
Pagi ini cuaca sangatlah dingin. Udara sungguh sangat menusuk, sampai masuk ke dalam tulang. Aku sedang berada di teras masjid. Bersama dengan sebagian santri yang lain.
Meski ada sebagian santri lain, yang juga masih menggulung selimut, di asrama. Selepas sholat dhuha dan mengaji. mungkin karena rasa kantuk dan tidak ketahuan pengurus.
Aku duduk di pojok teras masjid. Di temani oleh Setiawan. Yang sedang menghafal nadhoman tajwid. Ia tampak sangat serius. Sampai sedari tadi belum ada menoleh ke arahku sesekali pun.
Sedangkan aku, hanya sedang mencoret-coret buku tulis yang kosong, sedari tadi. Terus aku alunkan tanganku, mengikuti imajinasi yang muncul di kepalaku. Dengan pelan namun pasti, goresan-goresan tinta terus mengarah kesana kemari di atas kertas. Membentuk sebuah sesuatu di buku tulis yang sebelumnya tampak kosong.
Setiawan menutup kitab Syifaul Jannah. Kitab tajwid yang di gunakannya. Lalu menciumnya. "Alhamdulillah, udah hafal" ucapnya dengan senang. kemudian Aku melirik. "Udah selesai semua?" tanyaku datar, sambil meletakkan bulpoin yanga ku pakai.
"Anta ini gimana... Kan, baru mulai hafal. Ya, mana mungkin langsung semua." sahut Setiawan.
Aku nyengir, sambil menepuk pundaknya. "Ya, maaf. Siapa tahu langsung hafal semua. Bisa jadi'kan!" Setiawan menengadahkan tangannya ke atas. dengan khusyuk. "Amiin, do'akan aja ya" Ucapnya sambil mengusap kedua telapak tangannya ke wajah.
"Antum bikin apaan tuh?" Tanya Setiawan melirik ke arah buku yangku coret-coret. Ia tampak memandangi dengan saksama, buku yang telah menjadi pelampiasan dari imajinasiku.
Aku barusan membuat sebuah gambaran, berupa pemandangan di sore hari; Sanset. "Enggak. Lagi iseng aja. Cuma mengisi waktu aja, kok" jawabku. Sambil menutupi gambaran dengan lengan kananku.
"Lha, kenapa di tutupi!" Serunya
"Hehehe. Malu, ini cuma coret-coretan, doang" ucapku pelan.
Setiawan menggelengkan kepala. "Anta ini gimana. Orang gambar bagus kayak gitu!, di bilang jelek. kayak coret-coretan. Seharusnya di syukuri" ujar setiawan.
Aku menundukkan pandangan. Aku baru saja seperti terkena sambaran petir, yang begitu besar barusan. Juga bertubi-tubi. Perkataan Setiawan mengingatkanku dengan rasa syukur. Kepada yang maha kuasa. Allah SWT.
Aku memang tidak terlalu ahli dengan yang namannya melukis, dan mengambar. Namun setidaknya aku bisa di bidang itu. Banyak yang mengatakan jika gambaranku 'bagus', 'bisa ikut kontes', 'kalau lomba pasti menang'. Dan masih banyak lagi...
Namun aku masih saja belum percaya dengan diriku sendiri. Seakan-akan semua itu hanyalah bayangan hayalanku saja, yang belum bisa aku gapai. Tapi, kenyataannya aku sudah memilikinya di dalam diriku sendiri. Ya di dalam jati diriku.
"Iya, di sukuri aja ya. Tapi ini'kan gak sebagus mungkin. Hanya coret-coretan doang" ujarku masih tidak percaya. Setiawan tersenyum, menaruh kitab ke dalam tasnya. Lalu melihat wajahku.
__ADS_1
"Anta tahu!, semua sudah di ciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Intinya anta itu harus bernyukur" tutur Setiawan dengan lembut.
"Iya... Alhamdullilah bisa gambar. meski gak sebagus mungkin" sahutku. Setiawan tersenyum lebar. Terlihat kepuasan di wajahnya. "Nah, gitu dong!, anta tahu'kan. Kalau iman itu di bagi menjadi dua, itu adalah sabar, dan bersyukur." Ujarnya.
"Iya, ya. Aku sampai gak kepikiran ke situ" ucapku sambil menggaruk-garuk kepala.
Setiawan menyandarkan tubuhnya ke dinding masjid. Ia terlihat lelah. Aku menoleh ke arahnya. Merasa bingung denganya. Padahal masih pagi. Masa' udah loyo. Seharusnya mah semangat. Pikirku seketika.
"Kamu kenapa?, kok kayak gak bersemangat gitu. Padahal barusan aja kamu semangat banget" tanyaku yang tidak mengerti.
