
**Sikapmu yang mengajarkan ku agar terbiasa tanpamu..
Jika lama kelamaan aku terbiasa tanpamu...
Apakah itu salahku???
Ingin ku berikan seluruh sabarku untukmu, tapi asa menahanku ...
Luka ku terlalu dalam ... sudah berdarah dan bernanah ....
Aku ingin menghilang** ...
•┈••••○❁❁○••••┈•
Inginku hanya satu, aku ingin dihargai tidak hanya menghargai.
Aku ingin dimengerti tidak hanya meminta untuk mengerti ...
Suamiku ...
Sadarlah, jangan biarkan rasaku semakin menghilang ....
Sejenak aku hanya meminta sedikit hadirmu agar engkau paham, aku membutuhkan mu ....
Lirihku berujar sendu ...
10 Juni 2017
Setelah kejadian penemuan kertas lipat yang tercecer dilantai waktu itu. Aku lebih memilih menghabiskan hari-hariku menangis dikamar. Ku tumpahkan semua isi hatiku melalui do'a yang panjang. Bahkan dzikir pun ku panjatkan tiada henti. Aku benar-benar terluka. Kali ini lukaku jauh lebih parah dari biasanya. Tidak ku temukan obat sebagai penawarnya. Aku terluka parah.
Sengaja hari ini ku habiskan waktuku hanya untuk melihat-lihat album pernikahanku beberapa tahun yang lalu. Terlihat senyumku begitu indah disana.
Foto suasana pernikahanku yang begitu mewah namun terkesan simple. Kami tidak mengundang banyak tamu undangan karena aku hanya ingin pernikahan yang tidak terlalu ramai tamu undangan. Aku hanya ingin beberapa kerabat dan keluarga saja yang hadir.

Lalu bagaimana sakralnya setelah terucap kata "SAH" oleh saksi pernikahan. Aku ingat benar disaat itu aku teramat sangat haru dan bahagia, walaupun ini adalah pernikahan keduaku. Aku bersyukur karena dia teramat sangat mencintaiku saat itu. Itu menurutku.

Betapa sumringah senyumku saat itu. Betapa bahagianya ku rasakan ketika akhirnya lelaki yang ku cintai sudah sepenuhnya menjadi milikku. Saat itu aku benar-benar merasakan bahagia yang tiada terkira. Aku benar-benar jatuh cinta ketika dia mengucapkan janji pernikahan kepadaku. Aku benar-benar merasa beruntung.

Sebelum resmi menikah dengan Rofie, aku pernah terpaksa menikahi seseorang demi menyelamatkan anaknya. Dia seorang lelaki kaya raya keturunan Pakistan, namun menderita penyakit mematikan.
Kejadian itu terjadi ketika aku sudah bekerja sekitar dua bulan lamanya di perusahaanku. Dia salah satu kolega berharga kami karena merupakan klien tetap dengan status VVIP.
*****
Awalnya aku tidak pernah mengenalnya. Hanya saja dia menyatakan isi hatinya kepadaku setelah sering bertemu denganku ketika menjalankan meeting bersama.
Lelaki ini cukup tampan, namun aku tidak pernah menghiraukannya.
Awalnya aku tidak pernah meladeninya. Karena menurutku karier baru ini baru saja ku miliki, rasanya hal lain tidak membuatku tertarik. Ditambah lagi saat itu hubunganku masih belum jelas dengan suamiku Rofie. Jadi tidak ada hal menarik lainnya yang mampu mengusikku selain pekerjaan.
Pertemuan pertama kami karena Zahra. Waktu itu ada seorang anak sedang menangis sendirian. Mencari ayahnya yang tidak dia temukan di lobi. Dia menangis sambil menutup wajahnya. Aku iba melihat tingkahnya dan lalu mendatanginya. Pertemuan pertamaku dengan Zahra ketika anak itu berusia dua tahunan lebih. Anak perempuan cantik yang mengemaskan.
Ku tegur lembut dia.
"Hei cantik, kenapa sendirian disini?" ku sapa dia dengan lembut sambil duduk disebelahnya.
Dia hanya menatapku. Masih menangis dengan mata berkaca-kaca dan hidung serta pipi yang benar-benar memerah karena dia menangis hingga sesegukan.
"Lucu sekali ...." pikirku.
"Mami ..." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut kecilnya. Aku terkejut.
"Mami?" balasku.
Ku angkat alis kananku sambil berpikir.
"Apa ini anak orang kesasar yaa?"
Aku membuang pandangan ke sekeliling ruangan.
Nihil. Tidak ada ibu-ibu atau siapapun yang hilir mudik mencari anak hilang.
"Lantas ini anak siapa?" aku pun bergumam dalam hati.
Ku tatap lagi gadis kecil ini dan menegurnya kembali.
"Dimana orangtuamu Nak? Kamu haus? Kamu lapar?" tanyaku beruntun.
Dia menggeleng. Memasang mimik semakin ingin menangis dan menyebutkan beberapa kalimat dengan pipi yang semakin memerah.
"Mami, temani Zahra mencari Baba. Zahra mau Baba Mami." begitu jawabnya lagi.
Wajahnya benar-benar sudah merah dan airmatanya sudah jatuh berserakan dikedua pipinya. Aku semakin iba melihat gadis kecil ini.
Lalu ku ulurkan tanganku menawarkan diri untuk mengendongnya. Dia menyambut uluranku. Ku gendong dia menuju ruangan informasi dan menitipkan pesan kepada receptionis agar jika ada yang mencari anak hilang, segera menghubungiku.
*****
Ku ajak gadis kecil ini ke ruanganku. Kebetulan semua cemilan dan makanan ringan ada diruanganku. Ku berikan beberapa ice cream untuknya. Ternyata dia menyukainya. Setelah selesai menghabiskan satu buah ice cream, dia mendekatiku dan duduk dihadapanku.
