Bangsawan Alberic

Bangsawan Alberic
chapter 01 [Reuni]


__ADS_3

Gadis yang mencoba bunuh diri itu tak memperhatikan Rayner. Matanya yang penuh air mata hanya terfokus pada tali gantung yang melingkar di depannya. Dia bersiap untuk mengikat ujung lehernya agar nafasnya dapat berhenti dan penderitaannya dapat berakhir.


Rayner yang tersadar berlari menjauhkan sang gadis dari tali mautnya.


"Lepaskan! Lepaskan aku!!"


"Apa kamu sudah gila!?"


Gadis yang terkejut itu terus merontah, berusaha keluar dari dekapan Rayner. Jari-jarinya terus berusaha mencapai tali gantung, seakan keputusannya untuk bunuh diri telah bulat.


Dari dekat Rayner melihat gaun putih usang yang digunakan gadis itu penuh bercak darah, di pangkal lehernya terkekang kalung besi yang terlukiskan untaian kalimat kuno.


"Alisa, Tenanglah!?"


Alisa, begitulah Rayner memanggil gadis itu.


Di masa lalu, Alisa adalah tunangan Rayner. Banyak hal yang terjadi hingga akhirnya Alisa meninggalkan dia.


Bahkan sekarang, tangan kiri Alisa tidak memiliki jari manis. Jari yang dulu dihiaskan cincin pertunangan mereka, kini hanyalah bekas luka potong. Hal ini membuat hati Rayner terasa ingin menjerit.


"Tolong... Tenanglah Alisa–!"


"..."


"Tenanglah–!"


Tak dapat membendung rasa miris dihatinya, Rayner meluapkan emosinya pada tangisan.


Rasa rindu yang selama ini menghantuinya memang telah terobati, namun melihat gadis yang dia cintai mengalami luka di sekujur tubuhnya dan depresi berat adalah hal yang membuat Rayner menangis.


"R,Rayner?"


Mengenali suara Rayner, Alisa mulai tenang, dia tidak lagi merontah.


~X~X~X~


30 menit telah berlalu, keduanya hanya duduk terdiam. Alisa yang belum sepenuhnya tenang, memulai percakapan.


"Jangan tanya apa yang terjadi padaku..."


"Apa ini ulah Pangeran?"


"Sudah kubilang jangan tanya!"


Alisa tidak meninggikan suaranya, namun terasa jelas ada penekanan pada kalimatnya, dia berusaha menekan Rayner agar tidak bertanya kembali.


"Kenapa kamu melangkah sejauh ini?"

__ADS_1


Alisa melempar batang gandum yang ada di dekatanya, emosinya yang belum stabil membuat amarahnya menggebu-gebu.


"Berisik! Ini bukan urusan mu!"


"Kamu tau, aku masi mencintai mu.."


Aku bisa menebak apa yang terjadi padamu. Jadi kumohon kembalilah kepadaku, pikir Rayner.


Melihat luka-luka di tubuh Alisa, semua orang dapat dengan mudah menebak apa yang dia alami, penyiksaan adalah apa yang telah dialaminya.


Selain itu, tunangannya yang seorang pangeran seharusnya membuat dia memiliki posisi yang kuat di istana, maka jika dia sampai disiksa seperti ini kemungkinan pelakunya adalah pangeran itu sendiri atau keluarganya.


"Pembohong! Kamu pembohong! Jika kamu memang mencintaiku, Aku tidak mungkin seperti ini!"


Alisa berteriak, suaranya yang lembut terdengar keras dan serak sekarang.


"Jika kamu mencintaiku, kamu harusnya menyelamatkanku, jika kamu mencintaiku, Ayah–Ayahku tidak akan pergi!"


"Alisa..."


Rayner menjangkau Alisa, menariknya ke dadanya, memeluknya dengan lembut.


"Aku minta maaf."


Rayner membisikan kata lembut ke Alisa. Alisa yang terkejut akan pelukan Rayner, hanya bisa terdiam.


Pada masa ini, Bangsawan hampir tidak boleh merasakan jatuh cinta, rasa jatuh cinta hanya membuat mereka sakit hati, karna siapa pun yang mereka nikahi kelak haruslah orang yang dapat memperkuat posisi keluarganya di kekaisaran, mereka tidak peduli perasaan anak-anak mereka.


Rayner mengetauhi hal itu, karena itulah dia hanya bisa diam ketika Alisa meninggalkannya. Dia tidak pernah menyangka jika selama ini Alisa mengharapkan pertolongannya.


Suara lonceng di menara mengingatkan Rayner lama waktu yang telah berlalu di lumbung reot.


"Bagaimana posisimu sekarang?"


Rayner dengan hati-hati memilih kalimat, apapun yang dia katakan sekarang tidak boleh membuat rasa sakit di hati Alisa kembali.


"Aku telah dibuang olehnya.."


Jawabannya yang samar tidak bisa dimengerti dengan jelas oleh Rayner, apa maksud dari dibuang itu? Apa dia diabaikan? Apa pertunangan mereka dibatalkan? Pikiran Rayner dipenuhi banyak pertanyaan, namun waktu yang dia lalui di lumbung reot sudah terlalu lama, jika lebih dari ini penjaga akan datang memeriksa apa yang terjadi.


