Behind The Ex'S Shadow

Behind The Ex'S Shadow
~Chapter 7: Pingsan~


__ADS_3

Sejak hari itu, Kyara berusaha bangkit dan memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri, tapi dengan kondisi kehamilannya yang masih sangat rawan dan penuh dengan cobaan, membuatnya sangat sulit untuk benar-benar tegar.


Suatu pagi, Kyara terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit kepala. Kyara melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar mandi, tapi kepalanya terasa sangat sakit dan berputar-putar.


Kyara mencoba berhenti dan menenangkan sakit kepalanya, menarik nafas panjang dan mencoba mengambil beberapa langkah. Kakinya tidak sanggup bertumpu dengan tegak, ia pun kehilangan keseimbangannya dan segera memegang dan bersandar pada dinding di sebelahnya, perlahan merosot dan terduduk ke lantai.


“Kak Kyara kenapa?? Ibuu… Kak Kyara pingsan.” Teriak salah satu anak panti yang berusia sekitar 12 tahun.


Kyara tidak kuat menjawab, ia merasa sangat lemas. Ibu Panti yang mendengar teriakan anak-anak segera menghampiri.


“Ya ampun, ada apa Kyara?? Cepat minta Pak Budi siapin mobil, kita ke rumah sakit…,” Teriak Ibu panti dengan cemas.


Anak-anak yang sudah terbiasa mandiri segera memanggil Pak Budi, yang adalah penjaga panti dan juga sopir di panti asuhan itu.


Tak butuh waktu lama, Kyara sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


“Hallo Nak Kenan…, Kyara pingsan nak…, ini ibu lagi bawa ke rumah sakit terdekat. Baik-baik, ketemu di sana ya nak..” Samar-samar Kyara masih bisa mendengar percakapan Ibu panti yang menelfon Kenan untuk meminta bantuan.


... ***...


Sepulang dari panti asuhan setelah mengunjungi Kyara beberapa hari lalu, Revan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia merasa Kyara bisa mendapat tempat yang lebih baik daripada di panti itu, ia juga takut Kyara memilih tinggal di panti supaya bisa meninggalkan anaknya di sana atau membiarkan orang lain mengadopsinya.


“Revan…, ayo kita makan, aku sudah siapin sarapan.” Panggil Angela dengan lembut menyadarkan pemikirannya.


Angela menghampiri suaminya yang masih terbaring di kasurnya. Revan bangun dengan malas, pikiran dan jiwanya tidak tersinkronisasi dengan benar.


“Belakangan kamu terlihat ada beban pikiran, ada apa?” Tanya Angela dengan lembut, mengelus kepala Revan.


“Hmm.., hanya masalah pekerjaan.” Jawab Revan berusaha bersikap biasa dan menutupi dari Angela.


Dreeetttt… Dreettttt…


Tiba-tiba sebuah panggilan telfon dari Ray tertera di layar handphonenya, Revan dengan cepat segera mengangkatnya.


“Ya, Ray?” Jawab Revan dengan malas.


“Apa? Di rumah sakit mana? Ok, gue segera ke sana.” Jawab Revan yang terdengar panik dan cemas.


“Ada apa dengan Ray sayang?” Tanya Angela yang ikut panik melihat Revan segera mengganti pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu.


“Ada kerabatnya yang kecelakaan dan masuk rumah sakit, aku harus segera ke sana untuk membantunya. Aku pergi dulu ya…” Jawab Revan dengan cepat dan segera berlari keluar dari rumahnya dengan terburu-buru menuju mobilnya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan sayang...," Teriak Angela melepaskan kepergian Revan pagi itu tanpa rasa curiga sedikitpun.


Revan tiba di rumah sakit yang tadi disebutkan Ray setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Revan memarkir mobilnya dengan asal dan segera berlari menuju UGD.


Langkah Revan terhenti saat melihat Ray sedang merangkul Billa yang menangis tersedu di lorong rumah sakit.


“Revan, loe udah sampe?” Tanya Ray yang melihat kehadiran Revan.


“Apa yang terjadi Ray?” Tanya Revan cemas. Jawaban Ray menggelengkan kepalanya membuat jantung Revan seakan ingin berhenti berdetak.