"Mami, ayo pulang. Kita cari Baba." begitu katanya.
"Masyaa Allah, Baba lagi." begitu pikirku.
"Dimana Baba Nak? Harus cari Baba kemana?" jawabku singkat.
Dia menarik tanganku dan mengajakku keluar ruangan. Menuntunku menuju lobi lagi dan duduk di sofa tunggu lobi.
"Baba bilang akan jemput Zahra. Mami jangan pergi lagi. Zahra kesepian." begitu jawabnya sambil mengenggam erat lenganku.
"Iya. Kita tunggu Baba disini yaa sayang. Sudah, ayo berhenti menangis. Wajahmu terlihat jelek ketika menangis." bisikku sambil mengusap air matanya.
Dia mengangguk. Tangisnya pun berhenti.
Tidak lama kemudian seorang lelaki menghampiri kami. Zahra menatapnya dan tersenyum lebar. Lantas berlari menuju lelaki itu berdiri.
"Baba ..." begitu teriaknya sambil berlari kearah lelaki itu.
Lelaki itu memeluknya erat. Mengusap kepalanya dan mencium kedua pipinya. Mereka lalu berpelukan erat.
"My Dear, dari mana saja kamu. Baba mencarimu kemana-mana." Tanya lelaki itu beruntun.
"Pergi sama Mami Baba, Mami memberikan Zahra ice cream Baba. Ice Cream enak Baba." jawabnya polos sambil menunjuk ke arahku.
Lelaki itu menatapku dan menegurku.
"Maa syaa Allah ... Ibu Dayana. Maafkan saya bu karena anak saya merepotkan anda." ucapnya merasa tidak enak.
"Gpp Pak Hussain. Dari tadi dia menangis jadi saya membawanya keruangan." balasku lirih.
"Maafkan saya Ibu. Mungkin anak saya berpikir anda adalah ibunya. Wajah kalian begitu mirip. Sudah setahun ibu Zahara Meninggal dunia. Tapi dia masih sering mencari ibunya." jawabnya menjelaskan.
Aku terkejut.
"Yaa Allah, Anak sekecil ini sudah mengalami kehilangan orangtua. Bahkan berpikir kehilangan ibu dan ayah saya aku tak berani. Apalagi aku berada diposisi anak kecil ini." bathinku berucap.
Ke lambaikan tanganku ke arah Zahra dan mengisyaratkan dia agar memeluk ku. Anak kecil itu berlari kearahku dan memelukku. Padahal kami baru bertemu saat itu, tapi aku seperti merasakan bahwa aku sudah lama mengenal dia.
Gadis cantik berkulit putih. Matanya mirip denganku. Rambutnya pun menyerupaiku. Ikal bergelombang di bagian bawahnya. Dan pipinya selalu terlihat memerah. Benar-benar cantik. Entah bagaimana wajah ibunya.
*****
Pernikahan ku dengan Hussain tidak berjalan lama. Hanya berjalan sekitar tiga bulan. Bahkan dia pun tidak pernah menyentuhku selama kami menikah. Dia hanya pernah sekali mencium keningku. Itu pun setelah Ijab dan Qabul terjadi.
Selama pernikahan, kami tidur dengan kamar yang terpisah. Aku awalnya tidak pernah berniat menikahi Hussain. Hanya saja setelah cerita panjangnya mengenai keluarga mantan isterinya yang akan mengambil paksa Zahra karena dia sakit-sakitan. Hatiku pun terenyuh dan menerima ajakan menikah Hussain. Lagi pula dia juga baik dan tampan. Tidak ada salahku ku terima pinangannya. Toh aku juga single tidak memiliki hubungan apapun dengan siapapun.
Aku tau benar usia lelaki ini sudah tidak akan lama lagi waktunya. Karena aku pernah bertemu denga dokter pribadi Hussain. Menurut dokter, dia benar-benar sudah sekarat. Namun aku kagum dengannya. Dia tidak pernah memperlihatkan dirinya rapuh. Bahkan aku belum pernah melihatnya bersedih meratapi penyakitnya. Dia selalu tersenyum.
Dia selalu bercerita kepadaku bahwa dia sangat mencintai Zahra anaknya. Dia tidak ingin Zahra dibesarkan oleh keluarga mantan isterinya karena mereka hanya mengejar harta warisan yang dimiliki oleh Zahra. Ketika Hussain bercerita, aku hanya terus menerus mengangguk-anggukan kepalaku tanda aku mengerti arah pembicaraannya.
Dia memintaku agar membesarkan Zahra seperti anakku sendiri. Aku pun tidak keberatan akan hal itu.
Zahra sudah begitu dekat dengan ku. Bahkan kematian pun dia tidak paham. Jika dia bertanya dimana ayah nya, maka akan selalu ku jawab, dia sedang bekerja diluar negara. Entah sampai kapan aku harus terus berbohong ketika anak itu bertanya dimana ayahnya.
Aku membuat perjanjian tertulis sebelum kematian Hussain. Perjanjian yang menyatakan bahwa Zahra adalah anak kandungku. Aku pun tidak pernah keberatan karena aku juga telah jatuh cinta kepada anak cantik ini. Aku mencintainya seperti anakku sendiri.
Beberapa bulan setelah nya, Hussain pun menghembuskan nafas terakhirnya. Dia pergi untuk selama-lamanya. Aku cukup merasa kehilangan, karena bagiku dia adalah teman keduaku setelah Pradana.
*****
Aku kembali membuka lembar demi lembar foto albumku. Tanpa sengaja, ternyata aku masih menyimpan wajah Hussain. Ternyata dia benar-benar tampan. Aku baru menyadarinya.

Ku bolak-balik kembali album foto tersebut. Kembali mengingat kisah pernikahan ku yang begitu indah ketika bersama Rofie dulu.
