Balas Dendam Dengan System

Balas Dendam Dengan System
BAB 02. DI HAJAR PREMAN PASAR


__ADS_3

20 tahun kemudian...


Nama ku Yudra Pratama, tinggi ku 168cm, kulit kuning Langsat, rambut hitam lurus sedikit bergelombang, mata coklat terang, hidung mancung, badan kurus dengan berat 50kg, ya kalau di bilang sedikit tampan, hari ini umur ku genap 20 tahun, aku bersekolah sampai SMA saja.


Semenjak aku lari dari tragedi berdarah, tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek yang menyelamatkan hidup ku, nama kakek Suan Ban dia hidup sebatang kara, dari cerita yang pernah aku dengar kakek bukan lah berasal dari negara ini tapi kakek belum pernah memberi aku penjelasan kenapa dia sampai disini sendiri-an.


Aku di sekolahkan kakek sampai SMA meski kami hidup pas-pasan di gubuk yang kami tempati tapi itu tidak menyirnakan semangat hidup ku, karna di balik itu semua aku mempunyai tujuan yang panjang.


Meski aku sering di bully, tapi itu tidak menyirnakan semangat ku untuk melanjutkan pendidikan, Meski hanya tamatan SMA saja tapi itu sudah memmbuatku sedikit mempunnyai perbekalan ilmu.


Saat aku baru tamat SMA, kakek jatuh sakit membuat aku sedih karna kakek seperti tidak bisa bergerak ataupun mengeluarkan suara sedikit pun.


Semenjak kakek sakit aku berusaha sekuat tenaga mencari penghasilan berlebih untuk mengusahakan beli obat dan juga makan kami sehari-hari, meski pekerjaan ku di bilang serabutan tapi masih bisa la menghasilkan meski pas-pasan, pagi aku menjadi kuli panggul dan malam nya aku kerja di rumah makan jadi tukang cuci ataupun melayani pelanggan.


Yang aku tau keluarga ku hanya seorang Ibu saja, dan sampai sekarang Aku juga tidak tau dimana keberadaan Ayah ku karna Ibu selalu mengelak saat aku tanyai mengenai itu.


***


Pagi hari pasar rambutan...


"Yudra udah dapat pelanggan nya?"


Kata Aryo yang baru siap mengangkat barang pelanggan itu.


"Belum bang, baru mangkal aku"


Ujar Yudra sambil memperhatikan sekitaran nya.


Tidak lama ada seorang ibu-ibu yang memanggil dari kejauhan.


"Ha tuh-tuh samperin buat kamu itu"


Kata Aryo yang di angguki pelan oleh Yudra.


Dengan langkah lebarnya Yudra mulai mendekati Ibu itu.


"Yang mana barang nya buk?"


Tanya Yudra.


"Tuh yang disana lansung angkut ke parkiran ya"


Ujar sang ibu.


Lalu Yudra lansung mengangkut 1 karung 50kg penuh barang bawaan Ibu itu menuju parkiran,dan di ikuti oleh si ibu dari belakang.


"Nih dek uang nya"


Ibu itu menyodorkan uang 10.000 buat Yudra.


"Wah makasih banyak Buk"


ujar Yudra lalu melangkah ke tempat pangkalan awal nya.


Tidak jauh dari parkiran tempat Yudra berada tadi.


Duduk dua orang dengan pakaian yang seperti sengaja di Robekkan Sedang menatap kepergian Yudra.


"Anto, si Yudra udah ngasih setoran belum?"


Tanya Bagus.

__ADS_1


"Belum bang kemaren pas gw minta nggak di kasinya malah lari dia"


Ujar Anto sambil menghisap Rokok nya.


"Wah udah ngelunjak ya! nanti pulang kita samperin dia!"


Kata Bagus dengan wajah garang yang di balas anggukan oleh Anto lalu menyeruput kopi nya kembali.


***


Selama setengah hari penuh mungkin karna rejeki juga Yudra dan Aryo tak henti-hentinya mendapat kan orderan ngangkat barang bawaan pengunjung pasar itu.


"Hah, lumayan ya bang hari ini rame juga yang order kita"


Kata Yudra yang lagi duduk di pangkalan sambil menghitung penghasilan nya itu.


