Because Me Santri

Because Me Santri
02. MENUNGGU WAHID.


__ADS_3

Aku segera bergegas lari ke kamar mandi dengan tergesa-tesa. Sesaat kemudian setelah aku selesai, langsung saja tancap gas bagaikan pembalap moto GP-menuju ke kamar. Menaruh handuk, menganti pakaian dengan baju koko berwarna putih, mengambil sorban hijau yang menggantung di samping lemari. Dan langsung tancap kembali dengan terbirit-birit menuju ke masjid.


Sasempainya di depan pintu masjid, ku hentikan langkahku, mengatur nafas, dan berusaha tenang. Lalu melihat ke arah jam yang ada di dinding luar masjid, tepat berada di atas pintu yang akanku kulalui.


"Bismillah, mudah-mudahan gak terlambat" aku sangat berharap tidak terlambat lagi. Sebab tadi subuh aku sudah tidak berjama'ah di masjid. Apa mungkin juga terlambat sekarang?, hal itu tidak aku inginkan sama sekali.


_


Aku tidak tinggal sendiri, sekelompok atau se-organisasi. Tapi aku berada dan tinggal di ruang lingkup yang tidak bisa terbilang kecil. Ya, aku berada di sebuah ruang lingkup yang bisa di bilang cukup besar. Alhamdullilah.


Yang di sebut dalam bahasa inggris-nya "Islamic Boarding Shcool." Atau dalam bahasa indonesianya adalah "pondok pesantren". Pondok ini berada di: Tanjung tengang, Melawi. Kalimantan Barat. Ponpes ini bernamakan Bustanul Qur'an. yang artinya: Taman Al-Qur-'an.


Jadi semua aturan-aturan ketat dan tata tertib yang ada di ponpes ini berlaku. Bagi siapa saja yang melanggarnya pasti akan mendapat hukuman sesuai dengan apa yang di langgar.


_


Aku melangkah memasuki masjid. Setelah masuk ke dalam masjid, aku di kejutkan dengan sebuah sorban berwarna hitam yang menyambar ke mukaku dengan begitu kuat. Membuatku menjadi pusat perhatian sebagian santri yang melihatnya saat khotbah sedang berlangsung, meski tidak semua.


Sorban hitam barusan itu milik seorang yang berpostur tubuh besar, dengan wajah yang terlihat seram, kini dia di hadapanku. Dia menepuk pundak sembari merangkulku. "Duduk, ntar habis jum'atan!" Serunya dingin dengan berbisik di telingaku. Aku hanya menelan ludah, gemetaran, tak mampu melihat wajahnya yang garang.


Dia bernama Nur Wahidin, kerap di pangil Wahid, dia menjadi pengurus pondok di bagian keamanan. Jadi siapa saja yang terlambat, akan berurusan dengannya. Termasuk aku yang sekarang!


Bakal kena hukuman apa ya?, mudah-mudahan gak berat. Atau... Duh kira-kira apa ya?. Pikiranku terus di hantuin oleh pertanyaan-pertanyaan yang secara refleks timbul di pikiranku. Bahkan hingga selesai sholat jum'at, pikiranku masih saja terhantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang menunggu jawaban dengan pasti.


***

__ADS_1


Sore hari. Berkisar jam setengah lima. Aku tengah berada di aula, duduk santai menyendiri di ujung pojok aula. Hanya di temani segelas kopi hangat dan satu buku tulis di ata meja, di sampingku.


Di aula yang besar aku tidaklah sendiri, para santri juga ada di aula itu. Mulai dari yang ngobrol doang, makan jajan, baca buku, nderes qur'an, sampai santri yang sanyat khusyuk mutolla'ah kitab kuning. Semua bertumpu menyebar menjadi satu di aula itu.


"Apa udah mandi, kok kelihatannya masih santai-santai aja!" Tegur seseorang yang secara tiba-tiba datang, dari belakangku, memecahkan lamunanku barusan.


Aku menoleh, "Udah kok" jawabku singkat. "Kamu datang-datang main kagetin aja!" Sambungku dengan senyum melengkung di bibirku.


Dia membalas senyumku, lalu duduk di sampingku. "Lha antum mah diam aja, melamun. Kan melamun itu gak baik" ujarnya. Aku hanya meringis menyadari tingkahku batusan.


"Oh, ya. Rid. Ada yang kelupaan yang mau ku bilang" ucapnya santai.