Ku ingat kembali bagaimana dulu aku begitu bangga menjadi isteri dari seorang Rofie Alamsyah. Siapa yang tidak bangga memiliki suami yang notaben nya adalah seorang pengusaha muda. Selain berwajah tampan dan sukses, dia juga terkenal sebagai lelaki yang sopan dan sholeh.
Pertemuan pertama ku dan suamiku itu sekitar lima tahun yang lalu. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di parkiran Masjid, tepat didepan kampusku. Waktu itu aku diminta tolong oleh Asisten Dosen agar mengambilkan data kepada seseorang. Tak ku duga ternyata dia suamiku.
Ketika melihatku di parkiran, dia menundukkan wajahnya ketika berbicara kepadaku. Menurutku aneh, untuk apa menundukkan pandangan kepada perempuan? Ku lihat, matanya juga tidak sedang kemasukan debu. Jadi menurutku aneh saja jika ketika bertemu ku dia menunduk seperti tidak ingin melihatku.
Dia menyapaku. Menegur namaku dan memberikan sebuah Map besar berisi berkas dan tulisan. Katanya itu data penting. Ku terima Map besar berisi berkas itu lalu ku jawab pertanyaannya dengan seadanya. Dia memang membuatku terkesima dengan sikapnya saat itu. Tapi, itu hanya perasaan sekilas saja.
*****
__ADS_1
Setelah pertemuan singkat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Menurutku dia terlihat culun dengan penampilannya waktu itu. Gaya pakaiannya tidak kampungan atau pun ketinggalan zaman, tapi pakaiannya agak sedikit aneh menurut ku. Apa lagi ku lihat celananya yang cingkrang itu. Padahal seingatku dia memakai celana slime. Tapi tinggi sekali potongan celananya, hampir diatas mata kaki. Ku pikir dia ikut aliran sesat. Saat itu aku belum berpindah keyakinan. Dan belum paham benar apa itu Agama Islam sesungguhnya.
Ku kirimkan pesan kepada Asisten Dosen itu. Sejujurnya aku kesal dengan sikap sok Seniornya itu. Padahal hanya berbeda satu tingkat denganku, tapi hobby sekali menyuruhku melakukan ini dan itu. Mungkin karena aku terbilang Mahasiswi yang manut saja. Jadi dia dengan mudah menyuruh ku melakukan apapun. Kesal sekali.
Untuk postur tubuh dan wajah, ketika aku masih kuliah dulu, aku masih terbilang banyak memiliki Fans. Banyak sekali yang mencoba mendekatiku. Mulai dari Senior, sesama letting hingga Mahasiswa Junior pun ada yang mencoba mendekatiku. Banyak sekali yang mencoba mencari perhatianku namun gagal. Semua tidak pernah ku ladeni sedikit pun. Kasian sekali mereka.
Dulu, aku terbilang sangat memperhatikan penampilanku. Yaa .. Walaupun brand pakaian yang ku gunakan bukan merek terkenal apalagi mahal. Aku tetap dan selalu memperhatikan penampilanku agar sedap dipandang oleh orang lain. Walau pun pada saat itu aku belum punya banyak penghasilan. Jika hanya untuk membeli baju beberapa pasang, aku masih terbilang mampu. Itu pun ku beli di pasar second.
Walaupun barang yang di jual sudah pernah digunakan oleh orang lain sebelumnya, tapi semuanya masih layak pakai. Jika beruntung, aku bisa dapat pakaian yang baru dipakai sekali atau dua kali pakai oleh pemilik sebelumnyanya. Selagi masih layak digunakan, aku tidak masalah pakaianku itu dibeli dimana. Yang penting masih bagus. Dan aku menyukainya.
Aku sama sekali tidak pernah memakai make up di wajahku. Kata Pradana, wajahku itu tergolong natural. Menurutnya, wanita jauh lebih terlihat cantik ketika wajahnya itu natural, Alias tanpa polesan makeup.
Ketika pergi ke kampus, hanya lipbalm yang ku gunakan setiap hari untuk polesan bibir. Alasannya karena bibirku mudah kering. Ditambah lagi menurutku untuk menghabiskan uang lima puluh ribu untuk sebuah lipstick kekinian, itu terlalu mahal. Bedak pun juga hanya bedak tabur baby.
Wajahku benar-benar polos tanpa polesan makeup. Jika ingin sedikit lebih fresh, aku menambah maskara dan eyeliner di bagian mataku. Itu pun kadang-kadang, jika lagi pengen saja.
Tapi, setiap kali orang lain melihat wajahku, banyak yang berpikir kalau aku mengunakan riasan wajah atau makeup. Mungkin karena pipiku yang mudah merah karena cuaca panas, jadi seperti terlihat memakai perona pipi atau blush on, padahal nyatanya tidak.
Bukan karena aku tak ingin belajar memakai makeup atau tidak tertarik dengan perihal makeup. Tapi karena menurutku lebih baik uangnya ku tabung untuk biaya kuliahku nanti. Lebih jauh bermanfaat dari pada uangnya ku gunakan untuk membeli makeup. Rasanya sayang sekali.
Mungkin aku beruntung saat itu. Tanpa harus membuang uang untuk perawatan rambut dan wajah kesalon, aku sudah memiliki rambut dan wajah yang proposional. Memiliki rambut panjang yang ikal berombak dan wajah serta kulit yang putih bersih membuat ku punya nilai plus tersendiri dimata orang lain. Aku bersyukur atas semua hal baik ini.
*****
Pradana adalah Kakak Senior ku ketika kuliah. Kami berbeda angkatan beberapa tingkat. Entah apa yang membuat kami bisa berteman dan bersahabat. Yang ku ingat, dia pernah menghinaku karena pakaianku yang menurutnya aneh.