“Masih diperiksa dokter.” Lanjut Ray menjawab seadanya.


Seorang dokter pria keluar dari salah satu bilik yang tertutup, terlihat baru saja memeriksa dan menangani pasien di sana, dokter itu berjalan menghampiri mereka.


“Maaf, siapa di sini suami atau keluarga dari pasien Kyara Calleya?” Tanya dokter pria itu.


“Saya dok…,” Jawab dua suara pria terdengar berbarengan.


Revan melotot heran melihat seorang pria bertubuh tinggi dan berparas tampan yang berdiri di sebrangnya bersama dengan seorang Ibu yang sudah berumur yang memang sudah berada di sana sedari tadi ikut menjawab.


“Hmm, apa di antara kalian adalah suaminya?” Tanya dokter lagi memastikan.


“Bukan dok.” Jawab mereka berbarengan lagi.


“Saya teman dekatnya dok.” Kali ini Billa membuka suara.


“Tapi Kyara sekarang tinggal dengan ibu ini.” Protes pria tadi.


“Hmm…, baiklah, saya akan jelaskan di sini saja.” Jawab Dokter yang tidak ingin memperpanjang kebingungannya.


“Ada apa dengan Kyara dok?” Tanya Billa dengan cemas.


“Ibu Kyara pingsan karena darah rendah, sepertinya kelelahan dan beban pikiran, apalagi sedang hamil muda. Ada baiknya selama masa 3 bulan pertama Ibu Kyara tidak bekerja dan bedrest, demi kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Jika berlanjut, takutnya ini akan terulang dan beresiko pada pendarahan hingga keguguran.” Jawab dokter dengan tenang dan jelas.


“Bagaimana keadaannya sekarang dok?” Tanya pria tadi dengan cepat.


“Sudah tidak apa-apa. Sekarang sudah stabil, tinggal menunggu pasien untuk sadar. Tapi mohon sangat dijaga kandungannya, karena masih belum kuat."


"Baik dok."


"Jika tidak ada yang ditanyakan, saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya periksa.” Jawab dokter lalu berlalu pergi.

__ADS_1


“Bagaimana ini nak Kenan?” Tanya Ibu panti pada pria di sampingnya.


“Ooohh…, jadi namanya Kenan, apa hubungan pria ini dengan Kyara?” Batin Revan bertanya-tanya.


“Kita tunggu Kyara sadar dulu ya Bu… Nanti kita bicarakan bagaimana baiknya.” Jawab pria yang dipanggil Kenan itu.


“Bagaimana sekarang? Dia tidak mungkin tinggal di panti lagi.” Tanya Ray cemas pada Revan dan Billa.


“Dia bisa tinggal denganku, aku akan merawatnya.” Jawab Billa dengan cepat.


“Nak…, temannya Kyara kan yang tempo hari datang ke Panti?” Tanya Ibu Panti.


“Iyah bu…,”


“Waktu itu gak sempat ketemu, tapi Ibu ada lihat kalian dateng…, Kyara sepertinya memang lebih baik tinggal bersama kalian.”


“Kenapa Bu? Kita bisa mengurus Kyara.” Protes Kenan tidak terima.


“Kenan…, Kyara tidak bahagia di panti. Salah ibu gak nglarang dia ngajar anak-anak tanpa istirahat yang cukup.” Jawab Ibu Panti prihatin.


“Ngajar anak-anak?” Tanya Ray heran.


“Iyahh… Nak Kyara suka maksain diri ngajarin anak-anak di tenda, panas-panasan, padahal dia udah kecapekan karena sering muntah-muntah.” Jawab Ibu panti dengan jujur.


"Nanti Kenan akan hapus semua jadwal ngajar Kyara Buu...," Jawab Kenan.


Ibu panti menggelengkan kepalanya.


"Nggak nak, Kyara pantes dapet tempat dan perlindungan yang lebih layak. Ibu yakin mereka bisa merawat Kyara lebih baik lagi."


Mendengar pernyataan Ibu panti yang tulus, ada suatu rasa pedih di relung hati Revan, wanita ini, kenapa terus membuatnya merasakan rasa kasihan dan bersalah. Kenapa sebodoh itu membiarkan dirinya terus menderita dan menahan sakit?


.


.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue~


__ADS_2