"Apaan.... Tapi jangan yang aneh-aneh!" Tanyaku dengan menyandai.


"Assalamu alaikum" dia memberi salam.


"Itu aja kok, yang kelupaan!" Sambungnya memeritahu.


Aku tak dapat menahan lekungan di bibirku, apa lagi ketika dia bertingkah seperti barusan. Ketika dia melupakan hal dengan sengaja atau tidak... Hal yang dia ingin katakan, seperti memberi salam.  Itu sudah menjadi ciri khas-nya tersendiri sebagai seorang santri.


Dia bernama Setiawan. Dia sama seperti sama-sama santri biasa, bukan pengurus atau yang lain.... Umurnya terpaut lebih mudah dariku.


"Lagi ngapain antum di sini?" Tanyanya, sesekali melirik buku dan segelas kopi yang ada di ata meja. "Nggak lagi ngapa-ngapain. Cuma lagi nyelesain tugas Ekonomi, sambil nungguin orang" ujarku memberitahu.


"Oh, kirain... Lagi sibuk" ucap Setiawan sembari mengambil segelas kopi yang ada di atas meja, lalu meminumnya dengan sangat menikmati.

__ADS_1


Mata Setiawan membulat, terbelalak, setelah minum segelas kopi tersebut. "Wah, enak bangett ini kopi... Apa antum buat sendiri?" Tanyanya dengan penasaran.


Aku hanya mengangguk, tanpa sepatah kata. Pandanganku tertuju pada jam dinding yang telah menunjukkan pukul, lima kurang tiga menit. Entah kenapa aku mulai merasa tidak nyaman, ada rasa senang dan juga rasa khawatir. Bercampur menjadi satu di dalam benakku.


"Antum kenapa?, kok mukanya kayak tegang gitu!" Tanya Setiawan sembari  memerhatikan wajahku. Aku melirik ke arahnya, nyengir. "Gak kenapa-napa kok" jawabku berusaha santai.


"Udah... Antum gak usah menutup-nutupi lagi, udah kelihatan kok. Bilang aja kenapa!"  Yanya Setiawan serius, dengan mendesak. Sambil menaruk gelas kosong, yang sebelumnya berisi kopi.


Aku menundukkan pandangan, sesekali melihat kearahnya. Wajahnya yang tampak serius membuatku berfikir. Mungkin dia bisa bantu aku, jadiku  beritahu aja soal aku yang terlambat.


"Orang yang aku tunggu itu Wahid, ada urusan dengannya, aku ada terlambat. Tapi sampai s-esore ini aku belum lihat dia" kataku memberitahu.


Setiawan mengangguk-angguk, lalu melihat ke arahku. "Wahid?, Ngapa antum gak samperin aja!" Serunya.


"Samperin dia?, emangnya kenapa!, tapi dia itu nuruh aku tunggu di aula ini!" Aku balik bertanya. Aku agak sedikit kurang mengerti dengan maksud Setiawan. "Emang kenapa, Wan." Tanyaku sekali lagi.


Setiawan tersenyum manis ke arahku, membuatku hanya bisa nyengir, tanpa tahu harus merespon bagaimana. "Antum emang gak tahu, si Wahid. Dia'kan dari habis sholat ashar, udah pergi ke perpustakaan." Ujarnya.


Pantas saja Wahid tidak kunjung datang, untuk memberi hukuman denganku, ternyata dia ada di perpustakan. Apa dia lupa denganku?, entahlah. Untuk apa pergi ke perpuatakan? Aku juga kurang tahu.


"Apa ada tugas?, atau dia ingin belajar di sana?" Tanyaku dengan rasa penasaran. Setiawan mengangkat kedua bahunya, bemberi isyarat jika dia tidak tahu.


Aku tidak berfikir terlalu panjang lagi. "Ya udah makasih banyak ya, aku mau segera kesana!" ucapku dengan terburu-buru. Setiawan Setiawan tersenyum sembari menjulurkan tangan. "Iya, udah kesana!, entar antum kemalaman" candanya. "Iya ntar ketinggalan bus malam deh" sahutku dengan melontarkan senyuman, sambil berjabat tangan.


"Assalamu alaikum" aku memberi salam, sambil berjalan meninggalkanya.

__ADS_1


"Wa alaikumussalam warahmatullahi bawarakatu" jawabnya dengan setenah teriak.


__ADS_2