Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )

Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )
Jika aku punya mata, maka aku bisa melihat...


__ADS_3

**Sayup - sayup cahaya itu mulai memudar ...


Sebuah rindu yang tak berdawai, andai dapat ku nyanyikan, maka aku kan menyanyi dengan lantang ...


Cinta, lihatlah aku disini ...


Aku menunggumu** ...


•┈••••○❁❁○••••┈•


6 Juni 2017


Rasanya benar-benar lelah dan tak ingin melanjutkan kisah yang penuh dengan kebodohan ini, namun keadaan memaksaku untuk melanjutkan kisahku ..


Apakah karena dia?


Tidak.


Aku mencintainya sebagai suamiku. Bahkan sekalipun sikapnya tak pernah baik terhadapku akhir-akhir ini, aku tetap dan masih sangat mencintai suami.


Tapi ... untuk terus hidup dalam kebodohan dan kebohongan, aku mulai jenuh dan lelah ... bahkan untuk berpikir tentang banyak hal pun aku mulai letih sekali ...


"Mungkin lebih baik aku berdiam diri dan menenangkan pikiranku, rasanya bernafas pun aku tak mampu. Lebih baik aku absen dari kantor saja hari ini. Rasanya malas untuk bangun dari tempat tidur."


bathinku berucap.


Ku kirim pesan singkat kepada sekretarisku. Hari ini aku malas sekali untuk bangun. Rasanya ada beban berat yang bergantung dikepala dan pundakku, aku tak mampu bergerak.


Lima belas menit kemudian, dia menjawab pesanku.


[Baik bu, akan saya atur ulang jadwal hari ini. Lusa kita ada pertemuan di Jakarta bu, apakah ibu bisa menghadiri pertemuan ini? atau masih harus saya atur ulang jadwalnya?] balasnya lagi dipesan.


Ku tatap layar gawaiku..


"Maa syaa Allah, aku lupa akan pertemuan itu."


Segera ku ketik pesan lagi kepada sekretarisku dan mengirimnya segera.


[ Maa syaa Allah Ning, saya lupa. Untung saja kamu mengingatkan. Atur pertemuan saya besok buat meeting dengan staff kita yaa Ning. In syaa Allah besok saya sudah masuk kembali Ning. Terimakasih sudah mengingatkan saya.]


balasku lagi dipesan.


[ Baik bu, akan saya lakukan.]


balasnya singkat.


*****


Andai saja aku masih bisa absen panjang, ingin sekali aku tidak masuk lebih lama. Tidak ada hal menarik yang ingin ku kerjakan selain rebahan dikamar. Mungkin, jika bisa menghilang, sejenak aku ingin menghilang dan berpindah ke suatu tempat yang tidak menuntutku untuk merasakan kepedihan bahkan kesedihan. Tempat dimana aku hanya akan berpikir tentang hal yang indah-indah saja. Tanpa sadar, aku kembali mengingat kisah masa kecilku dulu.. 


Lamunan ku makin jauh menerawang. Mencoba mengingat kembali kisah masa kecilku beberapa tahun yang lalu. Potongan-potongan kisah yang membuatku menjadi aku yang sekarang. Sekalipun kisahku penuh dengan air mata, Aku benar-benar bahagia. Walau pun keadaan ekonomi keluargaku pada saat itu  terbilang serba kekurangan. Bahkan hampir nyaris sangat susah.


Masih ku ingat dengan jelas ketika kami hanya mampu berbagi makanan sepiring untuk dimakan berempat hari itu. Waktu itu dirumah ibu hanya punya uang tiga ribu rupiah ditangannya. Kami hanya mampu membeli sebungkus mie rebus dan sebutir telur ayam. Masih ku ingat dengan jelas ketika mie itu dimasak lalu dicampurkan dengan telur. Ternyata mie tersebut hanya cukup untuk dimakan berdua saja.


Lalu tiba-tiba ibu berkata kepadaku dan adikku yang sedang berdiri didepan pintu dapur.


" Makan saja mie ini untuk kalian berdua nak. Makan dengan adikmu yaa kak. Tadi ibu sudah makan, jadi masih terasa kenyang sekali. Maafkan ibu yaa nak, hari ini kita hanya bisa makan mie rebus dicampur telur saja. Ibu belum bisa membelikan kalian nasi hari ini. Ibu belum punya uang lebih buat beli beras."


Ucap ibu lagi ketika aku dan adikku bertanya ibu sedang memasak apa didapur.


Aku memperhatikan wajah ibuku waktu itu. Ada kesedihan yang tidak dapat aku tafsirkan. Ibu seperti ingin menangis, matanya merah dan berair. Tapi beliau menahan air matanya agar tidak menetes didepan ku dan adikku. Mungkin dia tidak mau memperlihatkan isi hatinya kepada kami saat itu. Ibu benar-benar jago ketika menyembunyikan kesedihannya dari kami semua.


Waktu itu usiaku masih terbilang kecil. Mungkin masih duduk dibangku sekolah dasar. Adikku juga masih sangat kecil pada saat itu. Aku masih terus memperhatikan wajah ibuku. Lalu berpindah melihat wajah adikku yang terlihat sangat lapar. Kasian sekali dia, masih kecil namun harus sering merasakan kelaparan karena kehidupan kami. Ku gelengkan kepalaku tanda tak setuju dengan ucapan ibu. Aku berdiri lalu berjalan kedapur dan mengambil piring dan sendok yang lain.


Ku berikan benda tersebut kepada ibu sambil berkata.


" Tidak bu, kakak gak mau makan sendiri. Ini kakak sudah ambil piring dan juga sendok. Kita makan sama-sama ya bu, sama adik dan ayah. Kalau makan banyak-banyak, nanti kakak malah sakit perut bu. Kita makan sama-sama aja yaa bu biar adil."


Jawabku menjelaskan.


