
Jika kamu merindukanku, carilah aku didasar hatimu yang paling dalam.
Aku tidak kemana-mana, aku hanya tertindih diantara orang-orang yang kamu sayangi.
•┈••••○❁❁○••••┈•
"Masuk Day."
Jawab Pradana singkat. Lalu mengisyaratkaku agar duduk didepannya.
"Ada apa Pra? Ada masalah apa dikantor sehingga aku harus kesini? Kamu merusak hari liburku."
Balasku sambil memanyunkan bibirku.
"Gpp Day, Aku kangen aja pengen ketemu kamu."
balasnya cuek.
"Whaaaatttsss !!!!!! Kangen katanya?! dasar cowok aneh."
Gumamku dalam hati.
"Kenapa kamu bengong? Baper yaa denger aku bilang kangen?"
balasnya lagi sambil tertawa
"Ihh ... apaan sih Pra. Dasar aneh kamu. Buruan, aku harus ngapain kesini? Males banget ini mau ngantor serius deh."
Rengekku lagi.
Membuka laci. Mengambil sebuah amplop berkas berwarna merah maroon dan memberikannya kepadaku.
"Nih ... Kamu buka Day. Kamu harus melihat ini."
ucap Pradana kepadaku.
Ku ambil amplop tersebut dan segera membukanya.
Aku terdiam.
"Ada apa dengan rumah tangga kalian Day? Maafkan aku, tapi ini ku temukan tanpa sengaja. Seseorang mengirimiku ini dan aku harus memberikannya kepadamu. Ada apa dengan rumah tangga kalian Day? Kamu ingat apa pesanku dulu kepada kalian? Aku meminta dia menjagamu. Tapi apa ini?"
ucap Pradana lirih.
Aku terdiam. Tanganku bergetar hebat. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Itu foto pernikahan suamiku dengan perempuan itu. Rasanya dadaku sesak dan sakit sekali.
"Yaa Allah, apalagi ini? apa lagi yang diperbuat oleh suamiku dibelakangku?"
tanpa sadar airmataku menetes.
"Bisa ku tebak, suamimu tidak memberi tahu mu tentang ini kan? Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?"
tanya Pradana lagi.
Aku masih terdiam. Rasanya untuk berkata pun aku tak sanggup. Ku genggam erat foto-foto itu. Aku ingat tempat ini, tempat yang sama persis dengan foto saat itu. sebuah foto di kota Turky. Mereka tampak begitu mesra. Benar-benar momen indah dengan pemandangan yang indah.
"Yaa Allah, kuatkan aku."
hanya itu kalimat yang keluar terus menerus didalam kepalaku.
Aku tak sanggup lagi menahan rasa ini. Aku kalah. Aku menangis tanpa henti didepan Pradana. Rasanya harga diriku sudah teramat sangat hancur. Aku benar-benar kehilangan arah. Entah apa salahku hingga suamiku memperlakukan ku demikian.
Bahkan berkata kasar dan berkelakuan buruk dihadapannya pun aku belum pernah. Apalagi sampai meninggikan suaraku, sedikitpun aku tidak pernah. Tapi kenapa begini dia memperlakukanku. Aku benar- benar hancur karena perbuatannya.
"Kapan kamu terima ini Pra?"
hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku.
Diiringi sesegukan yang berusaha ku tahan, namun masih keliatan jelas didepannya. Aku benar-benar kacau oleh keadaan yang sedang ku hadapi saat ini.
"Seminggu yang lalu Day. Awalnya aku tidak ingin memberitahumu, tapi jika terus ku simpan, kamu yang akan semakin tersakiti."
jawab Pradana singkat.
Dia terus menatapku.
Pandangannya tak pernah lepas dariku. Aku sadar benar, dia bersikap iba kepadaku. Namun dia tak mampu berbuat apapun. Dia hanya diam menyaksikan semua hal yang terjadi didalam hidupku.
Begitulah Pradana. Dia hanya akan memberikanku nasihat dan berbicara kepadaku jika aku memintanya. Jika dalam keadaan seperti ini. Dia lebih memilih diam.
"Menangislah jika itu yang terbaik untukmu saat ini Day. Jangan tahan lagi apapun yang kamu rasakan. Luahkan semuanya karena jika kamu tahan akan berdampak tidak baik untuk dirimu. Menangislah. Aku disini."
Ucap Pradana lirih.
Tangisku kian menjadi. Benar-benar sudah tak tertahankan lagi. Aku benar-benar hancur. Hancur akan rasa cintaku yanag telah dihianati dan hancur karena kebodohanku yang dibutakan oleh rasa cinta yang penuh dengan kebohongan ini.
Entah lelaki macam apa yang ku nikahi. Ternyata bentuk luar tidak pernah menjamin bahwa sifat dan kelakuannya pun sama persis. Aku hanya mampu meratapi nasibku. Entah kenapa hari ini aku benar-benar menjadi perempuan yang lemah.
*****
"Sudah puas menangisnya Day?"
Tegur Pradana lembut kepadaku.
Aku baru sadar, ternyata hampir dua jam aku menguras seluruh air mataku untuk menangisi kebodohanku sendiri. Benar-benar kembali menjadi orang yang sangat lemah.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Pradana. Hampir habis isi tissue dimejanya ku gunakan untuk membersihkan air mata dan mengusap ingus yang juga ikut mengalir. Rasanya benar-benar berantakan bahkan memalukan. Tapi aku merasakan lega.
"Pra, pinjem toiletmu."
Ucapku lirih.
Pradana memberikan isyarat dengan mengangguk. Aku pun segera berjalan pelan menuju toilet. Rasanya wajahku butuh dibilas. Ditambah aku malu karena pasti benar-benar berantakan wajah dan juga penampilanku.
Ku basuh wajahku dan mengusap sisa air cucian dengan tissue. Lantas memperhatikan wajahku yang sudah merah padam dibagian mata, pipi dan hidung. Benar-benar berantakan. Aku benar-benar malu untuk kembali bertemu Pradana.
Ku perbaiki riasan makeup ku dan mengganti pasminaku yang sudah kotor karena airmata dan nod makeup yang bertaburan. Ku gunakan riasan yg sedikit tebal agar bengkak mataku tersamarkan. Cukup membantu walaupun masih terlihat.
"Sudah selesai nangisnya nyonya?"
Tegur Pradana ketika aku kembali ke dalam ruangan.
"Apa sih Pra, gak lucu deh. Puas kamu ya buat hatiku berantakan hari ini. Tega banget."
Balasku menjawab.
