Bangsawan Alberic

Bangsawan Alberic
Chapter 3 [Luviria]


__ADS_3

Luviria Von Eidenburgh, anak ketiga keluarga Eidenburgh, Tunangan Rayner sedang berdiri di depan Rayner.


Meskipun Rayner sudah berusaha sebaik mungkin agar kedatangannya di kota perdagangan tidak diketahui keluarga Eidenburgh, entah mengapa gadis yang paling tidak ingin dia temui sekarang ada di hadapannya.


"Ada apa dengan wajah terkejutmu itu? Sangat menjijikan."


Suara Luviria yang ketus berdengung di telinga Rayner, Membangunkannya dari rasa terkejutnya.


"S–Selamat malam, Luviria. Bagaimana kabarmu?"


"Sudahlah tidak perlu basa-basi, Tuan" Mata tajam Luviria menatap ke arah Rayner.


"Lebih baik kamu jelaskan mengapa kamu ada di sini!?" tanya Luviria dengan nada jengkel.


"Bukankah itu seharusnya pertanyaanku, mengapa kamu ada di sini, Luviria?"


"Ha?"


Tidak hanya memelototi Rayner, Luviria kini menggeretakan giginya.


"Bagaimana bisa kamu menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan, Tuan?"


Dengan ekspresi menyeramkan, gadis itu mendekatkan wajahnya kearah Rayner.


Kini wajah mereka sangat dekat, bibir mereka hampir bersentuhan. Dengan panik, Rayner sedikit menarik kepalanya ke belakang


"Jelaskan! Mengapa kamu mengendap-endap masuk ke kotaku?"


Bentakan Luviria menggema di ruang kamar yang sempit.


"Apa Tuan sudah lupa dengan tata krama para bangsawan ketika berkunjung ke wilayah bangsawan lain?"


"Aku hanya akan menginap semalam, jadi kupikir-"


Mencari alasan, Rayner mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan.


"Untuk apa Tuan memandang ke arah itu, apa otak Tuan tertinggal di situ?"


Rayner mengembalikan pandangannya ke mata Luviria yang membara. "Aku tahu aku seharusnya datang ke kastil Eidenburgh dulu sebelum ke sini, tapi kurasa itu akan memakan waktu karena aku..."


"Oh... Jadi waktumu lebih berharga dari waktu kami?"


Gadis berambut putih itu menjadi tidak sabaran. Alis tipisnya yang cantik kini tampak seram dengan munculnya pembulu darah di wajah indahnya.


"Bukan itu maksudku, kamu tau, aku hanya akan menginap sehari di Eidenburgh dan aku juga tak ingin membuang waktu keluargamu..." mata Rayner sedikit melirik jam dinding. "Terlebih lagi, ini sudah larut malam, jadi kupikir–"


Luviria menutup kipas tangan yang dia bawa. Mengacungkan ujungnya yang runcing ke leher Rayner.


"Bodoh!" Luviria memotong perkataan Rayner. "Keluargaku bahkan akan menyambutmu walau di pagi buta!"


Rayner menelan ludahnya sendiri.


"Bisakah kamu jauhkan benda ini? Ini sedikit berbahaya..."


"Huff..." Luviria menghela nafasnya.


Menarik kipasnya menjauhi Rayner.


Wajah jengkelnya kini menjadi lesu, tampak seperti anak kecil yang kelelahan bermain dari pagi hingga sore hari. Dia lelah dengan jawaban Rayner yang tak masuk akal baginya.


"Ya ampun, sejak kamu bertemu budak menjengkelkan itu, sepertinya pikiranmu menjadi kacau."


Mendengar Luviria, mata Rayner membesar, terkejut dengan perkataan Luviria.

__ADS_1


Yang dimaksud Luviria dengan budak menjengkelkan... Alisa. Rayner tak habis pikir bagaimana bisa Luvira mengetahui pertemuannya denga Alisa.


"Bagaimana bisa kamu tau akan hal itu?"


"Menurutmu?"


"..."


"Wajah penasaranmu saat berpikir sangat menarik, Tuan." Wajah Luviria kini menyerengai, tertarik mempermainkan Rayner yang terlihat kebingungan.


Mulut Rayner kini terasa sangat pahit, mengingat gadis didepannya adalah gadis cerdik yang licik.