" Kata bu Guru, kalau kita makan, kita harus berbagi jika dirumah orangnya banyak. Kan dirumah kita orangnya banyak kan bu? Ada ibu, Ada adik, Ada kakak dan juga ada ayah. Jika kita makan sama-sama, pasti nanti kita kenyang juga sama-sama, benarkan bu?"


Jawab polosku lagi kepada ibu.


Ibuku hanya mengangguk. Masih ku ingat saat itu, ibu meneteskan air matanya. Sedih sekali jika ku ingat wajah ibu pada saat itu. Karena aku masih sangat kecil, tak banyak yang mampu aku lakukan. Aku hanya terus menerus menatap wajah ibu sampai menahan air mataku. Rongga dadaku terasa sesak.


Ku dekati dan ku sentuh pipinya untuk menghapus air mata ibu sambil berkata.


" Ibu kenapa menangis? Maafkan kakak bu kalau kakak buat ibu menangis. Kakak cuma pengen bilang, kakak mau makan sama-sama. Kakak gak mau makan sendiri. Maafin kakak ya bu. Ibu jangan nangis lagi, nanti kakak jadi sedih kalau ibu menangis."


Aku memeluk ibuku dengan erat.


Terisak disana.


Entah apa yang membuatku terisak saat itu. Yang ku ingat hanya aku merasa sangat sedih ketika melihat ibuku menangis. Sedih sekali rasanya. Kejadian seperti ini sering terjadi dimasa kecilku. Menikmati makan nasi dengan taburan garam dan penyedap rasa pun pernah ku alami. Bahkan hanya makan singkong selama sebulan penuh pun pernah ku rasakan, sampai hampir lupa rasanya makan nasi seperti apa. Sedih sekali.


" Kakak sayang, jangan menangis. Ibu bangga sama kakak nak. Kakak anak yang hebat. Sudah yaa, jangan menangis lagi. Nanti wajah kakak jelek kalau menangis terus, malu itu diliatin adik. Anak hebat tidak boleh cengeng yaa nak. Sekarang kita makan yaa. Tidak baik didepan makan kita bersedih. Lagi pula, mie nya juga sudah mengembang sekali nak. "


Balas ibu sambil menyentuh kepalaku, mengusap dengan lembut dan menghapus air mataku.


Ibu mencium keningku. Lalu Memeluk erat adikku yang masih kecil. Adikku terlihat sangat lapar sekali. Dia terus melihat kearah piring mie rebus kami.


" Iya ibu. Kakak sayang ibu, sayang adik dan juga sayang ayah."


Balasku sambil memeluk ibuku erat sekali.


*****


Ibu adalah perempuan yang paling ku kagumi sampai kapan pun. Rasa cintaku kepada ibu tidak bisa aku jelaskan lewat kata-kata. Aku benar-benar sangat menyayangi wanita ini. Selain anak-anakku, ibu adalah salah satu semangat hidupku untuk terus menjalani kehidupan. Entah bagaimana hidupku jika ibu tidak ada.


Banyak hal yang ibu ajarkan kepadaku. Tentang rasa setia mendampingi dan menerima pasangan dalam keadaan apa pun. Entah itu dia dalam keadaan kaya atau pun miskin. Dalam keadaan sehat atau pun sakit. Bahkan ibu juga mengajarkan ku agar tidak menjadi pribadi yang gemar mendendam, apalagi berkata kasar bahkan bersikap buruk terhadap orang lain.


Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari sosok ibuku. Ibuku perempuan yang sangat tegar. Aku sering melihatnya menangis sendirian dikamar ataupun didapur ketika kami tidak didekatnya. Entah hal apa yang selalu membuat ibu bersedih.


Aku juga pernah melihatnya dulu direndahkan oleh orang lain. Bahkan dimaki, dihina dan dianggap remeh orang lain pun ibuku pernah mengalami. Namun dia tidak pernah membenci siapapun yang pernah melukai hatinya. Hebat sekali dia.


Pernah suatu ketika kami benar-benar tidak punya uang untuk makan dan membayar uang kontrakan. Hari itu ibu terlihat sangat kebinggungan. Lalu ibuku memberanikan diri untuk meminjam uang kepada tetangga.


Aku tau, waktu itu ibu benar-benar kebinggungan. Sudah beberapa rumah yang ku lihat dia datangi untuk mencari pinjaman uang. Dari siang sampai sudah sore hari, dia masih belum menemukan pinjaman uang.


Aku ingat sekali saat itu. Sebelum mendapatkan pinjaman uang, terlebih dulu ibuku dimaki dengan kalimat yang sangat kasar oleh tetangga yang memberi pinjaman. Aku ingat kalimat lumayan kejam yang dikatakan perempuan itu kepada ibuku. Kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapan pun. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak pernah melupakan wajah perempuan yang mengucapkan kata kasar itu kepada ibuku.


Aku masih ingat dengan jelas wajahnya. Seperti sudah tertanam didalam pikiranku. Jika di ingat kembali, aku ingin memukul perempuan itu ketika memaki ibuku. Jahat sekali cara dia berbicara saat itu. Tapi tidak ku lakukan. Aku takut ibuku semakin dihina oleh perempuan itu. Apakah aku membenci perempuan itu? Jawabannya .. Tidak. 


Aku masih ingat rangkaian kalimat yang perempuan itu ucapkan kepada ibuku hari itu.


" Kamu tidak punya malu yaa Nur? Kerjaanmu cuma minjam uang terus kesana kemari. Hutang pinjamanmu kemarin saja belum dibayar kan? Sekarang malah mau berhutang lagi? Mau kamu bayar pakai apa hutangmu nanti? Lebih baik kamu bawa mangkok lalu kamu ajak anak-anakmu itu buat mengemis dijalan Nur. Mungkin bisa dapat banyak uang kalian karena rasa kasihan orang-orang yang lewat. Aku sampai mu*k melihat wajahmu terus Nur. Tidak malukah kamu dengan tetangga yang lain? Menyusahkan sekali hidupmu Nur."