Dia membuatku jengkel sekali waktu itu. Rasanya ingin ku pukul wajahnya lalu ku sirami kuah bakso penuh cabe saat itu. Dia benar-benar membuatku jengkel dengan tingkah usilnya.
Setiap tahun, jika hari Valentine tiba, aku adalah perempuan paling beruntung dikampus. Loker dan tempat dudukku akan penuh dengan bunga mawar dan cokelat yang beraneka ragam. Belum lagi kartu ucapan bahkan ajakan kencan pun bertaburan dimana-mana. Merepotkan sekali.
Apakah aku pernah menerima ajakan mereka? Jawabannya tidak. Saat kuliah, pikiranku hanya ingin segera lulus kuliah hukumku. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
Singkat cerita. Pradana lulus lebih dulu dariku. Sedih sekali rasanya ketika sudah tidak satu kampus lagi dengannya. Karena selama ini dia yang jadi bodyguard ku jika ada yang terlalu ekstream memaksa ingin mendekati atau mengajak ku kencan.
Aku selalu kewalahan jika mereka terlalu memaksa. Jika sudah tidak tahan dengan sikap mereka, aku akan menghubungi Pradana untuk minta bantuan. Aneh nya, dia bisa selalu punya waktu ketika aku meminta bantuannya. Hebat sekali anak itu.
Aku sering mendapatkan perhatian kecil dari Pradana ketika kami masih satu kampus. Dia sering membelikan ku cokelat dan es krim. Dia selalu memahami apa yang ku inginkan ketika mood ku sedang tidak baik. Kadang juga membelikan cemilan ringan sekresek besar. Bahkan dia sering membelikan ku paket hemat makanan fast food juga. Katanya biar aku gemuk. Aku keliatan kurang gizi. Katanya badan ku terlalu kurus. Tidak sopan sekali ucapannya.
Aku juga pernah mendapatkan satu keranjang bunga mawar putih dan satu buket bunga mawar berwarna jingga. Setau ku, bunga mawar itu sangat mahal harganya. Apalagi mawar Asli. Ketika membaca kartu ucapan yang diselipkan didalam bunga, dia selalu punya sisi romantisnya sendiri. Setiap kartu pasti akan selalu tertulis..
"Est-ce que tu m'aimes?"
( *dibaca "Ess kuh tu mem." ) Artinya, Apakah kamu mencintaiku?
"Je t'aimerai pour toujours"
( *dibaca "Zhuh tem-air-ay pu tu-zhur.") Artinya, Aku akan mencintaimu selamanya.
"T'es l'amour de ma vie."
(*dibaca "Teh lah-mur duh ma vi.") Artinya, Kamu adalah cinta dalam hidupku.
"Je t'adore."
(*dibaca "Zhuh tah door.") Artinya, Aku Mengagumimu.
Jika aku perempuan lain, pasti aku akan terkesima dengan ucapan yang dituliskan oleh Pradana pada setiap selipan kartu ucapan tersebut. Sayangnya ... Aku bukan perempuan itu. Aku tidak pernah terpengaruh dengan ucapan romantis yang dituliskan oleh nya itu. Karena yang ku tau, kejutan manis itu bukan ditujukan untukku.

Ketika ku tanya Alasannya kenapa memberikan ku bunga mawar pada saat hari Valentine, dia menjawab ... itu bunga untuk gebetannya, tapi dia ditolak, jadi bunganya diberikan kepadaku. Katanya sayang kalau dibuang, mubadzir.
Waktu itu yaa .. Kuterima saja. Dari pada dibuang, menurutku sayang banget. Jadi ku terima saja bunga pemberian Pradana itu. Lumayan buat nambah koleksi bunga mawar di hari Valentine. Jadi postingan foto distatusku penuh dengan foto-foto bunga pemberian dari orang-orang. Sepertinya postingan ku akan sukses membuat patah hati perempuan lain.

Kurang lebih seperti kedua foto diatas penampakan bunga mawarnya. Aku tidak menyimpan foto aslinya. Maklum, saat itu tidak terlalu penting menurutku mengabadikan pemberian bunga oleh siapa pun. Karena aku tidak tertarik menjalin hubungan special dengan lelaki manapun. Aku hanya ingin segera lulus.
*****
Aku mulai bertemu lagi dengan suamiku ketika kami tanpa sengaja bertemu dibandara. Waktu itu aku akan berangkat untuk melanjutkan kuliah S2 ku di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa penuh ke salah satu kampus ternama di Australia. Aku sangat bersyukur karena Tuhan begitu baik kepadaku. Nilai IPK ku pun terbilang sangat bagus. Aku lulus dengan predikat nilai cumlaude. Beruntung sekali.
Kalian tau siapa yang datang pertama kali pada saat aku dinyatakan lulus dengan nilai terbaik pada saat acara wisuda? Benar. Dia Pradana. Lelaki tampan itu datang dan naik ke atas panggung kelulusan dan memberikanku sebuah buket bunga mawar merah bercampur bunga aster segar yang indah.

Saat itu aku pasti mematahkan hati seluruh wanita yang menyukai Pradana. Kasian sekali mereka. Aku sudah terbiasa dengan sindiran-sindiran perempuan yang sakit hati kepadaku karena bersahabat dengan Pradana. Tapi bukan aku namanya kalau ucapan mereka ku ladeni. Aku sengaja membuat telingaku tuli agar tidak mendengarkan kalimat-kalimat sadis yang mereka lontarkan. Bukan salahku Pradana mengabaikan mereka. Aku bukan kekasih lelaki itu.
Dia benar-benar membuatku terkejut. Datang secara tiba-tiba tanpa memberi tahuku. Muncul dengan wajah menawannya itu. Memakai setelan formal lengkap berwarna dark grey. Tampan sekali dia. Aku cukup kaget dengan kehadiran Pradana yang tiba-tiba itu. Karena setau ku, dia sedang di luar negeri melanjutkan kuliah S2 nya. Tapi dia malah bisa hadir di acara wisudaku. Aku terkesima.
