
(POV Alisa)
Rayner telah pergi beberapa jam lalu, aku harap dia berhasil menyelamatkanku.
"6 bulan..."
Itu sangat lama, aku merasa ingin menggantung diriku lagi sekarang.
Tidak-tidak, aku harus kuat. Rayner sedang berusaha untuk menyelamatkanku, aku harus menunggunya dengan senyuman.
Luka di sekujur tubuhku terasa beku, selimut yang ditinggalkan Rayner tidak kuat untuk menahan angin malam ini. Tapi aku bersyukur, Pangeran tidak datang untuk menyiksaku malam ini.
Purnama rembulan terlihat dari celah dinding lumbung reot ini. Kalau ku ingat-ingat, aku dan Rayner pernah mengalami hal seperti ini. Terkunci di lumbung gandum semalaman, saling berdekatan berbagi selembar kain kusam sebagai selimut.
"Ah... Itu semua salah Rayner"
Memang anginlah yang mendorong pintu, dan membuat pengganjal pintu di luar terjatuh. Tapi itu semua tetap salah Rayner! Karena dia tidak menyangga pintu dengan benar, kami jadi terjebak, dan aku demam keesokan harinya.
Tapi malam itu sangat Romantis. Dia mendekapku dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegangi satu sisi selimut.
Hari itu juga menjadi pertama kalinya bagi kami membicarakan banyak hal. Mulai dari masa kecil, makanan favorit, jenis-jenis gandum, cara bunglon berganti warna, sampai teori penciptaan manusia. Semakin panjang obrolan, semakin tidak penting jadinya.
Satu-satunya hal yang penting waktu itu adalah janji Rayner untuk tak pernah mengkhianati cinta kita.
__ADS_1
Dia bahkan memberiku kalung berhias cincin Ruby sebagai bukti janjinya.
Kalo mengingat hari itu, jantungku terasa berdetak ribuan kali lebih cepat. Aku kadang sampai takut orang lain mendengar detak jantung ini. Terakhir, ada seorang dokter yang menyeretku ke kliniknya.
"Rayner ini semua salahmu!"
Beralaskan jerami aku berusaha tidur, tapi mulutku tak bisa berhenti tersenyum.
"..."
Tunggu, aku tidak pernah punya kalung dengan ornamen cincin apapun. Dulu, kalung yang kudapat dari Rayner hanya berhias mutiara, bukan cincin.
Aku mengingat sekilas melihat sebuah cincin yang digantungkan di kalung, cincin itu sangat indah warnanya merah mencolok, aku rasa itu dihiasi Ruby.
Darimana aku melihatnya? Aku rasa itu hal yang baru kulihat.
...
"Perasaan apa ini?"
Mengapa jantungku jadi sulit berdetak? Dadaku seperti tertusuk. Rasa sakit apa ini? Ini terasa berbeda dengan rasa sakit dari siksaan pangeran, tidak hanya fisik, nafasku terasa sangat sesak, dan tubuhku memanas.
Mengapa air mataku juga mengalir dengan deras? Apa ini yang mereka sebut rasa cemburu? Aku percaya kalau Rayner masih mencintaiku, buktinya ia tidak memakai cincin ruby itu di jarinya. Mungkin juga itu hanya cincin hadiah keluarganya, bukan cincin tunangan atau semacamnya.
__ADS_1
"Tapi..."
...
Malam itu aku menangis hingga pagi, harapanku untuk menunggu rayner seakan hampir hilang. Namun, aku akan tetap berharap dan menunggunya.
~X~X~X~X~X~X~X~
Halo, Selamat malam
saat selingan ini diupload waktu di dunia kami menunjukan malam hari, jadi biarkan kami mengucapkan "Selamat malam kepada kalian".
karna selingan ini tidak mencapai 500kata, biarkan saya membahas beberapa hal mengenai Kisah [Bangsawan Alberic] ini.
1.Yang pertama adalah Latar Waktu
Setingan waktu cerita ini adalah masa abad pertengahan atau Medieval, namun dunia medieval yang coba kami kisahkan bukan zaman medieval yang pernah terjadi dibumi kita, namun Medieval Fantasy.
di dunia Bangsawan Alberic tidak ada sihir
meskipun kami menyebutnya Medieval Fantasy didunia tersebut tidak ada sihir, di sana diceritakan sihir adalah teknologi kuno yang telah lama hilang.
Bangsawan Alberic adalah kisah yang kental akan unsur startegi tidak hanya militer namun juga politik. nanti kita bersama-sama akan menyaksikan pertumbuhan karakter Rayner berperang dalam politik dan militer.
__ADS_1
Bisa dibayangkan bukan jika kami membuat sihir ada di dunia tersebut, politiknya akan terasa hambar, strateginya akan terlalu mudah, peperangan akan diselesaikan dengan sihir dan selalu dengan sihir. Itu tidak menyenangkan.
Mungkin itu saja untuk kali ini teman-teman, sampai jumpa di Chapter berikutnya.