Ucapnya sambil memasang muka masam dan bertolak pinggang.


Hancur sekali rasanya hatiku ketika mendengar ucapan perempuan itu terhadap ibuku. Tapi, begitulah ibuku. Dia wanita hebat. Sampai kapan pun dia adalah wanita paling hebat menurut ku.


Ibuku hanya membalas ucapan keji wanita itu dengan senyuman. Aku tau senyumannya itu palsu. Dia menahan rasa terluka yang sangat dalam.


Walaupun sudah dihina seperti itu, Ibuku tetap memohon meminta pertolongan. Dia terus menerus mengucapkan kalimat minta tolong yang berulang kali sambil mengatupkan kedua tangannya didada agar diberikan pinjaman uang lima puluh ribu rupiah untuk kami makan hari itu. Akhirnya ibuku mendapatkan pinjamannya. Tapi bukan nominal lima puluh ribu rupiah, ibu hanya mendapatkan pinjaman uang dua puluh ribu rupiah. Tidak sebanding dengan penghinaan yang ibu dapatkan. Ibuku yang malang.


Mulai saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak mau menjadi orang yang gagal. Aku tak ingin melihat ibuku terus menerus mengalami kesusahan. Aku terus melanjutkan hidupku dengan semua cobaan sulit yang aku hadapi, dan hasilnya.. Akhirnya aku ada diposisi ini. Semua ini karena tekatku yang kuat. Ditambah lagi karena berjuta do'a hebat yang selalu ibuku pinta kepada tuhannya. Akhirnya sekarang kami bisa berada diposisi ini. Terimakasih ibu, aku mencintaimu.


*****


Kami pun berbagi makanan. Sepiring mie rebus kami bagi rata menjadi empat bagian lalu dimakan bersama-sama karena mie nya sudah sangat mengembang. Rasanya juga sudah tidak begitu enak lagi. Tapi karena saat itu aku dan keluargaku dalam keadaan sangat lapar, Kami melahap makanan tersebut dengan sangat nikmat. Seperti sedang menyantap seporsi daging, enak sekali rasanya.


Jika diingat, susah sekali kehidupanku saat itu. Bahkan untuk makan besok saja kami masih belum tau. Semenjak ayah mengalami kebangkrutan, kami terpaksa hidup dalam keadaan pas-pas an sekali bahkan bisa dikatakan sangat kekurangan dan perihatin.


Ibuku pun terpaksa berhenti bekerja karena harus menjaga adikku yang waktu itu masih sangat kecil. Setelah adikku berusia sekitar lima tahun, aku mulai ikut ibu berjualan kerupuk dan kue. Ibu membuat banyak jenis kue kampung, lalu aku yang akan menjualnya ke warung-warung kecil. Pelan-pelan keluarga kami mulai punya penghasilan lagi. Walau tidak sebanyak saat ayah masih menjadi pengusaha dulu. 


Sementara ayahku, beliau menjadi penyewa motor mingguan. Jadi motor yang dia sewa, dia jadikan motor untuk menjadi tukang ojek keliling. Hasil mengojeknya itu dijadikan uang buat makan sehari-hari dan untuk modal usaha ibu. Begitulah kehidupan kami waktu itu. Di usiaku yang masih kecil, aku sudah berjuang membantu keluargaku untuk mencari uang.


Pernah juga waktu itu aku melihat ibu dimarahi oleh orang-orang yang tidak ku kenal. Mereka memarahi bahkan berkata kasar kepada ibu sambil menunjuk-nunjuk wajah ibu. Aku melihat wajah ibu saat kejadian itu, ibu terus berbicara sambil tidak berhenti mengucapkan kata maaf.


Terakhir yang ku ingat, seorang perempuan memarahi ibu dengan nada yang sangat kasar bahkan hampir menampar wajah ibu jika saat itu ayah tidak datang dan menahan tangannya. Menyedihkan jika ku ingat saat itu. Akhlak manusia bisa hilang hanya karna perkara uang. Bahkan tega menindas orang lain hanya karena lembaran rupiah. Menakutkan.


Semenjak kecil, keluarga sudah mengajarkan ku agar selalu berbuat baik terhadap orang lain sekalipun mereka bersikap buruk kepadaku. Aku selalu ingat pesan ibu waktu itu, beliau selalu berpesan kepada ku dan adikku agar kami selalu rajin belajar dan pergi sekolah. Agar nanti ketika kami dewasa, kami tidak hidup seperti kedua orangtua kami.


Ibuku juga mengajarkan ku dan adikku untuk selalu bersikap jujur dimana pun kami berada dan selalu rendah hati bahkan ringan tangan dalam memberi dan membantu orang lain. Ibu selalu bilang, jika kita sering memberi maka nanti tuhan akan selalu membalas kebaikan kita dan aku membuktikan semua ucapan ibu itu benar. 


Mungkin dulu kehidupan kami terasa begitu sulit. Setiap kali waktu pembayaran uang sekolah tiba, aku selalu menjadi siswi langganan yang dipanggil ke ruangan Guru karena menunggak pembayaran SPP berbulan-bulan. Pernah juga aku tidak kebagian rapot di sekolah, rapot ku ditahan guru karena tidak membayar uang kewajiban ketika awal masuk sekolah.


Sedih sekali rasanya ketika semua temanku tersenyum bahagia karena melihat hasil rapotnya. Namun tidak denganku. Aku pasti akan mendapatkan rapotku sebulan atau mungkin dua bulan setelah pembagian rapot. Paling cepat, setelah dua minggu pembagian. Itu pun kalau aku beruntung.