*****
Pada saat itu, aku baru memeluk agama Islam. Mungkin sekitar semingguan. Karena rasa nyaman ku akan agama ini, aku memilih berpindah keyakinan. Banyak hal yang membuatku begitu yakin untuk berpindah kepercayaan. Menurut ku dalam agama Islam ada sesuatu hal yang tidak ku temukan di agama ku sebelumnya. Itulah kenapa aku makin yakin untuk berpindah kepercayaan.
Awalnya seluruh keluargaku menentangku, apalagi adikku. Dia sangat marah besar kepada ku. Menegur ku saja kemarin dia enggan, katanya aku kaum yang tersesat. Aku berdusta kepada tuhan kami. Sedih sekali. Butuh usaha berulang sampai akhirnya mereka merestui ku ketika aku berpindah keyakinan. Alhamdulillah Yaa Allah, aku bersyukur.
Aku sangat Bangga memiliki keluarga yang menerima apapun keputusan ku. Yang membuatku yakin saat itu pun Pradana. Islam mengajarkan ku banyak hal. Ditambah lagi karena cerita-cerita hebatnya tentang betapa wajibnya seorang Muslimah menutup auratnya dengan benar dan sempurna. Aku jadi tertarik dengan agama ini. Dan sekarang, Aku seorang Muslimah. Alhamdulillah.
*****
Sebenarnya kami sama-sama ceroboh. Aku yang terburu-buru berlarian karena ingin mengejar boarding pass pesawat agar tidak terlambat. Dan dia yang juga berjalan terburu-buru karena ingin mengejar pesawat juga. Aku lupa siapa dia, tapi dia malah menegurku dan menyebutkan namaku saat itu.
"M-maafkan saya mbak. Mbak gpp?"
Tanyanya sambil meringis menahan sakit.
"Harusnya kamu melihat arahmu pak. Bahaya sekali jika kamu ceroboh sbegini. Saya bisa terluka karena sikap ceroboh Bapak."
Jawabku ketus tanpa melihat wajahnya.
Dia menatapku.
Mungkin mengingat kembali siapa aku. Lalu dia tersenyum dan menegurku lagi.
"K-kamu ... Apa kabar Dayana?"
Balasnya menyapa dan menyebut namaku.
Aku kaget. Ku dongakkan kepalaku ke arah wajahnya. Melihatnya dengan seksama sambil merasa kebinggungan. Lalu aku berusaha mengingat kembali.
" M-Maaf ... Tapi dari mana anda mengenal saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Balasku balik bertanya.
" Mungkin kamu tidak ingat kepada ku. Tapi aku masih mengingat wajahmu dengan jelas didalam ingatanku. Kamu gadis cantik yang pernah ku temui beberapa tahun yang lalu didepan parkiran Masjid. Kamu sudah ingat siapa aku?"
Lirihnya bertanya.
Ku kerutkan keningku. Aku masih tidak dapat mengingat dengan jelas siapa lelaki dihadapanku saat ini. Aku hanya membalas tanyanya dengan senyum kebinggungan. Sambil menggaruk kepalaku yang tertutup jilbab. Aku masih terus berpikir sampai akhirnya aku ingat siapa dia.
"Maa syaa Allah, kamu ..."
Balas ku sambil tersenyum.
"Kamu pembawa berkas itu kan. Berkas titipan Asdos itu. Maafkan saya, saya pelupa. Soalnya kita tidak banyak mengobrol, jadi saya tidak begitu ingat tentang kamu."
Balasku lagi.
*****
Suamiku tersenyum lebar. Senyumnya terlihat teduh sekali. Tidak banyak perkataan yang keluar dari mulutnya. Dia hanya terus menerus menatap wajahku. Mungkin dia kaget melihatku berhijab. Ku temukan senyum yang begitu hangat sekali. Dulu aku tak pernah merasakan hal seperti ini ketika melihatnya.
Saat itu dia terlihat jauh berbeda. Pakaiannya juga terlihat lebih maskulin. Dia mengenakan kemeja polos berwarna burgundy. Kerah kemeja dibiarkan terbuka di bagian atasnya. Lengan kemejanya pun dilipat sampai kesiku. Memperlihatkan kulit lengannya yang berwarna kecoklatan.
Dia memakai celana slime yang masih terlihat cingkrang diatas mata kaki. Celana itu berwarna hitam pekat. Sepasang sepatu bermerek ternama pun terpasang di kedua kakinya. Lengan kanannya sedang memeluk erat jaket tebal berwarna cokelat gelap.
Tangan kirinya memakai jam tangan bermerek berwana hitam dengan kombinasi batuan sapphire dan tambahan warna gold. Terlihat mewah semua barang yang dia gunakan di tubuhnya. Glamour sekali.
*****
Setelah pertemuan dan obrolan singkat itu. Kami pun mulai lebih sering mengobrol di jejaring sosial. Kami sering mengobrol dipesan whatsapp. Pembahasannya pun beraneka ragam. Mulai dari pembahasan kuliah, suasana di luar negeri masing-masing seperti apa. Bahkan kami sempat berjanji, jika nanti pulang ke Indonesia, kami akan bertemu kembali.
Kami masih aktif saling mengobrol sekitar setahun. Setelah tahun kedua, kami mulai jarang mengobrol. Bahkan hampir tidak pernah. Aku mulai sulit dihubungi karena sedang mengejar tesis untuk persiapan kelulusan S2 ku. Setiap kali suamiku menghubungiku saat itu, aku lebih banyak mengabaikan telpon atau pun chat nya. Ada cita-cita yang harus aku kejar.