"Maafkan aku Day. Tapi hal bodoh ini harus kamu ketahui. Lantas bagaimana nasib pernikahanmu Day?"
tanya Pradana lagi.
Aku menggeleng.
"Aku gak tau Pra, yang pasti aku akan menemui mereka dan meminta penjelasan akan semua hal ini. Aku harus tau kebenarannya."
balasku lagi.
"Lakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan Day. In syaa Allah aku akan selalu membantumu. Tetap kuat wanita tangguh."
balasnya diiringi ledekan.
"Ahh ... Kamu Pra. Nyebelin."
Jawabku singkat.
"Kamu sudah makan belum Day? Ayo kita makan. Aku lapar sekali. Energiku rasanya habis karena mendengarmu menangis. Kamu merusak jam kerjaku Day."
ucap Pradana sambil melipat kedua tangannya kedada.
"Ihh ... Sahabat paling nyebelin kamu Pra. Jahat banget, ngeselin."
balasku manyun.
"Hahaha .... Ampun nyonya. Hayuk lah Day makan. Aku beneran lapar banget. Tadi gak sempet juga sarapan. Bi Atin sakit."
rengek Pradana lagi.
"Makanya Nikah Pra. Demen banget kamu ngejomblo sampai sekarang. Percuma cakep dan kaya tapi jomblo." ejekku lagi.
"Wahh ... Wahh ... Kejam kamu bawa-bawa status Day."
jawab Pradana sambil manyun.
"Udah ahh ... Hayuk Day. Makan. Aku lapar. Kamu mau makan dimana?" ajak Pradana lagi.
"Tempat yang bagus Pra. Rooftop mungkin. Suasana hatiku masih buruk. Aku butuh pemandangan segar agar mood ku membaik." jawabku singkat.
"Siap nyonya. Yukk ..."
ajak Pradana lagi.
Kami pun berlalu. Keluar ruangan dan berjalan beriringan menuju lobi dan mobil. Kali ini aku naik mobil Pradana. Mobil mewah yang diam-diam ku idamakan. Mobil sport dengan gagang pintu yang terbuka keatas. Mobil mewah dengan tempat duduk paling irit.
*****
Setelah selesai makan siang ...
"Pra, aku pamit pulang yaa ... Hari ini aku masih gak ngantor. Ada hal yang harus ku selesaikan."
jawabku singkat.
"Hati-hati Day. Jaga dirimu. Jika butuh apapun, kabari aku."
balas Pradana singkat.
"In syaa Allah Pra. Aku pamit dulu." balasku lagi.
"Perlu aku antarin pulang Day? Biar sekalian mampir?"
tanya Pradana pelan.
"Gpp Pra. Aku harus balik kekantor sebentar lalu ada tempat yang harus aku kunjungi. Aku pamit Yaa Pra ... Assalamualaykum."
jawabku mengakhiri obrolan.
"Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wabarakatuh Day. Fii Amanillah."
balas Pradana singkat.
Aku segera berjalan menuju pintu keluar restoran dan naik ke dalam taksi yang sudah berjejer rapi di pelataran restoran menunggu calon penumpang.
"Pak, antarkan saya ke alamat ini yaa."
sambil menujukkan kartu namaku.
"Baik buk."
Balas supir taksi.
Taksi pun berjalan memutar dan melesat membelah keramaian suasana siang hari. Hari ini cukup padat suasana jalan. Banyak mahasiswa yang sedang demontrasi sehingga ruas jalan tampak sempit karena desakan mobil dan angkutan umum serta kendaraan roda dua yang tidak mau saling mengalah.
Aku hanya diam menikmati pemandangan sesak ini. Lamunanku entah berjalan kemana. Aku hanya belajar menerima walau dengan hati yang cukup terluka hebat. Mungkin hari ini menjadi awal baru didalam kisah rumah tanggaku. Bisa jadi ini episode baru dalam kisah hidupku, Entahlah ...
Lamunanku semakin berlarian tidak menentu arahnya kemana . Aku tenggelam dengan pikiranku sendiri.
*****
"Kita sudah sampai bu."
Tegur supir taksi tersebut.
"Ohh ... Maaf pak saya melamun. Ini pak ongkosnya. Kembaliannya ambil saja."
jawabku singkat.
"Maa syaa Allah. Terlalu banyak ini neng kembaliannya."
Jawab pak supir taksi tersebut.
"Gpp pak saya gak punya uang kecil." balasku lagi.
"Maa syaa Allah, terima kasih banyak neng. Semoga amal kebaikn eneng dibalas sama Allah."
ucap pak supir lagi.
"Aamin Pak. Saya pamit pak. Terimakasih."
balasku mengakhiri obrolan.
"Terimakasih sekali lagi neng."
ucap pak supir sambil berlalu.
Aku segera berjalan cepat menuju ruanganku. Berjalan tergesa-gesa kedalam ruangan Pradana dan mengambil map berisi foto pernikahan A Rofie dan perempuan itu. Aku menggenggam erat tumpukan foto itu.
"Kenapa tega sekali kalian kepadaku? Entah apa salahku hingga kalian memperlakukanku seperti ini."
Air mataku kembali menetes.
Aku terluka sekali lagi.
Ku simpan foto-foto itu lalu kembali keruanganku. Ku ambil gawai dan segera mengetik cepat dibenda pipih itu. Menekan nama suamiku dan menelponnya. Hampir lima kali tut telpon berbunyi disana, namun tak kunjung disambut oleh pemiliknya. Ku matikan sambungan telepon itu.
Ku buka aplikasi whatsapp dan mencari nama suamiku di deretan chat masuk. terlihat namanya sedang online disana.
"Dia sedang menggunakan handphonenya tetapi kenapa telponku tidak diangkat."
aku meratapi nasibku yang malang.
lalu ku kirimkan pesan singkat kepada suamiku.
[Bismillah, Aa dimana? kenapa Day telpon tidak mengangkat?]
ku kirim pesan itu.
Lama sekali pesanku terlihat centang biru dua. padahal jelas status namanya terlihat sedang online. dua jam kemudian pesanku dibalasnya.
[Afwan neng, Aa sibuk pisan dimari. Naon neng?]
hanya itu balasan pesannya.
dua jam aku menunggu balasan pesannya namun hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
ku balas pesan itu.
[Kita harus bertemu A. Ada hal penting yang harus Day tanyakan sama Aa.]
balasku lagi.
[seminggu lagi kita bertemu yaa Neng. Sekarang Aa tidak sedang di Indonesia.]
balasnya singkat.
Tatapanku nanar dibuatnya. Ternyata benar dia sedang berbulan madu bersama isteri barunya. Air mataku kembali mengalir.