Untuk urusan peringkat kelas dan nilai bagus, Aku selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata. Aku selalu jadi juara di kelas, paling rendah pun peringkatku masih di tiga besar. Aku dan adikku selalu berlomba untuk menunjukkan siapa yang lebih pintar kepada ibu dan ayah. Kami sering bersaing dalam hal menjadi juara kelas. Apalagi dalam pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, kami selalu bersaing.


Aku ingat hari itu, namaku dipanggil ke depan kelas karena mendapat peringkat juara kelas dan juara umum. Tapi harus diakhiri dengan tangisan dan air mata karena rapotku ditahan hingga berbulan-bulan. Waktu itu kami tertimpa musibah,  orangtuaku tidak bisa menebus rapotku segera karena ayahku sakit dan tidak bisa bekerja. Ditambah lagi kue dan kerupuk jualan ibu kurang laris hingga berminggu-minggu.


Butuh perjuangan luar biasa agar aku bisa menebus rapot ku saat itu. Aku harus membantu ibu berjualan sampai malam hari. Bahkan hari hujan pun kami tepat jualan demi mengumpulkan uang untuk menebus rapotku itu. Aku sering tidak masuk sekolah karena tidak ada uang buat ongkos naik angkot ke sekolah. Jadi ketika tidak sekolah, aku membantu ibu berjualan kue ke warung-warung. Kasian sekali ibu harus bekerja keras sendirian.


Setiap kali kenaikan kelas, teman-temanku akan mendapatkan hadiah baru seperti seragam baru dan juga sepatu baru bahkan ada yang dapat tas baru dan buku baru. Tapi itu tidak terjadi kepadaku dan adikku. Setiap kenaikan kelas, kami selalu memakai seragam yang sama hingga kelulusan sekolah. Sepatu sekolah pun kami jarang beli. Jika ada yang bermurah hati membelikan, maka itu menjadi hadiah special buatku dan adikku. Kami jadi punya sepatu baru. Tapi jika tidak ada yang memberi, maka kami akan memakai sepatu itu hingga kelulusan sekolah. Miris sekali rasanya.


Pernah suatu ketika kaus kakiku rusak. Agar kaus kaki itu tidak terlihat rusak karena karetnya sudah longgar, aku menahan kaus kaki itu menggunakan karet gelang sebagai penahannya agar tidak melorot kebawah jika ku gunakan pergi kesekolah.


Hasilnya ... Setelah pulang kerumah betis kakiku berbekas dan berwarna merah, sakit sekali rasanya. Bahkan kalau terlalu lama atau karetnya terlalu ketat, rasanya perih sekali jika dibawa berjalan.


Aku pun pernah memakai sepatu yang sol sepatunya sudah rusak di bagian telapak kakinya. Jadi ketika hujan turun, seluruh kaus kakiku akan ikut basah kuyup dan berbau tidak sedap. Sedih sekali jika diingat-ingat. Bahkan mungkin malu sekali. Tapi ibu selalu mengajarkan ku agar bertahan dengan kerasnya kehidupan ini.


Aku pun menikmati masa-masa sulitku dulu. Ku sembunyikan rapat-rapat kesusahanku dari orang lain. Terutama teman-teman dekat ku dulu di sekolah. Dan ternyata aku berhasil sampai di titik pencapaian ini. Aku selalu memetik setiap hal baik dari semua hal yang terjadi didalam hidupku. Karena biasanya hal sulit itu mengajarkan manusia untuk menjadi pejuang dan sukses.  Alhamdulillah sekarang aku dan adikku bisa membuat kedua orangtua kami tersenyum lebar dengan pencapaian kami saat ini.


*****


Sekarang kehidupanku, adikku dan keluargaku jauh lebih baik bahkan bisa dikatakan sangat berkecukupan. Sekarang aku adalah seorang Manager Administrasi paling muda disebuah perusahaan konsultan ternama dikotaku. Untuk pencapaian sejauh ini, aku terbilang muda diusiaku yang baru dua puluh tujuh tahun. Dengan gelar s2, ku kantongi tittle nama dengan gelar Sarjana Hukum, Master of Business Administration.


Aku terbilang muda karena kerja kerasku selama ini yang terus berusaha dan hanya fokus mengejar keberhasilan, akhirnya aku memetik hasilnya sekarang.  


Adikku menjadi Manager di sebuah hotel ternama di daerah Pulau Dewata Bali. Karena minatnya di dunia pariwisata, Dia memilih kuliah dijurusan pariwisata dan sekarang sukses diusianya yang ke dua puluh tiga tahun sebagai seorang Manager termuda di sebuah hotel berbintang lima. Hebat sekali anak nakal itu sekarang. Aku bangga kepadanya.


Lalu, ibu dan ayahku juga sudah tidak sibuk dengan pekerjaan apapun. Mereka sudah menjadi pemilik toko kerupuk dan kue kering yang sudah memiliki banyak cabang di seluruh pulau di kotaku dan juga beberapa kota-kota kecil di indonesia. Mereka sudah menikmati masa tuanya sekarang. Aku sangat bersyukur dengan semua kesulitan yang aku hadapi di masa kecilku, semuanya memberikan pelajaran hebat yang menjadikan aku tangguh hingga sekarang.


*****

__ADS_1


Lama sekali aku merenung hingga akhirnya lamunanku buyar karen tangisan si kembar yang merasa kehausan. Ku berikan sebotol penuh ASI untuk kedua buah hatiku itu. Mereka berhenti menangis. Menikmati susunya dan kembali tertidur lagi. Indah sekali menjadi bayi.


Sementara Zahra, anak itu masih terlelap tidur dengan botol susu menempel di mulutnya. Kebiasannya sejak kecil yang susah sekali hilang. Setiap tidur harus ada botol susu yang menempel di mulutnya. Jika tidak ada, dia akan menangis dalam tidurnya. Bahkan sampai sesegukan kadang sampai terisak-isak. Kasian sekali.


Ku tatap ketiga wajah anakku.


