Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )

Baed Alzawaj ( Setelah Menikah )
Kamu ada, namun tak pernah dapat ku sentuh...


__ADS_3

**Jika mengharuskan aku melukis ..


Aku ingin melukis rasa yang tak pernah padam ..


Kelelahan yang tak pernah beruntai dan janji yang tak pernah teringkar ...


Rasa, teruslah bertahan ...


Bukan kah rasa cinta bisa menjadi sesulit itu**???


•┈••••○❁❁○••••┈•


Semenjak kejadian kemarin, aku mulai tak pernah bertatap muka lagi dengan suamiku. Setiap kali ku lihat akun sosial medianya, dia selalu rutin aktif setiap menitnya. Selalu aktif berbalas komentar dan pesan kepada rekan dan teman sesama akunnya, namun dia tidak pernah menegurku bahkan menyapaku. Bahkan bertanya tentang anaknya pun tidak.


Dia akan selalu online, lalu nanti akan kembali offline. Begitulah kegiatan itu terus berlanjut selama sebulan ini. Apakah aku mencoba menghubunginya duluan? Tidak.


Tidak akan pernah aku menunjukkan kelemahanku kepadanya. Bukan sifatku untuk menegur suamiku duluan. Bukan karena gengsi, tapi lebih tepatnya aku malas untuk terlihat membutuhkan hadirnya. Aku tidak selemah itu.


Disatu sisi aku ingin marah dengan sikapnya karena dimana salahku dan apa yang aku perbuat sehingga dia begitu marah besar terhadapku?


Apakah aku tak pantas untuk bahagia? Apakah aku berbuat salah?


Lantas kenapa tega sekali dia memaki dan memarahi diriku dengan perkataan kasar dan menusuk?


Semua masih menjadi pertanyaan yang  tak pernah terjawab hingga sebulan lamanya.


Yaa ... Suamiku sudah tak pernah lagi kembali kerumah semenjak pertengkaran hebat kemarin. Dia seolah-olah menghilang bagaikan ditelan bumi. Aku hanya akan melihat dia ada, ketika mengecek gawai dan akun sosial mediaku. 


Ketika aku bertanya dia kemana, jawabannya akan selalu sama ... 


"Aa sibuk dengan kerjaan dan kelola bisnis baru lagi Neng."


atau dia akan menjawab


"Maaf Neng, Aa sibuk sekali dan tak bisa berbicara banyak. Nanti kita ngobrol lagi."


Begitulah jawaban suamiku ketika aku bertanya padanya kenapa dia tak pernah pulang kerumah. Bahkan kadang kala ketika ku beranikan diri untuk menelponnya, maka akan ku dapati bunyi tuut yang panjang tanpa diangkat atau bahkan suara operator yang menjawab.


Gawainya lebih sering di nonaktifkan tanpa aku tau kenapa.


"Yaa  Allah .. Jujurkah suamiku atas semua ucapannya padaku? Apakah suamiku mencintai ku dengan tulus Yaa Allah?"


Aku selalu mempertanyakan semua hal yang tak terjawab ini di sepertiga malamku setiap hari. Hanya Tuhan tempatku mengadu segala hal saat ini. 


Namun  ... Suatu hari, suamiku menghubungiku dan mengajakku bertemu. Tepat setelah sebulan dia tidak pernah kembali kerumah.


Didalam pertemuan itu, Akhirnya ... aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku selama ini.


*****


05 Juni 2017


Gawaiku berbunyi.


[Assalamu'alaykum, Neng kamu dimana sekarang? Aa mau ketemu kamu, ada yang harus kita bicarakan empat mata berdua. Kamu tidak sedang sibuk kan?]


Ku tatap layar gawaiku.


"Oh, suamiku ternyata."


Ku letakkan kembali gawaiku diatas nakas sambil melanjutkan laporanku yang tinggal sedikit lagi rampung. Ku abaikan pesannya.


Lima menit kemudian..


[Neng, balas segera whatsapp ku, sesibuk apa kamu sampai tidak menjawab pesan dari suamimu ini? Segera balas pesanku Neng, kita harus bertemu hari ini juga.]


Ku tatap lagi layar gawaiku.


Menarik napas panjang lalu menghembusnya dengan kasar sambil membuka pesan dan mengetik cepat.


[Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh Aa. Maaf baru sempat balas pesannya, Day sedang briefing dadakan bareng kolega ini A jadi gak enak juga buka-buka hp. Nanti setelah selesai akan Day hubungi Aa lagi. Afwan yaa A.]


Ku kirim pesan tersebut segera dan langsung menonaktifkan gawaiku. Entah kenapa, aku tak ingin melihat atau membaca pesan apapun yang diberikan oleh suamiku. Bahkan mungkin hanya sejenak menatap wajahnya pun aku enggan. Rasa rinduku tiba-tiba saja menguap, hilang entah kemana.


Rasanya aku benar-benar ingin menyerah. Apalagi yang diinginkan suamiku sehingga lagi-lagi dia mulai bersikap tidak baik terhadap diriku. Padahal selama ini aku selalu mencari dan menunggu kabar darinya. Selalu menunggu.


"Dimana salahku ketika aku mulai terbiasa tanpa hadirnya? Bukankah dia yang mengajarkan aku untuk bersikap demikian? Lantas apalagi masalah baru yang ingin dia perbuat."


Bathin ku berucap lirih.


Aku binggung dengan semua hal yang terjadi diantara aku dan suamiku. Entah rumah tangga seperti apa yang sedang kami jalani saat ini. Semuanya terlihat baik-baik saja layaknya pernikahan yang harmonis dan hangat, namun tidak dengan kisah aslinya.


