Because Me Santri

Because Me Santri
04. MENGAKUI KESALAHAN


__ADS_3

Ternyata aku sama sekali tidak mengingatnya. Aku melupakan Wahid, sendirian di perpustakaan. Jika saja tidak aku bangunkan. Bisa saja sampai subuh nanti dia baru bangun. Aku menguncang-guncang tubuh Wahid, dengan kuat.


"Hid. Wahid bangun... udah jam berapa nih!" Seruku. Sesaat kemudian. Wahid terbangun. Menguap, meregangkan tubuhnya, masih dengan mata yang terpejam. "Alhamdulillah. Segernya jadi badanku, pegel-pegelku jadi ilang" ucapnya pertama kali, saat bangun. Sembari membuka kedua matanya.


"Mimpi aja barusan, Hid. Kayaknya seru banget deh!" Wahid terkejut, ternyata ada orang lain selain dirinya, di perpustakaan. Dengan refleks dia menoleh ke arahku. "Lha, kamu... ada di sini?" Wahid masih terlihat bingung. Dia juga tidak tahu jika aku yang membangunkannya.


Wahid menatapku, masih dengan tatapan sayu. Dia belum mengerti jelas apa tujuanku datang ke perpustakaan. "Aku barusan mimpi, keliling kota-kota besar, Rid." Jawabnya dengan pelan.


"Mimpinya keren tuh, coba aja aku ikut, pastinya seru dong". Aku mencoba mencandainya. Dia tersenyum kecil. Lalu menundukkan kepalanya. Dia seperti mengerti, persis. Jika yang dia lakukan barusan itu salah.


"Ada benarnya kalau kau ndak ikut di mimpiku..." ucap Wahid lirih. Aku menepuk pundaknya. "Emangnya kenapa?" Tanyaku. "Aku... Barusan ketiduran, Rid" ujarnya dengan rasa bersalah.


Aku duduk di sampingnya, memandangi wajahnya yang masih kelihatan kusut, sehabis bangun tidur. "Ya udah. Mau gimana lagi! Namanya juga ketiduran'kan. Bukan di sengaja to, Hid" ucapku dengan santai.


Wahid tersenyum, seketika. "Makasih ya..." sela Wahid. "Tapi, ngomong-ngomong, ada perlu apa cariin aku?" Tanya Wahid. Aku hanya nyengir. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa lupa, begitu saja. Padahal, baru tadi siang. Tapi jika benar-benar lupa, aku justru bersyukur. Alhamdulillah.


"Emm. Sebenarnya aku cari kamu, buat..." aku ragu mengatakannya. Ini akan menjadi kesempatan bagiku. Untuk bisa lepas dari hukuman. Jika di banar-benar lupa, aku bisa mencari topik pembicaraan yang lain.


Apa dia lupa, atau hanya pura-pura. Jika ia. Maka aku bisa saja membohonginya, jika ada acara... Atau kegiatan lain... Pikiranku mulai tidak terarah. Banyak bermunculan ide-ide liar dan gila. Memenuhi pikiranku.


Wahid mengetuk keningnya, dengan jari telunjuk. Seperti seorang yang sedang berfikir keras. "Oh..." Wahid membulatkan mulutnya. "Kamu kesini karena, tadi siang'kan!" Wahid melanjutkan. Aku mengangguk sembariku keluarkan senyumanku, dengan terpaksa. Hatiku yang semula senang. Dengan begitu cepat berubah menjadi tidak terlukiskan. Bagaikan pepohonan yang sangat rimbun, tapi seketika langsung, daun-daunnya berguguran semua.

__ADS_1


"Iya..." sahutku datar. "Bagus, kamu itu peka, oranganya. Makasihnya!" Ucap Wahid dengan senyuman yang melengkung di bibirnya. Dari sorot matanya yang bening, seketika. Dia sepertinya tahu harus menghukumku dengan cara apa?


Aku menelan ludah. Menunggu jawabannya. Pikiranku kini di penuhi dengan bayangan-banyangan. Yang saat aku nantinya di hukum. "Kira-kira hukuman apa ya?!, mudah-mudah gak berat." Batinku penasaran.


"Ya udah belikan aku pentol kuah di dekat jalan pondok saja!" Jawabnya dengan ringan. Seperti tidak memiliki amanah. Atau pun tugasnya. Sebagai pengurus.