Setiawan melirik kearahku, sesekali. Senyum tipis di bibirnya muncul. "Ana capek... Pengen istirahat aja" jawabnya dengan nada lirih.
"Capek kenapa?"
"Ana barusan.... Tadi malem-,"
"Kalian berdua sibuk nggak!" Ucap Shiddiq, yang tiba-tiba datang. Dan memotong pembicaraan aku dan Setiwan.
Secara bersamaan. Aku dan setiawan menggelengkan kepala. Tanpa sepatah kata pun yang terucap. "Kalian berdua ngapain?, aku tanya serius nih!" Seru Shiddiq, yang ikut duduk bersama kami.
Aku salut dengannya, karena kedisiplinan dan ketegasannya. Itu jugalah yang menjadikan dia di angkat menjadi pengurus pondok
"Huss, kalian berdua ngapain sih. Kok diem aja!" Tanya Faiq sekali lagi. Aku dan Setiawan hanya mengangkat bahu.
Suasana menjadi hening....
Sesaat kemudian....
Setiawan tersenyum ke Shiddiq. Lalu menarik nafas dalam. "Anta kelupaan barusan'kan!" Ucap Setiawan dengan santai. Shiddiq masih belum mengerti dengan maksud Setiawan. "Ana?, emang apa yang kelupaan?" Shiddiq balik bertanya.
"Bukan anta aja, ana juga lupa kok" sahut Setiawan dengan senyuman lebarnya. Aku tersenyum kecil, seperti mengerti apa yang akan Setiawan katakan. Namun Shiddiq berbeda, dia tampak belum mengerti dengan maksud dari ucapan temannya.
__ADS_1
"Ana jadi ikut kelupaan kalau mau bilang!"
"Bilang apa.... Tinggal bilang aja'kan" ucap Shiddiq mendesak.
"Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu. Ya, itu yang kelupaan" ucap Setiawan memberi salam.
"Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatu" ucapku bersamaan dengan Shiddiq, menjawab salam.
"Iya aku kelupaan, makasih udah ngingetin. Soalnya aku buru-buru, ada perlu...." aku melihat wajahnya yang tampak menyembunyikan sesuatu, membuat rasa penasaranku menjadi timbul. "Emang keburu-buru nagapain?" Tanyaku penasaran.
Shiddiq melihat ke arah jam tangannya. Wajahnya terlihat sangat tidak tenang. "Anu... tadi aku..." jawab Shiddiq dengan terbata-bata. "Anu... Apa?, anta lagi ke sambet ya" sahut Setiawan meledek.
"Bukan itu. Tadi semennya habis" serunya.
"Ha, habis. Emang tu semen di makan sama siapa?, anta!" Tanya Setiawan dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Hebatnya bisa habis. Berarti di sini banyak yang doyan semen dong, besok pesenin banyak semen aja!" sambungku sembari menahan tawa.
"Ngawur... Bukan itu maksudku" Shiddiq menepuk lenganku dan Setiwan secara bersamaan. "Lha terus apa?" Tanyaku untuk lebih jelas lagi.
"Tadi aku di suruh beli 10 sak semen, tapi aku ketiduran. Terus bangun-bangun udah agak ke siangan gini." Ujar Shiddiq memberi tahu.
Aku seperti tidak percaya, orang yang aku tahu mempunyai kedisiplinan tinggi. Ternyata juga ada kalanya teledor.
"Hei kalian berdua. Mau ikut aku beli semen nggak?, kalau mau aku ntar kasih..." belum selesai Shiddiq berbica. Aku langsung beranjak dari dudukku. Seperti superhiro yang hendak menyelamatkan kota dari musuhnya dengan cepat. Tanpa pikir panjang.
"Udah ayo gass aja!" Seruku sembari menarik pergelangan lengan Shiddiq. Dia kemudian berdiri, menatapku heran. "Semangat amat... aku kan belum selesai ngomong." Sela Shiddiq
Aku melirik ke Setiawan. "Wan, kamu nggak ikut kah?, ntar nyesel..." sekilas dia menatapku, lalu ikut berdiri. "Siapa bilang ana nggak ikut, ya. Pasti sayang dongg. Kalau di sia-siain" ucap Setiawan.
Aku dan Setiawan menarik tangan Shiddiq. Dengan berlari kecil menuju gerbang pondok. Aku tidak peduli dia mau berkata apa. Mungkin saja Setiawan juga berfikiran yang sama. Intinya aku ingin juga keluar pondok, meski hanya untuk menemani membeli sesuatu.
__ADS_1
"Entar dulu, aku belum selesai ngomong!" Seru Shiddiq yang terus ditarik olehku dan Setiawan.
"Ngak izin dulu, ntar kalian kena hukuman lho!, lagian aku juga belum ambil uanganya buat beli semen" sentak Shiddiq yang membuatku dengan Setiawan berhenti menariknya.