Akhirnya tiba sudah waktu kelulusan S2 ku. Berat sekali ternyata berjuang di luar negeri untuk sekolah. Belum lagi harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan juga orang-orang baru. Aku selalu mengalami kesulitan. Apalagi kebiasaan bahkan bahasanya pun tidak sama dengan negeriku. Benar-benar berat sekali rasanya.
Jika dituruti, aku ingin berhenti ditengah perjuangan. Rasanya sulit sekali jauh dari ibu. Sepi sekali rasanya. Belum lagi harus bekerja part time untuk menambah penghasilan dan uang jajan. Aku mengambil part time dibeberapa toko di kota ini. Ibu selalu menguatkan ku agar aku bertahan. Tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti ku, begitu kata ibu. Aku pun bertahan.
Pada saat acara kelulusan. Aku sendiri disini. Sedih sekali.
"Andai ibu ada disini."
Ku teteskan air mata bukti bahwa aku begitu merindukan ibu.
"Bu, anakmu sudah berhasil. Anakmu berhasil ibu."
Begitu gumamku dalam hati sambil meneteskan air mata.
*****
Hari itu acara begitu semarak. Semua rekanku didampingi keluarganya pada saat acara kelulusan. Tapi tidak denganku. Walaupun tidak mendapatkan predikat cumlaude, IPK ku lumayan tinggi. Hanya berbeda beberapa poin dari mahasiswa yang mendapatkan nilai cumlaude. Sayang sekali. Mungkin jika aku tidak salah memberikan penjelasan pada saat tesis terakhir, aku bisa mendapatkan predikat cumlaude.
Setelah acara selesai. Aku memilih kembali ke apartmen ku. Mungkin sedikit rebahan, bisa menghilangkan rasa lelah ku yang berdiri dari pagi menggunakan high heels.
Kaki ku sakit sekali rasanya. Ku buka seragam kelulusanku lalu ku jatuhkan tubuhku ke kasur. Benar-benar gerah sekali pakaian itu. Apalagi seragam ku lumayan kebesaran, berat tubuhku sedikit turun karena aktifitas ku yang padat belakangan ini.
Baru saja ingin memejamkan mata. Bel kamarku berbunyi.
"Ting .. Tong .."
"Ting .. Tong .."
__ADS_1
"Ting .. Tong .."
Bel itu berbunyi beberapa kali. Menganggu sekali rasanya. Padahal aku sudah mau terlelap tadi. Ku langkah kan kaki ku dengan malas menuju pintu. Ku lihat dari balik pintu melalui lubang kecil siapa yang mengganggu ku sore itu. Seorang kurir bunga.
"Tunggu ... siapa yang mengirimkan bunga kepada ku? Apakah ini salah kirim?"
Ku tarik sebuah jilbab instan di samping meja belajarku. Ku gunakan seadanya lalu membuka pintu segera. Aku tersenyum sambil membuka pintu kepada kurir itu.
"Excuse me, are you miss dayana amore?"
Tanya kurir itu menegurku.
"Yeah right, that's me. What do you need?
Tanyaku lagi.
"Someone has sent this flower package for you. Please sign here for acceptance."
Balasnya menjelaskan.
"Ohh .. Oke."
Jawabku singkat.
Ku terima buket bunga itu. Sebuket bunga Mawar merah bercampur bunga Aster. Kombinasi bunga yang tidak asing bagiku.
" Tapi ini dari siapa? Apakah dari lelaki itu?"
Aku larut dengan pikiranku sendiri. Tidak mungkin Rofie yang memberikan bunga ini. Sudah lama kami tidak bertegur sapa. bahkan kapan aku lulus pun dia tidak tahu. Lalu ku buka kertas berwarna merah marun itu dan ku baca isinya.
" Félicitations pour vos examens."
( *dibaca "Feh-lees-ee-ta-see-on pu vo ik-za-ma." ) Artinya, Selamat atas kelulusanmu.
Ku tatap agak lama tulisan ini. Kembali menerka siapa yang memberikan kejutan misterius ini. Tapi aku tidak mampu menebaknya dari siapa. Jika ini dari Pradana, dia pasti ikut muncul memberikan kejutan ini kepada ku seperti saat kelulusan dulu. Tapi dia tidak muncul. Aku sudah lama tidak mengobrol dengan Pradana. Tiba-tiba aku merindukannya.
"Lantas siapa yang memberikan bunga ini kepadaku?"
Aku masih berpikir keras.
Ku letakkan bunga itu diatas meja belajarku. Ku langkah kan kaki dengan malas lalu kembali berbaring ke atas kasur. Aku lelah sekali. Ku pejamkan mataku. Tanpa sadar aku tertidur.
*****
Keesokan paginya aku baru terbangun. Bunyi jam waker ku membuat aku tersentak kaget.
"Astaghfirullah hal adzim. Jam berapa sekarang? Aku benar-benar ketiduran. Yaa Allah aku melewatkan shalatku." gumamku dalam hati.
Segera aku bangkit dari tempat tidur. Mencomot handukku dengan tergesa-gesa sambil berlari kedalam toilet dan segera mandi. Lalu berpakaian lengkap dan segera melaksanakan shalat dhuha. Berdzikir sekitar lima belas menit lalu berganti pakaian dan segera berangkat ke kampus untuk mengurusi berkas-berkas kelulusanku. Aku ingin cepat-cepat pulang.
Butuh waktu sebulan untuk aku menyelesaikan semua hal disini. Akhirnya aku bisa bernapas lega karena semua sudah selesai dan aku bisa kembali ke tanah air. Rindu sekali melihat wajah ibu. Melihatnya hanya melalui foto untukku tidak terasa cukup. Aku ingin memeluk ibu erat-erat. Aku ingin menceritakan semua hal yang terjadi disini selama aku melanjutkan study ku di luar negeri kepada ibu. Dan juga, aku rindu masakan ibu.
