
Maaf baru up part 4 sekarang
Happy reading😊😊
-----
"Bagaimana, Mbak? hasil tes DNA-nya?" tanyaku pada salah seorang karyawan lab yang barusan memanggilku.
Wanita muda itu tersenyum padaku dan berkata, "Hasilnya baru ketahuan dua sampai empat minggu lagi, Bu."
Aku menepuk keningku karena sedikit kesal. Lalu mengusap wajahku dengan kasar.
"Kenapa lama banget, Mbak? Gak bisa dipercepat? Kan saya udah bayar mahal ...."
"Iya, Bu, memang agak lama. Karena prosesnya cukup rumit dan panjang. Nanti akan kami hubungi Ibu lewat telpon."
***
Kulajukan mobilku kembali menuju butik pakaian yang kumiliki sejak masih kuliah dulu. Papa menghadiahkannya saat ulang tahunku yang ke 21, karena melihatku yang suka sekali menggambar dan mendesain pakaian.
Butikku maju pesat sejak dinikahi Bang Rian, penjualan baju yang kudesain meningkat drastis, bahkan brand pakaian muslimah yang kubuat sudah terjejer di toko beberapa mall besar di daerah Jakarta.
Bahkan, kabar gembiranya lagi, usaha jual beli mobil bekas yang Bang Rian geluti dengan suntikan dana dari papa pun ikutan sukses. Ia bahkan membuat kantor cabang di kampungnya. Makanya tidak heran kalau dia sering bolak-balik Jakarta dan Bandung setiap akhir pekan selama setahun belakangan ini.
Aku bahagia selama tiga tahun ini hidup bersama Bang Rian, pernikahanku pun baik-baik saja, meski terkadang mama masih suka ikut campur urusan rumah tanggaku. Tapi kuanggap sebagai bumbu penyedap agar bahtera rumah tangga kami tidak hambar rasanya. Asalkan sikap mama tidak di luar batas wajar. Lagipula, mama hanya sesekali saja menginap di rumahku.
Hiss ... aku jadi teringat kembali dengan Raja yang dibawa mama. Kenapa lama sekali untuk mengungkap fakta tentangnya? Kesal aku jadinya. Untuk kali ini mama memang sudah bertindak di luar batas kewajaran. Mentang-mentang selama ini aku diamkan, ia malah melunjak.
"Brukk!" Tiba-tiba mobilku mencium bumper belakang mobil yang melaju di depanku.
Astaga ... gara-gara sibuk memikirkan Raja, aku jadi tidak fokus menyetir. Untung saja tidak terjadi kecelakaan beruntun, karna lalu lintas cukup padat sekarang. Mobil di depanku menepi, aku juga ikut menepikan mobilku.
Kubuka pintu dan keluar mobil. Pengendara mobil yang kutabrak terlihat berjalan dan mengamati bagian mobilnya yang barusan kutabrak. Seorang pria bertubuh tinggi berkacamata hitam dengan jas kerjanya berdiri membelakangiku.
"Maaf, ya. Parah nggak rusaknya? Biar nanti diganti kerusakannya." Aku masih berdiri di belakang pria itu.
"Hmm ... lumay---" Belum selesai pria itu bicara, ia terkejut saat menoleh dan melihat wajahku. Aku pun sama terkejutnya ketika ia melihatku dan membuka kaca mata hitamnya.
"Mister Rius," sapaku.
"Reva?"
Aku mengangguk. Senyumku melebar. Ternyata ia adalah teman kecilku yang blasteran bernama Darius, yang biasa kupanggil dengan sapaan Mister Rius. Sejak sepuluh tahun lalu ia pindah ke kampung halaman ayahnya di Irlandia. Entah sejak kapan ia kembali ke tanah air lagi, sudah lama aku tak berkabar dengannya.
Darius menangkupkan tangannya di dada. Aku pun melakukan hal yang sama. "MasyaAllah sekarang teman kecilku ini makin cantik dengan berhijab."