Aku hidup kesepian tanpa perhatian dari suamiku. Sudah lama aku merasakan status janda berulang. Aku terlihat seperti seorang janda, padahal aku memiliki seorang suami. Tragis benar kehidupan ini ku rasakan.


Aku lelah.


*****


Ku lirik arlogi ditangan.


"Sudah pukul dua belas siang, sudah waktunya shalat Dzuhur, lebih baik aku shalat dulu agar hatiku lebih tenang. Rasanya begitu banyak hal yang membuat dadaku terasa sesak untuk bernafas."


Gumamku dalam hati.


Bergegas berdiri dan berjalan melangkah keluar. Ketika melintas didepan toilet, aku berbelok dulu menuju toilet sebelum ke Mushola kantor. Berdiri mematung didepan cermin besar sambil menatap lurus kehadapan kaca.


Kali ini aku memilih menggunakan gamis berombak tingkat berwarna lavender, memakai khimar berwarna hitam polos berombak kecil dibagian bawah, memakai bros kecil berwarna gold berinisial D dan sedikit memakai riasan ringan dengan paduan lipstik berwarna pink soft berwarna bibir.


Aku mematung agak lama didepan cermin. Memperhatikan dengan seksama wajahku.


" Yaa Allah, aku harus kuat menjalani semua ini. Aku harus tegar."


Bathin ku berujar.


*****


Mungkin banyak yang bertanya bagaimana aku kelihatannya dimata orang lain. Menurut kebanyakan orang, aku termasuk kategori wanita yang menarik. Aku berkulit putih bersih dengan pipi yang selalu merona merah tanpa harus memakai pewarna pipi. Bermata bulat dengan bola mata yang terlihat besar seperti memakai soflens dan berbadan kecil dengan gigi gingsul di bagian atas sebelah kanan. Yang akan terlihat ketika aku tersenyum.


Aku jarang bergaul karena kebiasaanku yang suka pada suasana tenang. Lebih tepatnya aku tidak memiliki teman khusus kecuali Pradana. Menjadi sahabat dengannya pun itu tanpa sengaja. Kesehariaanku dahulu hanya kuliah dan membantu ibu berjualan. Berjualan kerupuk ikan dan kue dirumah dan melalui jejaring sosial. Aku terbiasa hidup sederhana bersama keluarga kecilku dulu. Rasanya indah sekali, kadang kala aku merindukan masa kecilku yang tentram.


*****


Masih mematung dan melihat pantulan wajahku dicermin. Aku mulai bergumam didalam hatiku.


" Apa yang kurang dari diriku ini Yaa Allah, cobaan apa lagi yang harus ku terima? apa lagi yang harus ku lakukan agar suamiku kembali bersikap baik terhadapku? apa lagi yang harus ku lakukan agar suamiku menganggap aku ada didalam hidupnya? Bagaimana aku harus bersikap agar suamiku kembali seperti dulu lagi? Apa yang harus ku lakukan Yaa Allah? Aku masih mencintai suamiku dengan sangat."


Aku menunduk sambil menahan air mataku. Cukup lama ku tundukkan kepalaku sehingga rasanya aku mampu menahan bulir air mata ini agar tidak menetes di pipi. Pura-pura mencuci tangan ketika ada karyawan wanita lain yang masuk, lalu segera buru-buru keluar dari toilet menuju Mushola. Takut terlewatkan waktu berjama'ah dengan yang lainnya.


Setibanya di mushola.


"Kamu melamun lagi Day? Kenapa lagi? Jangan melamun terus. Kamu sudah cukup jelek dengan wajah manyunmu itu."


Teguran Pradana mengusik lamunanku. Wajahnya tampak khawatir.


"Gpp Pra, cuma lagi mikirin laporan ku tadi kenapa gak balance, rinciannya macet ditengah. Pusing aku Pra kalo harus revisi terus."


Jawabku berbohong sambil cepat-cepat membuka sepatu dan kaus kaki lalu segera berdiri dan berjalan ke arah tempat wudhu akhwat.


"Semoga masalahmu cepat selesai Day, aku rindu senyummu."


Bisik Pradana pelan hampir nyaris tak terdengar sambil berlalu menuju tempat wudhu ikhwan.


Melirik ke arah Pradana berada dan berkata lumayan keras.


"Kamu ngomong apa barusan Pra? Aku gak denger soalnya. Pelan banget kayak tetangga lagi ghibah kamu."


"Ngomong apaan? Aku gak ngomong apapun kok. Buruan wudhu gih Day, nanti kelewatan kita jama'ah sama Imam."


Jawabnya ngeles sambil nyengir lebar.


"Yee ... Kamu kok barusan ngomong. Dasar cowok aneh kamu Pra, pantesan gak laku sampai sekarang. Awas jadi bujang tua kamu Pra. Hahahha ..."


Ejekku sadis.


"Tega kamu Day. Huh ..."


Balas Pradana manyun sambil memasang wajah merajuk dan berlalu.


Aku hanya tertawa cekikikan dibalik tembok pemisah tempat wudhu ikhwan dan akhwat. Laki-laki ini selalu mampu merusak citra imej ku yang jaim sehingga sifat asliku keluar semua dihadapannya. Padahal biasanya aku dianggap perempuan yang tak banyak berkata-kata bahkan beramah tamah terhadap lawan jenis.


*****


Semenjak hijrahku, Aku sengaja pelan-pelan merubah jati diriku yang begitu periang dan ramah menjadi sesosok wanita yang jauh lebih menjaga adabnya, sengaja ku tutup erat jati diriku yang sebenarnya karena ku akui, pribadiku yang sebenarnya tidak sesuai dengan pakaianku saat ini.


Ada rasa malu ketika aku bersikap berlebihan seperti dulu. Gatau kenapa, lama kelamaan, aku nyaman dengan diriku yang sekarang. Pribadi yang sudah jauh dari kata "Pecicilan". 


