BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU

BAYI YANG DIBAWA SUAMIKU
Terungkap Faktanya


__ADS_3

Gegas kudorong pintu kamarnya. Mataku membelalak saat melihat Nadia sedang duduk di tepi ranjangnya, sambil duduk memangku Raja. Bayi itu asyik menghisap Asi secara langsung dari sumbernya.


Nadia yang menyadari kehadiranku tampaknya cukup kaget dan menundukkan kepalanya. Namun dia masih tetap menyusui bayi itu.


"Maaf, Bu. Tanpa minta izin Ibu dulu, saya langsung menyusui Raja. Soalnya Raja udah keburu nangis kejer, dan saya kangen juga sama anak di kampung yang masih Asi juga. Asi saya sampai merembes ke baju nih." Nadia memperlihatkan bagian bajunya yang sedikit basah bekas terkena rembesan Asinya.


Aku menghela napas berat, entah harus kularang dia atau kubiarkan saja Raja menyusu padanya, aku bingung. Aku belum pernah pengalaman punya anak soalnya, tidak tahu bagaimana rasanya seperti Nadia yang kangen anaknya.


"Anakmu lelaki atau perempuan? Soalnya nanti akan jadi saudara sepersusuan dengan Raja kalau sudah sampai batas lima kali menyusui Raja." Malah kata-kata itu yang terlontar dari mulutku. Ngomong apa aku ini?


"Nggak apa ya, Bu, kalau saya juga menyusui Raja? Kasihan soalnya kalau dikasih susu formula, sayang-sayang juga dengan Asi saya yang melimpah. Tenang aja, Bu, Anak saya juga laki-laki, kok, Bu. Nggak apa kalau nantinya jadi saudara sepersusuan dengan Raja."


Aku ikut duduk di tepi ranjang di samping Nadia sambil memperhatikan Raja yang mulai tetidur setelah puas menyusu. Senang sekali rasanya jika sudah menjadi wanita sempurna seperti dirinya yang pernah melahirkan anak serta menyusuinya langsung.


"Mudah-mudahan Bu Reva juga cepat dikasih momongan ya."


"Aamiiin."


Mataku mengembun membayangkan betapa bahagianya bila bisa jadi ibu sempurna seperti Nadia. Aku yakin rencana Allah pasti akan indah pada waktunya. Aku harus bersabar menunggu takdir-Nya dalam penantian panjang ini untuk memberikan keturunan untuk Bang Rian.


***


Mataku mengerjap saat sinar matahari sudah merangsek masuk ke dalam kamarku lewat jendela yang sudah tersibak. Astagfirullah, aku kesiangan, sudah pukul setengah delapan sekarang. Karena aku sedang menstruasi, tadi saat mendengar  azan subuh lanjut tidur lagi. Semalaman juga habis lembur di butik untuk menyelesaikan pakaian untuk pasangan Dela--customerku. Karna hari ini baju akan diambil oleh calon suaminya.


Sudah satu minggu lebih berlalu sejak tes DNA itu kuajukan. Kuperiksa ponselku barangkali ada pesan dari lab yang mengabarkan tentang hasilnya. Tapi sampai saat ini masih nihil belum ada kabar.


Entah kenapa aku merasa iri pada Nadia yang kelihatannya semakin dekat dan akrab dengan Raja. Semalam saat baru sampai ruamh, aku melihat Raja tertawa diajak bercanda sama Nadia. Makin hari makin menggemaskan anak itu.


Kubasuh wajahku di wastafel kamar mandi pribadi dalam kamarku. Lalu kuusap wajah dengan handuk kecil yang tergantung di kapstok.


Kulangkahkan kaki menuju kamar Nadia. Ingin melihat sedang apa Raja di sana sekarang. Aku merindukan sosok mungil itu. Sebelum aku kembali ke butik, aku ingin menimangnya barang sebentar saja.


Baru saja ingin memutar knop pintu kamar Nadia, suara seorang pria terdengar dari dalam sana.