"Apa kamu mau ikut denganku?"


"Satu-satunya cara aku melarikan diri hanyalah bunuh diri." Alisa menujukan kalung perbudakan yang terdapat di pangkal lehernya.


Melihat tulisan yang ada di kalung Alisa, Rayner terbelalak. Dia akhirnya mengerti apa yang dimaksud Alisa dengan dibuang, dia tak habis pikir kenapa Pangeran melakukan ini. Bukankah mengembalikan Alisa ke keluarganya itu sudah cukup?


Kalung perbudakan adalah artefak kuno yang ditemukan ratusan tahun lalu, kalung ini adalah satu-satunya artefak yang ditemukan dalam jumlah banyak.

__ADS_1


Kalung ini menggunakan teknologi masa lalu yang tidak dapat diproduksi lagi. Siapapun yang menggunakan kalung ini tak dapat mengkhianati ataupun meninggalkan tuannya, dan hidup sebagai budak hingga dia mati.


"Aku mengerti sekarang, dalangnya adalah Pangeran itu sendiri. Bedebah yang merasa memiliki segalanya itu sudah merebut wanitaku, menyiksanya, merebut kebebasannya dan sekarang membuangnya begitu saja. Ada batasan untuk kesabaranku. Aku bersumpah– Aku bersumpah akan mengulitinya hidup-hidup!" dalam hatinya Rayner bersumpah. Rasa sakitnya sudah tidak dapat ditahan lagi, alisnya kini berkerut, giginya merapat dengan kuat, wajahnya memerah, dan matanya seakan membara dengan api dendam.


"Raut wajah mu sangat jelek saat marah." Alisa menyetuh pipi Rayner, membelainya dengan halus.


"6 bulan dari hari ini, tolong selamatkan aku. Datanglah kepesta kerajaan, dan belilah aku. Orang itu akan melelangku disana."


Permintaan tolong dari Alisa memberi Rayner secercah harapan untuk mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala.


"Tentu, aku akan menolong mu"


Rayner mengungkapkan tekadnya pada Alisa, dia bersumpah untuk menjaga Alisa kali ini.


Senyum manis timbul di bibir Alisa, dia merasa sangat senang mendengar jawaban Rayner. Rasa takutnya terasa telah sirna darinya. Menunggu 6 bulan untuk diselamatkan memang sangat lama, tapi dia bertekad akan bertahan menggu hari itu.


Beberapa saat kemudian Rayner sadar kewajibannya mengantar gandum masih belum selesai. Melihat waktu yang sangat tipis, dia memohon kepada Alisa.


"Sebelum itu bisakah kau membantuku, Alisa?"


"Hah? Bisa apa aku dengan tubuh ini?"


Rayner menolehkan pandangannya ke tumpukan gandum yang masih menggunung.


"Apa kamu sudah gila?" Alisa seakan mengembalikan kalimat pertama yang diucapkan Rayner padanya.


"Ya maaf..."


Rasa kesal meledak dalam diri Alisa hingga ia memalingkan wajahnya dari Rayner. Dia tidak habis pikir dengan sikap Rayner yang tidak bisa membaca suasana. Meskipun hal ini sudah dipahaminya sejak lama.


Rayner segera beranjak dari sisi Alisa dan mulai menurunkan gandum secepat mungkin layaknya kesetanan.


Tumpukan demi tumpukan telah diturunkan tetapi gundukan gandum itu seperti tak berkurang dari ukuran awalnya.


Alisa hanya mengamatinya dengan wajah kecut pada awalnya. Namun, dia mencoba mengangkat tangan kirinya, melihat ke arah jari manis yang sudah tak ada dengan putus asa. Lalu memandanginya, seakan mencoba mengingat kembali perasaan bahagia saat dirinya masih menjadi tunangan Rayner dan mengantar gandum bersamanya.


Tangisan hatinya tak dapat terbendung lagi karena mengenang masa lalunya itu. Wajahnya yang tadi masam mulai dibasahi air mata pahit. Ia mulai terisak pelan, tapi itu tidak cukup untuk mengekspresikan kesedihannya hingga ia akhirnya menangis histeris.


Rayner yang baru mengambil tumpukan baru untuk diturunkan, panik mendengar tangisan histeris Alisa yang terdengar makin keras. Akan tetapi, Rayner terlambat untuk menghampirinya.


Alisa sudah berlari menghampiri Rayner terlebih dahulu. Dia ingin kembali merasakan kebahagiaan lamanya yang hanya sekedar menurunkan gandum bersama tunangannya dulu.


"Aku akan menolongmu menurunkan gandum itu"


Pernyataan Alisa itu keluar terbata-bata karena air mata yang masih berlinang. Tapi, hatinya kembali tenang setelah ia merasakan kehangatan dari Rayner.


"Maaf karena telah mengingatkanmu." Ucap Rayner sambil memeluk Alisa.

__ADS_1


__ADS_2