Namun dia, Pradana Abdi Jayakarta, dia selalu saja merusak tembok pertahananku,  sehingga aku akan kembali menjadi aku yang dulu ketika bersamanya.


Disatu sisi, aku nyaman menjadi diriku yang seperti ini ketika bersama Pradana. Dia selalu memberikan kenyaman yang begitu hangat ku rasakan.


Entahlah ...


Namun jika kalian bertanya apakah aku pernah jatuh cinta kepada Pradana? Jawabannya tidak pernah. Aku selalu menganggapnya sebagai sahabat, dan sulit rasanya bila ku ganti kata tersebut menjadi kata pasangan.


Rasanya sama sekali tidak pas untuk ku jalani.


Aku takut kehilangan dia. Sosok hangat yang selalu membuatku tersenyum. Yang selalu bertanya kabarku dan yang selalu ingin tau apapun tentang diriku namun selalu berakhir nol besar karena aku lebih memilih untuk diam dan pergi. Begitulah sosok Pradana bagiku. Dia seseorang yang memiliki sebuah sudut istimewa didalam hatiku. Tapi jika dikatakan itu sebuah rasa, ku rasa ... itu belum sampai kearah sana.


Apakah ini perasaan yang tidak pernah ku sadari?


Entahlah ...


Aku pun tak mampu menjawabnya. Namun saat ini, tanpa ku sadari, Pradana sering hadir mengisi hari-hariku yang kosong tanpa sosok suamiku. Dia mulai sering bertanya aku kenapa dan butuh apa. Mulai sering mengingatkan aku agar jangan melupakan Ibadahku. Bahkan dia juga lebih perhatian kepada Zahra. Dia selalu menjadi sosok lelaki yang berbeda untukku.


Apakah perasaanku berubah sekarang terhadap Pradana?


Tidak.


Aku masih belum merasakan apapun terhadap hadirnya selain dia baik karena dia peduli kepadaku sebagai sahabat. Masih kalimat itu yang selalu ku yakini hingga sekarang. Namun apakah benar ada persahabatan diantara laki-laki dan perempuan?


Jawabanku ... Entahlah.


Aku pun tidak memahami kalimat tersebut.


*****


Ku segerakan wudhuku agar bisa ikut berjama'ah dengan yang lainnya. Dikantor terdapat mushola yang terbilang lumayan mewah, selain ber-AC di setiap pojok ruangan, dekorasi musholanya pun terbilang bagus dengan aksen langit-langit bermotif kubah berukiran emas, pada bagian tempat imam berdiri jauh terlihat lebih mewah karena menyerupai tempat imam di Masjid Nabawi.


Sekeliling begitu sangat nyaman karena memiliki aroma khas timur tengah ketika kita masuk kedalam Mushola. Aromanya selalu membuat kita rindu akan Masjidil Haram. Membuat siapapun merasa betah ketika masuk kedalamnya dan enggan cepat-cepat keluar.


Mushola kantor adalah salah satu tempat favorite ku ketika bersedih. Ditambah lagi aku menyukai suasana tenang dan sunyi. Aku selalu nyaman dengan kesendirianku ditempat ini. Aku merasakan nyaman.


*****


Setelah selesai shalat berjama'ah. Semua karyawan segera berangsur keluar dan menuju kantin kantor. Namun entah kenapa kali ini, aku merasa enggan untuk keluar dari Mushola. Sengaja berdiam diri lebih lama dan memperpanjang dzikirku yang entah sudah keberapa kali ku ulang terus menerus sampai tanpa sadar sudah berlalu sejam lamanya.


Ku lirik arlogi ditangan.


"Maa syaa Allah, aku terlena." 


Gumamku sambil bergegas berdiri.


Segera ku lipat mukena dan melangkah pelan menuju tempat sepatu. Mencari sepatu dan kaus kakiku dimana lalu duduk di pelataran luar Mushola sambil memasang kaus kaki dan sepatu. Ketika sedang asik dengan sepatuku, lantas ada yang datang menegur secara tiba-tiba membuat diriku tersentak kaget karena tegurannya.


"Kamu disini Neng? Barusan Aa ke ruangan Kamu dan Kamu gak ada disana. Pas Aa ketemu sekretaris Kamu, katanya Kamu mungkin di Mushola, jadi Aa nyusulin Kamu kesini. Kenapa hp Kamu gak aktif Neng?"


Tanyanya beruntun mengusik lamunanku tadi.

__ADS_1


"Oh iya Afwan a, mungkin hpnya lowbat, tadi Day gak bawa chargeran."


Jawabku berbohong sambil memasang sepatuku keduanya.


"Neng, kita harus bicara, kamu ada waktu?"


Tegur suamiku lagi.


"Kita ketempat makan biasa aja yaa A. Di cafe daerah Kantor Kejaksaan saja. Suasananya juga enak disana gak terlalu rame."


Ajakku kepadanya.


"Ok neng, Aa tunggu kamu di Lobi."


Dia pun berlalu sambil berjalan menuju Lobi meninggalkan aku dipelataran Mushola.


*****


Bergegas berdiri lalu berjalan agak laju menuju ruangan. Mengambil tas dan gawai, lalu menutup laptop. Segera keluar dan berjalan menuju Lobi. Ku lihat dari kejauhan, dia sedang berdiri menunggu ku disana.


Sesosok lelaki itu. Lelaki tampan yang membuatku jatuh cinta karena tutur katanya yang lembut ketika kami pertama kali bertemu. Tanpa sengaja dia menegurku lebih dulu diarea parkiran tempat kajian. Aku terpesona ketika melihat wajahnya. Dia lelaki pertama yang menolak menatapku ketika bertemu untuk pertama kalinya. Aku terkesima.


