Bangsawan Alberic

Bangsawan Alberic
CHAPTER 4 [NEGOSIASI AWAL]


__ADS_3

ch 4


Ruangan ini adalah gambaran kerja keras dan semangat dari bangsawan yang terdedikasi akan gelarnya.


Bau tinta, kertas, dan emas mendominasi ruangan ini.


Satu jam setelah bel pertama menara jam, tepatnya pukul 7 pagi. Dengan rencana matang di kepalanya, kini Rayner duduk berhadapan dengan pria paruh baya berbadan kekar.


"Jadi Rayner, pahamkah dirimu dengan kekonyolan yang kau buat kemarin?" Amarah dapat terasa dari perkataan Tuan Vittorio.


"Iya Tuan, maafkan saya."


Rayner menunduk, mengambil kotak di sampingnya, membukanya, dan menyerahkannya pada Tuan Vittorio. "Ini hadiah kecil dari saya, Tuan. Kuharap ini dapat membuat anda senang"


Seperti nasehat Ibunda Rayner, kemarahan sesorang akan melunak jika mereka diberi hadiah.


Itulah yang dicoba dilakukan Rayner. Melunakkan hati Tuan Vittorio dengan belati seharga 100 keping emas yang baru saja dia beli pagi ini.


Masih dalam posisi menunduk Rayner merasakan berat di tangannya tak kunjung hilang.


Tuan Vittorio hanya terdiam, dia terlihat tidak tertarik.


Sial, sepertinya nasehat Ibuku tidak berlaku untuk calon mertuaku ini. Kumohon terimalah...! Kalo begini aku hanya membuang uangku sia-sia, Pikir Rayner.


Rayner melirik Tuan Vittorio sekali lagi. Ekspresi calon mertuanya tampak serius menatap Rayner, seakan mempertimbangkan sesuatu.


Kini Rayner mulai takut hadiahnya justru membuat Tuan Vittorio lebih marah dari sebelumnya. Jika hal tersebut terjadi, apa yang dia rencanakan akan menjadi sia-sia.


"Tuan, dari lubuk hatiku yang paling dalam, kumohon terimalah hadiah sederhanaku ini."


Tangan Rayner mulai bergetar, keringat dingin mulai keluar dari dahinya.


"Kemarilah!"


Tuan Vittorio memanggil seorang pelayan yang dari tadi berdiri di pojok ruangan.


"Bawa ini ke kamarku," perintah Tuan Vittorio.


Pelayan tersebut lantas membawa kotak hadiah Rayner dan pergi meninggalkan ruang.


"Syukurlah..." bisik Rayner


Rayner merasa lega berat di tangannya menghilang.


Kini di dalam ruang tamu kediaman Tuan Vittorio, hanya tersisa Tuan Vittorio dan Rayner.


"Angkat kepalamu, Rayner."


"Terimakasih, Tuan..."


"Kau tau..." Tuan Vittorio membuka botol minuman di depannya, menuangnya ke sebuah gelas kecil.

__ADS_1


"Aku benci disogok seperti itu."


"Ah... B–bukan begitu Tuan, saya melihat belati yang menarik saat berjalan kesini, jadi kupikir itu akan bagus sebagai hadiah."


Tuan Vittorio meneguk cairan merah di gelasnya.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Luviria, bahkan tentang pertemuanmu dengan mantan tunanganmu."


Tuan Vittorio menaruh gelas kosongnya dan fokus menatap Rayner. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku perlu bantuan mu..." Rayner kembali menunduk.


Apapun rencana yang dia pikirkan, dia perlu bantuan Eidenburgh.


"Kau tau harga yang harus kau bayar?"


"Iya, tuan. Saya akan menikahi Luviria segera."


"Oh, tidak semudah itu."


"Saya mengerti, Tuan. Saya dan Luviria akan segera memberi keturunan pada keluarga Anda."


Rayner mengangkat kepalanya. "Bukankah yang Tuan butuhkan dari keluarga Alberic, adalah garis keturunan kami?"


"Ho... Aku terkejut kamu mengetahui itu."


"Saya juga terkejut saat keluarga Eidenburgh telah menyelidiki keluarga kami sejauh ini," ucap Rayner.


Rayner memikirkannya dengan matang kemarin malam, alasan Luviria giat menarik ambisinya, alasan keluarga Eidenburgh bersikeras dengan pertunangan ini.


Semua itu karena garis keturunan keluarga Alberic yang tersambung dengan darah Kaisar sebelumnya. Penguasa Kekaisaran Aeltherberht yang telah dijatuhkan oleh Kekaisaran Vendrick.


"Dengan kata lain, Anda ingin menggunakan darah keluarga Alberic untuk menggulingkan kekaisaran bukan?"


"Lanjutkan!" ucap Tuan Vittorio merasa tertarik dengan berapa banyak yang Rayner tau dengan rencananya.