Aku mengangguk. "Alhamdulillah dari mulai kuliah. Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Ayo ke bengkel, biar sekalian kita ngobrol sebentar," ajakku.
Darius menggaruk kepalanya sepertinya ia sedang berpikir.
"Sebenarnya sih aku ada meeting dengan klien sekarang. Terus sorenya ada janji juga. Sebentar, ya, biar kutelpon sekretarisku dulu." Darius mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang. Keningnya berkerut lalu ia menghela napasnya pelan.
__ADS_1
"Sori, ya, aku nggak bisa, Reva. Klien maunya meeting sekarang, gak bisa ditunda. Urusan mobil mah gampang deh." Ia terkekeh.
Kukeluarkan ponsel dari tas jinjingku dan kami saling bertukar nomor.
Setelah itu kami kembali ke mobil masing-masing dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
***
"Bu Reva, customer yang namanya Bu Dela dari kemarin udah nelpon terus." Baru saja sampai di pintu masuk butik, Meri--asistenku sudah memberondongku dengan list pekerjaan yang sempat tertunda.
"Oke. Sama desain baju kebaya yang minggu kemarin kubuat, cocok nggak, menurut dia?"
"Katanya dia mau minta ditambahkan hiasan lagi di bagian kerahnya biar lebih keren. Karna akan digunakan di hari pertunangannya satu minggu lagi. Sekaligus minta dibuatkan desain couple juga untuk calon suaminya."
Aku hanya berdehem dan mengangguk.
"Oh, iya, katanya nanti sore dia mau datang, Bu, sama calon suaminya, tapi mereka datang terpisah. Nama calon suaminya Pak Darius."
Mataku membelalak mendengarnya, nama calon suaminya kenapa mirip dengan nama temanku yang barusan kutabrak mobilnya.
***
Sore ini tak sabar aku ingin bertemu customerku. Ingin membuktikan apakah benar Darius yang dimaksudkan adalah orang yang sama.
"Bu Reva ...." Sesosok perempuan cantik dan berhijab berjalan ke arahku yang sedang menata kebaya yang baru selesai di jahit dan ditambahkan hiasan manik-manik di sebuah manekin.
"Nona Dela, ini kebayanya."
"Oke, ayo kita fitting dulu. Mudah-mudahan pas." Aku mempersilahkannya masuk ke sebuah ruangan untuk berganti pakaian. Sedangkan aku menunggunya sambil duduk di kursi depan dekat kaca bening tempat
meletakkan beberapa model pakaian untuk pajangan butik. Kukeluarkan ponsel dari saku bajuku. Aku ingin melihat foto profil temanku si Mister Rius itu, apakah benar dugaanku kalau ia akan menikah.
Tepat sekali, ponselku berdering saat kulihat layarnya ternyata nama mama mertua yang muncul.
"Assallammualaikum, Ma,"
"Wa'alaikumsalam, cepet pulang, Va. Baby sitter yang Mama pesan sebentar lagi sampe. Rian lagi jemput di terminal. Nanti malam mama harus pulang ke Bandung, Abahnya Rian udah nelpon terus katanya kesepian."
Setelah itu Mama mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu reaksiku. Aku cukup penasaran dengan baby sitter pilihan mama itu. Apakah kira-kira baby sitter itu ada kaitannya dengan Raja? karena lagi-lagi mama menyewanya tanpa menanyakan terlebih dulu padaku. Ahh ... untuk kesekian kali aku hanya bisa menebak tanpa ada bukti yang kuat.
"Bu Reva, cantik nggak?" tanya Della mengagetkanku.
"Wah, cantik, alhamdulillah pas, ya di badan." Aku memperhatikan kebaya warna baby pink itu dengan seksama sambil melihat detailnya.
Ponselku kembali berdering. Dari mama lagi. Langsung kugeser layarnya. "Halo, ma?
"Reva, Mama cuma mau kasih tahu kalau baby sitter udah sampai di rumah!"