[Iya A. cepatlah kembali. kami merindukanmu.]
hanya itu yang mampu ku ucapkan melalui pesan singkat ini.
[Iya sayang. Aa pasti akan cepat kembali. Tunggu Aa.]
balasnya lagi.
Hatiku tercabit bahkan tersayat-sayat rasanya. Ibarat sebuah gelas kaca, aku seperti sudah remuk hingga ke dasar. Hancur berantakan dan berserakan dilantai. Hatiku benar-benar sakit. Tapi aku harus bertahan. Aku harus dapatkan jawaban yang harus aku temukan.
*****
Seminggu kemudian.
Gawaiku berbunyi.
[Sayang, kamu dimana? Aa ingin menemuimu.]
Isi pesan singkat itu.
Ku tatap layar gawaiku dengan nanar.
Ku abaikan pesan itu.
Semenjak kejadian kemarin. Aku serasa sudah berubah menjadi orang lain. Seakan mati padahal nyatanya aku masih hidup. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Namun sekat menghadangku. Aku kehilangan tujuan untuk bertahan.
15 menit kemudian ...
"Triing ... Triiingg ... Triingg ...."
Gawaiku tak berhenti berbunyi. Aku tau benar itu nada pesan. Namun aku masih terus mengabaikannya. Ku sibukkan diriku dengan laporan dan reschedule lagi dengan klien. Bahkan hingga waktunya pulang pun aku masih tidak menyentuh gawaiku. Aku benar-benar muak.
*****
Setibanya dirumah. Ku hempaskan tubuhku dikasur. Rasanya aku hanya ingin tidur. Ku ambil gawaiku didalam tas dan menatap layarnya. Banyak sekali pesan yang masuk dari suamiku. Dan berpuluh kali dia menelponku namun ku abaikan dari pagi.
Ku genggam benda pipih itu dan melihat layarnya. Entah kekuatan apa yang membimbing naluriku, lalu tiba-tiba saja tanganku bergerak membuka aplikasi instagram dan mencari nama yang sudah serasa ku hafal diluar kepala.
"Puspa Ningsih."
Nama gadis cantik itu selalu terngiang dikepalaku hingga saat ini. Jemari lentikku mulai berselancar ke akunnya. Dan banyak hal mengejutkan yang ku dapatkan disana. Beberapa updatean di story instagram dan juga beberapa foto mengejutkan yang tidak akan pernah ku lupakan hingga kapan pun. Benar ...
Disana dia memperlihatkan foto pernikahannya yang sakral bersama suamiku.
Hatiku tercabit-cabit. Hatiku bernanah dan terluka sangat parah. Aku meperhatikan semua foto yang diuplode olehnya, disana bisa ku perhatikan betapa bahagianya wajah suamiku berada disampingnya. Dia memeluk erat isterinya itu dan juga mencium mesra kening dan pipi isterinya dengan tanpa terlihat guratan beban dan penyesalan diwajahnya.
Bahkan juga terlihat disana mereka sedang berbulan madu ditempat yang indah. berpose sedang bergenggaman tangan di sebuah balkon. bahkan juga foto tangan yang sedang bergenggaman dengan terlihat sepasang cincin melingkar dijari keduanya. benar-benar pemandangan yang luar biasa namun membunuhku seorang isteri sah yang tidak tahu menahu akan pernikahan kedua suamiku.
Lucu sekali Rasanya.
Aku juga menemukan sebuah vidio ketika mereka sedang melangsungkan akad nikah. Ku lihat disana wajah suamiku begitu terlihat tampan dan maskulin dengan balutan pakaian khas timur tengah. Dia menggunakan jubah yang sangat indah. Dimana semakin memperlihatkan ketampanannya dengan senyuman hangatnya itu. Terlihat perempuan itu begitu bahagia ketika semua saksi menyatakan bahwa pernikahan mereka sudah sah.
Tanpa sadar air mataku mengalir.
ku lihat senyum diwajah cantiknya itu kian mengembang. dia terlihat begitu cantik dengan balutan gaun mewah dan juga riasan makeup yang begitu cantik. sejenak aku terpukau dengan kecantikannya. Ku akui, dia benar-benar cantik diacara pernikahannya itu. Mereka benar benar seperti sepasang raja dan ratu yang sedang merayakan hari bahagianya.
Tanpa sadar kembali air mataku menetes, Aku sudah tak mampu menahan rasa sesak didalam diriku. Aku kembali menangis sejadi-jadinya. jika bisa saat itu nafasku berhenti, aku ingin menghentikan aliran nafasku. rasanya aku benar-benar sudah tak sanggup untuk menerima kenyataan didalam hidupku ini.
Namun aku harus bertahan demi ketiga anakku. Aku harus bertahan dengan semua hal menyakitkan yang ada disekelilingku ini.
Aku harus kuat.
*****
Dua Jam kemudian ...
"Astagfirullahaladzim ... Jam berapa ini."
Aku tersentak. Ternyata karna terlalu lama menangis aku tertidur.
__ADS_1
Ku lihat jam di dinding kamarku.
"Maa syaa Allah sudah jam 7 malam." Aku pun bergegas bangun dan segera berlari ke toilet untuk mandi.
setelah selesai mandi, aku sengaja segera berwudhu dan membaca beberapa lembar isi mushabku sambil menunggu waktu shalat isyaa' tiba. ketika waktu shalat telah tiba, aku segera mengakhiri bacaan mushabku dan segera shalat isyaa'.
setelah selesai shalat aku segera keluar dan turun kebawah untuk bertemu dengan anak-anakku. semenjak kejadian kemarin. Aku benar-benar kurang memperhatikan ketiga anakku. Aku lebih sibuk dengan duniaku sendiri.
Aku sengaja mengalihkan pikiranku agar tak terus larut dengan kesedihan. Ketika aku sudah turun ke ruangan bawah, Aku dikagetkan oleh kedatangan Pradana disana. Ternyata dia sedang bermain bersama Zahra. Aku segera menghampiri mereka.
"Pra? ngapain kamu disini."
tanyaku heran.
Lelaki itu menatapku dan segera berkata.
"Dimana Hijabmu Day?"
balasnya singkat.
Aku tersentak.
"Maa syaa Allah, aku lupa memakainya."
Aku pun buru-buru keatas lagi dan mengganti pakaianku dengan gamis dan khimar. Lalu kembali segera turun kebawah menemui pradana lagi.
"Nah gitu kan cantik."
tegurnya lagi sambil melihat kearahku.
"Apaan sih kamu. Gombal banget." balasku lagi.
Dia hanya tersenyum.
"Serius ini Pra, aku nanya, kamu ngapain kesini?"
tanyaku lagi.
