Behind The Ex'S Shadow

Behind The Ex'S Shadow
~Chapter 13: Mendadak perhatian~


__ADS_3

Revan menutup pintu kamar dengan pelan, ia baru saja pulang, hanya lampu yang samar-samar menyinari kamarnya, Angela sudah tertidur lelap. Istrinya memang selalu tidur tepat waktu.


Revan melangkah dengan perlahan menuju kamar mandi, takut membuat istrinya terbangun. Guyuran air hangat terasa begitu menyegarkan tubuh Revan yang penat, tapi tidak dengan pikirannya.


Revan mengusap wajahnya dengan kasar, ia masih teringat bagaimana Kyara tersenyum manis saat mendapat perlakuan Nathan yang perhatian padanya, tangannya ikut mengepal mengingat Nathan mengecup pipi Kyara dengan leluasa.


...***...


Keesokkan paginya...


Ting Tongggg...


Ting Tongggg...


Kyara bergegas berjalan menuju pintu dengan tangan satunya memegang perutnya, tidak ingin memberikan terlalu banyak goncangan pada bayi yang tumbuh di rahimnya.


Krekk...


Pintu apartment terbuka, Revan segera melangkah masuk meskipun Kyara belum mempersilahkan.


"Ada apa kau ke sini?" Tanya Kyara yang kaget dengan kedatangan Revan di hari Sabtu pagi.


Kyara menoleh memperhatikan jam dinding di ruang tamu, baru menunjukkan pukul 8 pagi. Penampilan Revan pagi itu juga tampak santai, jelas pria ini tidak bermaksud pergi bekerja.


"Kau akan ke mana hari ini? Aku akan mengantarmu." Jawab Revan cepat.


"Tidak ada, aku tidak ke mana-mana hari ini..." Tolak Kyara yang masih kebingungan dengan perilaku Revan.


"Hmm... Kalau begitu ayo kita ke dokter. Kita cek kandunganmu...," Ajak Revan lagi.


"Jadwalku masih minggu depan, dan kau tidak usah repot-repot mengantarku, aku bisa pergi dengan Bu Ana." Jawab Kyara menolak ajakan Revan.


Wajah Revan tampak mulai kesal. Kyara semakin bingung dan bertanya-tanya apa yang salah dengan pria yang tiba-tiba datang pagi-pagi ini.


"Jika ini adalah anakku, menurutlah... Kita cek hari ini, ambil barang-barangmu, kita berangkat sekarang." Ucap Revan tidak ingin dibantah.


Revan tampak tersenyum kecil saat Kyara akhirnya menurutinya untuk pergi kontrol kandungannya, ada suatu rasa lega karena wanita itu mau ditemani olehnya, meskipun sebenarnya dengan terpaksa.


Sedangkan Kyara terus mengerutkan keningnya, melihat Revan dengan penuh tanda tanya, ia bahkan lebih bertanya-tanya lagi saat Revan mengurus pendaftaran dan menuntunnya berjalan meskipun ia sudah menolak.


"Tidak usah aku bisa sendiri...," Tolak Kyara saat Revan membantunya berbaring di ranjang pemeriksaan.

__ADS_1


"Tidak usah memegangku...," Tegur Kyara lagi saat Revan mengengam tangannya.


"Aku khawatir kau akan tegang...," Jawab Revan, Kyara berdecih mendengarnya, padahal Revanlah jelas tampak bersemangat dan tegang saat melihat proses pemeriksaan itu.


"Apa itu dia?" Tanya Revan tanpa sadar mengenggam dengan erat tangan Kyara yang dipegangnya.


Mata Revan berbinar saat melihat layar yang menampilkan hasil USG, terlihat jelas janin yang baru seukuran jeruk besar itu sedang tumbuh dengan sehat di rahim Kyara.


"Bayinya sehat... Ibu happy terus ya, jadi anak juga happy. Jangan terlalu kecapekan, masih perlu dijaga dengan ketat...," Ucap dokter mengakhiri pemeriksaannya.


"Kau dengar kan..., bayinya baik-baik saja...," Omel Kyara saat mereka sudah di dalam mobil.


"Tidak ada salahnya memeriksa saat sempat... Oh ya, mana bukumu tadi?" Pinta Revan. Kyara menyodorkan buku hasil USGnya kepada Revan, menatap heran saat Revan mengambil dua dari tiga foto USG pagi itu.


Kyara ingin bertanya, untuk apa Revan mengambilnya, tapi ia urungkan saat melihat Revan tersenyum melihat foto itu.


"Kenapa kau sedari awal sudah meminta dokter merahasiakan jenis kelamin babynya?" Tanya Revan penasaran.