"Yaa Allah, sanggupkah aku menjalani semua ini?"


Ku tarik pelan lalu ku hembuskan nafasku perlahan.


Ku pejamkan mataku sebentar lalu melihat jam di dinding.


"Baru jam setengah tujuh pagi. "


Ku peluk lagi guling disampingku.


Sejenak ku pejamkan mata, sepertinya aku butuh tambahan jam tidur sedikit lagi. Enggan sekali aku bangun. Ku ambil gawaiku diatas nakas lalu memeriksa aplikasi pesan.


"Masih ada pesan dari suamiku ternyata." Ku abaikan pesan itu tanpa ku buka.


Ku lihat satu persatu kolom status yang di posting oleh teman-teman kontak ku di whatsapp, rajin sekali mereka memposting kehidupannya di sosial media. Terkadang aku iri dengan kehidupan mereka. Semua hal yang mereka bagikan, rata-rata menceritakan kisah bahagia. Tapi benarkah semua kisah itu selalu penuh dengan kebahagiaan?


Entahlah.


Ada juga yang sedang memamerkan barang baru yang dia beli. Yang membagikan fotonya sedang berlibur diluar negeri atau seseorang yang membagikan perihal keagamaan dan hadist-hadist. Aku lebih dominan menyukai postingan perihal agama. Random sekali isi postingan status teman-temanku.


Tiba-tiba aku tertarik untuk melihat kolom status suamiku. Dia memposting fotonya ketika sedang meeting dengan koleganya di sebuah hotel berbintang. Ku perhatikan dengan seksama foto itu.


Tanpa sengaja, mataku tertuju kepada seorang wanita cantik berhijbab marun yang duduk disebelah suamiku. Anggun sekali dia di foto itu. Di sampingnya tampak suamiku juga ikut tersenyum lebar. Benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi.


"Oh dia lagi. Tampak bahagia sekali wajah suamiku disampingnya. Baju mereka pun senada, terlihat seperti sepasang kekasih. Suamiku tampak terlihat lebih muda dan tampan dengan gaya rambutnya yang baru. Entah sejak kapan suamiku memakai kacamata."


Sesak sekali ku rasakan ketika melihat pemandangan itu.


Ku lihat lagi postingan suamiku berikutnya. Dia memposting sebuah foto saat mereka sedang tersenyum bahagia ditengah keramaian. Saling berhadapan pada saat sedang makan siang bersama beberapa kolega asing. Mereka tampak sedang menikmati makan lezat yang sedang disajikan.


Postingan selanjutnya hanya foto beberapa cangkir cappucino hangat disebuah cafe romantis. Ku katakan terlihat romantis karena suasananya seperti saat malam hari. Ada dua cangkir gelas disana, lengkap dengan setangkai bunga mawar dan sebuah kertas coklat yang terlipat rapi.


"Harusnya aku yang ada disamping kamu saat ini A, bukan perempuan itu. Kenapa begitu tega dirimu menyakitiku A? Lupakah kamu jika aku adalah isterimu?"


Bathinku berujar.


Ku letakkan gawaiku disamping bantal. Bodoh sekali rasanya. Kenapa harus ku lihat kolom statusnya. Namaku pasti muncul di bagian viewernya. Setelah ku lihat, baru ku sesali perbuatanku tadi. Namun sudah terlambat.


*****


Ku peluk lebih erat lagi guling disampingku.


"Aku rindu kamu A. Pernahkah kamu merindukan ku?"


Ku pejamkan mataku mencoba untuk kembali tidur.


Entah kenapa mata ini tak mau tertidur lagi.


Ku ambil lagi gawaiku dan membuka kembali kolom status.


"Tumben Pradana posting status sebanyak ini."


Penasaran dengan isi postingannya, ku buka namanya di kolom status. 


"Untuk siapa status ini dia tujukan? sepertinya dia sedang jatuh cinta, tapi dengan siapa? Tumben aku tidak tahu." Terus ku tekan agar statusnya berpindah ke postingan selanjutnya.


" Wahhh ... Romantis juga lelaki cuek ini ternyata. Beruntung sekali wanita yang disukai Pradana. Semoga dia wanita yang baik."


Gumamku masih terus memperhatikan isi postingan Pradana. Kepo sekali aku dibuatnya.


Ketika sampai di postingan terakhir, dia malah memposting sebuh inisial nama. Tertera huruf D dan A disana. Aku makin penasaran. 


"Siapa wanita yang mampu membuat Pradana yang cuek itu jatuh cinta yaa? Wahh .. Aku jadi penasaran."


Ingin ku japri Pradana untuk mengejeknya, tapi ku urungkan niatku barusan.


Kuletakkan gawaiku kembali diatas nakas disamping tempat tidur. Kamar luas ini terasa menyesakkan. Aku masih sering merasa kesepian. Ku palingkan wajah dan kulihat ketiga anakku, mereka masih tertidur pulas dengan mimpinya masing-masing.


*****


Ku lirik lagi jam didinding.


"Lebih baik aku shalat dhuha dulu, rasanya aku rindu bercerita kepada Allah."


Ku langkahkan kakiku menuju lemari dan menganti pakaianku.


Menuju toilet dan segera mengambil wudhu lalu mengelar sajadah dan mencoba shalat dengan khusyu'. Tenang sekali rasanya ketika aku bisa meluangkan waktuku untuk shalat dipagi hari.


Biasanya aku sudah sibuk dengan perihal dunia dipagi hari. Sibuk dengan kemacetan dijalan raya. Sibuk dengan janji temu dan jadwal meeting yang melelahkan. Belum lagi memeriksa hasil laporan. Rasanya letih sekali.


Entah kenapa aku bersyukur hari ini aku bisa bebas dengn semua hal yang melelahkan itu. Tidak ada aktifitas padat tentang pekerjaan ternyata lebih menyenangkan. Setidaknya, pikiranku sedikit lebih fresh. Tidurku pun lumayan cukup. Rasanya sedikit terasa ringan badan ini.