Terdiam sesaat, Rayner mengingat kembali apa saja yang telah terjadi selama ini.


Pertemuannya dengan Alisa disebabkan oleh penjaga gerbang yang tiba-tiba menggiringnya ke tempat Alisa.


Namun, setelah melakukan itu, penjaga gerbang itu menghilang entah kemana, bahkan saat Rayner mencarinya dalam perjalanan pulang.


Selain itu, gelagatnya saat berpamitan pergi tampak seperti orang panik. Perilakunya terlihat tidak natural, seperti hasil suruhan dari orang lain... Luviria.


"Begitu ya, jadi penjaga gerbang itu..."


Menurut Rayner, Luvira adalah dalangnya dan penjaga gerbang adalah suruhannya.


"Tepat sekali!" Luviria tersenyum puas sambil menepuk kipas favoritnya ke sebelah tangannya.


Reaksi Luviria mengkonfirmasi kecurigaan Rayner.


Jawaban tersebut lantas tak membuat Rayner puas. Dirinya masih bertanya-tanya mengapa Luviria melakukan itu.


"Mengapa kamu mempertemukanku dengan Alisa?"


Pikiran Rayner dipenuhi pertanyaan atas apa yang dilakukan Luviria.


"Fufu..." Luvira menyeringai. "Tidak seperti itu, Tuan. Aku tidak membenci pertunangan ini," lanjutnya.


Luvira adalah gadis yang licik, itu adalah kesan Rayner pada Luviria. Namun, dia tak pernah menyangka Luviria cukup pandai dalam menebak pikiran seseorang.


Tidak percaya begitu saja pada Luviria, Rayner bertanya lebih dalam.


"Perkataanmu membuatku semakin bingung. Jadi, jika bukan itu, lalu apa tujuanmu sebenarnya?"


Rayner memasang wajah serius, menatap tajam ke Luvira.


"Tentu, untuk membangkitkan ambisimu, Tuan."


Rayner sudah pernah mendengar perkataan semacam ini keluar dari mulut Luviria berkali-kali, gadis di depannya ini selalu berusaha untuk menarik keluar ambisi Rayner.


Gadis ini, Luviria, selalu membualkan hal-hal semacam itu. Dia bahkan pernah bersumpah jika akan terus menemani Rayner bahkan jika ambisinya adalah menguasai dunia.


"Jangan Bercanda!"


"Pernahkah aku bercanda akan hal ini?"


"Ayolah..." Rayner menghela nafas "Kamu tau kan, jika aku kembali bersamanya, aku pasti akan meninggalkanmu. Jadi untuk apa kamu membangkitkan ambisiku?"


Seringai Luviria berubah menjadi sebuah senyuman yang akan dibenci semua orang. Ia mengibaskan rambut putihnya dan mendekati Rayner, duduk di sampingnya, dan bersandar di pundaknya. Jari-jarinya mulai bermain di dada Rayner.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan, Tuan.Tetapi, itu bukan sesuatu yang bisa kamu putuskan. Terlebih untuk seseorang yang akan meminjam tangan keluarga kami. Fufu...."


Rayner hanya terdiam mendengarnya.


Dari atas Rayner benar-benar melihat senyum jahat khas Luviria. Dia ingin mendorong dan menjauhkan Luviria dari pundaknya. Namun, dalam segi politik, militer, dan keuangan keluarga Luviria jauh lebih kuat. Rayner takut jika dia melakukannya keluarganya akan dalam masalah.

__ADS_1


"Alasanku membangkitkan ambisimu itu sebuah rahasia, fufufu..."


Dari balik baju Rayner, Luviria mengelurkan kalung yang di ujungnya terdapat cincin ruby bertuliskan namanya.


"Cepat atau lambat, kamu akan tergila-gila denganku, Tuan Ray–ner."


Luviria berkata manja yang sangat tidak cocok dengan dirinya.


Namun Rayner tidak terlalu peduli, dia beranggapan gadis di depannya adalah gadis yang sulit ditebak.


Dentuman keras tiba-tiba menggema di seluruh kota.


Bel menara jam adalah sumber suara itu. Bunyi keempat hari ini yang menunjukan waktu pukul 12 malam.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar Rayner diketuk dari luar.