"Hanya ingin menyayangi apapun bentuk dan keadaannya...," Jawab Kyara dengan tulus, menyentuh hati Revan yang ingin sekali memeluknya tapi ia tahan.


"Kau bisa menurunkan ku di sana...," Pinta Kyara menunjuk pada halte bus yang berada di depan sebuah mal.


Bukannya menurunkan Kyara, Revan justru mengarahkan mobilnya memasuki parkiran mall.


"Ayo makan bersama...," Ajak Revan dan dengan cepat menarik tangan Kyara sebelum wanita hamil itu melangkah pergi.


Kyara melongo kaget, Revan hari ini sangat berbeda. Apa mungkin pria ini hanya berusaha bersikap baik untuk bayi yang dikandungnya?


Kyara kembali menuruti ajakan Revan untuk makan bersama, toh ia juga sudah lapar. Mereka sudah memesan makanan di salah satu restaurant Indonesia. Dengan masa kehamilannya yang masih sering mual, Kyara hanya memesan bubur dan bakso kuah.


"Apa kau masih sering mual?" Tanya Revan yang sempat melihat Kyara menutup mulutnya saat tak sengaja menghirup aroma makanan milik Revan saat pelayan menyajikan di hadapan mereka.


"Kadang-kadang, tidak terlalu sering dan tergantung dengan baunya...," Jawab Kyara jujur.


Revan menjauhkan makanannya dari hadapan Kyara, mengantisipasi ibu hamil itu mual lagi.


...***...


Hari ini hati Kyara dibuat bergetar dan terombang ambing dengan perlakuan Revan yang sangat baik dan perhatian padanya. Ayah dari bayinya bahkan mengajaknya berbelanja beberapa keperluan hamilnya dan kebutuhan bayinya saat lahir nanti, tentu saja Revan yang membayar semuanya hari ini. Mereka baru kembali ke apartment saat waktu hampir menunjukkan pukul 1 siang.


"Ahh akhirnya sampai juga...," Ucap Kyara senang sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. Merenggangkan pinggangnya dan memijat betisnya yang terasa agak lelah.

__ADS_1


Revan yang membawa kantong hasil belanjaan mereka tanpa ragu duduk di sebelah Kyara.


"Kau lelah, sini...," Tangan Revan menjulur menyentuh kaki Kyara.


"Tidak... Jangan...!" Teriak Kyara kaget, dengan cepat menarik kakinya yang tadi sempat disentuh oleh Revan.


"Tidak apa-apa...,"


"Kau gila, untuk apa memijatku...," Tolak Kyara segera berdiri dan pergi ke kamarnya, ingin menghindari Revan yang sejak tadi sudah membuat jantungnya berdegup tidak karuan.


Kyara yang baru selesai mandi, mengusap rambutnya dengan handuk. Langkahnya terhenti, menyadari Revan ada di sana. Pria itu berdiri tak jauh darinya dan sedang menatap kaget ke arah tubuhnya.


Kyara segera menutup tubuh bagian atasnya dengan handuk yang ia pegang, ia tadi hanya asal mengambil baju ganti, hasilnya ia sedang menggunakan baju tidur tipis dan lagi ia tidak menggunakan br@ karena terasa agak kencang dengan kondisi kehamilannya.


"Arrghh... Kenapa kau masih di sini? Ku kira kau sudah pulang...," Tanya Kyara histeris, ia yakin Revan melihatnya dengan jelas.


"Aku meletakkan ini di sini...," Jawab Revan sambil menunjuk jejeran paper bag yang berisi keperluan hamil Kyara.


"Kau bisa meninggalkannya di sana. Terima kasih." Jawab Kyara cepat dan berbalik menuju lemari, mencari pakaian apapun untuk bisa ia gunakan segera.


Revan melangkahkan kakinya mendekati Kyara yang sedang panik mencari baju. Tangan Revan menjulur dari sisi kanan Kyara, menahan dan menghentikan gerak tangannya.


"Apa...?" Tanya Kyara kebingungan.


Kyara merasakan tangan Revan menyentuh punggungnya, bergerak turun merangkul pinggangnya.


Jantung Kyara berdegup kencang saat Revan menepis pelan rambut Kyara di sekitar wajah wanita manis itu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyara sedikit bergetar berusaha menahan diri dari kegugupannya.


Revan tidak berhenti di sana, tangannya mengelus pelan wajah Kyara yang mengernyit dan berusaha menjauhkan wajahnya.


"Hentikan Revan...," Ucap Kyara sambil berusaha mendorong tubuh Revan, membuat handuk kecilnya terjatuh ke lantai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue~


__ADS_2