******


Anak ini sangat manja kepadaku. Jika bangun tidak melihat wajahku, dia akan menangis sekuat yang dia mampu. Kadang dia terus menerus menangis sampai akhirnya dia melihat wajahku. Yang penting aku harus terlihat ketika dia membuka matanya dipagi hari. Mengemaskan sekali.


Ku panggil bi Arum agar datang ke kamar untuk membangunkan Zura dan membuatkan susu Zahra. Aku cukup kerepotan jika harus sendiri menghandle tiga orang anak perempuan ini. Apalagi si kembar yang hobi menangis berbarengan, rasanya ingin ikut menangis juga. Bersyukur rasanya karena ada bi Arum yang ikut membantu.


Padahal Yura sudah menangis dengan sangat kencang karena tidak melihatku disampingnya, tapi Zura anakku, dia masih bisa tertidur dengan lelap.


Wajahnya manis sekali saat tidur. Hidungnya yang terlihat mancung ditambah bibirnya yang mungil kemerahan. Membuatku betah menatapnya lama-lama.


Jika dikatakan beruntung, maka aku adalah ibu yang paling beruntung didunia ini. Kenapa? Karena Allah memberikan ku tiga orang anak perempuan yang luar biasa cantik dan mempesona. Ditambah lagi, aku memiliki suamiku yang sebenarnya baik, hanya saja mungkin sekarang dia sedang puber kedua, Entahlah.... Aku pun binggung untuk menyebutnya apa.


Zahra terlahir dengan kulit putih bersih.  Berhidung mancung seperti mantan suamiku. Alisnya tebal. Giginya juga bergingsul seperti bentuk gigiku.  Rambutnya ikal dan berombak dibawah.  Tapi Postur tubuhnya kecil mungil. Mungkin dia mengikuti bentuk tubuhku. Pipinya sering sekali memerah seperti tomat matang ketika dia kepanasan atau sedang merasa malu.


Lucu sekali.


Ditambah lagi poni nya yang selalu rapi menutupi keningnya yang lebar. Poni lah yang membuat wajah Zahra makin menggemaskan. Mirip boneka Jepang menurutku karena matanya yang agak sipit. Tidak terlalu bulat penuh dan tidak juga terlalu sipit. Bentuk matanya indah dan tajam. Aku tak pernah bosan menciumi wajahnya berulang-ulang. Dia akan marah atau ngambek ketika aku terlalu kuat menciumnya. 


Begitu juga dengan sikembar Yura dan Zura, mereka berdua juga terlahir dengan kulit putih bersih. Hanya saja wajah keduanya lebih dominan wajah suamiku. Rambutnya juga hitam lurus tidak seperti rambutku dan Zahra yang ikal dan berombak dibawahnya. Mata mereka mirip denganku.


Anak kembarku berbeda. Keduanya memiliki lesung pipi disamping bibirnya yang tipis dan kecil itu. Jadi ketika mereka tersenyum atau tertawa, lekukan mungil itu akan muncul disamping bibirnya. Cantik sekali.


Anakku terbilang bayi perempuan yang kembar identik. Kenapa demikian? karena susah sekali membedakan siapa yang Zura dan siapa yang Yura. Banyak yang tidak bisa membedakan mereka ketika bertemu Zura dan Yura. Tapi entah kenapa, aku mampu dengan mudah membedakan anakku, mungkin karena aku ibunya.


Pernah suatu ketika mereka menangis, Lalu suamiku memanggilnya dengan nama Zura. Anakku terus menangis. Mungkin karena ayahnya salah memanggil nama. Jadi seperti tidak terima namanya salah dipanggil. Sekalipun mereka masih bayi, ternyata mereka menggenali namanya masing-masing. Lucu sekali.


*****


Ku bangunkan ketiga anakku untuk mandi. Baru hari ini aku benar-benar menjadi seorang ibu sebenarnya. Aku sudah sibuk dengan urusan mengasuh anak di pagi hari.


Biasanya, aku sudah pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari macet atau jam masuk sekolah. Biar gak terlambat jika ada meeting pagi dengan kolega. Yang pasti, hanya bi Arum yang mengurus anak-anakku saat itu. Aku sudah terima bersihnya saja. Tapi tidak hari ini, aku juga turun tangan untuk memandikan kembar dan juga si sulung Zahra.


Seperti biasanya, Zahra ada jadwal sekolah hari ini. Sejak Zahra usia empat tahun, aku sudah mendaftarkan dia di sekolah islami. Bukan sekolah formal, tapi sudah seperti sekolah formal. Banyak pelajarn tentang tauhid dan akhlak yang diajarkan kepadanya. Bahkan pengenalan huruf bacaan dan hijaiyah pun sudah diajarkan kepadanya.


Setelah mengantar Zahra ke sekolah, aku segera kembali kerumah. Memberi makan kembar lalu mengajak mereka main sebentar di gazebo untuk melihat ikan. Anak kembarku suka melihat ikan-ikan yang sedang makan didalam kolam. Setelah mereka lelah bermain, aku menidurkan mereka kembali.


Ku lihat arlogi ditangan.


"Maa syaa Allah, sudah jam setengah sebelas siang, lebih baik aku mandi. Ternyata mandi kesiangan membuat gerah juga."


Aku naik ke lantai dua. Menuju kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi rasanya jauh lebih segar.


Ku lihat gawaiku diatas nakas. Ku ambil gawaiku. Ternyata gawaiku mati kehabisan batre. Ku cari chargeran dan mencharger sebentar agar gawaiku bisa menyala lagi. Sekitaran dua puluh menit, akhirnya gawaiku bisa di nyalakan kembali.


Ku nyalakan gawaiku.


"Criiing... Criing.. Criiiing ..."


