah berpikir, apakah rumah tangga ku sengaja di uji oleh orang lain dengan media jahat?


Namun ku tepis semua pemikiran bodohku itu. Karena percayaku ...


Zaman sekarang sudah tidak pernah ada hal demikian.


*****


Begitulah terus menerus kejadian itu berulang hingga sepuluh bulan terakhir ini kurasakan. Dia akan baik dihari ini lalu hari berikutnya akan kembali kasar dan dingin. Seperti layaknya seorang psikopat menurutku.


Sampai akhirnya aku berani berucap minta pisah pada suamiku karena ucapan kasarnya yang berkata tajam kepadaku.


Kala itu tanpa tau sebab dan kenapa tiba-tiba saja suamiku marah kepadaku, memakiku dengan ucapan yang sangat kasar tanpa ku tau apa kesalahanku.


"Jilbabmu saja yang besar, tapi kelakuanmu berbanding terbalik. Wajahmu saja yang terlihat polos tapi kelakuanmu begitu rendah, seperti perempuan hina dan murahan."


"Braaaakkk."


Pintu kamar ditutup dengan keras.


Begitu lah ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkanku dikamar.


Aku diam dan menangis.


Seperti itu lah kadang kala kelakuan Suamiku. Lebih seringnya, perkataan kasar lain pun akan keluar dari lisannya ketika suasana hatinya memburuk.


Dan aku? Aku akan diam tanpa ekspresi apapun dihadapannya, memperlihatkan aku baik-baik saja dan tak peduli dengan ucapan kasarnya barusan.


Aku akan menangis sejadi-jadinya ketika dia sudah pergi dari hadapanku. Dia terlalu sering melukai hatiku dengan lisannya. Apakah aku bodoh? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk melangkah. Aku masih berperang dengan isi hatiku. Aku masih kalah oleh besarnya perasaan cinta itu. Bodoh sekali.


Jika sudah begitu berat ku rasakan sakit didalam hatiku. Maka aku akan segera berlari ke toilet. Segera berwudhu dan mengelar sajadah ku. Mengadu kepada Allah dalam sujud ku. Tangisan pun akan semakin pecah di sepertiga malam setiap hari. Aku begitu rapuh.


Aku terluka dengan perubahan Suamiku yang sangat keterlaluan. Aku terluka dengan ucapan kasarnya yang tidak berakhlak. Harusnya jika suasana hatinya sedang buruk, dia bisa bercerita kepadaku.


Dia selalu menjauhiku. Seakan tidak pernah menganggap aku ini ada didalam hidupnya. Pantaskah seorang suami bersikap seperti itu?

__ADS_1


" Tuhan.. Aku berserah kepadamu.."


Bersambung...


__ADS_2