BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU

BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU
Membawa Pulang Bayi


__ADS_3

BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU


Bab 1


"Bayi siapa ini, Bang?" kemudian aku menoleh pada wanita di sebelahnya. "Bayi siapa, Ma?" tanyaku saat baru saja membukakan pintu depan rumah. Mama mertua datang bersama suamiku dari kampung halamannya.


Kulihat Mama sedang mendekap seorang bayi dalam gendongan kain jariknya.


Bang Rian menatap Mama sejenak seperti meminta persetujuan. "Ini bayi sepupuku, Dek." jawab Bang Rian singkat.


"Kemarin aku mampir ke rumah Mama setelah pulang dinas."


Dua hari yang lalu kebetulan Bang Rian memang dinas di Bandung, kampung halamannya.


"Sepupu? Yang mana?" tanyaku penasaran.


"Ayo, ngobrol di dalam aja, Va. Kasian bayi ini juga perlu istirahat setelah perjalanan jauh naik mobil." 


Benar juga, bahkan aku sampai lupa untuk menyalimi punggung tangan suami dan mama mertua karna saking kagetnya. Segera kulakukan itu dan berjalan mendahului mereka masuk ke ruang keluarga dan menjatuhkan bobot di atas sofa empuk di ruangan berpendingin ini.


"Sepupu Rian di kampung baru meninggal kemarin, Va. Mama berinisiatif agar kalian aja yang mengurusnya," jelas Mama masih mendekap bayi mungil usia sekitar satu atau dua bulan itu.


"Kalian kan juga belum punya anak."


Kulayangkan pandang pada Bang Rian. Sepertinya ia tak berani menatapku. Aku jadi curiga. Benarkah ini anak sepupunya? Atau jangan-jangan anak gundiknya? Aah ... mikir apa aku ini.

__ADS_1


"Bapaknya anak ini kemana emangnya, Ma?" tanyaku pada Mama. Habisnya Bang Rian diam saja sedari tadi.


"Jadi TKI, udah lima bulan nggak pulang," jawab mama.


Bayi di gendongan mama tiba-tiba menangis. "Mungkin dia haus, Ri." Mama melepaskan kain jariknya. Bayi itu nangis sambil meronta-ronta.


"Tenang Sayang, Papa buatkan susu, ya," ujar Bang Rian sambil berlari ke dapur dengan membawa botol susu dan sekaleng susu bayi yang dia ambil dari dalam kopernya.


Kuikuti langkah Bang Rian ke belakang. Cekatan sekali dia. Seperti sudah terbiasa melakukannya. Bang Rian merebus botol susu kemudian menuangkan susu bubuk dengan sendok takar.


"Dapat belajar dari mana, Bang?" Akhirnya pertanyaan itu kulontarkan juga padanya.


Bang Rian sedikit tersentak. Dia jadi salah tingkah.


"Ehm ... di kasih tau Mama, Dek. Kemarin Abang udah diajarin sama Mama."


Bang Rian mengangguk. Ia mendahuluiku berjalan kembali ke ruang tengah.


Kali ini Bang Rian mengambil alih bayi itu dan menggendongnya dengan satu tangan dengan cekatan, entah siapa namanya belum kutanyakan. Satu tangannya lagi memegang botol susu dan meminumkannya pada bayi itu.


"Raja. Namanya Raja." Mama tersenyum padaku, ia seperti tau isi hatiku. Baru saja aku mau menanyakan namanya.


Aku duduk di sofa sambil menyaksikan Bang Rian berdiri dan menimang bayi Raja dengan luwesnya. Tampaknya ia begitu bahagia dengan mainan barunya.


Netraku tiba-tiba menghangat dan berkabut. Terasa nyeri di dalam dada. Tiga tahun usia pernikahan kami, tapi aku belum bisa memberikan keturunan. Sementara Bang Rian adalah anak semata wayang mama. Mama pasti sangat nerindukan kehadiran seoranh cucu.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang aku dulu sih, Bang? Kalau mau merawat anak sepupumu itu?" tanyaku. Aku belum siap melihat semuanya, ini terlalu mendadak untukku.


"Kamu kan belum hamil sampe sekarang. Anggap aja mengadopsi Raja ini sebagai pancingan. Lagian kan anak ini lelaki, kalau nikah tidak penting mencari walinya," jawabnl mama datar.


Bebedrapa saat, Raja sudah terlelap kembali dalam buaian Bang Rian.


"Kamu udah periksa ke dokter, belum?" tanya Mama.


Aku menggeleng. Kukira selama ini belum diperlukan untuk memeriksakan diri ke dokter.


"Kandungan kamu pasti bermasalah," ucap Mama lagi dengan sikap tak acuhnya.


"Mama nyesel udah nikahin Rian sama wanita mandul kaya kamu."


"Ma ... periksa ke dokter aja belum. Mama tau dari mana kalau aku yang mandul dan bermasalah?" aku balik bertanya.


"Karna Rian su---" Ucapan mama terjeda.


"Sssttt ... jangan ribut." dengan pelan dan hati-hati Bang Rian bicara sambil menempelkan telunjuknya di mulutnya. "Raja baru aja tidur."


"Bang Rian su-- apa, Ma?" tanyaku penasaran. Tak kupedulikan ucapan Bang Rian barusan.


Bersambung


----

__ADS_1


Jangan lupa subscribe yaa ....


__ADS_2