Astaga, jadi makin penasaran aku sama baby sitter yang mama datangkan itu. Aku langsung pamit pada Dela--customerku dan Meri--asistenku. Kebetulan kebaya Dela sudah fix, tinggal kemeja pasangannya yang masih dalam proses penjahitan.
***
__ADS_1
Kuparkirkan mobilku di pelataran rumah. Mobil Bang Rian sudah terparkir lebih dulu di depan mobilku. Dengan tergesa kulangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Mudah-mudahan kamu betah, ya, di sini," itu suara mama dari arah ruang tengah.
"Tapi ... bagaimana kalau Bu Reva sampai tahu kalau--"
"Tahu kalau apa maksudnya?" tanyaku penasaran, tanpa menunggu ia menyelesaikan ucapannya. Sedetik kemudian aku menyesali sikapku barusan yang tergesa-gesa. Harusnya kubiarkan saja dia dulu selesai bicara.
Ketiga orang yang sedang mengobrol itu kelihatannya sedikit kaget dengan kedatanganku. Mereka bertiga menatapku yang melangkah mantap mendekati mereka.
"Reva, ini baby sitter yang Mama maksud," mama mencoba mengulas senyum padaku. "Ayo perkenalkan diri!" seru mama pada wanita yang sedang menggendong Raja itu.
"Nama saya Nadia, Bu. Usia 35 tahun." Wanita yang berpakaian khas baby sitter itu menunduk. Ternyata usianya sama dengan Bang Rian. Lebih tua lima tahun dariku.
"Udah nikah?" tanyaku penasaran.
Dia mengangguk lemah.
"Oh, ya, maksud kamu apa tadi? Kalau aku sampai tahu--apa?" kuulangi pertanyaanku.
"Ehmm ... maksudnya tahu kalau saya udah nggak single alias udah nikah dan punya anak, Bu. Karna saya akan sering izin pulang untuk nengok anak saya di kampung."
Aku kira, apa. Bagus malahan kalau dia udah berkeluarga. Statusnya tak menjadi masalah buatku.
"Nadia satu kampung juga, Va, cuma beda kecamatan aja. Kebetulan Ibunya Nadia itu adalah teman baik Mama. Kamu nggak perlu khawatir dengan pekerjaannya, dia udah pengalaman. Dia juga udah Mama kasih tahu kalau Raja bukan anak kandung kamu." Mama menjelaskan.
Aku mengangguk mendengarkannya, meski kelihatannya sopan, tapi aku harus tetap waspada pada Nadia.
***
Tengah malam begini tiba-tiba aku merasa kehausan. Kuayunkan langkahku menuju dapur untuk mengambil minuman. Meja makan menjadi satu area dengan dapur.
Mulai malam ini kuusulkan agar Nadia ikut tidur di kamar bersama Raja, mereka terpisah kasur, Raja tidur di box bayi. Selama aku belum mengetahui asal-usul Raja, aku ingin menjaga jarak dengannya, sebelum aku semakin jauh mencintai bayi mungil itu.
Saat melewati kamar Nadia yang terletak dekat dapur, aku kaget karna pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Kalau Bang Rian yang sekarang sedang lewat, bisa bahaya kan. Bisa-bisa dia mnegintip Nadia nantinya.
"Cup ... cup ... cup ... bobo yaa," suara Nadia terdengar dari depan kamar. Pas sekali, ternyata Nadia sedang terjaga, aku ingin menegurnya agar ia mengunci pintu kamarnya setiap malam.
Gegas kudorong pintu kamarnya. Mataku membelalak saat melihat Nadia sedang duduk di tepi ranjangnya sambil duduk memangku Raja. Bayi itu asyik menghisap Asi secara langsung dari sumbernya.
Bersambung
----
Wew, makin rumit aja yaa jadinya🙈
Tenang, di part 5 akan terungkap semuanya
insyaAllah secepatnya akan di up😍😍
Jangan lupa komen dan klik tanda love ya♥️♥️
__ADS_1