"Masuklah!"


Rayner tau siapa itu, karena itulah dia mempersilahkannya masuk.


Pembuat suara itu adalah pelayan Luviria, yang selama ini menunggu di depan pintu kamar.


Rayner tau Luviria tidak pernah berpergian sendirian. Setiap saat dia selalu ditemani seorang pelayan yang dirumorkan juga bertindak sebagai tangan kanannya yang siap melakukan apapun.


Setelah mendapat izin, masuklah seorang pelayan wanita berwajah polos, mata pelayan tersebut hanya tertuju pada majikannya yang sedang bersandar di bahu Rayner.


Setelah berjarak dua meter dari pintu, pelayan itu memberhentikan langkahnya, memperbaiki posisinya, menunduk dengan hormat dan berkata "Maaf menggangu, Tuan muda dan Nona muda."


Luviria tau mengapa pelayanannya yang menunggu di luar menjemputnya masuk. Pukul 12 malam adalah batas waktu yang diberikan oleh Tuan Vittorio, Ayah Luviria, untuknya bertemu Rayner.


"Oh, sayang sekali. Aku baru saja ingin membahas hal penting."


"Maafkan saya Nona muda, ini sudah menjadi kewajiban saya mengingatkan anda..." Masih dalam posisi menunduk, pelayan tersebut meminta maaf.


"Iya.. Iya... Kamu selalu patuh dengan tugas-tugasmu." Luviria mengucapkan itu dengan nada datar, ia merasa sedikit kesal karena pelayan yang melayaninnya terlalu patuh dengan Ayahnya. Walaupun, pelayannya juga sekuat tenaga mengabulkan permintaannya.


"Ayahku, Vittorio Von Eidenburgh, mengaharapkan kehadiranmu besok pagi, Tuan." Setelah membisikan itu ketelinga Rayner, Luviria melepas diri dari pundak Rayner dan beranjak pergi.


"Selamat malam Tuan, semoga kamu mimpi indah malam ini."


"Permisi Tuan, selamat malam," sang pelayan menunduk, memberi salam, dan beranjak menutup pintu.


Ketika pelayannya akan menutup pintu, Luviria mengingat sesuatu. "Pikirkan dengan baik, Tuan Rayner. Uang saja tidak cukup untuk menyelamatkannya." Luvira kembali tersenyum licik saat mengatakannya, seakan memberi tekanan mental sebagai peringatan untuk Rayner agar tidak mengacaukan pertunangannya.


Rayner hanya terdiam, wajahnya tertunduk ke bawah. Dia membenci senyuman Luviria tadi. Namun, dia lebih benci dengan apa yang dikatakan Luviria adalah sebuah kebenaran.


Selama lima hari perjalanan dari ibu kota ke Eidenburgh, semua rencana yang terlintas di pikiran Rayner selalu membutuhkan jabatan yang kuat di kekaisaran.


Keluarga Rayner yang hanya seorang Baron, akan dikucilkan saat pelelangan. Bahkan, jika dia memenangkan pelelangan, keluarganya akan ditekan bangsawan yang lebih tinggi untuk memberikan Alisa pada mereka.


Selain itu, satu-satunya bangsawan kelas tinggi yang dekat dengan keluarga Alberic hanyalah bangsawan Eidenburgh.


Meskipun keluarga Eidenburgh akan meminjamkan tangan mereka untuk Rayner, ia belum bisa bisa membaca apa tujuan Luviria atau bahkan keluarga Eidenburgh sebenarnya.


Selain itu, status pertunangan dirinya dan Luviria mungkin akan diperkuat. Dengan kata lain, dia akan semakin menjauh dari Alisa sekali lagi.


Bagi Rayner meminta bantuan Eidenburgh sama seperti menyerahkan diri pada kematian itu sendiri.


"Mengerikan..."


Saat pintu mulai tertutup, Luviria yang mendengar perkataan Rayner tersenyum dan membalasnya, "Hal yang mengerikan ini adalah calon istrimu, Tuan."


Pintu tertutup, ruangan Rayner kini menjadi sunyi. Rayner hanya tertunduk diam, memikirkan cara menyelamatkan wanita yang dicintainya

__ADS_1


__ADS_2