Lelaki tampan berkulit sawo matang. Berparas tampan dengan janggut yang tipis. Hidungnya yang mancung dan sorot matanya yang teduh. Memakai kurta berwarna navy gelap dengan tambahan celana slime berwarna gelap senada. Memakai sepasang sendal gunung dan sebuah tas ransel dipundaknya.


Dia menegurku lebih dulu. Dia tampak sedikit culun dengan penampilannya itu. Karena jarang sekali lelaki zaman sekarang memakai pakaian seperti dia. Tapi ... Sekalipun terlihat culun, dia masih sedap dilihat mata.


"Kamu Dayana bukan? Afwan ... Ini titipan buat acara nanti. Barusan ketua kajian meminta saya untuk memberikannya ke kamu. Ini  ..."


Dia menegurku namun pandanganya menunduk kearah lantai parkiran. Aku terkesima dengan sikapnya. Tapi juga sedikit berpikir dia aneh. 


"Kenapa dia menunduk ketika ngeliat aku nii cowok? Aneh."


Begitu pikirku.


*****


Setibanya dilobi.


"Keluarnya Pakai mobil Day atau mobil Aa yaa?"


Entah apa yang merasukiku sehingga tiba-tiba aku berkata demikian. Bodoh sekali pikirku, kenapa aku bertanya perihal ini. Ada rasa canggung yang tiba-tiba muncul.


"Kamu ikut Aa aja Neng. Biar gak capek kamu nyetir sendiri. Hayuk Neng"


Lanjutnya sambil mengenggam erat tanganku tiba-tiba.


Ku akui. Aku terkesima dengan sikapnya barusan. 


" Ada apa dengan suamiku? Kenapa tiba-tiba setelah sebulan tak pernah pulang dan mencariku lantas tiba-tiba menjadi sebaik ini?" Begitu banyak pertanyaan didalam hatiku, namun sengaja ku urungkan hal tersebut. 


Aku menikmati perlakuan suamiku yang tiba-tiba saja menjadi seorang suami idaman didepan semua orang. Aku ikut larut dengan perlakuan manisnya kala itu. Sejujurnya, aku merindukan suamiku. Sangat merindukannya.


*****


Menuju mobil. 


Masuk kedalamnya. Menyapu pandangan kesekeliling sambil bergumam didalam hati.


"Mobil siapa ini? Kenapa suamiku berganti mobil namun tidak bercerita kepadaku? Ini bukan mobil yang biasa dipakai suamiku, lantas mobil siapa ini?"


Bathinku bertanya.


Lagi-lagi masih selalu menjadi tanda tanya besar. Begitulah dia suamiku ... Apapun yang terjadi didalam hidupnya, aku adalah orang terakhir yang akan tau hal itu. Sungguh menyedihkan sekaligus menyakitkan untukku yang berstatus isteri sah nya ini. Mungkin karena aku tidak begitu penting didalam hidupnya. Aku larut dengan pikiranku sendiri.


"Kenapa Neng? Kaget Aa pakai mobil siapa?"


Tiba-tiba saja tegurannya membuyarkan lamunanku.


"Ohh ..  Afwan A, gak kok."


Jawabku asal sambil pura-pura membenarkan letak tas ku yang sebenarnya tidak salah.


"Ini Aa beli kemarin Neng, tender sepuluh milyar kemarin Alhamdulillah menang, dan ini Aa beli buat kamu. Nanti kuncinya Aa kirim kerumah yaa Neng. Tunggu Aa."


" Deeeek..!!!"


Aku kaget atas pernyataannya. Lagi-lagi aku bertanya didalam hati.


"Siapakah suamiku ini sebenarnya? Tadi dia bersikap dingin didalam pesan kepadaku, lantas kenapa sekarang sikapnya berubah dan berbeda dari biasanya." Aku masih binggung dengan sikapnya barusan.


"Siapakah suamiku ini sebenarnya Yaa Allah? Orang seperti apa suamiku ini?"


bathinku bertanya-tanya.


Aku hanya tersenyum membalas ucapannya. Lalu kembali menolehkan pandanganku ke sebelah kiri kaca dan terdiam sambil berusaha menikmati pemandangan jalan disepanjang jalan yang kami lalui. Hanya pemandangan macet karena bertabrakan dengan jam pulang sekolah anak smp dan sma. Suasana begitu ramai, penuh motor dan mobil berdesakan dijalan tanpa mau mengalah satu sama lain. Suamiku memilih fokus menyetir dan sesekali membunyikan klakson karena keadaan ramai.


"Hmm...pernyataan apakah yang harus kudengar nanti dari suamiku Yaa Allah?"


Aku menghembuskan nafasku dalam. Kembali larut dengan pemikiranku lagi.


*****


15.30 WIB


Tiba di cafe.


"Kamu mau pesan apa Neng? Seperti biasa? Atau mau ganti menu?"


Tanyanya sambil membuka menu minuman.


"Iya A. Yang biasa saja."


Jawabku singkat.


"Mau sekalian makan gak Neng?"


"Enggak A, Day masih kenyang."


Jawabku seadanya. Sebenarnya aku belum makan, namun entah hilang kemana nafsu makanku ketika hatiku bercampur aduk tentang sikap suamiku hari ini. Aku jadi enggan untuk makan.


"Oke."


Balasnya singkat.


"Ya sudah Mas, saya pesan matcha milkshake topping eskrim vanila, terus cappucino dingin dan sup udang jamurnya satu. Terus dessert nya banana float topping vanila matcha dan chesse roll. "


Ucapnya panjang lebar kepada waittres sambil menujuk isi buku menu pesanan.


"Baik Pak. Terimakasih. Silahkan ditunggu.  Pesanan Bapak dan Ibu akan datang dalam waktu tiga puluh menit"


Jawab waitress tersebut sambil berlalu.