Banyak sekali pesan yang muncul dilayar gawaiku. Laporan bulanan, laporan mingguan, survey konsumen, daftar klien dan lain-lainya. Banyak sekali sampai harus ku letakkan lagi gawaiku di atas nakas. Menunggu sebentar agar semuanya sudah muncul dilayar. Jadi tidak berbunyi terus menerus notifikasi pesan masuknya.


Ku ambil lagi gawaiku.


Ku lihat nama yang muncul di layarnya.


" Tumben suamiku menelpon, mau apa lagi dia?"


Ku abaikan panggilan itu.


Ku letakkan kembali gawaiku di atas nakas disamping tempat tidur.


12.30 WIB


Gawaiku berbunyi.


[ Assalamu'alaykum Neng, kamu apa kabarnya? Anak-anak sehat? Kamu sehat Neng? ]


Isi pesan singkat dari suamiku.


Ku ambil gawaiku. Berjalan ketempat tidur dan berbaring.


"Kenapa lagi suamiku ini?"


Ku buka pesan whatsapp darinya. Ku balas cepat pesan suamiku.


[ Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh A. Alhamdulillah kabar neng dan anak-anak baik. Tumben ngechat, ada perlu apa?]


Balasku seadanya.


Lama sekali pesanku dibalas. Mungkin butuh waktu dua jam untukku menunggu. Bodoh sekali aku menunggu balasan pesan dari suamiku. Bahkan jika ku anggap dia tak pernah ada pun seperti aku tidak salah. Ku tunggu balasan darinya, di bagian kolom namanya tertera sedang mengetik. Tapi balasan pesanku tak juga muncul. Aneh sekali.


14.30 WIB


[ Syukurlah jika begitu Neng. Neng, Aa gak mau kita pisah Neng. Aa masih butuh kamu.]


Balasnya lagi di pesan.


Ku abaikan pesan suamiku. Malas sekali untuk melanjutkan obrolan jika harus menunggu selama itu untuk menerima balasan. Ku letakkan lagi gawaiku di nakas lalu aku mencoba untuk tiduran. Jika siang, Anak kembarku tidak tidur dikamar ini. Mereka dikamar anak dilantai satu. Kamar khusus yang hanya ada box bayi dan mainan. Tiba-tiba rasa kantukku muncul.


Aku tertidur lagi.

__ADS_1


16.30 WIB


Aku terbangun.


"Maa syaa Allah, tidurnya kelewatan banget. Aku harus shalat."


Segera bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari.


Ku ambil baju yang baru lalu melangkah menuju toilet untuk berwudhu. Segera melaksanakan shalat Ashar ku yang sudah terlambat. Dilanjutkan dzikir sekitar lima belas menit. Ku lepaskan mukenaku. Melipatnya rapi dan menyimpannya kedalam lemari lagi.


Lalu aku turun kebawah, aku sudah sangat rindu dengan ketiga anakku. Karena ketiduran, aku lupa menjemput Zahra di sekolah, jadi supir sekolahnya yang mengantarkan Zahra pulang seperti biasanya.


17.15 WIB


Ketika turun kebawah. Aku melihat suamiku sedang bermain bersama anak-anakku. Dia selalu muncul dan pergi semaunya. Dia tersenyum kepadaku. Ku balas senyumnya sambil berjalan ke arah mereka.


Ku sapa suamiku sambil berkata.


"Tumben kesini A, ada apa?"


Tanyaku singkat.


"Gpp Neng, cuma pengen ketemu kamu dan anak-anak. Lagi gak sibuk juga jadi bisa mampir"


Jawabnya lagi.


*****


Dia menyentuh tanganku. Mengajakku duduk disebelahnya. Ku ikuti kemauan suamiku. Aku duduk disamping. Dia kembali tersenyum kepadaku. Entah apa makna senyumnya itu. Tulus atau tidak, aku pun tidak bisa menebaknya.


Suamiku terlihat rapi. Memakai kemeja santai berwarna mauve dan celana slime berwarna hitam. Dia terlihat tampan. Wajahnya terlihat sangat segar. Mungkin dia sedang merasa senang. Entahlah..


Suamiku menyodorkan sebuah kunci mobil kepadaku. Aku ingat, mungkin ini kunci mobil yang kemarin dia katakan ketika pertemuan kami itu. Mobil yang katanya dia beli untukku. Sebuah Mobil Mewah berwarna merah. Untuk ukuran tubuhku yang kecil, mobil ini terbilang cukup besar untukku. Dia tau aku sangat  menyukai warna merah.


Ku pandangi wajah suamiku. Dia kembali mengangguk,  mengisyaratku agar menerima kunci itu. Aku menerima kunci itu. Ku letakkan kunci itu diatas nakas di samping kursi. Bukan karena aku tidak tau malu, tapi itu pemberian suamiku. Aku menghargai pemberiannya.


"Kenapa baru datang sekarang A? Selama ini kemana?"


Ku sapa suamiku membuka obrolan.


"Afwan Neng, Aa sibuk."


Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut suamiku.


Jujur, bukan jawaban itu yang aku inginkan dari suamiku. Tapi sepertinya dia enggan berbagi hal apapun kepadaku. Setiap apapun yang terjadi tentang suamiku, aku tidak pernah tau. Aku akan tau tentang sesuatu hal jika dia berbicara langsung kepadaku atau aku melihat postingannya di sosial media. Jika tidak ada, maka aku tidak akan tau apapun.


"Neng ..."


Sapa nya lembut kepadaku.


"Iya A, kenapa?"


Ku jawab singkat tanpa melihat wajah suamiku.


Tiba-tiba dia mengenggam tanganku. Menatap wajahku dan menyentuh kepalaku lembut.


"Terimakasih Neng, sudah menjadi isteriku selama ini. Aku beruntung memilikimu."


