BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU

BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU
Tes DNA


__ADS_3

"Aku mau kamu tunjukkin di mana makam si Citra itu, Bang!" pintaku saat kami pamit pulang dari rumah Bik Leha.


Bang Rian sepertinya terkejut dengan ucapanku barusan.


"Itu ... ehmm ... anu ...."


"Anu apa?" Mataku menatap tajam ke arahnya.


"Itu Dek, maksudnya jauh makamnya."


"Tunjukkan aja, Bang. Aku mau lihat makamnya Citra."


"Ada di atas bukit di pemakaman keluarga. Jalannya kecil cuma setapak, nggak bisa dilalui kendaraan, Dek."


Aku menghela nafas kasar. Kulihat arloji di tangan sudah menunjukkan pukul empat sore. Sepertinya memang tak cukup untuk mengejar waktu yang tinggal dua jam lagi, matahari akan kembali ke peraduannya di ufuk barat. Niatanku melihat makam Citra akhirnya urung kulakukan.


"Lain kali aku janji akan menunjukkan makam itu."


Aku mencebik dengan keadaan yang tak berpihak padaku.


"Ayo kita kembali ke Jakarta. Besok aku harus kembali bekerja." Bang Rian menggandeng tanganku ke arah parkiran mobil.


***


Aku hanya diam sambil melihat pemandangan dari jendela samping mobil. Perasaanku campur aduk. Ada rasa kesal, penasaran, juga rasa sedih bercampur menjadi satu.


Mobil sedan Bang Rian melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalan bebas hambatan Tol Cipularang kembali menuju Jakarta.


Karena iseng, kuhitung mobil yang berhasil disalip oleh suamiku. Satu, dua, tiga, hingga tak terasa sekarang sudah menyalip seratus empat belas mobil.


"Kenapa, kok, diam aja?" suara Bang Rian memecah keheningan dan melebur hitunganku terhadap mobil yang sedari tadi kuhitung itu.


"Kamu curiga kalau Raja adalah anakku?" Bang Rian tersenyum yang tak dapat kuartikan.


"Jelas iya," jawabku. Istri mana yang tidak curiga dengan kelakuan suami dan mama mertua yang tiba-tiba seperti itu.


"Percaya sama Abang, Raja adalah anak Citra dan suaminya."


"Kalau begitu aku mau bukti."


"Bukti apa lagi? Apa bukti hari ini nggak cukup?" Bang Rian mulai kelihatan kesal saat kulirik dari ekor mataku.


"Tes DNA! Hanya itu satu-satunya cara membuktikannya sekarang!" seruku dengan lantang.


Bang Rian menoleh ke arahku sambil membelalakkan matanya. Masa bodohlah kalau nanti aku bakal menerima umpatan dari suami dan mama mertuaku. Aku tidak takut dengan mereka selama aku yakin berada di jalan yang benar.


***


Pagi ini sudah seminggu berlalu sejak permintaanku untuk melakukan tes DNA, tapi suamiku selalu saja mencari celah untuk menghindarinya. Geram sekali aku rasanya.

__ADS_1


Aku harus mencari cara agar bisa melakukannya tanpa sepengetahuan suamiku itu. Kuambil ponsel untuk mencari informasi apa saja yang bisa dijadikan sampel tesnya selain lewat darah, juga rambut. Karna kepala Raja sudah dibotak, susah sekaligus kasihan kalau harus mencabuti rambutnya.


Tiba-tiba saja Raja terbangun dan menangis. Terpaksa kuhentikan aktivitasku menjelajahi Mbah Google.


Kugendong ia dan membawanya ke dapur untuk membuatkannya susu formula.


Desiran aneh itu kembali terjadi saat mataku saling beradu dengan manik coklat matanya yang bening. Mulut Raja dengan semangatnya menyedot susu dari botol yang kupegangi dalam waktu sekejap langsung tandas tak bersisa.


Kurasa aku telah jatuh cinta pada bayi ini. Seminggu lebih membersamainya, aku mulai mengenal ritmenya. Anak ini hanya akan menangis bila haus atau diapersnya penuh dengan pipis atau pup-nya. Bisa di bilang anak ini anak yang manis dan tidak rewel sebenarnya.


Kupandangi lekat wajah Raja. Sambil kuperhatikan adakah bentuk wajahnya yang diturunkan oleh Bang Rian. Matanya, hidungnya, atau pun bibirnya tidak ada yang mirip dengan Bang Rian. Tapi kata orang kan wajah bayi bisa berubah-ubah.


Sial!! Aku malah jadi pusing memikirkan hal gila ini.


Pekerjaanku di butik jadi mangkrak gara-gara waktuku habis untuk memikirkan asal-usul Raja selama seminggu ini. 


***


Makanan untuk makan malam sudah tersaji dengan rapi di meja makan. Bi Ijah-asisten di rumah ini sudah menatanya sebelum ia pamit pulang. Rumahnya dekat jadi dia tidak menginap di sini. Besok pagi dia baru kembali lagi.