"Gatau, pengen aja."
balasnya singkat.
"trus kok gak ngabarin aku kamu?" tanyaku lagi.
"Gaa Ah. aku pengen kasi kejutan." jawabnya sambil nyengir.
"dih kamu ..."
balasku lagi.
"kamu mau minum apa pra?"
tanyaku basa basi lagi.
"nih .. bi Arum udah ngasiin aku minum."
jawabnya sambil menunjuk kearah segelas jus jeruk.
" hmm .. oke lah."
balasku singkat sambil duduk menghadap si kembar.
"Assalamu'alaykum anak-anak cantiknya mami?"
tegurku kepada Zura dan Yura.
Tampak kedua nya melihatku sambil tersenyum. namun masih sibuk menghisap jempol dan juga mengunyah mainan teether yang ada digenggamannya masing-masing. terlihat air liur yang berserakan didagu dan juga bagian leher baju mereka. lucu sekali. Ku ciumi keduanya.
"Kakak sedang apa nak?"
ku tegur juga anakku Zahra yang sedang asik bermain bersama Pradana.
"mewarnai bunga mami. oom beliin kakak pensil warna baru. look mami." balasnya lagi sambil memperlihatkan sekotak besar krayon warna warni.
"ngapain kamu beliin Krayon sebanyak ini buat Zahra, Pra?"
tanyaku lagi.
"Aku suka anak kecil Day. Beruntungnya anak bule mu ini salah satunya."
jawab pradana sambil nyengir.
" hahahha ... Bisa aja kamu Pra."
aku hanya tertawa mendengar jawaban pradana.
kami pun larut dengan menemani anak-anakku bermain. dan tanpa sengaja sudah dua jam berlalu. Zahra pun sudah mulai rewel karna mengantuk, begitu juga salah satu anak kembarku Yura karena ternyata Zura sudah tertidur pulas didalam kursi bayinya. ku gendong Yura dan menepuk-nepuknya pelan popok bagian belakangnya lalu akhirnya Yura pun tertidur.
Sementara Zahra, ternyata sudah tertidur didalam pelukan Pradana. Aku pun memanggil bi Arum agar membantu mengangkat Zahra kekamar. Dan aku pun membawa Yura menuju kamar tidurku dan Pradana juga membantuku mengendong Zura.
Pradana tidak masuk kedalam kamarku. Dia hanya berdiri diluar kamar sambil mengendong Zura. Lalu setelah meletakkan Yura di tempat tidur, lalu aku keluar menghampiri Pradana dan mengambil putriku untuk meletakkan nya dikamar tidur juga.
"Terimakasih Pra sudah membantuku menjaga ketiga anak-anakku." tegurku memulai pembicaraan.
"gpp Day. kebeneran juga aku disini." balasnya singkat. kami kembali keruang tamu.
"Aku pamit yaa Day, gaa enak juga bertamu terlalu malam. sudah jam segini juga."
ucap Pradana sambil melirik kearah arloji di lengannya.
"Iya pra."
jawabku singkat.
Pradana pun pamit dan berlalu. Aku pun kembali ke lantai atas dan menutup pintu. Lalu berbaring disamping anak-anakku yang sudah terlelap. Aku memeluk Zahra. Mengusap kepalanya dan mencium keningnya.
"Maafkan mami nak, mami belum mampu menjadi ibu yang baik untuk kamu."
ucapku lirih.
Lalu ku pejamkan mata berusaha untuk tertidur. namun tiba-tiba gawaiku diatas nakas berbunyi. ku ambil gawaiku dan menatap layarnya. tertulis disana nama suamiku. lalu ku angkat telpon itu.
[Assalamualaukum sayang, sedang apa kamu?]
sapa suamiku membuka pembicaraan.
[waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh a. Day mau tidur, ada apa a?]
balasku singkat.
[Alhamdulillah. gpp neng, aa cuma rindu. kamu kemana saja, kenapa sulit sekali Aa menghubungi kamu?" tanyanya lagi diujung telpon sana.
[gpp a, kebeneran Day sedang sangat sibuk dengan pekerjaan tambahan sekarang. klien semakin banyak.] jawabku berbohong.
[Neng, Aa didepan. buka pintunya sayang.]
balas suamiku lagi.
Aku terkejut. lalu segera bangun dan membuka pintu. Tampak suamiku berdiri dihadapanku.
"Assalamualaykum sayang."
tegurnya lalu memelukku.
Aku terkejut lalu hanya diam mematung ketika suamiku memelukku. Aku kembali terdiam tidak percaya dengan apa yang ku lihat barusan.
"Aa merindukamu sayang."
tegurnya lagi berbisik ditelingaku.
lalu suamiku mencium keningku. Aku kembali terdiam. dan hanya menatap wajah suamiku. disatu sisi aku sangat merindukannya. namun disisi lain, ada sebagian anggota tubuhku yang menolak kehadirannya.
suamiku mulai memelukku. menciumi leherku dan menarikku untuk duduk diatas kasur singelnya yang menjadi tempat biasa dia ketika tidur dimalam hari. Dia menatapku lagi, menyentuh pipiku dan membelai rambutku.
"Demi Allah, Aa merindukanmu neng. bolehkah aa mencium bibirmu?" tanya suamiku lagi.
Aku hanya diam menatapa wajah suamiku. lalu suamiku mendekatkan wajahnya ke arah wajahku lalu mencium pelan bibirku. Aku hanya diam dan tidak merespon suamiku. entah kenapa aku seolah-olah hilang rasa untuk bercumbu mesra dengannya.
Suamiku mulai menciumi ku lagi. lalu mulai menyentuhku beberapa bagian tubuhku. Aku ingin membalas apa yang suamiku lakukaan kepadaku. namun sejujurnya teringat betapa sakitnya dia memperlakukanku dan semua kebohongan yang telah dia perbuat, aku pun hanya diam saja tidak membalas apapun yang diperbuat oleh suamiku.
Akhirnya suamiku dan aku pun berhubungan selayaknya sepasang suami dan isteri. Ku akui, dia benar-benar terlihat tampan malam itu. Bahkan gayanya dalam berhubungan pun tampak sangat berbeda.
Suamiku benar-benar membuatku kelelahan hingga subuh hari. Hampir beberapa kali kami mengulang hal itu karena keinginan suamiku yang mengebu-gebu. Dia benar benar seperti seseorang yang sangat merindukan dekapan tubuhku.
Malam itu, aku hanya sekedar melakukannya sebagai kewajibanku sebagai seorang isteri, tidak terbesit sedikit pun rasa bahagia yang ku rasakan. Aku benar-benar seperti mati rasa. Rsa kecewaku sama sekali belum sembuh.