"Keluarga Alberic tidak tertarik dengan kekuasaan dan Anda paham betul akan hal itu. Karena itulah seorang keturunan dari Alberic dan Eidenburgh diperlukan, sebagai jaminan."


Kehadiran seorang anak diperlukan sebagai jaminan untuk keluarga Eidenburgh jika mereka gagal menghasut keluarga Alberic untuk berperang.


Anak tersebut akan digunakan keluarga Eidenburgh sebagai dalil untuk mengumpulkan bangsawan lama yang bersumpah setia dengan Kekaisaran Aeltherberht yang telah hancur.


"Dengan begitu, Eidenburgh akan memiliki kekuatan untuk mengkudeta Kekaisaran Vendrick."


"Aku terkejut kau tau begitu banyak," ucap Tuan Vittorio sinis.


"Tapi, Tuan. Aku ingin menawarkan hal yang lebih menguntungkan untukmu."


"Oh... Apa itu?"


Rayner akan menuruti rencananya, itulah yang dia pikirkan.

__ADS_1


"Aku akan ikut permainanmu dan aku sendirilah yang akan mengumpulkan bangsawan lama dan para pengkhianat kekaisaran Vendrick," ucap Rayner dengan semangat.


Rayner telah mengambil keputusan, menyelamatkan Alisa saja tidak cukup untuk mengobati dendamnya.


"Naifnya kau, bagian mana dari hal tersebut yang menguntungkan untuk kami?"


"Tuan, aku ingin membunuh putra mahkota kekaisaran lebih dari siapapun–!"


Ia ingin mencabik-cabik pangeran, membuatnya tunduk dan menjerit meminta maaf, sehingga hatinya terasa puas.


Ia paham jika ingin membunuh pangeran mahkota, satu-satunya jalan adalah menjadi musuh kekaisaran. Karena itulah dia terjun ke rencana Eidenburgh dengan manis.


"Karena itulah, cukup duduk dan ikuti rencanaku dan kupastikan kau akan minum dengan tengkorak putra mahkota sebagai gelas!"


"Rayner, kau telah dibutahkan oleh dendam!"


"Tidak, Tuan. Dendamlah yang telah membuka mataku. Tapi, di sisi lain. Aku yakin haus kekuasaan sudah mendarah daging di keluarga Eidenburgh."


Tuan Vittorio terdiam.


Yang dikatakan Rayner adalah kebenaran, Keluarga Eidenburgh ingin menguasai kekaisaran seutuhnya dan memonopolinya.


Menggunakan garis keturunan Alberic, pengangkatan Luviria sebagai permaisuri tak terbantahkan, dan cucunya akan menjadi penerus takhta.


Dengan begitu mereka bisa mengendalikan kekaisaran setelah cucunya naik tahta.


Namun, jika Rayner ikut campur terlalu banyak, keluarga Eidenburgh akan kehilangan nama di mata para bangsawan lama. Kemungkinan, mereka akan dikucilkan atau diusir dan tahta Alberic menjadi semakin besar.


Yang ada di pikiran Tuan Vittorio saat ini hanyalah saat-saat dimana kedudukan permaisuri yang dipegang Luviria dihancurkan dan digantikan oleh Alisa.


"Tentu aku akan memberi kalian keuntungan, aku berjanji akan menjadikan Luviria sebagai permaisuri dan akan kuberikan kalian garis keturunanku sebelum kudeta kita terjadi!" Ucap Rayner dengan hati yang membara.


"Aku tidak peduli dengan janjimu, janji hanyalah sebuah omongan. Namun, kau benar jika garis keturunanmu telah dilahirkan Luviria, kami akan dengan mudah menggulingkanmu jika kau mengkhianati kami..."


Tuan Vittorio mengisi gelas kecilnya, kembali meminum cairan merah, meredahkan tenggorokannya yang mengering.


"Akan kupastikan aku tidak akan mengkhianatimu, selama kau membiarkan Alisa menjadi selir."


"Ugh..." Tuan Vittorio tesedak. "Kau ********! Banyak sekali yang kau inginkan!"


Membuang Alisa setelah bebas saja sudah beresiko untuk rencana Tuan Vittorio, namun kini Rayner meminta lebih.


"Hanya ini satu-satunya jalan untuk menggapai takhta tertinggi, Tuan. Jika Tuan tidak ingin, saya lebih baik bersekongkol dengan bangsawan lama yang lainnya...." Ucap Rayner menggeretak.


"********!"


Tuan Vittorio tampak sangat marah.


"Aghhh... Pikirkan sendiri rencana untuk menggulingkan kekaisaran Vendrick dan aku akan mengikutinya," ucap Tuan Vittorio geram.


"Kalau begitu mari kita mulai dengan memonopoli harga gandum," balas Rayner dengan senyum penuh di wajahnya.

__ADS_1


Tuan Vittorio tampak pasrah


Namun, Rayner tau Tuan Vittorio pasti tak akan menerima begitu saja. Dia yakin Tuan Vittorio akan menyiapkan rencana lain untuknya.


__ADS_2