"Serius!, pentol kuah!, aku gak di hukum?!" tanyaku dengan nada tinggi. Aku benar-benar tidak percaya dengan perkataannya, barusan. Wahid terkekeh. Dia menatapku dengan tatapan liar.


"Ya enggak lah!, tetap aja di hukum. Ntar bersihin aula aja, nyapu!" Ujarnya memberitahuku. "Iye" jawabku malas. Sebenarnya aku mengharap, pas dia bilang 'belikan pento kuat'. Itu adalah kesempatanku dari satu berbanding seratus. Namun ternyata dia hanya bercanda.


***


Aku berbaring di depan teras kamarku. Tubuhku terasa lemas semua. "Huh... Cukup capek juga ternyata. Padahal cuma sedikit" gumamku yang merasa kelelahan.


"Apa ilmu itu seperti cahaya?" Tanyaku pada diriku sendiri. Aku menghela nafas. Mencoba berfikir jernih dan tenang. "Aku rasa iya... orang yang tidak ber-ilmu. Itu sama saja dengan lampu tanpa cahaya." Jawabku dalam hati, lugas.


"Jika ilmu itu bagaikan lampu, Tentulah benar. Orang tak berlimu bagaikan lampu tanpa cahaya. Tidak bisa menerangi yang lain. Dan... Bahkan lampu itu sendiri tidak menyala." Sambungku, dengan bergumam.


Aku nyengir. Rasanya ingin tertawa. Menertawakan diriku sendiri. Yang tidak begitu pandai dalam berbagai hal,  Seperti biasanya. "Huh... aku tahu jika ilmu sangatlah penting. Tapi bagaimana aku bisa menangkap semuanya... Jika aku saja sendiri tidak begitu ahli dalam hal-hal itu!" Gerutuku.


Aku memejamkan mata. Untuk mencoba melepaskan bebanku, sesaat. Ya, dengan tidur. Belum beberapa menit. Aku di kejutkan dengan seseorang, yang tiba-tiba menginjak lengan kanan kiriku, meski tidak kuat.

__ADS_1


Aku membuka mata. Melihat Setiawan. Sudah berdiri di sampingku, dengan tersenyum. "Gimana?, apa udah kelar antum selesaikan.... Sama Wahid" tanya Setiawan dengan tenang.


"YA, begitu deh" jawabku, pelan.


"Kok, kelihatannya lemes amah. Antum?!"  Ucap Setiawan, yang kemudian duduk di sampingku. Dia memyodorkan sebuah minuman kepadaku. Sambil tersenyum. "Ini, Ana bawain, minuman teh. Ya bisa to, buat hilangin rasa haus antum." Ujarnya, sembari menaruh menuman itu di perutku, yang masih terbaring. Dengan rasa lelah.


"Antum hebat deh" ucapnya.


"Hebat?, hebat kenapa, Wan" tanyaku.


"Ya hebatlah. Antum berani buat akui kesalah. Kebanyakan itu kan, gak mau dihukum. Dan juga merasa gk bersalah." Tutur Setiawan.


Aku nyengir. Lalu tertawa kecil. Entah mengapa, dia mengatakan hal yang tidak aku duga-duga. Walau biasanyabaku hanya mengobrol denganya sekilas saja.


"Ya emang udah seharusnya begitu. Kita itu harus mengakui kesalahan. Meski berat. Kita harus tetap mengakuinya." Ujarku. Setiawan menoleh le arahku. Sambil meminun teh yang dia bawa.


"Bener. Antum benar banget!" Ucapnya dengan terburu-buru. Hampir tersedak.


Rasanya ingin tertawa, melihatnya. "Santai aja kenapa" seruku. Dia hanya mengangguk, meneruskan meminun tehnya.


"Karena guruku pernah bilang. Jika kesalahan kita sama manusia lain. Gak di tembus di dunia ini. Nanti bakalan di tebusnya di akhirat, Wan. Dan kalau di sana bakalnya lebih berat lagi." Ujarku memberitahu.

__ADS_1


"Oh... Gitu ya. Ana jadi tahu sekerang. kamasih Antum udah kasih tahu." ucapnya. "Iya. Ilmu itu'kan harus di bagi. Meski sekecil apa pun" sahutku. sambil memberi senyuman.


__ADS_2