Setelah waktu subuh hampir tiba. Aku memberanikan diri mengutarakan isi hatiku kepada suamiku. Ku beranikan diri untuk memulai bertanya kepadanya.
"Aa, bolehkah Day bertanya?
tegurku pelan kepada suamiku.
"bertanya apa neng?"
balasnya lagi sambil masih memelukku dari belakang.
"Apakah Aa masih mencintai Dayana?"
tanyaku lagi.
"Kamu pasti sudah tahu jawabnnya sayang, Aa sangat mencintaimu." jawabnya lagi.
"Benarkah A?"
tanyaku lagi.
jawabnya singkat sambil menciumi belakang leherku.
"Pernahkah Aa berbohong kepada Day a?"
tanyaku hati-hati.
Suamiku menarikku agar menghadap kepadanya. Sekarang posisinya aku sedang melihat langsung wajahnya.
"Kenapa bertanya demikian sayang? Kebohongan apa yang Aa perbuat sama kamu?"
balasnya bertanya.
Dia terus menatap wajahku menunggu jawaban.
"jujurlah a ..."
balasku lagi.
suamiku lalu mengajakku untuk bangun dan menyandarkan bantal ke dinding di bagian kepala kasurnya. lalu dia menegurku kembali.
"Apakah ini yang mengusikmu dari semalam sayang? Sehingga kamu hanya diam dan tidak membalas cumbuan Aa?"
balasnya singkat sambil menyentuh daguku dengan tangannya.
"iya."
jawabku singkat sambil menunduk.
"Nanti pagi kita bicarakan hal ini yaa. Sekarang Aa hanya ingin bersamamu. Aa hanya ingin tidur memelukmu. Menikmati aroma tubuhmu dan bercumbu mesra denganmu." balasnya lagi lalu mengajakku berbaring kembali dan dia memelukku erat lalu mencium keningku.
Aku mengangguk. Ku peluk erat tubuh suamiku. Walau bagaimanapun, ada sebagian inginku yang merindukannya. Ditambah lagi karena semalaman tenagaku cukup habis terkuras untuk melayani suamiku. ada rasa lelah dan kantuk yang ku rasakan. lalu kami kembali tertidur.
*****
Pagi harinya ...
"Selamat pagi sayang. Bangunlah, hari sudah pagi."
sapa suamiku sambil mencium keningku.
Aku hanya menatap wajahnya tidak percaya. bagaimana bisa suamiku dengan santai berada dirumahku dari semalam tanpa terganggu bahkan dicari oleh isteri keduanya. Aku larut dengan pikiranku sendiri. Aku hanya membalas sapanya dengan senyuman.
Suamiku lalu mencium keningku lagi lalu berlalu kearah toilet. Aku segera bangun dan memakai pakaianku. Aku duduk di ujung kasur dan menatap ketiga anakku yang masih larut dengan mimpi mereka. lalu tidak beberapa lama, suamiku keluar dari toilet dan duduk disampingku.
"Apa yang mau kamu tanyakan sayang? Tanyakan lah."
tegurnya lembut sambil membelai rambutku lembut.
Aku menatap wajahnya. lalu mulai berkata
"Aa, benarkah Aa sudah menikah lagi tanpa meminta izin dari Day? kenapa a? apa kekurangan didalam diri ini sehingga Aa berbuat demikian?" tanyaku pelan.
suamiku menghembuskan nafasnya cukup panjang. Mengatur ucapannya lalu segera berkata.
"Maafkan Aa neng. Tapi itu harus Aa lakukan. Aa harus menyelamatkan usaha kita dan menikah dengannya adalah salah satu solusinya. Aa terpaksa harus menikahinya tanpa meminta izinmu."
balas suamiku menjelaskan.
Aku terdiam.
terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tetesan air mataku yang menjadi perwakilan dari isi hatiku. lantas suamiku memelukku dan berusaha menenangkanku. Hanya isak tangis yang terdengar disini. Aku sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. rasanya lidahku kaku untuk berkata. Aku kehabisan kata-kata untuk menjawab.
"Maafkan Aa neng. Aa sadar Aa salah tapi itulah kenyataan yang ada. Hanya menikah dengannya menjadi solusi dari masalah Aa sekarang neng. Usaha Aa hampir bangkut beberapa waktu lalu dan dia menawarkan bantuannya dengan syarat Aa harus menikahinya. Kamu ingat Aa pernah berkata bahwa Aa merasakan kenyaman bersamanya beberapa waktu yang lalu? ternyata itu semua hanya godaan sesaat, setelah Aa terhimpit masalah Aa baru menyadari bahwa semua yang telah Aa perbuat adalah salah. lalu aa ingin kembali, Namun sudah terlanjur salah dan akhirnya usaha Aa hampir bangkrut karena Aa terlena dengan semua hal. Maafkan Aa neng. begitu banyak dosa dan kesalahan yang sudah Aa perbuat kepadamu. Apakah masih ada maafmu untukku sayang?" Jelas suamiku kepadaku.
Suamiku tampak terlihat menahan beban yang sama namun dia hanya diam dan berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja dihadapanku. Aku bisa merasakan ada hal lain yang di tutupi oleh suamiku.
Aku hanya terisak dan makin terisak. Aku menangis didalam pelukan suamiku. rasanya aku lemah dan tak mampu lagi untuk berkata apapun. aku hanya ingin menangisi kisahku yang menyedihkan ini.
"Maafkan aa sayang. Maafkan Aa." hanya itu jawaban suamiku sambil memelukku dengan erat.
*****
Setelah hari sudah agak siang, suamiku berpamitan untuk pulang kerumah isteri keduanya. Aku hanya mencoba tersenyum dan menerima rasa pahit yang di torehkan oleh suamiku ini. Aku lebih banyak diam dan tidak banyak berbicara.
"Neng, Aa pamit pulang kerumah Puspa. Apakah kamu mengizinkan?" tanya suamiku.
Aku kembali melihat kearah wajahnya. Menatap dalam-dalam wajah suamiku. Sungguh hatiku tak ikhlas menerima kenyataan ini. Aku kembali tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan bahwa aku mengizinkan suamiku untuk pulang kerumah isteri keduanya.
Suamiku menghampiriku. Mencium keningku agak lama. Lalu mencium kedua pipiku bergantian. Mencium punggung tanganku. Dan memelukku erat. Lalu dia berbisik kepadaku.
"Aa berjanji Neng, Aa akan menyelesaikan ini semua segera. Kamu harus menungguku Neng. Jangan pernah meninggalkan aku." begitu ucap suamiku.