Aku sengaja menyibukkan diri dengan melihat layar gawaiku yang masih mati. Seolah-olah sedang fokus dengan sesuatu hal padahal sebenarnya aku hanya menatap layar gawai yang mati. Aku masih bertanya-tanya didalam hati. Perihal apa yang ingin dikatakan oleh suamiku hingga dia muncul kembali setelah menghilang sebulan lamanya tanpa kabar. Aku menunggu jawabannya saat ini.


Tiba-tiba dia menegurku dan mulai berbicara.


"Neng, kamu bahagia menikah dengan ku?"


Tiba-tiba saja dia berkata demikian.


Aku kaget dengan perkataannya lantas melihat kearahnya duduk sambil berkata.


"Bahagia A, In syaa Allah. Mau apapun sikapmu terhadapku, aku bahagia menjadi isterimu A."


Jawabku menjelaskan.


"Kamu yakin Neng dengan perkataanmu?"


Tanyanya lagi dengan wajah yang tiba-tiba serius.


"Kenapa A? Kenapa tiba-tiba mempertanyakan perihal ini? Ada apa?"


Entah kenapa jawabku atas pertanyaan suamiku malah demikian.


"Maafkan Aa Neng..maafkan Aa. Tapi ada yang harus kamu liat."


Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut suamiku. Lantas dia diam dan membuka gawainya. Menyentuh layarnya dengan cepat lantas meletakkan gawainya tepat di depan hadapanku.


Aku segera melihat apa yang ditunjukkan oleh suamiku. Sebuah foto perempuan cantik memakai hijab. Wanita cantik memakai kemeja dan blazer berwarna  salem dengan balutan jilbab berwarna peach bermotif bunga abstrak dan memakai celana bahan skinny berwarna putih gading. Memakai high heels berukuran 5 sentimeter berwarna putih gading dan menjinjing tas branded berukuran mini.


Simple namun terlihat anggun. Senyumnya begitu indah. Seorang perempuan cantik berlesung pipi di kiri dan kanan. Matanya terlihat sipit dibalik kacamatanya yang fashionable itu. Dia memakai kawat gigi diantara giginya sehingga makin memperlihatkan kecantikan yang sungguh luar biasa menurutku. Aku tau perempuan itu siapa. Namun berusaha datar saja tidak terkejut dan merespon suamiku dengan bertanya.


"Siapa ini A? Apakah dia teman Aa?"


Tanyaku berbohong sambil memasang wajah sewajar mungkin.


"Bukan Neng, dia seseorang yang pernah hadir didalam hidupku dahulu sebelum aku mengenalmu. Dia Perempuan yang pernah menolakku ketika aku mendekatinya dulu dikampus. Namun karena usahaku, aku sempat memiliki hatinya sesaat. Namun karena keadaan, aku terpaksa berpisah dengannya."


Jawabnya menjelaskan.


" Dulu dia wanita yang kucintai, dia juniorku ketika kuliah dulu. Aku mengaguminya karena dia wanita yang sholehah menurutku. Tutur katanya lembut bahkan dia wanita yang supel, dia mudah bergaul dengan siapapun. Aku berusaha mengejarnya karena dia tidak memperdulikanku saat itu."


Jelasnya sambil menerawang lalu kembali mengatur nafasnya.


" Terus?"


tanyaku lagi agar dia melanjutkan penjelasannya.


Suamiku terdiam. Cukup lama dia terdiam. Menatapku dengan tatapan yang tidak mampu ku artikan. Lalu dia kembali berbicara.


" Aku masih memiliki rasa terhadap dia Neng. Perasaan ini muncul lagi tanpa bisa ku tolak. Aku kehilangan kendaliku."


Suamiku terdiam dan melipat jemarinya. Dia kembali terdiam.


Hatiku sakit mendengar perkataan suamiku. Namun bukan aku namanya jika langsung ku tunjukkan isi hatiku didepannya. Ku tarik nafas panjang lalu menghembusnya cepat sambil berkata.


" Nikahilah dia A, Day mengizinkan. Jika dia wanita yang kamu inginkan, maka kejarlah dia. Aku akan belajar mengerti akan keinginanmu itu. Lagi pula, kemarin sudah ku sampaikan a, jika lebih baik kita berpisah saja. Mungkin itu hal yang terbaik." Bodoh sekali rasanya kalimat barusan keluar dari mulutku. Aku terdiam lumayan lama. Sedikit menyesali ucapanku barusan.


Suamiku tampak kaget mendengar ucapanku dan cepat-cepat berkata.


" Bukan begitu Neng, Aa gak kepikiran buat menikahi dia, apalagi hingga kita bercerai, hanya saja.. "


Ucapannya terhenti. Dia kembali terdiam.


" Hanya saja kenapa A?"


balasku mencari jawaban.


" Gpp Neng. Oh iya itu pesanan kita sudah datang, kamu minum dulu. Takut keburu gak enak jika dibiarkan lama-lama."


jawabnya lagi sambil mengambil minumannya. Dia menyeruput cappucino dingin miliknya dan kembali memegang gawai dan fokus dengan benda pipih itu.


" iya A."


Hanya itu jawaban yang keluar dari dalam mulutku.


Begitulah suamiku. setiap aku bertanya dan minta penjelasan, dia akan memotong perkataanku dan mengubah topik pembicaraan kami kearah yang lain. Dia masih sama. Dia masih suamiku yang penuh dengan tanya yang tidak pernah ku temukan jawabnya.


Ku nikmati minumanku sambil melihat dan memperhatikan pemandangan diluar cafe. suasana begitu ramai di sekelilingku namun entah kenapa aku merasa kesepian ditempat yang sedang aku duduk saat ini. aku merasa terhina dan terluka.