*****
Akhirnya aku kembali ke Indonesia. Rasanya rindu sekali dengan negeri ini. Negeri dimana aku di lahirkan. Aku begitu antusias. Tak sabar ingin bertemu Ibu dan Ayah. Mereka bilang, mereka akan menjemputku di bandara.
"Kakak ... "
Panggil ibu dari kejauhan.
"Ibu ... "
Aku berlari ke arah ibu dan memeluknya erat. Benar-benar erat sekali.
Aku benar-benar rindu wanita paruh baya ini. Rasanya bahagia sekali ketika bisa melihat bahkan memeluk ibu secara nyata. Sudah hampir dua tahun lebih aku berjauhan dari ibu. Rasanya berbeda sekali. Setiap hari aku selalu merindukan masakan ibu. Bahkan hingga aroma tubuh ibu. Aku sampai membawa beberapa baju ibu yang masih ada aroma tubuh ibu untuk ku bawa bersama ke Australia dulu. Sekarang rinduku terbayar lunas.
Ayah tersenyum padaku. Bergantian, ku peluk ayah sama eratnya setelah puas memeluk Ibu. Ayahku terlihat terisak. Aku tau Ayah pun merasakan kebahagiaan yang tak terhingga karena pencapaian ku di posisi ini. Siapa sangka, seorang perempuan biasa sepertiku, yang notaben nya anak dari keluarga tidak mampu, bisa sukses mendapat gelar S2 di luar negeri. Aku cukup bangga dengan diriku sendiri.
Aku mengedarkan pandangan ku ke seluruh penjuru bandara. Kalian tau siapa yang ku cari? Benar. Aku mencari adikku. Ternyata dia tidak hadir untuk menyambut kedatangan ku. Kata Ibu, dia sedang berjuang mengejar gelar Sarjana nya. Adikku kecil ku yang nakal. Tanpa terasa sekarang sudah beranjak dewasa. Ternyata waktu berputar begitu cepat.
*****
Setelah sebulan pulang ke Indonesia. Lebih tepatnya ke kotaku ini, aku masih berjuang mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazahku. Dimana pun tempat yang tercantum membuka lowongan pekerjaan, namaku pasti akan muncul sebagai pelamar kerjanya.
Mulai dari Mall besar sampai supermarket kecil pun ku berikan surat lamaranku. Sampai akhirnya ku temukan jodoh pekerjaanku. Sebuah perusahaan konsultan membutuhkan seorang Manager. Aku pun mendaftarkan diri di perusahaan itu. Berharap jika keberuntungan berpihak kepadaku.
Awalnya aku ragu untuk mendaftar di perusahaan itu karena yang ku tau, itu perusahaan yang cukup besar dan terkenal. Bermimpi untuk lulus mendaftar saja aku tak berani. Namun, tidak ada salahnya mencoba. Toh aku juga seorang Sarjana. Aku pun mengantarkan lamaran pekerjaanku ke perusahaan itu.
Mungkin hampir sebulan ku tunggu kabar dari perusahaan itu. Karna ku dengar seleksinya membutuhkan waktu sebulan penuh. Lama sekali waktu yang dibutuhkan, padahal hanya untuk memilih candidat terbaik. Namun harus serepot itu. Benar-benar perusahaan luar biasa.
Hari itu, entah feeling apa yang merasukiku. Tiba-tiba saja, aku kepikiran untuk membaca-baca email masukku. Biasanya aku selalu rajin mengecek email ku ketika masih kuliah dulu. Semenjak sudah lulus dan kembali kesini, aku sudah jarang sekali membuka email.
Ku buka email ku dan ku scroll kolom pesan yang tertera. Isi pesan hampir penuh dengan notifikasi aplikasi. Benar-benar nihil. Aku tidak menemukan email penting disana. Kecewa sekali.
Tiba-tiba mataku tertuju pada kolom spam. Aku penasaran kenapa kolom spam ini penuh dengan pesan. Pesan seperti apa yang masuk kedalam kolom spam ini sampai tidak muncul dikolam pesan inbox. Aku pun membaca isi pesan satu persatu.
"Maa syaa Allah. Banyak sekali pesan yang masuk kesini. Akan ku lihat isi pesan ini satu persatu."
Lirihku bergumam didalam hati.
Mataku tertuju pada sebuah nama. Disana tertulis sebuah nama. Yaa ... Nama yang hampir ku lupakan. Tertera nama Rofie Alamsyah disana. Dengan beberapa email yang tertera atas nama dirinya. Mungkin sekitar sepuluh email banyaknya.
Ku buka dan ku baca isi email nya satu persatu. Ternyata isinya hanya link atau alamat address untuk melamar pekerjaan di luar negeri. Jujur saja, aku tidak tertarik untuk menjadi sukses di luar negeri. Karena, sekalipun aku memiliki gelar master di luar negeri, aku tetap dan akan selalu kembali ke tanah airku. Aku ingin sukses di negaraku sendiri, bukan negara orang lain.
Masih ku scroll isi pesan email nya itu sampai ke bagian paling bawah. Sampai akhirnya aku terkesima dengan isi pesan email dari lelaki itu. Isi pesannya seperti isi ketika seseorang ingin melamar pekerjaan. Lebih jelasnya seperti sebuah Curriculum Vitae atau bahasa indonesianya, riwayat diri atau riwayat hidup.
"Maa syaa Allah, email apa ini? Data diri? Kebiasaan? Hobby? Maa syaa Allah, untuk apa semua ini? Apakah dia salah kirim?"
Aku masih terus bertanya didalam hati ataskah maksud pesan yang dia kirimkan. Menurutku sangat aneh.
Aku tidak membaca email nya sampai selesai. Karena menurutku isi pesannya itu aneh dan aku tidak paham maksud dan makna dari isi email nya tersebut. Jadi aku mengabaikan email nya.