Aku kembali terisak. Kembali menangisi kekalahanku. Menangisi kehidupanku yang berjalan tidak pernah sesuai dengan apa yang aku inginkan. Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan dulu ketika mengenalmu, namun entah kenapa hal seperti ini yang harus aku alami.
Suamiku kembali menyentuh pipiku dan mengusap genangan air mataku. Dia menyentuh lembut pipiku. Dan berusaha menenangkanku.
"Bersabarlah sayang. Maafkan Aa karena gagal menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan Aa atas semua hal buruk yang terjadi didalam pernikahan kita ini. Aa tidak akan pernah menceraikanmu. Tunggulah Aa sayang. Bertahanlah sedikit lagi."
ucapnya lagi.
Aku hanya mengangguk. Entah itu respon menerima ataupun itu respon menolak, bahkan aku pun sulit menafsirkannya. Yang aku tau, hatiku sudah hancur berkeping-keping. Rumah tanggaku sudah mulai terombang ambing. Seakan aku merasakan bahwa suamiku tidak pernah menyadari keberadaanku dihadapannya, padahal aku ada didepannya.
"Aa pamit sayang. Mau kah kamu mengantarkan Aa kedepan pintu?" pinta suamiku.
"Iya A."
jawabku singkat. Lalu ku hapus air mataku.
Kami pun bersama-sama keluar kamar dan berjalan beriringan kebawah. Suamiku tak berhenti mengenggam jemariku. Seakan begitu takut kehilanganku. Namun nyatanya, perbuatannya itu sudah cukup membuatku hilang sebagian dari dalam hidupnya.
Dia mencium keningku lagi.
"Aa pamit sayang. Assalamu'alaykum." tegurnya lirih.
Aku mencium lama punggung tangan suamiku.
"Iya Aa. Fii Amanillah suamiku." jawabku pelan.
Suamiku lalu berlalu dan masuk kedalaam mobil. Segera menghidupkan mobil dan berjalan keluar dari pekarangan lalu menghilang dibalik pagar rumah.
"Yaa Allah, kuatkan aku."
Air mataku kembali menetes.
Lalu ku tutup pintu segera dan berjalan lemas ke sofa ruang tamu.
Ku hempaskan tubuhku ke sofa dan aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Kembali menangis sejadi-jadinya. Aku benar-benar tak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
Tiba-tiba gawaiku berbunyi.
Ku lihat dilayar gawaiku. Ada pesan masuk dari Pradana. Lalu ku buka pesan singkat itu.
[ Day, hari ini ada meeting dadakan ke singapore, bisakah kamu menghandle ini? Kita berangkat jam 4 sore. Kamu bisa hadir? ]
isi pesan Pradana.
Ku tatap lama layar gawaiku masih dengan menangis dan mata sembab. Lalu ku ketik cepat membalas pesan Pradana.
[Oke Pra. Aku siap-siap dulu disini. Berapa lama kita disana?]
balasku dipesan.
[seminggu kita disana Day. Kita berangkat berlima. Aku sudah memberikan arahan kepada sekretarismu untuk mempersiapkan semua data yang kita butuhkan nanti. Kamu datanglah segera. Kita bertemu dibandara.]
balasnya lagi.
[oke Pra. Aku siap-siap dulu.]
balasku singkat.
Segera ku hapus air mataku. Mengatur suaraku agar tidak terlihat habis menangis lalu aku Memanggil Bi Arum dan memberikan beberapa pesan kepadanya.
"Bi, Day akan berangkat keluar kota. Mungkin sekitar seminggu, dan nanti Day akan hubungi baby sitter lain untuk membantu bi arum dirumah. Day titip rumah dan anak-anak yaa bi. Dan jika ada yang mencari Day atau siapapun, katakan Day tidak disini. Dan jika Bapak datang, katakan Day sedang dinas keluar kota. Oke bik?"
jelasku kepada bi Arum.
"Baik bu."
jawab bi Arum sambil mengangguk.
Aku pun segera naik ke atas kamar. Mempersiapkan koperku dengan beberapa pakaian dan barang-barang lainnya agar tidak ada hal penting yang tertinggal atau terlupa. Lalu bergegas mandi dan segera shalat dzuhur. Akhir-akhir ini ibadahku sudah mulai sering bolos. Aku benar-benar sering lalai semenjak suasan hatiku memburuk.
*****
16.00 WIB
[Kamu dimana Day? Jangan bilang kamu telat.]
isi pesan Pradana kepadaku.
[Aku didepan Pra. Diparkiran.] balasku singkat.
Lalu aku segera mempercepat langkahku. Berlarian secepatnya menuju boarding pass room. Ku lihat Pradana dan yang lainnya sudah berkumpul disana.
"Afwan Pra. Aku agak telat. Tadi Zahra drama banget gamau ditinggal. Aku harus membujuknya agar tidak menangis. Maafkan aku."
ucapku dengan nafas agak ngos-ngosan karena berlarian menuju kesini.
__ADS_1
"Kebiasaan kamu Day."
balas Pradana ketus.
"Maa syaa Allah, galaknya pak bos. Afwan Pak bos."
jawabku sambil nyengir.
Pradana tertawa.
"Hayuk semua, sebentar lagi pesawat kita take off."
ucap Pradana.
Kami pun buru-buru boarding dan masuk serta menuju tempat duduk masing-masing. Ternyata tempat dudukku sebelahan dengan Pradana. Dan kali ini aku beruntung. Aku duduk tepat disebelah jendela pesawat. Setidaknya banyak hal menarik yang bisa ku perhatikan ketika nanti pesawat sudah berangkat.
"Day, tukeran dong aku disitu."
pinta Pradana merengek.
"Enak aja kamu Pra. Gamau."
balasku gamau kalah.
"Payah kamu Day. Pelit banget."
balas Pradana merajuk.
"Bodooh ahh ... "
balasku mengejek.
Begitulah kami ketika bertemu. Hanya dikantor kami akan bersikap formal. Namun ketika bertemu diluar, sudah mirip seperti tom dan jerry yang akan selalu berantem dengan hal tidak penting disekeliling kami.
Tapi aku nyaman bersahabat dengan pradana, selain dia baik dan tampan, menurutku dia lelaki sholeh, sekalipun sikapnya itu dingin ke wanita lain, namun tidak kepadaku. Aku sudah mengenalnya semenjak bangku kuliah. Dan dia lelaki aneh yang sudah lama ku kenal. Lelaki jutek yang akan berbicara pedas ketika berhadapan dengan perempuan lain. Namun menjadi sosok yang hangat ketika bersamaku.