Kami masih sibuk dengan pemikiran kami masing-masing, entahlah.. suamiku masih sibuk dengan gawainya. Seolah-olah pernyataannya barusan itu perihal biasa. Bahkan sesekali dia mengangkat panggilan telepon di gawainya yang tidak pernah berhenti dan mengetik banyak hal dipapan gawainya tanpa melirikku.


Kadang aku berpikir


" Apakah dia pernah menganggap aku ada?"


Aku terdiam dalam lamunanku.

__ADS_1


"Neng, Aa pamit. Ada yang harus Aa kerjakan saat ini. Semuanya biar Aa yang bayar Neng, nanti kamu pulang pakai taksi saja ke kantor yaa. Maafkan Aa Neng, Aa pamit harus buru-buru." 


Dia berdiri lalu berjalan kearahku. mencium keningku agak lama dan berlalu meninggalkan aku dimeja ini sendirian. Padahal belum ku jawab perkataannya barusan, namun dia segera berlalu dan tak berusaha melirik atau membalikkan badannya untuk melihatku dari kejauhan. tega sekali dia pikirku.


Ku nyalakan gawaiku dan beberapa pesan muncul dilayarnya. Bahkan beberapa panggilan tak terjawab pun ikut bermuncul. Banyak sekali pesan yang dikirimkan suamiku kepadaku. Malas sekali ku buka pesan-pesannya. Ku simpan kembali gawaiku didalam tas.


Lima belas menit kemudian pesanan taksiku datang. Suamiku sudah memesan taksi tersebut atas namaku. Aku segera berjalan keluar cafe dan menuju taksi tersebut. Lalu kembali ke kantor lagi dengan sejuta pemikiran dan pertanyaan yang masih belum terjawab dengan sempurna.


*****


17.30 WIB


Ku langkahkan kaki dengan malas menuju ruangan. Rasanya ingin aku menangis namun seperti tersekat rasa itu dan tak mampu keluar air mataku ini. ku rasakan sakit yang teramat sangat sakit dari biasanya. Aku benar-benar terluka.


Ku benamkan wajahku dilipatan tangan lantas memejamkan mata cukup lama. Rasanya aku tak ingin bangun lagi atau bahkan aku tak ingin melanjutkan mimpi burukku ini. Itu ucapan dalam benakku sebelum terlelap dalam tidur. Tanpa sadar, Aku menangis dalam tidurku.


19.30 WIB


Aku terbangun dan segera melihat alrojiku.


"Maa syaa Allah, aku ketiduran"


segera ku kemas tas dan laptopku. mengambil jaket dan bergegas keluar menuju lobi. berjalan cepat menuju parkiran dan tanpa sengaja bertemu Pradana disana. Entah sedang apa lelaki ini masih dikantor jam segini.


"Kamu baru pulang Day? Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya sambil memperhatikan wajahku yang berantakan karena sedikit makeup ku terhapus karna air mata.


"Iya Pra, Maa syaa Allah aku ketiduran tadi diruangan. Capek sekali rasanya. padahal hari ini aku ada janji buat beliin Zahra eskrim bareng. Qadarullah aku kelupaan Pra dan malah tertidur diruangan. Pasti dia marah kepadaku" Jawabku murung sambil mengerucutkan ujung bibirku.


"Kebetulan sekali Day kalau begitu. Ini .. Aku baru saja dari supermarket membelikan ini buat Zahra. Suatu kebetulan atau ini takdir Allah yaa ... Tadi aku lagi nyari sesuatu, pas lewat di bagian eskrim, aku kepikiran Zahra, jadi aku beli saja sekalian. Mumpung sekalian lewat. " Balas Pradana sambil menunjukkan kantong belanja besar berisi sekresek penuh es krim.


"Maa syaa Allah Praa.. itu beneran buat Zahra? Wah .. ada hal apa ni kok tiba-tiba kamu kepikiran ngasi hadiah ke Zahra? Tumben bener, lagi jatuh cinta yaa kamu Pra?"


tanyaku mencari jawaban sambil menatap lekat wajah pria itu.


" Kepengen aja. Ahh jatuh cinta apaan sih Day, ada-ada saja kamu."


jawabnya lagi sambil nyengir dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kebiasaan kamu Praa. Selalu memanjakan dia"


balasku sok memarahi.


*****


Hari ini lelaki itu tampak sangat tampan. dengan kemeja berwarna biru muda dan memakai celana slime berwarna abu-abu muda. kerah kemejanya dibiarkan terbuka satu. lengkap dengan gaya rambut yang rapi seperti eksekutif muda. Dipadu dengan sepasang sepatu bermerek berwarna coklat. Serasi sekali dengan postur tubuhnya yang tinggi dan agak terlihat bidang.


Dia tampak sederhana namun memikat setiap mata yang melihatnya karena bentuk wajahnya yang lumayan tampan menurutku. Hidungnya adalah salah satu pesona Pradana. Menurutku, hidungnya terlalu mancung untuk ukuran orang Indonesia. Dia Berkulit putih bersih tanpa hiasan kumis di bibirnya yang berukuran tipis. hanya sedikit berjenggot tipis dan sebuah tahi lalat diatas alis kanannya. mungkin jika aku tak pernah mengenal suamiku, aku akan jadi perempuan pertama yang menyukainya. Menurutku dia cukup menarik untuk didekati.


*****


Pradana hanya tersenyum. Memberikan sekresek kantung penuh berisi eskrim dan pamit pulang duluan. Aku berterimakasih kepadanya sambil berteriak dari arah mobilku.


"Sering-sering yaa Pra ... Syukron."


Balasku berteriak sambil tersenyum lebar.


"Baik nyonya besar. Aku pamit duluan yaa Day. Assalamu'alaykum."