Suamiku terdiam. Mengatur nafasnya dan melanjutkan ucapannya.


"Neng, tunggu aku sebentar lagi. Aku pasti akan memperbaiki semua hal yang terjadi dalam pernikahan kita ini. Tunggu aku sebentar lagi Neng, tunggu aku "


Ucapnya pelan sambil mengenggam erat tanganku.


Aku luluh dengan ucapannya. Ku peluk suamiku agar dia merasa tenang. Disatu sisi, aku bisa merasakan ada sesuatu hal yang disimpan suamiku. Tapi hal itu apa, aku pun tak tau.


Ku usap pelan punggungnya untuk menenangkan. Suamiku memelukku sangat erat. Hingga aroma parfume nya pun tercium lekat di hidungku. Aku merindukan aroma tubuh suamiku. Rasanya Menenangkan.


Ku lepaskan pelukan suamiku. Aku tersenyum kepadanya. Suamiku balas tersenyum.


"Aa tidur disini?"


Tanya ku membuka obrolan lagi.


"Tidak Neng. Ada yang harus Aa selesaikan. Minggu depan Aa akan mengajakmu bertemu. Atur ulang jadwal kantormu jika hari itu kamu sibuk sayang. Nanti Aa jemput kamu dikantor."


Balas suamiku menjelaskan.


"Iya A."


Jawabku singkat.


Dia mencium lembut kening ketiga anakku. Mengendong si kembar sebentar secara bergantian dan kembali memelukku lalu pamit untuk pulang. Aku mengantarnya sampai ke pintu depan. Mencium tangannya sebelum pulang. Dia menuju mobilnya. Lalu Masuk ke dalam mobil, keluar dari pekarangan dan menghilang di balik pagar.


Aku binggung dengan sikap suamiku. Kenapa dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi diantara kami. Padahal jika diulang kembali, masih begitu banyak tanda tanya dan ribuan pertanyaan yang tak terjawabkan didalam pikiranku.


*****


17.50 WIB


Ku lirik arlogi ditanganku.


"Maa syaa Allah, sudah hampir Magrib."


Ku tutup pintu lalu kembali kembali ke ruangan nonton.


Zahra sudah mencariku kemana-mana. Terdengar suaranya sedang memanggil diriku.


"Mami .. Mami dimana? Kesini mi, liat kakak punya ini."


Teriaknya keras sambil berkeliling mencariku.


Ku datangi dia.


"Iya nak, kenapa teriak - teriak. Emang mau ngasi liat mami apa?"


Tanyaku lagi sambil duduk dihadapannya.


"Mi liat ..."


Dia menunjukkan sesuatu.


Ku lihat tangannya. Dia mengenggam sebuah kertas coklat terlipat sangat rapi. Sekilas, aku mengenali kertas coklat ini, tapi entah dimana aku pernah melihat kertas tersebut. Aku lupa.


"Punya siapa ini kak? Kok bisa ada di kakak?"


Tanyaku mencari jawaban.


"Tadi kakak ketemu disitu Mi."


Sambil menunjuk ke arah kursi yang tadi ku gunakan untuk duduk bersama suamiku.


"Ini boleh kakak tulis mi? Kakak gambar bunga?"


Tanyanya polos.


Ku ambil lipatan kertas itu.


Ku simpan didalam kantung celanaku.


Berjalan kearah lemari kaca didekat pojok kursi, ku ambil sebuah buku mengambar milik Zahra.


"Kita ganti menulisnya disini saja yaa kak?Kakak suka mewarnai kan? Ini, coba lihat. Banyak gambar bunganya "


Tunjukku sambil memberikan buku menggambar itu.


"Terimakasih mami. Kakak mewarnai dulu ya."


Dia belalu.


Mengambil buku dan mulai mewarnai buku gambar itu.


Ku buka lipatan kertas coklat itu. Lalu membaca perlahan isi tulisan yang tertulis disana.


" Untukmu yang selalu memberikan keindahan disetiap pandangan mataku melihat. Ingin ku peluk erat ragamu agar rinduku usai sesaat. Teruslah menjadi bait disetiap potongan rindu yang aku punya. Kamu dawai dalam sepiku.


Untukmu cahayaku, Puspa Ningsih "


Aku terluka dengan tulisan yang ku baca ini.


"Apalagi ini. Kenapa tadi sikapmu begitu manis tapi aku malah menemukan tulisan seperti ini tercecer disini Kebohongan apa lagi yang kamu lakukan dibelakangku A? Luka apa lagi yang kamu torehkan? "


Mataku berkaca.


Ku simpan lipatan kertas coklat itu kedalam saku celanaku lagi.


Ku langkahkan kaki menuju lantai dua. Membuka pintu dan masuk kekamar. Menjatuhkan tubuhku ke arah kasur.


Aku terluka lagi.


Ku dengar suara lantunan Adzan berkumandang. Segera ku bangkit. Berjalan kearah lemari dan mengambil handuk. Bergegas mandi dan berpakaian lengkap. Kembali lagi ke dalam toilet untuk mengambil wudhu. Ku gelar sajadah dan segera shalat.


Sengaja ku panjangkan dzikir ku lagi kali ini. Entah apa isi hatiku hari ini, rasanya bercampur aduk. Ibarat sanjungan, aku disanjung setinggi mungkin lalu setelah itu aku dihempaskan. Aku jatuh kedasar yang paling bawah.


Sakit sekali rasanya.


"Cobaan apalagi ini Yaa Allah? Masihkah diriku engkau uji? Sanggupkah aku menghadapi semua ini?"


Begitu deras air mataku mengalir.


Hatiku benar-benar terluka. Terkoyak diseluruh bagiannya lalu disiram oleh perasan air jeruk. Sakit sekali. Sungguh teramat sakit ku rasakan.


"Kuatkan Aku Yaa Rabb ... Kuatkan aku."


Hatiku memohon.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2