Aku sempat beberapa kali ingin menghajar Pradana. Salah satunya ketika kejadian dimana dia menghina pakaianku dikantin. Didepan semua orang dia mengeluarkan kalimat yang menurutku keterlaluan. Jika tidak ditahan oleh teman disebelahku. Mungkin sudah ku siram wajahnya dengan semangkuk kuah bakso berisi cabe.
Bahkan dia juga sering mengolok-olok tubuhku yang pendek. Katanya jika aku berdiri disebelahnya, hidungku akan menempel di ketiaknya karna terlalu pendek, kejam sekali dia. Bahkan dia pernah membuatku menangis selama seminggu karena diam-diam dengan sengaja membaca buku harianku.
Intinya dia lelaki usil yang selalu membuatku emosi. Tapi jika berjauhan dengannya, aku akan sangat merindukannya. Seperti seorang kekasih yang kehilangan pasangannya.
Lucu sekali.
*****
Aku mulai melamun dan lebih banyak diam. Menempelkan earphone ditelinga dan menikmati alunan murottal di gawaiku. Tiba-tiba ku rasakan ada sesuatu yang menempel dipundakku. Ku lirih kearah pundakku. Ternyata Pradana tertidur disana. Sebagia kepalanya menempel dipundakku.
Ku lirik Pradana.
"Tampan juga dia ketika tertidur. Aroma parfumenya juga enak dan lembut, aku suka."
gumamku dalam hati.
Lalu aku tersentak.
"Astagfirullahaladzim Dayana. Apa yang kamu pikirkan. Jaga pandanganmu."
segera ku tepuk jidatku dan menggeser kepala Pradana dari pundakku.
Tiba-tiba Pradana berucap.
"Jangan digeser Day. Numpang rebahan dipundak bentar."
ucapnya dengan mata tertutup.
"Yee ... Enak aja. Sana gih. Bukan mahrom."
balasku lagi.
"Dih emak-emak galak bener." balasnya lagi dengan manyun. Lalu menggeser kepalanya ke arah yang lain dan melanjutkan tidurnya.
Aku terkekeh melihat kelakuan Pradana. Lalu kembali melanjutkan lamunanku. Tanpa sadar, aku pun ikut tertidur.
****
Satu jam kemudian ...
"Day bangun."
tegur Pradana menggagetkan.
"Astagfirullahaladzim ... Afwan, Afwan ... Ketiduran."
jawabku sambil memperbaiki hijabku.
"Buru Day. Hayuk turun."
ucap Pradana lagi.
Kami pun segera keluar dari pesawat. Dan kembali berkumpul di lobi bandara.
"Ning, sudah kamu pesan kan kamar hotel kita."
tanya Pradana kepada sekretarisku.
"Sudah pak. Apa bapak mau kita segera menuju kesana?"
tanya Ningrum sekretarisku.
"Iya, kita segera kesana. Saya lelah. Saya ingin isturahat sebentar."
jawab Pradana datar.
"Baik Pak."
jawab Ningrum singkat.
Kami pun segera berangkat menuju hotel.
*****
Setibanya dihotel.
"Day, aku mau kekamar ku dulu. Kebeneran Kamar kita sebelahan. Kamu mau langsung ke atas apa gimana?"
tanya Pradana kepadaku.
"Iya Pra. Aku juga pengen istirahat. Capek banget ini."
jawabku singkat.
"Oke yang lain. Kita ke kamar masing-masing nanti jam 7 malam, kita bertemu di ruang meeting."
ucap Pradana kepada kami.
"Baik Pak."
ucap kami berempat serentak.
Kami pun berpencar menuju kamar masing-masing. Berhubung aku dan Pradana bersebelahan kamar. Kami barengan naik lift menuju kamar hotel.
Tiba-tiba Pradana menegurku.
"Day, masih sedih?"
tegurnya sambil menatapku.
Aku kaget. Ku tatap kembali wajah Pradana.
"Gak kok Pra. Aku baik-baik saja." jawabku singkat.
"Klo kamu butuh apapun. Kabari aku Day. Jangan sungkan."
balas Pradana lagi.
"Siap bos."
balasku sambil tersenyum.
Pradana menepuk lembut kepalaku yang tertutup khimar.
"Dasar cewek sok tangguh."
ucapnya lagi.
"Ihh ... Dasar jerapah rusuh."
balasku mengejek.
"Wahh ... Wahh ... Main fisik. Ngajak perang kamu yaa."
jawab Pradana sambil senyum mengejek.
"Hahaha ..."
balasku tertawa.
"Becanda Ah ... Dasar kamu. Sensitif banget kayak cewe lagi PMS."
ledekku lagi.
Pradana menatapku jengkel.
Lalu pintu lift terbuka.
Ketika kami berjalan menuju kamar. Tanpa sengaja kami berpapasan dengan seorang perempuan yang sepertinya ku kenal.
Aku melihatnya dengan hati-hati.
"Ternyata benar. Itu puspa ningsih. Tapi sedang apa dia disini?" gumamku dalam hati.
Lalu aku pura-pura tidak melihat perempuan itu karena dia sudah hilang masuk kedalam lift yang turun.
Pradana menegurku.
"Ngeliat siapa kamu barusan Day? Gitu amat merhatiinnya."
tanya Pradana penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa Pra. Sepertinya aku salah orang. Aku pikir temenku waktu di sidney dulu."
jawabku berbohong.
Lalu kami melanjutkan perjalan menuju kamar. Dan berpisah untuk masuk ke kamar masing-masing. Ku letakkan koper ku disamping nakas. Lalu menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk itu.
"Benarkah itu puspa ningsih? Lalu dengan siapa dia kesini? Apakah dengan suamiku."
hatiku mulai bertanya-tanya.
Lalu ku ambil gawaiku dan mengirim pesan kepada suamiku.
[Bismillah, Aa, Aa dimana sekarang?] begitu isi pesanku kepada suamiku.
Cukup lama pesanku dibaca. Mungkin sekitar 15menit aku menunggu, baru pesanku dibalas olehnya.
[Aa sedang meeting sayang. Nanti Aa hubungi lagi kamu.]
balas suamiku singkat.
Disatu sisi aku muak dengan sikap suamiku, dimana ketika aku bertanya selalu alasan pekerjaan yang dia berikan kepadaku. Aku pun membalas pesannya dengan malas.
[Oke a. Nanti kabari Day segera jika kita sudah bisa ngbrol.]
balasku singkat.