Balasnya berlalu.


"Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh Pra."


Balasku pelan.


Ku lajukan mobilku sambil berusaha secepat mungkin pulang kerumah. Aku merindukan ketiga buah hatiku.


*****


20.30 WIB


Membuka pintu dan mengucapkan salam.


Menyapu sekeliling ruangan mencari keberadaan anak-anakku. Ternyata Zahra sedang asik menonton di gawainya dan sikembar sedang bermain bersama bi Arum.


"Assalamu'alaykum bik."


Sapaku kepada bi Arum.


"Waa'alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh bu. Baru pulang bu?"


Balas bi Arum bertanya.


"Iya bik, tadi banyak kerjaan banget dikantor. Capek banget rasanya pengen langsung istirahat."


Jawabku seadanya.


"Mau bibik siapkan lagi makan malamnya bu? Biar bibi ke dapur manasin lauk sebentar jika ibu mau makan."


Tanya bi Arum lagi.


"Gak usah bi, tadi Day sudah makan dikantor."


Jawabku berbohong.


"Yaa sudah kalau begitu bu. Bibi rapiin meja makan sebentar."


Balas bik Arum sambil berlalu.


"Eh anak Mami lagi ngapain?"


Sapaku ke arah Zahra yang sedang fokus dengan gawainya.


"Mami ....."


Balas Zahra sambil meletakkan gawainya dan berlari memelukku.


"Kakak rindu Mami. Mana eskrim kakak mi?"


Balasnya bertanya.


"Waduh .. Masa nanya eskrim dulu, emang gak kangen sama amii yaa nak yaa?" Tanyaku sambil memasang wajah sedih.


"Kakak kangen Mami, kakak rindu. tapi kakak lapar mami. kakak mau eskrim." Jawabnya polos.


"Anak Mami belum makan emangnya?" tanyaku lagi.


"Hari ini kakak makan sosis aja mi, gamau makan nasi. Kakak mau eskrim mi" Jawabnya sambil memelukku lagi.


Mengangkat kantung kresek pemberian Pradana tadi lalu memberikannya kepada Zahra.


"Wahhh .. Eskrim .. Banyak .. Makasih Mami" kembali Zahra memelukku lagi. Lalu membongkar isi kresek dan sibuk memilih-milih eskrim yang dia sukai.


Begitu banyak eskrim yang diberikan Pradana sehingga Zahra bisa bebas memilih varian rasa yang mana yang dia sukai. Hanya rasa coklat dan strawberry yang dipilih Zahra. sisanya ku minta bi Arum agar menyimpannya kembali ke kulkas. Takut mencair, gak enak lagi jika nanti dimakan.


Ku biarkan Zahra yang sedang asyik dengan eskrimnya. Melangkah maju dan memeluk anak kembarku yang asik dengan mainan theeternya. Menyapa mereka dan berkata.


"Assalamu'alaykum anak-anak cantiknya Mami, lagi ngapain Nak, serius sekali. Mami rindu nak."


Tanyaku lagi sambil tersenyum kepada kedua anak kembarku, Yura dan Zura.


Mereka tersenyum seperti menjawab tanyaku. Mengemaskan sekali bayi sepuluh bulanku ini. Ku peluk keduanya bergantian. Gemas sekali melihat kedua anak kembarku ini. Wajah mereka benar-bebar copyan dari suamiku. Mirip sekali dibagian hidung dan mata.


Ku ciumi pipi dan kening mereka lalu berlalu menuju Zahra dan mencium kening anak itu lalu melangkah gontai menuju kamar. ku jatuhkan tubuhku kearah kasur. sepi sekali ku rasakan ruangan ini. seperti tidak ada cinta didalamnya.


ku pejamkan mata sebentar. Rasanya lelah sekali ku rasakan hari ini. ku ambil gawaiku dan ku lihat pesan disana. mataku tertuju kepada nama suamiku. ada beberapa pesan yang belum ku baca. ku buka pesan itu satu persatu. aku tertegun dengan isi pesan suamiku.


*****


Gawaiku berbunyi ...


11.30 WIB


[ Neng, jawab pesan ku. ]


11.32 WIB


[ Neng, kenapa hpmu tidak aktif?]


11.35 WIB


[ Neng, Aa temui kamu sekarang, kamu dikantor kan?]


11.45 WIB


[ Balas Neng, Aa otw kesana.]


12.25 WIB


[ Neng Aa diruangan kamu, kamu dimana sayang??]


16.25 WIB


[ Neng, maafkan perkataan Aa tadi. Aa tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Aa hanya ingin jujur.]


[ Aa tau kamu kecewa sama Aa Neng, tapi Aa juga tersiksa dengan kebohongan ini. tidak hanya kamu yang terluka tapi Aa juga merasakan hal yang sama.]


[ Kamu tau Neng, kamu isteriku. Tapi makin kesini aku makin merasakan bahwa tidak ada rasa cinta untukmu dihatiku. Aku dilema dengan perasaanku sendiri Neng. Aku merindukanmu, namun ketika aku melihat dia, rasa rinduku kepadamu hilang. Jujur, aku binggung dengan perasaanku sendiri.]


[ Aku tau jujurku menyakiti dirimu neng, namun.. aku sudah berusaha selama ini untuk mencintaimu. Apa lagi ketika kamu memberikanku anak kembar, aku bersyukur dan berusaha keras untuk tulus mencintai kamu. Tapi ... bayangan wajah Puspa Ningsih masih tak dapat ku tepis. Dia terus muncul dalam pikiranku. Aku tau dia melukaiku dimasa lalu, namun hatiku masih ingin memiliki dia. Aku tau aku salah Neng, Aku sadar aku egois, Tapi .. Haruskah aku terus membohongi diriku?Jawab aku Neng, aku harus bagaimana?]