"Raja sekarang lebih mirip denganmu, lihat aja deh, hidungnya pesek kaya kamu, ha ha ha." Ada tawa pria yang sangat kukenali di dalam sana, meski berusaha dipelankan suaranya.


"Alisnya tebal dan bulu matanya lentik mirip sama Kakang," balas Nadia.


Mereka berdua tertawa bersama, itu suara Bang Rian yang asyik ngobrol bersama Nadia di dalam sana.


Jadi, Raja adalah buah cinta mereka? Sedangkan Citra hanya untuk dijadikan penutup topeng mereka saja? Kurang ajar mereka!


"Tapi, sampai kapan aku harus sembunyikan status kita dari Reva, Kang? Aku kan juga istri Kakang meski cuma siri." Suara Nadia kedengerannya melemah.


Apa? Jadi diam-diam mereka sudah menikah? Inginku merangsek masuk ke dalam sana dan melihat ekspresi wajah mereka. Namun, masih tetap kubiarkan sambil kukeluarkan ponsel dan merekam suara percakapan mereka selanjutnya. Kali ini aku tidak mau gegabah lagi.

__ADS_1


"Sabar, ya, Nadia Sayang. Aku harus mengambil alih harta Reva dulu, baru nanti kita akan buang dia jauh-jauh."


Astagfirullah! Jahat sekali suamiku itu. Salah apa diriku selama ini padanya? Sehingga ia tega main belakang dan ingin menghancurkanku.


Namun, belum lama aku merekam, tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan telpon yang masuk. Untung saja tidak aku set dalam mode dering, hingga aku tidak sampai ketahuan menguping di depan pintu oleh dua orang laknat itu.


Gegas kuberjalan pelan ke dalam kamarku kembali.


"Selamat pagi, Bu Reva. Hasil lab sudah keluar, Ibu bisa ambil sekarang."


"Oh, ya, baiklah aku segera datang ke sana sekarang."


Aku langsung bersiap menuju lab, sebelumnya aku kumpulkan surat-surat berharga yang kusimpan jadi satu di dalam lemari. Juga beberapa set perhiasan milikku. Untung saja belum sempat diambil oleh Bang Rian. Kumasukkan dokumen tersebut ke dalam tasku dan akan kusimpan di lain tempat yang kurasa aman.


Sekarang, tanpa bukti tes itupun aku sudah mengetahui semuanya. Aku tidak akan tinggal diam. Akan kubalas mereka, dengan caraku.


"Dek, udah rapi aja? Sejak kapan kamu bangun?" tanya Bang Rian saat membuka pintu kamar. Ia melangkahkan kaki mendekatiku yang sudah duduk di bangku depan meja rias sambil bercermin. Untung aku sudah gerak cepat.


Bang Rian mencium pucuk kepalaku yang sudah kubalut dengan pasmina warna hitam.


"Barusan Bang. Tadi aku dapat telpon dari Meri, aku harus ke butik lagi sekarang. Abang gak apa, kan, kalau aku tinggal kerja di hari Minggu ini?" tanyaku berpura-pura memelas.


Dari cermin dapat kulihat Bang Rian menghela napasnya, dasar pandai akting! Dia pasti senang saat kutinggal berduaan dengan istri sirinya di sini. Apalagi hari ini Bi Ijah sedang izin akan datang siang kesini karna suatu urusan.


"Emang gak bisa di tunda sampai besok, Dek?" tanyanya. Ia melingkarkan tangannya di depan dadaku. Jijik rasanya, membayangkan apa yang dia lakukan bersama Nadia tanpa sepengetahuanku. Namun aku harus bersabar dan pura-pura tidak tahu. Sampai nanti akan kucampakkan mereka semua.


"Ya udah. Emmhh ... tapi aku nggak bisa anter kamu ya, ke Butik. Mobilku lagi bermasalah." Bang Rian memasang wajah menyesalnya. 


Alasan kamu Bang!! Aku tahu kamu tipe orang yang rajin merawat mobil.


Aku memasang senyum terbaikku, "Iya, gak papa."