"Iya... tumben juga rame hari ini, gw aja sudah dapat 150.000 ini, lumayan lah buat beli susu anak"


ujar Aryo sambil mengipas-ngipas wajah nya dengan topi.


"Eh Yudra, kemaren gw dengar lu lari ya dari si Anto, hati-hati lu! gw dengar kemaren mereka nyari lu"


Kata Aryo yang memasang wajah serius.


"Kemaren memang nggak ada uang aku bang, mangkanya nggak bisa nyetor, Abang kan tau aku butuh juga buat beli obat kakek"


Ujar Yudra yang tak terlalu mengindahkan perkataan Aryo.


"Ya itu terserah lu aja si, gw cuman memperingati!"


kata Aryo lalu bangkit melangkah pulang karna merasa penghasilan nya terasa cukup untuk hari ini.


***


Saat dijalan dengan perasaan bahagia Yudra melangkah kan kaki nya tanpa dia sadari dari tadi di buntuti oleh Anto dan Bagus itu.


Di perjalanan...


Tiba-tiba tangan Anto lansung memegang kerah baju Yudra lalu di bawa ke tempat sepi.


"Ba-bang a-da apa ini, kemana aku di bawa?"


Kata Yudra dengan keringat dingin tapi tidak ada sama sekali tanggapan itu.


Saat tiba di area parkiran terlantar di area sekitar pasar itu.


"Dukkkkkkkk!"


"A-aduh... sakit, Kenapa ini bang?"


Tanya Yudra panik, karna lansung di banting Kedinding oleh Anto itu.


"Kenapa kata lu? lu nggak nyadar ya udah mainin kita kemaren baji*****"


Raung marah Anto karna kemaren Yudra lari dari nya itu.


"plak!"plak!"plak!"


Suara gema tamparan yang di layangkan Anto itu dengan keras.


"Lu pikir gw gobl** ya? kata lu gw nggak tau berapa penghasilan lu kemaren!"

__ADS_1


"Plak!"


Raung marah Anto sambil melihat Yudra yang menunduk dengan memegangi kedua pipi nya tanpa bersuara itu.


"Mana hasil lu hari ini!"


Kata Bagus yang baru angkat bicara itu.


"I-itu bang, nggak banyak aku dapat hari ini cuma-"


"plak!"


Ucapan Yudra terputus saat tamparan melayang kembali.


"Lu pikir gw nggak tau pengahsilan lu hari ini? dari pagi penuh kayak gitu nggak ngasilin? orang goblo* mana yang bakal percaya perkataan lu? Anto geledah dia"


Raung Marah Bagus sambil menyuruh Anto buat ngeledah Yudra itu.


"Ba-bang jangan bang ini buat makan sama beli obat kakek bang aku mohon bang"


Mohon Yudra sambil memegang erat saku nya itu.


"Alah bacot!"


Ujar Anto lalu.


"Bak! Bik! Buk! plak! Ketepang! Buk!.....


15 menit kemudian....


Setelah puas Memukuli Yudra yang sudah lemas sekali itu Anto mulai menggeladah Tubuh Yudra lalu dia menemukan uang yang di simpannya di dalam saku belakang itu.


"Nah kalau dari tadi lu kasi kan, nggak bakal kayak gini lu"


Kata Anto lalu melangkah mundur.


"Ba-bang jangan bang, mohon aku, itu untuk makan sama beli obat kakek bang"


Kata Yudra yang masih ingin berharap uang nya di kembalikan itu.


"Cuihhhhh makan tu ludah gw"


Ujar Bagus lalu meninggal kan Yudra yang masih terkulai lemas dengan tubuh yang babak belur itu.


"Bukkk!"


"Ukhhhhhhh!"


"Mampus lu sekali lagi lu permainin gw habis lu gw bikin"


Anto menendang perut Yudra dan lansung menyusul bagus tadi.


Setelah kepergian Bagus dan juga Anto itu, Yudra kembali berdiri, dengan kaki gemetar dan tubuh yang seperti mati rasa dan ada bekas darah di bibirnya itu.


Yudra mulai melangkah keluar dengan kaki terpincang-pincang.


"Ukhhhhh,kenapa nasip ku begini sekali?"


gumam kecil Yudra lalu mulai menjauhi area parkir itu.


"..."

__ADS_1


__ADS_2