Because Me Santri

Because Me Santri
01. TERLALU LELAH.


__ADS_3

Assalamualaikum, sobat readers


Apa kabar semua, jaga kesehatan ya, jangan lupa makan, ntar kalau sakit! aku gk bisa jaga kamu lho😅


Alhamdulillah, atas izin yang maha kuasa, Allah SWT, bisa buat cerita fiksi sederhana, dengan di kemas dengan wawasan kecil di dalamnya, semoga nyaman dengan ceritanya, juga bisa di petik sisi baiknya🙏


Happy and enjoyy


...🍁🍁🍁...


Aku kerap di panggil dengan julukan Rid. Nama panjangku ialah Ridho Saefulloh. Entah mengapa aku lebih akrap di panggil Rid, mungkin karena lebih enak atau apa... Aku juga kurang tahu.


Aku tidak mengerti kenapa aku begitu -Bego- ketika pelajaran berlangsung, tidak hanya satu, dua pelajaran saja, mungkin bisa jadi semuanya hanya masuk sekilas dan keluar secara cepat dari otaku, Tapi itu tidak kujadikan sebagai halangan dan alasan buatku mencari sesuatu, yang semestinnya aku cari untuk bekal mengarungi perjalan hidup


Benar bukan?, yaitu "Ilmu". karena menunutut ilmu itu hukumnya wajib! Karena kita sudah di tuntut menuntut ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat, juga meski jauh kita juga harus menuntut ilmu walau harus sampai ke negeri cina


...-...


Semua bermuara di sini! sebuah dunia yang belum pernah aku lalui. Bukan hanya dunia percintaan, olahraga, seni, atau bela diri-saja. semua menjadi satu di sebuah ruang lingkup yang besar.


Semua yangku cari, ada di dalamnya, mengenal kitab suci. Menganal sang pencipta. Belajar ahlak, adab. Juga ilmu-ilmu yang ada di sekolah lain pada umumnya. Semua telah tercantum menjadi satu di tempat ini! Intinya di sinilah "Gudang ilmu" berada. Ya, di sinilah semua kisahku di mulai, dari masa laluku yang begitu gelap hingga...


...HAPPY READING....


...***...


Aku terbaring lemas tak berdaya, di tempat yag kurang lebih enam kali enam meter. Aku tidak bisa bangkit, seluruh tubuhku sangat kaku dan susah untuk di gerakan. Aku tidak punya tenaga lagi, seluruh tenagaku telah aku habiskan, kini aku hanya bisa terbaring.


Mataku juga terasa lelah, begitu lama tanpa istirahat. Rasanya memang terlalu banyak yang perlu aku kerjakan sebelum-nya. Aku hanya bisa mengandalkan mataku yang saat ini sayu dan letih, untuk melihat ke sekeliling ruangan.

__ADS_1


Sangat sunyi, hanya ada aku, lampu yang redup, dan juga lemari-lemari yang ada di ruangan. Sekilas aku melirik ke arah dinding, yang menggantung sebuah benda pipih bulat di sana, ya, jam. Jam di dinding itu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi aku masih saja tak berdaya.


Waktu terus berjalan. satu, dua, tiga, empat menit. Aku masih saja belum bisa bangkit. Tubuhku ini benar-benar seperti mati rasa. Jika terus seperti ini, aku tidak akan bisa apa-apa. Pikirku.


Aku melihat sorban hijau yang menggan-tung di samping lemari, tidak jauh dari-ku. Rasanya aku ingin mengambil sorban itu, untuk segara melaksanakan kewajibanku. Namun aku masih saja belum bisa bangkit.


"Aku terlalu memaksakan diriku, pada-hal nyatanya aku tidak bisa melakuka-nnya... Kenapa baru sekarang menyada-rinya" gumamku dengan setengah rasa kesal. Rasanya jika waktu bisa kembali terulang, aku tidak akan pernah melaku-kannya lagi. Bahkan jika benar-benar terulang!, aku memilih untuk istirahat, dan tidur.


Ketimbang melakukan yang tidak begitu berfaedah, yaitu bergadang semalaman membuat beberapa gambar dengan teknik Taching. Tidur juga


hanya berkisar lima menit, aku benar-benar membuang banyak waktu semala-man. Sampai-sampai kewajibanku; sholat subuh berjama'ah tidak terlaksana.


...***...


Samar-samarku dengar langkah kaki yang mendekatiku, menggoncang-goncangkan tubuhku. "Rid, bangun! Udah  jam berapa nih! Lo sih begadang sampai gak tau waktu" dia mengguncang tubuhku semakin kuat. Aku terperanjat, bangun dan langsung terduduk.