Aku pun bangun dari kasur lalu segera berjalan menuju toilet. Badanku terasa lengket. Aku ingin mandi agar lebih segar. Setelah selesai mandi aku segera shalat. Shalat ashar ku terlewatkan lagi waktunya. Setelah selesai shalat, ku sempatkan membaca mushabku. Dimanapun aku berada, mushab tidak akan pernah aku tinggalkan, pasti akan selalu ku bawa kemana-mana.
*****
19.00 WIB
Gawaiku berbunyi.
Ku ambil gawaiku dan melihat layarnya. Nama ningrum tertera disana. Lalu ku angkat telpon itu.
[Assalamu'alaykum bu.]
sapa Nigrum membuka obrolan.
[Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh ning. Ada Apa?]
Tanyaku kepada Ningrum.
[Maaf bu menganggu waktu istirahatnya. Kita tidak jadi meeting hari ini karna Pak robert berhalangan hadir. Dan meeting dilanjutkan besok bu sekitar jam 9 pagi.]
Jelas Ningrum kepadaku.
[Oke ning. Terimakasih sudah memberi kabar.]
jawabku singkat.
[Baik bu. Dan selamat malam. Assalamualaykum.]
balas ningrum mengakhiri telpon.
[Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh ning. Terimakasih.]
Ku tutup sambung telepon dan memandang layar gawaiku.
Banyak sekali pesan dan telpon dari Pradana.
Lalu ku buka satu persatu pesannya.
Ternyata dia dari tadi mengabari ku bahwa kami tidak jadi meeting hari ini. Lalu ku letakkan gawaiku. Tiba-tiba bel kamarku berbunyi. Aku segera berjalan menuju pintu lalu membuka pintu. Tampak Pradana disana sedang berdiri.
"Day, makan yuk. Aku lapar." rengeknya sambil memelas.
"Iya ntar ya. Sebentar lagi waktunya shalat isyaa' nih soalnya."
balasku kepada Pradana.
"Oke Day. Aku shalat di kamar saja. nanti aku kembali lagi. Kamu ku chat banyak-banyak gak direspon." jawabnya lagi.
"Afwan Pra. Dari tadi aku gak ada megang hp soalnya."
jawabku singkat.
"Iyaa deh. Aku balik kamar lagi ya." jawab Pradana lagi.
"Oke Pra."
balasku singkat.
Pradana pun berlalu. Lalu aku menutup pintu kamarku. Dan segera berwudhu lalu kembali melanjutkan bacaan mushabku sambil menunggu waktu shalat isyaa'. Setelah selesai shalat, aku segera mengganti pakaianku.
Kali ini aku menggunakan gamis berwarna gold mustard. Bagian rok nya terlihat indah karena terdapat banyak tambahan renda bermotif bunga tile dan juga tambahan renda glitter. Kali ini gamisnya terlihat cukup mewah. Ditambah lagi aku memakai khimar berbahan siffon. Aku cukup terlihat anggun di cermin.
Lalu ku gunakan makeup agak sedikit tebal dibagian mata. Malam ini aku ingin bermakeup gaya flawless namun terkesan bold. Memakai lipstik berwarna merah terang. Dan memakai beberapa cincin di jemari ku.
Lalu ku lihat sebuah cincin berlian melingkar di jari manisku. Sudah lama sekali cincin itu melingkar dijariku. Itu cincin pernikahanku bersama A Rofie. Aku mengusap lembut cincin itu. Lalu memakai cincin yang lain di jari telunjukku dan memakai beberapa cincin di jari kiriku. Memakai sebuah gelang berlian di tangan kananku. Dan memakai sebuah tas tangan kecil sebagai tambahannya.
Aku mematung melihat pantulan ku di cermin.
"Yaa Rabb, apakah kekurangan didalam diriku sehingga suamiku berbuat dzolim terhadapku?"
Bathinku berucap.
Aku menatap cukup lama cermin itu dengan tatapan kosong sampai akhirnya bel kamarku berbunyi. Aku segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampak seorang lelaki tampan berdiri disana. Memakai kemeja berwarna maroon gelap. Memakai celana slim berwarna hitam. Dan memakai sepatu santai berwana coklat. Dia tampak terkejut melihat diriku. Namun pura-pura mengalihkan pandangannya dan berkata.
"Menor banget, mau kemana neng." ejeknya kepadaku.
"Apaan sih Pra ihh norak. Ngerusak mood banget. Yaa sudah deh aku ganti baju."
jawbaku kesel sambil memanyunkan bibirku.
"Hahahha ... Becanda nyonya. Hayuk ahh makan, lapar banget nih." ajaknya kepadaku.
Aku manyun. Lalu Pradana menarik ujung lengan gamisku.
"Udah ahh ngambek mulu kamu Day. Udah laper aku. Hayuk."
tariknya sambil mengajakku berjalan.
"Kamu sih ... Iya deh iya. Jangan ditarik Pra ihh ... Sobek ntar gamisku."
balasku lagi.
"Dih bawel. Bodoo ahh ... Sobek ntar ku ganti sepuluh gamismu. Buruan ahh."
jawab Pradana lagi masih menarik pelan lengan gamisku.
"Iya bentar, nutup pintu dulu. Sepatuku juga masih didalam." jawabku singkat.
Lalu aku segera kembali masuk kedalam kamar dan mengambil Sepasang sepatu high heels berwarna beige lalu memakainya.
"Perfect."
Gumamku dalam hati.
Aku segera keluar dan menutup pintu. Kami lalu berjalan beriringan menuju lift. Dan tanpa sengaja kembali mataku melihat sosok puspa ningsih di ujung sana. Tampak dia sedang berjalan dan memeluk lengan seseorang. Aku melihatnya dengan seksama. Bingo ... Ternyata dia sedang bersama suamiku dan ternyata kami menginap di hotel yang sama dengan jarak kamar yang berjarak hanya beberapa pintu.
Aku mempercepat langkah kakiku agar tidak bertemu dengan mereka. Lalu Pradana menegurku.
"Ngapain kamu Day. Buru-buru banget. Awas ntar jatoh. Ingat sepatumu itu cukup tinggi."
ucap Pradana ketika melihatku berjalan terburu-buru.
"Iyaa nih .. Udah lapar banget Pra. Hayuk ahh buruan masuk lift."
Jawabku berbohong.
Cukup lama kami berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka dan tiba-tiba seseorang menyapaku.
"Dayana ..."
Sapa seseorang dari belakang.
Aku kaget dan melihat ke arah suara tersebut. Pradana pun ikut melihat ke arah sumber suara.
"Kamu ..."
Ucap Pradana kaget.
__ADS_1
Aku pun hanya terdiam dan menundukkan wajahku.
Bersambung ...