Sampai akhirnya aku menemuka email yang isinya merubah kehidupanku tiga ratus enam puluh derajat. Aku diterima bekerja di perusahan konsultan itu. Air mataku tumpah ruah. Aku berhambur keluar dan berlari mencari Ibu dan Ayah. Aku ingin segera mengabarkan kepada mereka berita baik ini. Aku benar-benar tak menyangka. Aku sangat beruntung. Allah begitu murah hati kepadaku.
*****
Aku berlari keluar dari kamar dan bergegas mencari Ibu. Ingin segera ku kabarkan kepadanya bahwa akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku. Begitu berbunga hatiku saat itu. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah atas semua kebaikan yang Dia berikan kepadaku.
"Ibu ...... Ibu ..... Ibu .... Dimana bu?" Teriakku kegirangan sambil berkeliling mencari wajah Ibu didapur, ruang tamu hingga ke halaman depan.
Tidak ada jawaban.
Akhirnya aku bergegas keluar dan berjalan melirik ke arah warung yang berjarak beberapa rumah dari rumahku. Disana rupanya ibu. Ku percepat langkah kakiku dan segera mengikuti ibu yang sedang memegang beberapa ikat sayur.
"Ibu ... " tegurku dengan senyum yang lebar dan pandangan yang penuh haru.
"Kenapa Nak?" Balas Ibu setengah kaget.
"Ibu .... Day diterima bekerja Bu ... senang sekali rasanya Bu." Jawabku sumringah.
"Wah .... Tuhan memberkatimu Nak ... Tuhan memberkatimu." Balas Ibu tidak kalah girang.
Kami pun saling berpelukan. Sampai tidak sadar bahwa ditatap oleh ibu-ibu lain yang sedang berbelanja juga. Ku genggam tangan ibu dan mengajak ibu segera pulang. Akhirnya ibu tidak jadi belanja.
Ku genggam lengan ibu dengan erat. Bahagia sekali rasanya. Akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku. Ketika tengah asyik berjalan pulang, Ayah pun terlihat sudah berdiri didepan pintu. Ayah menyapa kami dengan wajah keheranan.
"Kenapa kalian tersenyum-senyum begitu? Baru menang lotre?" tanya ayah.
"Lebih dari lotre yah, Hoki banget Day hari ini." Jawabku iseng sambil terkekeh.
"Kenapa Anak kamu bu? Tumben senyum-senyum terus dari tadi Ayah lihat." blas Ayah lirih.
"Anak kita diterima bekerja Yah. Di sebuah perusahaan besar katanya." jawab ibu sambil tersenyum.
"Tuhan memberkatimu Nak. Selamat Anakku." balas Ayah sambil segera memelukku yang sudag berdiri didepan pintu.
"Aduh ... Ayah ... malu. Nanti ada yang liatin." rengekku manja.
"Gpp. Kan ini Anaknya Ayah. Masa Ayah sendiri tidak boleh memeluk anaknya." Jawab ayah membalas.
Kami pun saling bertatapan dan tertawa. benar - benar hari yang cerah ku rasakan. Aku pun menggenggam tangan ayah dan ibu lalu mengajak mereka melihat laptopku. mengajak mereka membaca isi email tersebut bersama-sama. Ibuku hanya tamatan sekolah dasar, tapi ibu sudah bisa membaca dan menulis. sedangkan ayahku dulu sekolah hingga sekolah menengah atas atau lebih dikenal SMA, hanya saja ... ayah tidak lulus. Ayah berhenti bersekolah demi adik-adiknya.
Walaupun ayah dan ibuku bukan dari kalangan orang berada bahkan bukan orangtua dengan tittle sekolah ternama, tapi aku begitu bangga menjadi anak mereka. tanpa mereka aku tidak akan pernah lahir kedua ini. mereka segalanya bagiku. bahkan hingga kini pun, mereka hartaku yang tidak ternilai oleh appaun didunia ini. Mereka hidupku setelah anak-anakku.
*****
Jauh sekali lamunanku sampai akhirnya aku tersadar akan sesuatu hal.
Gawaiku berbunyi.
[Dimana kamu Day?] isi pesan dari Pradana.
[Dirumah Pra, ada apa?] balasku singkat.
[Day, kamu bisa kekantor sebentar? ada hal mendesak yang harus kamu lakukan. Aku kebinggungan.] balasnya lagi.
"Tumben banget ini Pradana ngirim pesan begini. Dia atasan kok malah binggung sih. pusing aku." gumamku lirih sambil menaikkan alis kananku. Ku ketik kembali pesan dilayar pipih tersebut.
[Iya Pra, satu jam lagi Day kesana.] balasku singkat.
Segera aku bergegas bangun dari rebahanku yang begitu nikmat. berlalu ke toilet dan mandi dengan segera. kali ini aku memilih memakai setelan santai. rasanya hari ini aku enggan memakai gamis. aku ingin sesuatu yang sedikit berbeda.
ku ambil setelan scuba lalu mengganti bawahan celananya dengan rok tutu tile berwarna putih gading. menggunakan blazer scuba berwarna senada dan memakai dalaman kemeja santai tanpa lengan berwarna baby blue. kali ini ku gunakan pasmina simple berwarna latte. masih menutup bagian dada namun lebih santai dari pada khimar panjangku seperti biasanya. hari ini aku ingin sedikit berbeda.
Sesampainya dikantor.
"Ada pesan untuk saya Ning?" tanyku kepada Ningrum sekretarisku.
"Ada bu. Tadi Pak Pradana mencari ibu. katanya klo sudah datang ibu bisa langsung menuju ruangan bapak saja. begitu pesannya." jawabnya lagi.
Aku mengangguk. meletakkan tasku. dan berjalan santai menuju ruangan Pradana yang berada tepat beberapa blok karyawan dari ruangan ku. ku ketuk pelan pintu kaca itu.
__ADS_1
Bersambung ....