16.50 WIB


[ Kamu masih enggan menjawab pesanku Neng? Jujur aku tak ingin menduakanmu, tapi .. Aku hanya ingin berkata jujur. Aku cukup kaget dengan ucapanmu tadi di cafe, ku anggap jawaban itu sebagai rasa terkejutmu atas ucapanku. Kamu ingat sehari sebelum aku meninggalkan rumah? Kita bertengkar hebat dimalam itu, aku sadar ucapanku keterlaluan. Kamu tau kenapa aku berucap demikian? Aku memaki diriku sendiri Neng, namun ku jadikan kamu pelampiasanku. Maafkan aku.]


[ Awalnya aku tak menduga dia rekan bisnisku yang baru Neng. Dia kolega dari rekan bisnisku sekarang. kami bekerja sama untuk proyek sepuluh milyar itu, dan kamu tau neng? Dia yang membantuku agar terpilih dan menang tender itu. Dia hebat Neng. Aku terkesima dengan sikapnya. Dia handal dalam mengelola bisnis bernilai besar. Sangat berbeda dengan dia yang dulu ku kenal.]


[ Karena kami sering bertemu. Jujur .. aku kembali jatuh cinta kepadanya Neng, tanpa ku sadari. dia memberikan kehangatan yang tidak ku rasakan ketika bersamamu Neng. Ada sepengal perasaan ku sadari belum selesai, karena hadirnya kembali didalam hidupku,  aku merasakan hal yang jauh berbeda. Aku nyaman berada didekatnya neng. Lantas aku harus bagaimana dengan perasaanku ini?]


[ Neng, aku ingat dengan jelas perkataanmu malam itu tentang perceraian. Namun aku tak ingin berpisah darimu Neng, aku juga membutuhkan anakku. Aku tak ingin anakku tumbuh tanpa sosok seorang ayah disampingnya seperti Zahra. Aku terlahir tanpa sosok Ayah, aku tak ingin anak ku merasakan hal yang sama seperti yang aku alami Neng. ]


*****


Ku rasakan sayatan demi sayatan ketika membaca isi pesan dari suamiku. Aku sudah tak sanggup membaca isi pesannya yang lain. Tega sekali dia berbicara demikian di pesan singkatnya kepadaku. Apakah dia tidak menyadari jika aku adalah isterinya? Lelaki macam apa yang tega menyakitiku seperti ini. Seluruh tubuhku mulai lemas. Rasanya aku kehilangan sebagian semangat hidupku.


" Yaa Allah, kuatkan aku."


Hanya kalimat itu yang terbesit dan melintas dari dalam pikiranku. Aku benar-benar terpuruk dengan luka yang terkoyak lebar.


Rasanya ingin ku tampar bahkan ku pukuli wajah lelaki ini kala itu. Ingin ku lempari semua barang ke arah wajahnya agar dia merasakan betapa sakitnya hatiku karena perbuatan dan pengakuannya. Namun aku tak mampu. Aku selalu menjadi lemah semenjak keputusanku dulu menjadi seorang janda. Aku terus dibayang-bayangi rasa ketakutan akan perpisahan. Aku sekarat dengan perasaanku sendiri.


Segera ku letakkan gawaiku disamping bantal. Bangkit dari tempat tidur lalu berdiri mengambil handuk baru didalam lipatan lemari dan berjalan lemah menuju toilet.


"Sebaiknya aku mandi."


Hatiku begitu letih berpikir saat ini.


Ku hidupkan shower mandi sekencang mungkin agar tangis ku larut didalam deruan air yang mengalir deras. Hatiku terluka hebat. Benar-benar hancur perasaanku saat ini. Aku hanya mampu menangisi kisah hidupku. Betapa ku sesali pilihanku kemarin untuk menikah lagi.


Setelah selesai mandi. Segera ku ambil baju tidurku. Berpakaian lengkap lalu kembali lagi menuju toilet dan mengambil wudhu lalu bergegas menunaikan shalat Isyaa' ku yang sudah sangat terlambat. Di hamparan sajadah ku ceritakan semua kesedihanku sambil berdo'a.


" Yaa Allah, ternyata suamiku tak pernah mencintaiku. Ternyata sejak awal dia hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan semata. Hatiku sakit Yaa Allah. Haruskah ku jalani semua hal ini dengan ikhlas Yaa Allah? Aku sudah berusaha untuk menjadi isteri yang berbakti semampuku Yaa Allah, Lantas kenapa ini yang kudapati didalam kisahku? Apa salahku terhadap suamiku Yaa Allah? Apa salahku jatuh cinta dengan lelaki ini? Haruskah aku bertahan dengan semua ini? Yaa Allah, demi anak-anakku, aku akan melanjutkan pilihanku yang selama ini ku tarik ulur. Hatiku benar-benar lelah Yaa Rabb. Bantu aku. Berikan aku kekuatan agar aku mampu untuk menghadapi semua masalahku ini. Aku selalu yakin akan kuasamu Yaa Allah. Aku berserah hanya kepadamu Yaa Allah, hanya kepadamu."


Ku akhiri do'a ku dengan isakan tangis. Ku luahkan seluruh isi hatiku lewat berdo'a kepada Allah karena hanya hamparan sajadah saja yang mampu membuatku tenang akan semua hal perih yang aku lalui selama ini. Rasanya aku benar-benar tak sanggup terus bertahan dengan pernikahan ini. namun aku selalu takut untuk mengatakan isi hatiku yang sebenarnya.


Lantas .. Harus apakah aku???? Haruskah aku terus bertahan dengan perasaan luka ini .. Mataku semakin kencang mengeluarkan air mata, aku benar-benar larut dengan kesedihanku. Aku benar-benar terpuruk didalam luka dalam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2