BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU

BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU
Siapa Citra?


__ADS_3

Sebelumnya Terima kasih udah mau subscribe ya, apalagi kalau mau follow aku 🙏😍


----


Sssttt ... jangan ribut." dengan pelan dan hati-hati Bang Rian menempelkan telunjuknya di mulutnya. "Raja baru aja tidur."


"Bang Rian su-- apa, Ma?" tanyaku penasaran. Tak kupedulikan ucapan Bang Rian barusan.


Mama terdiam sejenak, lalu beradu pandang dengan anaknya. Kemudian matanya kembali menatapku.


"Su-- apa, Ma? Sudah punya anak? Sudah nikah lagi? Itu kan maksud Mama?" tanyaku penasaran dan sedikit emosi.


Raja kembali menangis, mungkin karna kaget dengan suaraku barusan yang sedikit meninggi.


"Tuh, kan, udah dibilang jangan ribut!" Bang Rian jadi ikutan emosi.


Ditimang-timangnya kembali tubuh mungil Raja agar ia tidak menangis lagi. Namun, Raja masih saja menangis histeris sekarang.


"Ma ...." panggilku. "Jawab, Ma ...."


"Su-dah malam. Maksud Mama sudah malam. Mama capek mau istirahat. Sekarang kamu dan Rian belajar urus Raja, ya." Mama langsung bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki ke kamar tamu. Kuikuti punggungnya hingga menghilang di balik pintu. Percuma kalau aku meneriakinya dan meminta penjelasannya sekarang.


Kugigit bibir dan kuremas bajuku. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku? Aku harus mencari tahu kebenarannya.


"Bang ...." panggilku. Pria berpostur tinggi dan gagah itu masih kesulitan mendiamkan Raja. Ia sampai tidak mendengar panggilanku.


Sepuluh menit berlalu, Raja masih menangis histeris. Sudah pukul sebelas malam sekarang. Aku masih duduk di sofa memperhatikan suamiku dan mainan barunya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bayi ini saja tak jelas dari mana asalnya.


"Dek ...." Tiba-tiba Bang Rian memanggilku.


"Hmmm ...." jawabku sekenanya.


"Coba gantian kamu gendong. Mungkin kalau sama kamu Raja akan diam."


"Nggak mau." Aku membuang muka. Enak saja nyuruh aku gendong, bertanya padaku tentang adopsi bayi ini saja tidak. Mereka sudah mengambil keputusan sepihak. Aku juga sakit hati dengan ucapan mama barusan.

__ADS_1


"Kasian, dia, Dek. Coba dulu kamu gendong. Tanganku juga udah pegel, nih."


"Nggak mau!" Kukeluarkan ponsel dari saku celana dan jari lentikku menari-nari di atas layar benda pipih ini. Tak kupedulikan pinta suamiku atau tangisan bayi itu.


Suara bayi itu lama-lama terdengar seperti mengiba di telingaku. Astaga, gendang telingaku seperti mau pecah saja rasanya. Aku jadi tak bisa berkonsentrasi pada ponselku. Aaarrrgggh ... menyebalkan!


Kukantongi kembali ponsel dan ku dekati Bang Rian yang masih berdiri.


Kuambil Raja dari dekapannya. Wangi khas bayi langsung menyeruak dari tubuh mungilnya. Kugendong Raja sambil kulantunkan lagu salawat yang kubisa.


Kuposisikan gendongan Raja seperti sedang mensendawakan bayi, dengan kepalanya menyender di bahu kiri-ku.


Tak lama kemudian Raja bersendawa nyaring sekali. Aku dan Bang Rian sampai tertawa mendengarnya. Setelah itu ajaib, dia langsung diam dan terpejam, masih dalam pelukanku.


Darahku berdesir. Bayi ini sudah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulitnya lembut sekali saat kusentuh pipinya. Namun kulitnya berwarna coklat, berbeda dengan kulit Bang Rian yang putih bersih.


***


"Bang, kita belum selesai bicara," kataku saat Raja sudah kuletakkan di ranjang posisi di tengah aku dan Bang Rian.


"Sssttt ... pelan-pelan ya, Dek, ngomongnya."


"Kamu nggak percaya kalau ini anak sepupuku?" dia malah balik bertanya padaku.


"Jelas, Bang. Aku perlu bukti. Bukan hanya omongan aja."


Bang Rian terdiam dan berpikir sesaat. Kemudian ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Sabtu depan kita ke Bandung supaya kamu percaya. Kamu tanyakan langsung pada saudaraku di sana."


"Aku maunya besok!" balasku. Sabtu depan berarti masih seminggu lagi, aku tak bisa terlalu lama menunggu.


Bang Rian mendengus. "Apa-apaan kamu, Dek. Abang baru aja pulang barusan, masih capek. Masa besok harus ke sana lagi."


"Kalau Abang nggak mau, aku yang pergi sendiri." Aku memang orang yang nekat juga keras kepala.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah, besok kita berdua ke Bandung untuk membuktikan." Seperti biasa, akhirnya Bang Rian mengalah.


***


"Raja anak siapa, Bik Leha?" tanyaku pada salah satu keluarga Bang Rian saat kami baru tiba di Bandung. Aku hanya datang berdua saja dengan Bang Rian sekarang.


"Anaknya si Citra, dia teh sepupu Rian." Bik Leha bicara dengan logat sunda kentalnya.


Citra? Baru kali ini aku mendengar nama itu. Selama ini aku belum pernah mendengar nama itu sebagai saudaranya.


"Jadi Citra teh udah lama merantau ke kota, dan jarang pulang kampung. Pas sakit aja dia baru pulang ke sini. Tapi kemarin dia baru aja meninggal. Makanya suami kamu inisiatif mengadopsi Raja.


Kasihan atuh si Raja udah sebatang kara hidupnya sekarang. Ibu sama Bapaknya Citra kan juga udah lama almarhum.


Ada suami Citra tapi di luar negeri belum pulang-pulang sampai sekarang." Penjelasan Bik Leha yang belakangan sama dengan ucapan Mama kemarin.


Bik Leha adalah adik mama mertua. Tapi aku tak mau langsung percaya begitu saja pada ucapan mereka. Aku ingin bukti yang lain juga.


"Ada foto Citra dan suaminya nggak, Bik? Atau foto Citra dengan bayinya?" tanyaku. Barangkali dapat kupastikan kalau Raja benar mirip salah satu dari mereka dan benar anaknya Citra. Bik Leha tampak berpikir sejenak. 


"Nggak ada, Bibik nggak nyimpen."


Aku menghela napas dengan kasar. Tidak ada bukti yang kuat, sejuah ini hanya berupa omongan saja ternyata.


Jelas-jelas aneh menurutku, Bang Rian kemarin begitu cekatan sewaktu menimang-nimang dan membuatkan susu untuk Raja. Seperti sudah terbiasa melakukannya.


Juga ucapan mama yang menyakitkan hatiku, dia bilang kalau aku mandul. Bisa tahu dari mana dia kalau aku mandul? Padahal aku belum pernah memeriksakan diri ke dokter. Semua ini begitu membingungkan dan membuat pening kepalaku.


"Aku mau kamu tunjukkin di mana makam si Citra itu, Bang!" pintaku saat kami pamit pulang dari rumah Bik Leha.


Bang Rian sepertinya terkejut dengan ucapanku barusan.


"Itu ... ehmm ... anu ...."


Bersambung

__ADS_1


----


Duuh, kira-kira Bang Rian bisa nunjukkin makam Citra nggak ya?


__ADS_2