Ternyata aku ketiduran, setelah sebelum-nya melihat jam dan sorban, mataku tak sangguh lagi, akhirnya aku tertidur, sampai di bangunkan. Aku mengusap mataku, lalu melihat ke arah jam dinding. Bukan main!, aku terkejut. Jam di dinding itu telah menunjukkan pukul 10:51 AM. "Apa. Udah jam segini! Yang benar aja" sentakku tak percaya.


Seorang di depanku hanya tersenyum kecil, wajahnya datar, seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Memang dia bukan keluarga, kerabat, sahabat dekat atau tetangga. Tapi aku dan dia sering berbagi waktu bersama. "Lo nggak minta di bangunin!, lagian gue juga tahu lo pasti capek, ya udah. Gak gue bangunin lah!" Jawabnya enteng.


"Iya sih... Tapi masa gak ada pekanya!?" Ketusku. Dia hanya cengar-cengir sambil naik turunkan alisnya, bukan menanggapi dengan serius. "Ada sih, tapi cuma males aja. Sama kasian aja, lo'kan masih lelah" sahutnya.


"Tapi masalahnya aku bakal kena hukuman. Ngerti gak!" Seruku. Dia menepuk pundakku pelan, "Ya elah, cuma hukuman doang, jangan di bikin ribet dah!, santai aja" ucapnya dengan santai.


Orang di depanku itu bernama, Fikri. Postur tubuh yang bagus, tidak terlalu tinggi, atau pun rendah. Dan hal yang paling aku nggak bisa lupain dari dia adalah kemana pun dia pergi pasti selalu membawa korek api.


Entah itu, rokok, kertas, plastik atau yang lain.  Yang dia jadikan sebagai korban dari korek apinya pun aku tidak mengerti.


"Paling-paling nyapu aula, ngepel, bersihin toilet atau apalah...." Fikri melanjutkan dengan menaikan bahunya

__ADS_1


Aku menepuk kening, merasa heran dengan dirinya, apa dia tidak memiliki rasa kasihan?, peduli?, atau bahkan rasa empati sedikit denganku?, sebagai seorang teman! Aku juga tidak tahu.


Tapi aku dan Fikri sudah kenal cukup lama, semenjak menginjak kelas X MA. Aku dan dia mulai kenal dan akrab, sampai saat ini. Fikri juga sekamar denganku, jadi wajar saja jika aku sering melibatkanya di berbagai masalah atau pun perkara, yang aku alami dan rasakan.


Harap di maklumi, saat ini jiwa nakalku naik level, entah mengapa aku belum bisa mengontrolnya. Padahal seharusnya semakin beranjak usia, kenakalan semacam itu semakin sirna


"Apa gak ada solusi?, atau apa kek! Yang bisa bantu aku biar gak di hukum?!" Tanyaku dengan serius. Fikri menaruh telunjuknya di dagu, matanya tidak bisa diam, menatapi berbagai objek. Tampak-nya dia sedang berfikir keras.


"Ah. Ha. Gimana kalau gini...."


"Gimana apanya?" Aku penasaran di buatnya.


"Jadi gini...." Fikri menatapku serius, sampai membuatku gemetaran. Memang terkadang dia sedikit konyol dengan tingkahnya, tapi ketika serius, aku sampai tidak bisa menebak apa yang ada di kepalanya.


"Apaan emangnya?, cepet bilang!" Desakku yang terus menunggu.


Fikri menggeleng, wajahnya seketika berubah menjadi sedih. Tak kusangka dia bisa mengubah mimik wajahnya sece-pat itu. "Kayaknya yang kali ini aku gak bisa bantu.... Sekalipun gue bantu! Gue juga bakal kena imbasnya, Rid!" jawabnya datar.


Ku kerutkan keningku, rasanya ingin marah, tapi untuk apa marah! mungkin aku yang terlalu berharap dengannya bisa membantuku.


"Ya udah mau gimana lagi. Namanya juga udah terjadi, buat apa di sesali. Lebih baik aku mengakui dan berani menerima hukumannya" gumamku dalam hati. Berusaha menangguhkan hatiku sendiri.


"Ya gak papa, lagian aku juga yang salah kok" ucapku sambil tersenyum. Meski sebenarnya perasaanku sedang bercampur aduk.


Fikri merespon dengan baik, "Ya udah, cepetan mandi sana!, entar telat lagi gimana" serunya sembari menunjuk ke arah jam dinding.


"Iyee" jawabku malas. padahal baru bangun udah ada aja yang nyuruh.


.........

__ADS_1


Assalamu alaikum. salam dari Author ya, ini karya pertamaku, maaf jika ada salah kata atau lain sebagainya....


Dan jangan lupa buat bantu karya ini. Like, coment, vote, dan give-nya. makasih semua. juga buat tambah ke favorite, biar dapat notification Up~.


__ADS_2