Because Me Santri

Because Me Santri
03. PECI MIRING


__ADS_3

Aku pergi menuju ke perpustakaan, dengan lari kecil. Perpustakaan itu berada di luar asrama. Membuatku harus izin lebih dahulu, ke pengurus. Penjaga gerbang. "Ya, boleh... Tapi jangan lama-lama", ucap penjaga gerbang. "Alhamdullilah, makasih" sahutku, sambil bersaliman, lalu bergegas pergi.


Sebenarnya aku malas melakukan ini, harus mengakui kesalahan, lalu terus minta di hukum. Menurutku itu hal yang ber-kebalikan. Bukan kesadaran Wahid, akan tugasnya, sebagai seorang pengurus. Justru aku yang harus mengingatkannya. dan apa tugasnya...


"Emangnya dia lagi ngapain di perpus. Baca buku? belajar? atau lagi sibuk yang lain!" Gerutuku dalam hati.


Tidak lama kemudian...


Aku  sudah sampai di depan pintu depan perpustakaan. Pintu itu terbuka sedikit, menandai jika ada orang di dalamnya.


"Assalamu alaikum" . Aku memberi salam, sembari mendorong pintu itu. Masuk ke dalam perpustakaan. Setelah masuk, aku  melihat ada seorang yang tengah terduduk, setengah berbaring di atas meja, membelakang-iku. Tidak salah lagi, dia Wahid. Seorang diri di perpustakaan sore ini. pikirku.


Perpustakaan tampak sangat sunyi. Hanya menyisakan Wahid, seorang diri. Bukan jam di perpustakaan. Maka penjaga perpustakaan juga sudah tidak lagi menjaga. Tugasnya sudah usai, bersamaaan dengan selesainya jam sekolah. di pondok.


"Wahid" timpalku. Namun Wahid, tidak menjawab, bahkan menoleh sesekali ke arahku. "Lagi ngapain?, ....Sibuk ya!" Tanyaku. Wahid masih saja diam, tidak merespon. Apa dia terlalu serius!, sampai mengabaikanku. Pikirku.


Aku menunggu sampai beberapa menit. Manun masih saja tidak ada perubahan. Aku jadi semakin penasaran dengan Wahid. Aku mendekatinya, kulihat dia dengan lekat-lekat... Ternyata dia tertidur. Pantas saja tidak ada respon sama sekali.

__ADS_1


"Oalah... Tidur!, ya pantesan gak nyahut-nyahut. Juga di tunguin, gak nongol-nongol" gumamku pelan. Wahid tertidur di ata meja, setengah berbaring. Beralaskan sebuah buku tebal. Di bawah kepalanya.


Aku melihatnya tampak imut, ketika sedang tidur. Meski sebenarnya wajah Wahid, garang dan seram. Namun perbedaan sangat jelas terlihat ketika dia sedang tertidur. Mulutnya ternganga, di atas buku tebal itu. Untungnya tidak ada cairan yang keluar dari mulutnya. Liur.


Buku tebal, yang di gunakan Wahid untuk alas, seperti tidak asing bagiku. Buku tebal itu seperti pernah aku lihat sebelumnya. Rasa penasaranku jadi timbul. "Buku ini... Kayak nggak salah lagi..." ucapku dalam hati. Akhirnya, kuputuskan, dengan inisiatifku, untuk mengambilnya.


Dengan perlahan, namun pasti. Aku akhirnya berhasil mengambil buku tebal itu. Tanpa harus membangunkan Wahid, yang tengah tertidur pulas. Ternyata benar! Buku tebal itu, adalah buku Yang sudah pernah aku baca sebelumnya.


Buku tebal yang aku pegang, saat ini. Adalah buku yang mengisahkan tentang biografi salah seorang tokoh tanah air, Indonesia. Yang terkenal. Dan memiliki pengaruh besar. Adalah biografi dari tokoh yang bernama; Abdurrahman Wahid. Putra dari Kyai Wahid Hasim. Atau lebih di kenal dengan sebutan 'Gus  Dur'.


Aku memang pernah membaca buku Biografi tentang Gus Dur. Walaupun tidak sampai di pengujung buku. Menurutku, kisah perjalanannya sangatlah "Menakjubkan". Meski sudah tidak banyak yang masihku ingat. Lekat di kepalaku. Tapi, masih tetap ada meski hanya beberapa yang menempel.


Aku berniat Membangunkan Wahid. Yang tengah tertidur pulas, entah dia sedang bermimpi apa? Setelah aku membaca sebagian buku tentang biografi Gus Dur kembali. Yang berjudul Peci Miring. Ini! Juga untuk mengulur waktu.


"Astagfirullah" ucapku refleks.


Saat aku tengah membuka lembaran buku Peci Miring dengan asyik. tidak aku duga! Sebuah tangan menyambar. Menerkam buku tebal yang tengah aku baca dan nikmati dengan cepat. Sampai membuatku begitu terkejut. Setengah jantungan. seperti orang yang ketakutan di film-film horor.

__ADS_1


Ternyata itu adalah tangan kanan Wahid. Aku terkejut, sekaligus merasa heran. Wahid  yang satu menit lalu, aku perhatikan. Masih tertidur pulas. Dan secara tiba-tiba menerkam buku tebal. Apa dia terbangun?, ....Ah, yang bener aja. Padahal aku nggak bangunin. Pikirku dengan perasaan keheranan.


Aku menengadahkan buku Peci Miring. Sejajar dengan wajahku. Yang masih dia cengkeram.


Buku tebal itu menutupi wajahku. Menghalangiku bersitatap langsung dengan Wahid. Yang berwajah seram. Aku tidak berani, tapi bukan berarti takut... Aku hanya khawatir nantinya dia akan salah paham.


Perlahan tangan kanan, Wahid yang mencengkeram, mulai lemah. Lalu terjatuh ke atas meja. Cukup kuat, seperti sebuah sentakan.


Aku menurunkan sedikit buku tebal, yang menutupi wajahku. Melihatnya, dengan mengintip dari balik buku tebal. "Ternyata... Dia hanya me-ngigau."  Ucapku dengan perasaan lega. Jika saja dia terbangun. Melihatku mengambil bukunya. Aku sudah tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi selan-jutnya.... Dalam kondisi seperti ini.


Sepuluh menit telah berlalu. Aku  telah selesai membaca beberapa puluh halaman. Buku Peci Miring. Ingatanku kembali menguat. Tersimpan di inti memory. Tentang biografi sang Gus Dus ini. "Udah segini dulu. Udah mau magrib, juga belum persiapan ngaji." ucapku sembari meletakan buku Peci Miring. Di samping Wahid, yang tengah tertidur.


Aku berbalik badan, berjalan pergi menuju pintu keluar. Beberapa langkah, aku berhenti. perasaanku seperti ada yang tidak beres.


Aku mencoba mengingat sesuatu. Mungkin ada yang kelupaan?, aku menepuk kening. "Astagfirullah". Ternyata benar, aku lupa! Bahkan sampai benar-benar tidak menyadarinya. Jika tujuanku datang ke perpustakaan adalah untuk mencari Wahid. menyuruhnya supaya aku di hukum, karena telah telat berjamah subuh. Juga terlambat masuk masjid saat waktu hendak sholat jum'at.


Sesampainya di perpustakaan, aku malah kelupaan dengan tujuanku. Terlalu asyik membaca buku Peci Miring. Sampai melupakan Wahid, temanku sendiri.

__ADS_1


Duh parah banget deh. Gini aja lupa. Apalagi perkara yang lebih gede, bisa jadi nggak keingetan sama sekali. pikirku


__ADS_2