Aku, Mama, dan Bang Rian sudah duduk dan bersiap makan. Kuambilkan nasi ke piring suamiku beserta lauknya. Kemudian bergantian meletakkannya di piringku.


Baru saja mau menyuap sendok ke dalam mulut. Raja sudah menangis di dalam kamar.


Kami bertiga saling pandang. Saling mengandalkan satu sama lain untuk mendiamkan dan menggendongnya.


"Reva, buruan gendong Raja!" perintah Mama.


"Reva ...." Kali ini suara Mama meninggi.


"Aku bukan Ibunya Raja, Ma. Lagian salah sendiri membawa anak itu kemari tanpa seiizinku lebih dulu," protesku pada Mama. Biar dia rasa!


"Mama tidak perlu minta izin sama kamu. Kepala rumah tangga itu Rian bukan kamu. Dasar menantu---"


"Menantu apa, Ma, maksud Mama? Mandul, begitu?" kupotong pembicaraannya sebelum dia menyelesaikannya. Kutantang ia dengan tatapan tajam mataku, aku tidak bisa diinjak-injak seenaknya, hanya karna harus hormat dengan julukan 'mertua' yang tersemat padanya.


"Sudah ... sudah ...." Bang Rian berusaha menjadi penengah pembicaraan kami.


"Dari kemarin sudah kutantang untuk tes DNA,  ayo kita lakukan, Bang!" seruku pada suamiku.


"Oke ...."


"Besok!" balasku.


"Nggak bisa, tunggu dia agak besaran dulu, Dek. Kasihan diambil darahnya, dia masih kecil."


Lagi, lagi, dan lagi suamiku beralasan. Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan. Aku akan melakukannya sendirian.


"Mau sekarang atau tahun depan, kebenaran akan terang benderang, Bang!"

__ADS_1


Sebenarnya aku kasihan dan iba dengan tangisan makhluk kecil tak berdosa itu, tapi terpaksa kukesampingkan rasa itu sementara ini. Kalau benar Raja adalah anak Bang Rian, akan kuusir mereka semua dari rumahku ini.


Akhirnya Bang Rian mengalah atau menghindariku, entahlah. Ia bangun dari duduknya dan gegas menuju kamar untuk menggendong Raja.


***


"Ini Bang, kopinya," kataku saat ia tengah asyik  duduk bersandar di ranjang sambil berselancar di dunia maya dengan ponselnya.


"Makasih, ya." Bahkan ia tak sempat menatap wajahku saat mengambil kopi dari nampan yang kupegang. Khusuk sekali rupanya, sikapnya sangat mencurigakan sekali. Barangkali dalam ponselnya ada rahasia mengenai Raja atau gundiknya yang disembunyikannya.


Lima menit berlalu, Bang Rian langsung terlelap. Obat tidur yang kucampurkan langsung bereaksi, aku harus gerak cepat.


Kugunakan sarung tangan dengan hati-hati dan mengambil gunting kuku yang sebelumnya sudah kusterilkan lebih dulu.


Kuambil sampel kuku Bang Rian dan sampel kuku Raja di amplop putih kecil yang terpisah dan sudah kuberi nama.


Besok pagi aku akan mampir ke lab sebelum datang ke butikku.


Akhirnya kan kutemukan jawaban ini. Jangan coba main-main dengan Reva ....


***


"Reva, kamu mau ke mana?" tanya mama saat melihatku sudah rapi dan menjinjing tas mahalku di pagi hari yang cerah ini. Bang Rian tadi sudah berangkat lebih dulu. Sengaja aku tidak bareng dengannya agar lebih leluasa.


"Ke butik," jawabku datar.


"Lho, Raja sama siapa nanti? Kamu mau menghindar dari Mama dan Raja? Hah?"


Aku tersenyum sinis pada Mama. "Sudah sejak lama aku punya usaha butik, Ma. Bahkan dari sebelum ketemu dengan Bang Rian. Seminggu kemarin aku udah libur dan bantu banyak kerjaan Mama jaga Raja."


"Kalau begitu sewa baby sitter aja untuk Raja."


"Terserah. Aku pamit, Ma. Assalamualaikum," kucium takdzim punggung tangan mama. Lalu melirik Raja yang baru saja terlelap di gendongan mama. Ingin sekali mencium anak ini dengan aroma wangi khas anak bayi. Namun, urung kulakukan. Gegas ku berjalan ke parkiran dan mengendarai mobilku.


***


Mobil kulajukan menuju lab untuk mencocokkan sampel yang kubawa. Jantungku berdebar menunggu hasilnya. Geregetan, takut, was-was, sedih, semua rasa bercampur jadi satu di ruang tunggu ini.


"Ibu Reva," panggil seorang wanita, aku segera menghampirinya.


"Bagaimana, Mbak? hasil tes DNA-nya?" tanyaku pada salah seorang karyawan lab yang barusan memanggilku.


Wanita muda itu tersenyum padaku dan berkata, "Hasilnya---


Bersambung


-----


Penasaran nggak sih sama hasilnya? Gemas akutuh jadinya🤧🤧

__ADS_1


Yang belum subscribe ayo buruan subs ya😍😍


__ADS_2