"Oh, ya, Bang Rian habis dari mana barusan? Kok nggak bangunin aku, sih? Aku sampai kesiangan gini."


"Ehm ... habis joging di depan komplek, Dek." Ia duduk di belakangku di tepi ranjang, sambil membuka sepatunya.


Aku membalik badanku untuk berhadapan dengannya, dan pura-pura tidak tahu kalau dia habis dari kamar Nadia , "Kok nggak kelihatan keringetan, Bang?"


Bang Rian salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya. Matanya bergerak ke kiri ke kanan sambil mencari jawaban. "Ehm ... anu ...."


Ponselku berdering. Kamu lolos dari pertanyaanku kali ini Bang.


Setelah menerima panggilan dari Meri, aku langsung pamit pada suamiku. Apa? Suami? Sebentar lagi bukan! Tenang, Reva. Jangan gegabah lagi ....


"Kamu pulang kapan, Dek?" tanya Bang Rian yang ikut mengantarku sampai pintu depan rumah.

__ADS_1


"Emangnya kenapa? tumben nanya?" aku malah balik bertanya padanya.


"Aku mau ajak kamu makan siang di luar." jawabnya.


Nadia sedang menggendong Raja di taman kecil depan rumah, kebetulan sekali momen ini.


"Yaah ... sepertinya aku bakalan pulang malam, Bang." Aku berbohong, padahal aku akan pulang secepatnya entah siang atau sore.


Aku memasang wajah sedih di depan Bang Rian, lalu  kupeluk erat Bang Rian di depan mata Nadia, kena kau Nadia. Ia menatap kami dan wajahnya seketika langsung muram. Namun sedetik kemudian ia lebih memilih menundukkan wajahnya.


Aku masih terus memeluk Bang Rian dan dengan sengaja menyatukan bibir kami, tak peduli dengan lipstik yang jadi belepotan setelahnya. Bang Rian tidak tahu keberadaan Nadia di sebrang sana. Adegan ini pasti membuat Nadia terbakar api cemburu.


Nadia, ambil saja pria pembohong ini, tapi nanti dulu, belum waktunya.


 Bang Rian licik, aku pintar!!


***


Kulajukan mobilku menuju lab. Pikiranku tidak tenang meninggalkan dua manusia laknat itu di rumahku. Pasti saat ini mereka sedang berduaan. 


Tenang, Reva. Tenangkan dirimu. Sebisa mungkin aku menyemangati diriku sendiri. Jangan menangisi pria itu. Air matamu tidak layak kau keluarkan untuknya.


Dadaku sesak, sulit sekali rasanya untuk sekedar bernapas. Aku sudah mengabdikan diri dan patuh pada suamiku. Tapi malah ini balasan yang kuterima.


Sejujurnya aku rela kalau Bang Rian menikah lagi demi mendapatkan keturunan jikalau aku mandul, tapi bukan begini caranya, bukan lewat belakang dan secara diam-diam. Lagi pula, dia belum pernah mengajakku periksa kesuburan, jadi aku belum tentu mandul, kan?


Ternyata selama ini dia hanya memanfaatkanku dan hanya ingin mengambil hartaku saja. Pembohong seperti Bang Rian memang pantas bersama pecundang macam Nadia.


***


Sesampai di lab, langsung kubuka selembar kertas itu dan sudah tidak kaget dengan isiannya yang menyatakan hasilnya akurat bahwa Raja adalah anak kandung Bang Rian.


Kulipat kembali kertas putih itu dan kumasukkan dalam tasku. Untungnya tadi Bang Rian tidak sempat menanyakan kalau hari ini aku membawa tas yang cukup besar, tidak seperti biasanya.


Secepatnya aku akan mengusir kalian dari rumahku.


Kulajukan mobilku kembali ke arah rumah seseorang yang dapat kupercaya untuk menyimpan semua dokumen penting dan berharga ini.


Bersambung


----


Kira-kira Reva punya rencana apa ya, untuk ngusir Rian dan Nadia?


Ternyata ada alasan dibalik Rian menikahi Reva ....

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya yaa ....


 


__ADS_2